
"Kita tuh bukan ghibah, tapi bicara fakta." kata Oma Nina pada Nanta yang hanya tersenyum mendengar ocehan kedua Omanya ini.
"Mau apa kesini?" tanya Oma Nina lagi.
"Balen nih mau bicara sama Oma." Nanta menyerahkan handphonenya.
"Halo Balen." Oma Nina meletakkan handphone ditelinga sambil tersenyum mendengar Balen menghubunginya.
"Oma, napa ditu sih, mutana ndak tiatan?" teriak Balen memekakkan telinga Oma Nina.
"Bukannya bilang kalau ini video call." kembali Nanta dipukul pelan oleh Omanya, Nanta jadi tertawa. Ia memang lupa bilang sama Oma kalau itu sambungan video.
"Aban ndak senaja Oma, janan mawah don." kata Balen membela Abangnya tersayang.
"Oma tidak marah, cuma gemas saja." kata Oma Nina membuat Nanta kembali tertawa.
"Baen mo naik tapal besok." pamer Balen pada Oma.
"Mau kemana naik kapal?" tanya Oma meladeni ocehan Balen.
"Mo te puau sibu upiah." jawabnya membuat semua yang mendengar terbahak.
"Kenapa pakai rupiah sih?" teriak Raymond yang ikut terbahak.
"Napa sih tawa?" tanya Balen bingung, apanya yang lucu. Nanta masih saja tertawa sambil memegang perutnya.
"Balen, ke Pulau Seribu rupiah ya?" tanya Raymond menghampiri Nanta dan Oma.
"Ya don." jawab Balen bangga.
"Ini Abang ada Lima ribu rupiah, banyakan Abang dong." Raymond meladeni kekocakan Balen.
"Ih itu sih buat jajan, ini tan naik tapal." protes Balen pada Raymond yang menurutnya tidak mengerti.
"Ray, adiknya malah dijahili terus." protes Opa pada Raymond.
"Iya nih Ban Lemon, ndak penah naik tapal sih." kata Balen kesal pada Raymond.
"Hahaha iya unyil. Jangan marah dong." Raymond masih saja menggoda Balen.
"Oma, sini don tita naik tapal." ajak Balen pada Oma mengabaikan Raymond.
"Yah nanti deh kalau Oma ke Jakarta ya, ajak ke Pulau Seribu yang tidak pakai rupiah." jawab Oma terkikik malah ikut menggoda cucunya.
"Yaah itu sih tapan-tapan. ini tan besok." Balen kecewa karena Oma Nina tidak bisa ikut dengannya.
"Iya tidak apa kapan-kapan saja ya, sekarang Oma temani Abang Nanta dulu." kata Oma pada Balen.
"Ma..." Nona langsung saja menyambar.
"Iya, kenapa?"
"Nanti pulaunya aku videokan, kalau Mama suka langsung ikut Nanta saja ke Jakarta. Kita ke Pulau lagi." kata Nona pada mertuanya.
"Nanti saja kalau Roma sudah melahirkan ya." kata Mama Nina pada Nona.
"Masih lama, Ma. Tiga bulan lagi itu." sama saja dengan Balen, Nona juga kecewa karena Oma belum mau ke Jakarta.
"Iya kalian istirahat dulu lah, baru selesai capeknya pernikahan Deni kan. Sekarang refreshing dulu, nanti Roma melahirkan kalian ke Malang tidak?" tanya Oma Nina.
"Lihat kondisi kantor Mas Kenan deh, aku sih mau saja. Kemarin juga aku minta ikut Nanta. Tapi Mas Kenan cuma bisa berangkat sabtu sore, minggu sore sudah harus di Jakarta lagi. Mana enak ke Malang hanya satu malam."
"Kak Nona, bisa dong satu hari saja lihat anakku nanti." Raymond ikut membujuk Nona.
"Mana enak satu hari, minimal tiga hari Ray, masalah waktu belum tahu ya pas baru lahir atau setelahnya." jawab Nona pada Raymond, Oma Misha melambaikan tangannya ijin beristirahat pada Oma Nina, lalu menutup pintu kamarnya.
"Bahas itu nanti saja masih tiga bulan lagi." kata Nanta pada Mamon.
"Nanta..." teriak Nona lagi memanggil Nanta, kali ini yang bawel Nona bukannya Balen.
"Ya?"
"Bawakan pempek ya, aku sudah pesan sama Mbak Tari." kata Nona terkekeh.
