
"Kami tidak jadi menginap ya, Pa." kata Dania pada Micko.
"Loh, kenapa?" Micko setengah protes.
"Dedek bayi mau bertemu Richi terus, heran aku." kata Dania apa adanya.
"Iya sejak hamil maunya dekat dengan Richi." kata Nanta tersenyum pada Micko.
"Oh ya sudah kalau bawaan hamil kita mana bisa protes." kata Lulu tertawa, memaklumi bawaan hamil.
"Apa benar bawaan hamil begitu?" Micko tidak percaya.
"Mama Lulu dulu tidak begitu." kata Micko lagi, cari perbandingan.
"Lain-lain tiap orang, Pa." kata Lulu tertawa.
"Repot juga ya ini yang lagi hamil, setelah ini kalian langsung pulang?" tanya Oma Misha yang baru bisa bergabung, dari tadi sibuk bikinkan cemilan untuk Winner dan Lucky.
"Janjian makan malam dulu sama Ando." jawab Nanta yang dari tadi sibuk juga berbalas pesan dengan Ando dan Wilma.
"Mau makan malam dimana?" tanya Oma Misha lagi ingin tahu.
"Dirumah Ando, Oma. Dania mau coba Pepes langganan keluarga Ando, enak loh, aku pernah pesan untuk Ayah dan teman-temannya. Tadi siang aku pesan juga untuk kita, nanti biar Tomson yang bawakan ya Oma." kata Nanta semangat.
"Oma paling suka Pepes tapi malas bikinnya." Oma Misha tersenyum senang.
"Kamu pesan berapa buat disini?" tanya Micko pada Nanta.
"Buat disini lima buat dirumah lima." jawab Nanta mantap.
"Suruh kirim pakai ojek online saja, biar malam ini kita makan pepesnya." kata Micko tidak sabar.
"Hahaha oke Pa." jawab Nanta terbahak, segera menghubungi Ando minta mengirim Pepes jatah Papa Micko agar dikirim via ojek online dan Nanta segera meluncur kerumah Ando.
"Beres Pa, Ojek online dalam perjalanan kesini." kata Nanta, rupanya Ando gerak cepat, begitu tahu Papa Micko minta dikirim segera pepesnya.
"Kalau enak kita pesan lagi." kata Micko pada Mamanya.
"Sepertinya enak kalau Reza sampai bagikan untuk teman-temannya." kata Oma Misha menduga-duga.
Nanta dan Dania pun segera menuju tempat selanjutnya, setelah dari rumah Ando nanti baru bisa pulang. Capek juga rasanya aktifitas dari pagi, tapi hati senang saja. Sepanjang perjalanan tadi kalau mengantuk Dania tinggal tidur dipangkuan suaminya. Jadi tidak terasa lelahnya. Mungkin Nanta yang paling terasa lelahnya, karena pahanya jadi bantal kepala istrinya, lumayan bikin semutan.
Nanta dan Dania tiba dirumah Ando sebelum magrib, ngobrol sebentar langsung berangkat lagi Ke Mesjid, Tomson tentu saja ikut, ia sudah akrab dengan Ando karena sering bertemu dikantor. Kalau Dania tidak ada aktifitas maka Tomson ikut bekerja di kantor Kenan.
"Mama, Dania sudah hamil saja, aku belum." lapor Wilma pada Mama Ando setelah mereka sholat magrib.
"Kamu kan belum menikah." Mama Ando menepuk bahu calon menantunya sambil tertawa. Anak kecil ini cita-citanya cuma satu jadi istri.
"Ah tidak sabar aku menunggu bulan September, biar usia anak kami tidak beda jauh." Wilma menghayal, Mama Ando terkekeh mendengar hayalan calon menantu kesayangannya.
"Ini Pepes wangi sekali, aku kok jadi pengen." kata Dania menelan air liurnya.
"Ah makan duluan saja." kata Mama Ando mengambilkan piring untuk Dania.
"Aku juga dong Ma." kata Wilma tidak mau kalah.
"Kamu kan tadi sudah makan, nanti saja tunggu Ando, Nanta dan Tomson." kata Mama tertawa. Kecil-kecil makannya banyak juga ini Wilma.
"Aku juga tunggu Mas Nanta deh Tante." kata Dania menahan diri.
"Kasihan anakmu nanti ngences." kata Mama Ando setengah memaksa. Mau tidak mau Dania menuruti, ia makan duluan sementara yang lain menunggu para lelaki selesai sholat magrib di Mesjid.
"Waduh, tidak sabar ya sampai makan duluan." Nanta terkekeh begitu melihat istrinya sedang lahap makan nasi pakai Pepes.
"Di London tidak ada, baru bertemu Pepes seenak ini." jawab Dania sibuk dengan makanannya.
"Jangan diganggu, Nanta." omel Mama pada Nanta.
"Hahaha iya." Nanta terbahak dan segera duduk disebelah istrinya.
"Ayo Tom makan." ajak Ando pada Tomson.
"Iya." jawab Tomsong sungkan.
