I Love You Too

I Love You Too
Curhat



Kiki mengunci pintu kamar lalu membuka koper, pasti Bi Ati yang menyusun baju, pikir Kiki. Lengkap sekali seperti akan travelling selama dua minggu. Bahkan selain pakaian, handuk, charger, alat mandi berikut pakaian dalam sudah ada didalam koper.


Kiki segera mengecas handphone menggunakan chargernya sendiri. Bukan tak menghargai jerih payah Reza yang sudah mengantar charger kekamar tanpa diminta, akan tetapi jika menggunakan chargernya sendiri Kiki sudah tahu hanya satu jam handphonenya akan segera terisi penuh.


Banyak sekali notifikasi panggilan tak terjawab, pesan, inbox, dm semua komplit entah berapa jumlahnya. Kiki segera menghubungi mamanya, sambungan Videocall berhasil.


"Assalamualaikum ma..."


"Walaikumusalaam nak, mama telpon dari tadi ga bisa, sudah dirumah mama Nina ya. Mama sama Papa masih di taxi baru saja sampai S'Pore." tampak Ririn dan Ryan sedang dimobil.


"Alhamdulillah, Kok ga ajak aku ke kak wina?"


"Kami kan langsung dari bandung nak, rencana mau menginap dibandung malah ga jadi. Kakakmu menangis telepon mama tadi, Herman ngidamnya bikin repot katanya. Kami jadi panik, takut Wina kenapa napa. Lagi hamil, ga ada keluarga, dinegara orang pula. Huh untung masih dapat tiket untuk hari ini."


"Iya ma, maaf tadi aku lupa bawa charger ma, HP ku lowbat. Terus Passport gimana kok bisa berangkat?"


"Begitu dapat Tiket langsung telpon Bi Ati beresin Koper kamu, siapin passport dan pak Min habis antar koper kamu langsung ke Bandung antar passport."


"Ya ampun jadi repot semua. Sekarang gimana kondisi Kak Wina dan Mas Herman ma?"


"Suaranya sudah biasa, ga kaya tadi pagi. Nanti kalau sudah sampai apartement mereka, Mama kabarin ya Nak."


"Iya ma, Papaa." Kiki memajukan bibirnya beberapa senti memanggil papa seperti ini protes.


"Iya sayang Papa dengerin kamu dari tadi. Kamu ga papa ya menginap dirumah mama Nina dulu. Papa ga tenang kalau kamu dirumah ditemani Bi Ati aja. Kamu pasti kesepian, kalau sekarang kan ramai banyak yang temani." Ryan menjelaskan alasan mereka meminta Kiki menginap dirumah calon mertuanya. Kiki mengangguk pelan.


"Kamu jaga diri ya nak, mama tutup dulu teleponnya. Kita sudah sampai Apartement.


"Iya ma. Sayang mama papa."


"Sayang kamu juga nak."


Ririn menutup teleponnya sambil menarik nafas lega, Kiki tak merengek dan tampak mau mengerti. Ia membayangkan hiruk pikuk perjalanannya hari ini. Setelah menelpon Kiki mengabarkan sudah sampai bandung, tak lama Wina menelpon Ririn sambil menangis menceritakan soal Herman yang ngidamnya suka tak masuk akal. Sudah dari kemarin Herman ngidam makan masakan Ririn, tapi harus melihat langsung Ririn yang masak didepannya. Padahal kemarin Ririn sudah membuat Video dirinya sedang memasak, masakannya pun sudah Ia paketkan ke S'Pore. Tapi rupanya tak berhasil. Herman tetap bolak balik kamar mandi muntah hingga lemah tak berdaya. Jika sudah begitu Wina juga yang repot.


"Gimana kondisi herman?" tanya Ryan begitu sampai di apartement, sambil memeluk putri sulungnya yang perutnya tampak mulai membesar.


"Lagi tidur pa, begitu dengar Papa, Mama sudah di pesawat eh langsung berhenti muntahnya. Duh Wina pusing deh mending wina aja yang mual."


"Sabar, ga lama kok, nikmati setiap prosesnya nak, jadi kamu ga stress." Ryan menenangkan putrinya.