"Mi ayam sekolahanku mau tidak?" Nanta menggoda Nona.
"Hahaha di Jakarta banyak, tidak usah."
"Mau dibawakan apa lagi?" tanya Nanta.
"Bawakan Oma sama Opa." Nanta terbahak, tetap membujuk Oma dan Opa supaya ke Jakarta.
"Egois dong kalau begitu." protes Nona.
"Apanya yang egois, Kak Nona enak di Jakarta kumpul semua, ada Ayah, Bunda, Nanta, Dania, Balen, Richi, Om Kenan. Kalau kami kan hanya berempat." sungut Raymond membuat Nona tertawa.
"Tuh Oma banyak yang sayang." bisik Nanta kembali memeluk Oma.
"Kamu saja yang tidak sayang." jawab Oma terkekeh.
"Fitnah." kata Nanta mengeratkan pelukannya.
"Eh Oma sesak ini, kamu kan bukan sebesar Balen lagi." keduanya jadi sibuk sendiri mengabaikan telepon Nona dan Balen. Raymond pun mengarahkan handphone yang dipegangnya pada Oma dan Nanta.
"Aban, janan." teriak Balen mengingatkan Abangnya.
"Nantaaa, sakit dong Oma." Nona ikut-ikutan.
"Abang kan sayang Oma." jawab Nanta terkekeh. Opa menggelengkan kepalanya, sudah menikah masih saja seperti bocah, pikir Opa saat melihat Nanta.
"Butan ditu talo sayan. tis don janan setep." Omel Balen dengan kening berkerut.
"Hahaha iya maaf ya Ibu Balen." kata Nanta tertawa geli mengikuti gaya Nona kalau Balen mulai sok tua.
"Biangin Ayah nih, Aban natal." masih saja mengancam.
"Singkong Rebus, Abang kan sudah minta maaf." kata Nanta gemas, sayang saja jauh jadi tidak bisa di sekap.
"Minta maapna sama Oma don, janan sama Baen."
"Iya sayang, Omaku Aban minta maap ya." Nanta mencium Oma.
"Nah ditu don." Balen mengacungkan jempolnya.
"Papa mana?" tanya Nanta pada adiknya.
"Ada nih." jawabnya mengarahkan handphone pada Kenan tapi tangannya saja.
"Tidak kelihatan." kata Nanta.
"Nih." menggeser layar handphone sedikit sekarang terlihat hingga bahunya, tetap saja wajah Kenan tidak terlihat.
"Tidak kelihatan Baen." kata Nanta.
"Aban cewet nih, Udah ya baen mo tepon Aban Leyi duu." katanya tengil.
"Eh singkooong awas ya." langsung saja Balen mematikan sambungan teleponnya sementara Nanta gemas sekali dengan adiknya itu. Bisa-bisanya menggoda Nanta mau menghubungi Abang Larry, Nanta jadi tertawa sendiri.
"Kenapa dimatikan?" tanya Kenan pada Balen yang tertawa puas mengerjai abangnya.
"Biain, nanti tan Aban caiin Baen." jawabnya pada Papon masih tertawa.
"Jahil ya kamu." Kenan mencubit pipi gadis kecilnya gemas.
"Papon tepon Om Deni don." pinta pada Kenan.
"Mau apa?" tanya Kenan.
"Ngobol."
"Om Deni kerja." jawab Kenan, takut Deni terganggu.
"Ini udah mawam tau, emanna Papon teja teus." Kenan terkekeh, mengoceh terus gadis kecil ini dari tadi. Tak lama telepon Kenan berdering.
"Aban ya?" tanya Balen pada Papon. Kenan menganggukkan kepalanya menyodorkan handphonenya.
"Ndak usah antat." katanya menyeringai.
"Jangan begitu, nanti Abang tidak mau telepon Balen lagi loh." kata Nona pada Balen.
"Janan don." kata Balen sambil mengangkat teleponnya terpaksa.
"Apa Ban?" tanyanya sok tua.
"Kenapa tadi dimatikan?" tanya Nanta sedikit kesal.
"Abisna Aban cewet. Baen masih mo ngobol tau, eh tanain Papon." oceh Balen menyampaikan isi hatinya.
"Ya sudah ayo mau ngobrol apa?" tanya Nanta fokus meladeni Balen yang sudah bisa mengancam Abangnya sekarang.
"Ngobol apa ya? hmmm... binun Baen. Tepon Aban Leyi dih." katanya modus, Nanta langsung saja terbahak, memang banyak gaya singkong rebus satu ini.