"Hei ayo tidak apa makan saja." kata Nanta tahu Tomson segan karena ada Nanta dan Dania.
"Iya Tom, tidak apa." sahut Dania tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.
"Tante, ini awet berapa lama ya? bisa tidak ya aku bawa ke Abu Dhabi." kata Dania pada Mama Ando.
"Mau bawa?" tanya Nanta pada istrinya, Dania mengangguk, ia perlu menu yang membuatnya lahap makan.
"Nanti dikamar hotel ada microwave tidak ya?" tanya Dania lagi.
"Bawa Magicom kecil saja." kata Nanta pada Dania.
"Oke." Dania tambah semangat saja.
"Tante request ya sama yang bikin Pepes, minta ikannya di fillet baru di Pepes, supaya Dania tidak repot dengan sampah tulangnya, siapa tahu dia mau makan saat lagi diperjalanan." kata Nanta persiapan matang untuk kenyamanan istrinya.
"Tante tidak jamin bakal awet ya, karena Tante juga belum pernah." kata Mama Ando lagi.
"Coba dulu saja Tante." jawab Dania, masalah basi urusan nanti yang penting pesan dulu.
"Nanti aku frozen Tante." sahut Nanta, Mama Ando pun mengangguk setuju.
"Enak betul, selain Pepes kalian bawa apa lagi?" tanya Wilma.
"Dendeng sama rendang jamur dari Nek Pur." jawab Dania.
"Mau apa lagi, nanti aku siapkan." kata Wilma membuat Nanta menatap curiga.
"Tumben baik." katanya terkekeh.
"Waduh, Ma. Calon mantu dibilang begitu." adu Wilma pada calon Mama mertua. Langsung dibalas tertawa oleh Mama.
"Dia kan Tante tahu sendiri." kata Nanta , Mama menganggukkan kepalanya masih tertawa.
"Aku mau apa ya? abon saja Wilma." kata Dania pada Wilma.
"Oke nanti Bang Romi belikan." jawab Wilma membuat Nanta terbahak.
"Sudah kuduga. Pasti ada yang dijadikan korban." kata Nanta, Ando ikut tertawa.
"Tidak usah repotkan Bang Romi, biar kita saja yang beli." kata Ando pada calon istrinya.
"Aku sudah chat Bang Romi kok." kata Wilma gerak cepat.
"Apa katanya?" tanya Nanta.
"Besok jam sepuluh dikirim ke rumah Om Kenan." Wilma membacakan balasan pesan dari Romi.
"Duh aku kan tidak enak sama Bang Romi." kata Nanta bersungut.
"Aku tidak bilang kamu kok, Bang." jawab Wilma santai.
"Kamu bilang apa?"
"Keluarga Om Kenan lagi cari Abon enak dimana?" itu saja yang aku tulis.
"Trus?"
"Bang Romi jawab begitu." Wilma terkekeh, ia tahu Kenan itu Idola Romi dan teman-temannya. Sudah pasti Romi mau repot kalau sebut nama Kenan. Katanya sih dia banyak belajar bisnis dari Kenan, selain dari Papanya. Itu yang Wilma pernah dengar. Makanya tadi sebut saja nama Kenan, dasar Wilma.
"Ya sudah nanti kalau sudah terima aku chat Bang Romi." kata Nanta pada Wilma.
"Terserah saja sih, tapi tidak chat juga tidak apa."
"Mana sopan begitu, Bang Romi sudah repot."
"Yang repot Mbak Vita." jawab Wilma menyebut nama sekretaris Romi sambil terbahak.
"Kamu tuh ya, ada saja idenya." Mama Ando menggelengkan kepalanya, meski sudah tidak heran tetap saja Wilma membuat Mama Ando selalu tertawa, rumahnya yang sepi jadi ramai kalau ada Wilma.
"Mama, tabungan aku sudah banyak juga loh." pamer Wilma pada Mama Ando.
"Jangan pamer deh," Nanta tersenyum sambil mencibir.
"Siapa yang pamer sih, cuma kasih tahu aku sudah punya modal untuk nikah." jawab Wilma.
"Loh kok kamu ikut modal? Mama Ando bingung.
"Kalau lagi belanja, Bang Ando belum Kirim uang kan aku bisa pakai uangku dulu nanti minta ganti."
"Iya, terus harganya kamu up sepuluh persen kan?" Ando terbahak mencubit pipi Wilma gemas. Calon istrinya ini rajin menabung juga rupanya. Mama Ando senyum lebar saja lihat Ando dan Wilma, sementara Dania tampak kekenyangan sementara yang lain masih sibuk ngobrol. Yang lucu sih Tomson, hanya bisa menyimak saja tanpa ekspresi. Mau makan tapi yang lain kok belum mulai juga.
"Ayolah makan." teriak Wilma membuat Tomson menarik nafas lega. Bisa gawat kalau terus ngobrol dan akhirnya pamit pulang tidak jadi makan, Tomson berhayal dan tertawa dalam hati.