
Seminggu ini Nona tampak uring-uringan, ada saja salah Kenan dimatanya. Baju yang dipakai Kenanlah yang terlihat selalu kusut, rambut Kenan lah yang merusak pandangan matanya, bahkan Nona sekarang tidak suka cara berpakaian Kenan, ia tidak mau Kenan dekat-dekat dengan dirinya.
"Kamu tuh sudah mandi belum sih, kok baunya tidak enak." keluh Nona saat Kenan akan memeluk dirinya ketika akan berangkat ke kantor.
"Bukannya tadi kamu yang ambilkan saya handuk ya?" kata Kenan dengan lembutnya. Pikir Kenan mungkin Nona hanya resah karena mereka akan pindah ke Jakarta.
"Besok saya tugas ke Semarang tiga hari, kamu mau ikut?" ajak Kenan pada istrinya, sesuai perjanjian ia akan selalu mengajak istrinya saat tugas ke luar kota.
"Tidak mau." kata Nona cepat.
"Oh ya sudah, senyamannya kamu saja." kata Kenan tersenyum pada istrinya.
"Senang ya, tugas luar kota aku tidak ikut." ketus Nona pada Kenan. Tuh salah lagi, Kenan terkekeh dibuatnya.
"Malah tertawa puas sekali. Kamu mau bebas ya." suara Nona mulai naik satu oktaf. Wajahnya seperti menahan tangis.
"Kamu tuh kenapa sih, saya kan sudah ajak, kamu tidak mau. Sekarang saya tanya lagi kamu mau ikut?" kata Kenan sesabar mungkin.
"Aku pikir-pikir dulu." katanya tengil sekali. Kalau saja mau mengikuti emosinya Kenan akan meledak juga karena kesal.
"Kabari saja sebelum makan siang." kata Kenan meninggalkan Nona menuju garasi. Ia tidak lagi berusaha memeluk istrinya karena khawatir akan meledak lagi emosinya.
"Mas Kenan!!!" Nona berteriak membuat Kenan menghentikan langkahnya.
"Hmm...?" Kenan mengangkat dahinya tanpa berbalik mendekati Nona.
"Kamu kok tidak peluk aku sih." komplen Nona merasa diabaikan.
"Loh tadi saya mau peluk kamu bilang bau." kata Kenan dengan kening berkerut, lalu berjalan mendekati Nona. Dengan sedikit rasa kesal tetap memeluk istrinya dan mencium dahinya.
"Kamu tuh mau menstruasi ya? sudah seminggu ini menjengkelkan." kata Kenan pelan tapi membuat air mata Nona mengalir, tidak terima dikatakan menjengkelkan oleh suaminya.
"Tuh malah nangis, saya cuma tanya." kata Kenan menghapus air mata istrinya. Nona masih saja menangis.
"Saya berangkat kekantor dulu." kata Kenan mengacak rambut istrinya.
"Aku mau pulang kerumah Papa saja, Mas Kenan menyebalkan." kata Nona disela isak tangisnya.
"Duh saya nih ada rapat pagi ini, kamunya rewel begini bikin tidak tenang. Mau kerumah Papa?"
"Iya. Mas Kenan sudah tidak sayang sama aku." masih saja menangis. Kenan sudah pusing tidak tahu bagaimana membujuk istrinya, sementara Tari sudah menelepon sedari tadi mengabarkan posisi kliennya.
"Nanti saya minta Pak Atang mengantar kamu." kata Kenan meninggalkan Nona yang menangis tidak jelas. Bukannya tidak sayang Nona, tapi kalau dibujuk seperti dua hari yang lalu yang ada seharian tidak ada juntrungannya.
"Tuh kan, Mas Kenan benar-benar mau usir aku dari rumah ini." mulai lagi, sementara Kenan sudah dimobil Nona berteriak seperti itu.
Dalam perjalanan ke kantor Kenan menghubungi mertuanya, Papa Baron.
"Kenapa sayang." sambut Baron senang dihubungi menantunya.
"Nona seminggu ini marah tidak jelas ya, apa dia pernah curhat sama Abang?" tanya Kenan pada Baron.
"Oh biasanya lagi kurang perhatian tingkahnya begitu." kata Baron pada Kenan.
