I Love You Too

I Love You Too
Rencana mama



Kiki menyadari kebodohannya. Segera memukul kepalanya malu ditambah kesal. Kenapa ia spontan mencium bahu Reza yang sakit. Sekarang lipstik Kiki menempel dibaju Reza. Berbentuk cap bibir. Oh Allah alangkah malunya, pasti jadi pertanyaan saat baju Reza dicuci dan disetrika.


"Sakit dong kepala kamu dipukulin." Reza melihat Kiki memukuli kepalanya sendiri.


"maaf aku tadi ga sadar."


"Langsung sembuh bahu aku, sudah ga sakit lagi." Reza cengengesan senang.


"Aku spontan kebiasaan dirumah kal..."


"Iya aku tau, dicium biar cepat sembuh kan?" Reza memotong kalimat Kiki, Kiki menarik nafas lega karena Reza mengerti maksudnya.


"Iya. Kak... baju Kak Eja ada cap bibir aku." Kiki tertawa memegang pundak Reza. "Ga papa nanti aku kasih liat mama ya, bajunya jadi bermotif." Reza menggoda Kiki.


"Jangan kak, simpan dulu ya biar aku yang cuci. Nanti mama mikir yang aneh-aneh." Kiki tampak memucat.


Reza mengacak rambut Kiki lagi, "Iya sayang. Nanti aku kucek sendiri bajunya."


"Lepas aja sekarang bajunya, Kak Eja pakai kaos didalamnya kan?" Kiki menari baju Reza.


"Aih, kamu agresif sekali."


"iih Kak Eja, bukan begitu." Kiki bersungut, mukanya memerah menahan malu.


Tak lama mereka sampai dirumah, Reza membukakan garasi menggunakan remote control. Reza segera membuka kemejanya dan turun menggunakan Kaos, sementara kemejanya sudah ia lipat kecil dan dimasukan kedalam tas, sesuai permintaan Kiki. Sebenarnya Reza cuek aja, nanti kalau mama tanya tinggal menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi Kiki yang pemalu merasa tak nyaman. Sudahlah dari pada menangis lagi dengan cerita yang berbeda, Reza pun menuruti kemauan Kiki.


"Sayang, kalian sudah makan malam belum?" sambut mama saat melihat Reza dan Kiki masuk kedalam rumah.


"Tadi makan bubur ayam ma." jawab Kiki.


"Nanti makan lagi ya, Mandilah dulu, setelah itu mama mau bicara sama kalian berdua."


Setelah mandi dan berganti pakaian Kiki pun segera menemui Nina yang sedang menonton sinetron di ruang keluarga. Reza belum tampak disana.


"Bagus sinetronnya ma? itu yang main teman Kiki namanya Monik." kata Kiki yang melihat Monik sedang berakting di layar kaca.


"Wah ini ya sahabat kamu itu, cantik ya, aktingnya juga bagus."


"Aslinya lebih cantik ma." Kiki menjelaskan, memang Monik terlihat jauh lebih cantik jika bertemu langsung.


"Cantikkan calon istri aku sih ma." sahut Reza yang sudah tampak segar dengan baju rumahannya, celana selutut dan kaos oblong warna senada.


"Oh pilihan mama kan, pastilah Ja. Nak coba sambungkan videocall ke papa sama mama Ririn, kita perlu bicara serius soal pernikahan kalian." Nina menyerahkan handphonenya pada Reza. Segera saja Reza menekan tombol video disambungkan ke papa.


"Wah Kenan ngapain tuh nempelin papa." Reza menggoda adiknya yang tampak sibuk dibelakang Papa.


"Doain ya bang, lagi belajar sama papa nih." jawab Kenan serius. setelah berbicara sebentar dengan papa dan adiknya, Reza meminta papa menunggu untuk disambungkan ke Mama Ririn.


"Kamu ga dempetan sama mas Ryan, Rin?" tanya Nina masih tertawa.


"Ga muat, Ririn disini membengkak." Ryan menjawab dari belakang menggoda istrinya, disambut cubitan pada perutnya.Tampak Ryan meringis menahan sakit.