"Dulu mama waktu hamil kamu juga gitu, papa yang ngidam, tapi untungnya kakek nenek ga jauh. Banyak saudara dan teman juga yang bantu. ga kaya kamu sekarang." Kata Ririn mengenang saat ia hamil Wina.


"Kiki gimana ma?" tanya Wina


"Mama titip di rumah Mama Nina. Biar ga cerewet telepon terus. Lagian disana kan ada Reza sama Kenan. Ada temannya." jawab Ririn sambil tersenyum senang.


Sementara di rumah Nina, sehabis menelpon Ririn, Kiki langsung mandi setelah itu langsung tertidur pulas. Ia sudah tak lagi mengecek handphone nya yang dalam kondisi sedang di charger. Pesan dan telepon dari Reza yang mengajaknya makan tak terdengar. Pasti tidur pikir Reza. Akhirnya Reza makan ditemani Kenan. Menghabiskan sayur yang dimasak Nina supaya tidak terbuang percuma.


"Gimana Ken, kamu pacaran sama Sheila?" tanya Reza ingin tahu perkembangan hubungan adiknya dengan Sheila.


"Tau sendiri dia ga mau pacaran bang. Aku sih sudah bilang mau nikah sama dia nanti kalau sudah lulus kuliah."


"Trus?"


"Lihat nanti aja katanya, tergantung jodohnya dari Allah. Kan Aku lulus juga masih tahun depan. Sheila bilang kan ga ada yang tau dalam setahun kedepan gimana. Siapa yang cepat datang temui orang tuanya, itu lah yang Sheila terima." Kenan tersenyum miris.


"Wah, kalau Erwin yang duluan melamar ya berarti nikahnya sama Erwin, Ken. Siap siap kamu jangan sampai patah hati." Reza mengingatkan adiknya.


"Saingan aku bukan Erwin aja bang, Itu orang percetakan juga lagi deketin Sheila." keluh Kenan lagi. Reza tertawa melihat keresahan Kenan


"Tapi bang, kayanya Sheila suka sama abang deh." Kata Kenan lagi. Seketika bola mata Reza membesar.


"Ngaco. Jangan menduga duga kalau salah jadi fitnah" kata Reza mengingatkan.


"Abang baca naskah yang lagi dicetak sekarang ga? Disitu menceritakan seorang gadis yang terpaksa berbesar hati karena pria idamannya memilih wanita lain." Kenan berargumen. Reza menarik nafas panjang.


"Mungkin itu cuma ide cerita, bukan berarti kisah nyata Ken." tegas Reza


"Ga tau ya bang, feeling aku kok kesana. Otak aku jadi menjelajah kesana kemari. Abang masih suka bang sama Sheila?"


"Trus kalau aku suka?" pancing Reza


"Ya aku ikhlas, biar aku sama Kiki."


Kiki yang tak baru saja terbangun, keluar kamar hendak mengambil minum tak sengaja mendengar percakapan Reza dengan Kenan. Apa apaan nih adik kakak, aku mau diover memangnya aku bola, batinnya. Kemudian kembali masuk kekamar menahan hausnya dengan perasaan tak karuan.


Reza langsung menjewer telinga Kenan setulus hati, kesal mendengar ocehan Kenan "Jangan macam macam Ken, Perjuangkan saja cintamu, Jangan ganggu Kiki."


"Sakit bang!" Kenan mengusap usap telinganya. Reza melihat telinga Kenan Memerah.


"Sorry, Kesal aku dengarnya." kata Reza sedikit menyesal.


"Hehehe.. Berarti benar ya abang sukanya sama Kiki. Aku sempat berfikir abang cuma menuruti keinginan Mama." jawab Kenan masih mengusap telinganya.


"Dari pertama mama bilang Kiki calon istri abang, abang sudah suka Ken. Mama juga sempat bilang kalau abang ga mau, Kiki mau dijodohkan sama kamu. Ya maaf Ken, ternyata abang mau pake banget."


"Syukurlah, aku cuma khawatir Kiki jadi pelarian."


"Ga lah Ken, dari dulu abang sudah ga ada rasa sama Sheila, Itu cuma cinta monyet. Abang sudah anggap Sheila seperti saudara. Mau sheila berjodoh sama kamu, Erwin atau siapa pun." tegas Reza. Begitulah Edisi curhat abang adek dimeja makan.