"Saya tuh seperti biasa saja, tidak berubah. Malah kalau saya mau peluk marah juga. Bingung saya. Ini saya tinggal kekantor lagi menangis. Mau pulang kerumah Papa saja katanya."
"Waduh kumat ya." Baron tampak prihatin.
"Hahaha begitu saja marah, coba saya jemput ya. Nona dirumah kan? tidak kabur."
"Tadi ada dirumah." jawab Kenan gusar.
"Ya sudah saya jemput, nanti saya cari tahu kenapa dia seperti itu. Kamu tidak selingkuh kan?" tanya Baron jahil.
"Ish sepertinya saya salah konsul ya, Abang malah menuduh yang tidak-tidak." Kenan mulai merajuk.
"Saya kan cuma tanya, jadi tahu kenapa Nona marah sama kamu. Sebentar lagi saya dan Mita akan kerumahmu, kalau Nona bersikeras ingin ke rumah saya, kamu akan saya kabari." kata Baron menutup sambungan telepon.
Baron segera meminta Mita bersiap melihat kondisi anaknya yang katanya sedang menangis dan ingin pulang kerumah Papa. Ia ingin tahu kenapa Nona kesal sama Kenan.
"Mungkin hamil." Mita terkekeh begitu Baron selesai menceritakan keluhan Kenan via telepon tadi.
"Kita mampir dulu ke apotik kalau begitu." kata Baron ikut terkekeh, senang hati kalau memang anaknya hamil, ia akan segera memiliki cucu.
"Tapi saya ragu juga sih, Nona itu kalau minta perhatian suka begitu marah tidak jelas. Masa iya hamil." kata Baron kemudian.
"Kita periksa saja dulu, mungkin juga resah karena mau pindah ke Jakarta." kata Mita menduga-duga.
Perjalanan kerumah Kenan tidak memakan waktu lama, hari ini diberi kelancaran, karena masih pagi juga dan jalanan tidak terlalu macet. Mita juga sudah membeli terpack tiga buah dengan merk yang berbeda, ia ingin memastikan Nona hamil apa tidak. Menurutnya Kenan sangat perhatian dan terlihat penuh kasih sayang.
Sesampainya dirumah Kenan, Bi Wasti yang membukakan pintu. Ia tersenyum menyambut Baron yang sudah dikenalnya sejak dulu.
"Sudah lama tidak mampir, Pak." katanya pada Baron.
"Iya Bi sok sibuk saya, Nona mana?" tanya Baron langsung mencari sibiang masalah.
"Dikamarnya Pak, sepertinya tadi kesal sama Pak Kenan. Sudah seminggu ini marah terus sama Bapak." adu Bi Wasti pada Baron.
"Salah makan tidak, Bibi kasih apa sampai marah-marah." Baron terkekeh menggoda Bi Wasti. Bi Wasti tertawa saja.
"Ayo bu Masuk, Si Non saya panggil dulu." kata Bi Wasti segera berlari menuju kamar Utama.
"Non, ada Pak Baron." kata Bi Wasti sambil mengetok pintu kamar. Tidak menunggu lama Nona keluar dari kamar dengan mata bengkak.
"Kenapa menangis?" tanya Baron pada Nona.
"Huhu Papa, Mas Kenan suruh Papa jemput aku ya? Mas Kenan beneran tidak sayang lagi sama aku." kata Nona kembali menangis.
"Ih kenapa begini, kamu sudah menstruasi belum?" tanya Baron to the point.
"Apa hubungannya, Papa sih aneh." gerutu Nona disela tangisnya.
"Siapa tahu kamu hamil, kesal terus sama suami kamu. Nanti anakmu mirip Kenan loh." kata Baron terkekeh.
"Memang bapaknya, biar saja mirip Kenan." kata Mita tertawa melihat suaminya menggoda Nona.
"Non, kamu periksa dulu ya, ini Tante bawakan test pack." Mita memberikan bawaannya pada Nona.
"Kenapa ada tiga?" tanya Nona pada Mita.
"Coba saja semua, untuk memastikan saja pakai tiga merk." kata Mita pada Nona.
"Pemborosan sekali padahal satu saja cukup." omel Nona pada Mita. Sekarang Mita yang kena sasaran omelan Nona.