"Jadi gimana keputusannya?" tanya Dwi yang masih dicirebon, tampak dibelakangnya Kenan sedang mengerjakan sesuatu, tangannya tampak sibuk membolak balik kertas.


"Nikahnya hari jumat waktu ashar, di S'pore. Bagaimana menurut mas Dwi?"


"Kenapa ga dijakarta aja? Biar sahabat mereka ikut hadir walaupun ga dipestakan. Keluarga kita juga perlu diundangkan." Dwi memberi saran.


"Masalahnya Herman baru mendengar kita pulang kejakarta, langsung muntah-muntah lagi. Sepertinya calon cucuku masih sangat merindukan Opa Omanya. Teman mengaji Herman disini yang akan membantu. Kalian tenanglah, tinggal berangkat dan terima beres. Herman juga sudah menyewakan private jet untuk keluarga kita." Jawab Ryan menjelaskan.


"Aih keluargaku banyak, kami 15 orang, dijakarta aja ya, Herman yang penting dekat kalian ga akan mabok?


"Bagaimana win, man?" Ryan menanyakan pada anak menantunya. Herman dan Winapun mengiyakan


"Ya sudah kalau begitu, kami berangkat kamis malam ya. Kamu yang urus dijakarta bisa kan Nin?" Tanya Ririn


"Beres kalau dijakarta banyak yang bisa dikerahkan. Baju besok sore sudah bisa diambil Pak Min kan, aku suruh antar kesini." Kata Nina


"Kiki Reza bagaimana, siap ya jumat?" Ryan menanyakan anak dan calon menantunya.


"Masih perlu jawaban Kita kah pa? sementara semua sudah diatur rapi." Kata Kiki tanpa bermaksud menyindir tapi membuat orangtua mereka tergelak. Reza hanya tersenyum tanpa komentar, lebih cepat lebih baik pikirnya.


"Ya sudah tau beres aja ya nak. Kasih tau temanmu cindy siapa tau bisa hadir, juga Intan dan Monik." Kata Ririn pada putri bungsunya.


"Iya." Jawab Kiki singkat.


"Kenan, kamu kejakarta lagi besok sama papa ya nak, mobil kamu biar pakai jasa kirim aja ya kemalang. Jadi kamu ga jauh nyetir sendiri." kata Nina pada Kenan yang ikut mendengarkan dibelakang Dwi.


"Iya." aih santun sekali Kenan, tak terdengar aksi kocaknya. Karena sudah tak ada lagi yang mau dibahas merekapun menyelesaikan rapat virtualnya. Tinggal Dwi dan Nina yang masih melanjutkan aksi kangen ala mereka. Tak lupa Nina meminta Dwi untuk menghubungi opa omanya Reza juga adik adiknya dan iparnya. Biar saja Dwi yang menghubungi. Karena mereka tak akan berani komplen, kalau Nina yang menghubungi akan banyak sumbang saran yang membuat pikiran Nina terpecah lagi.


"Banyak juga kita sekeluarga besar yang hadir mas. Ini sih seperti pesta juga. Ki yakin mau dirumah nikahnya, aula hotel aja lah. Ga repot pasang tenda nak. Tetap terbatas ga undang banyak orang, keluarga dan teman dekat aja."


"Terserah mama aja deh, aku ngikut aja." sudah pasrah Kiki, tak tau apa yang mau dikomplain.


"Ya sudah besok perawatan maksimal ya, harusnya beberapa kali, Karena mendesak cukup sekali aja." Nina tersenyum senang memandang calon menantunya. Harapannya pernikahan dipercepat disetujui kedua belah pihak. Pernikahan yang semula akan dilaksanakan di mesjid sultan s'pore berpindah menjadi di aula hotel dekat rumah.


"Nanti kalian tinggal di sini atau di rumah Kiki? Rumah kalian belum bisa ditempati, Rumah utama kosong karena mama akan langsung kemalang, Mama Ririn ke S'pore."


"Kita tergantung kebutuhan deh ma, nanti kalau kebutuhan disana kesana, kebutuhan disini ya kesini." jawab Reza


"Papa di malang juga ma?"


"Iya sayang, tapi kan papa sering tugas luar kota juga. Tapi berkantor utamanya jadi dimalang." Ah mama rencananya matang sekali.