I Love You Too

I Love You Too
Konsultasi



Nanta tiba dirumah menjelang magrib, ia tersenyum melihat Mamon sedang bercengkrama dengan Papa di ruang keluarga.


"Mandi, Boy. Kita ke Mesjid." kata Kenan saat melihat Nanta masuk.


"Iya." jawab Nanta segera menuju ke kamarnya mengikuti arahan Papa untuk mandi dan bersiap Sholat di Mesjid.


"Aban..." panggil Balen saat Nanta terburu-buru melewatinya.


"Abang mandi dulu, sudah mau magrib." teriak Nanta berlari masuk ke kamarnya.


"dipandil malah lali." keluh Balen melihat pada Papon yang selalu menjadi tempatnya mengadu, Kenan tertawa mendengarnya.


"Ichi, janan." teriak Balen saat fokusnya beralih pada Richi yang berjalan tertatih sambil mendorong stroller milik Balen.


"Nanti lusak toel Baen, Papon." adunya pada Kenan dengan kening berkerut dan mulut maju beberapa senti.


"Ambil, Ncusss. Ichi sini sama Papa sayang." panggil Kenan sambil menepuk tangannya pada Richi.


"Papon, butan Papa." protes Balen.


"Balen saja yang panggil Papon, Ichi sama seperti Abang, panggilnya Papa." kata Kenan terkekeh.


"Ndak, Ichi pandil Papon ya, janan Papa." kata Balen pada adiknya. Kenan dan Nona terbahak, Richi yang tidak lagi memegangi stroller berjalan ke arah Kenan.


"Pah..." teriaknya sambil tertawa riang.


"Pon..." Balen membenarkan.


"Pah..." ulang Richi lagi kembali tertawa.


"Ah Ichi nih." Balen tampak kesal. Nona dan Kenan pun terbahak dibuatnya.


"Papa siap-siap dulu mau ke Mesjid." kata Kenan menyerahkan Richi pada Nona.


Sekembalinya dari mesjid, Kenan dan Nanta langsung menuju meja makan, dimana Nona sudah menunggu dengan hidangan ala rumahan yang tersaji di meja.


Hari ini Nona masak tumis cumi cabe rawit, ikan selar balado dan sayur oyong. Seadanya bahan yang ada dikulkas saja. Mereka menikmati makan malam sambil bercerita, lebih banyak Kenan dan Nona yang mendengar cerita Nanta terkait keberangkatannya ke Amerika bulan depan.


"Apa saja yang harus dibeli, biar kita belanja." kata Nona semangat menemani Nanta berbelanja kebutuhannya di Amerika nanti.


"Nanti aku list dulu. Mamon temani kan?" pinta Nanta seperti biasa jika berbelanja selalu bersama Nona, hanya saja mereka tidak lagi koleksi sepatu, sejak diingatkan Raymond bahwa itu mubazir.


"Iya nanti aku temani, tenang saja." kata Nona tersenyum.


"Baen itut." Balen yang sedari tadi menyimak mulai bersuara.


"Iya nanti kita temani Abang belanja." kata Nona pada putrinya.


"Baen banja juda ya." katanya tidak mau kalah.


"Belanja apa, sok tahu ah." Nanta mencubit pipi Balen gemas.


"Banja buat amika, naik sawat." semua tertawa mendengarnya, mungkin Balen kira ia akan diajak Abangnya ke Amerika.


"Kenapa tidak minta ditemani Dania belanjanya?" tanya Kenan terkekeh, menggoda bujangnya.


"Ih belum halal, masih tugas Mamon lah." kata Nona cepat.


"Bang Micko minta mereka menikah sebelum Nanta ke Amerika." kata Kenan pada Nona.


"Terlalu cepat sayang, nanti saja setelahnya." pinta Nona yang sebenarnya belum siap Nanta menikah, ia masih berpikir Nanta terlalu muda untuk berumah tangga.


"Tapi Papa, Mama, Bang Eja dan Kiki setuju, saya juga maunya nanti saja kalau Nanta sudah lulus kuliah, bingung saya." kata Kenan menatap Nona, kemudian beralih menatap Nanta.


"Kamu yakin mau menikah, Boy?" tanya Kenan memastikan.


"Loh kan memang diminta menikah, aku tinggal menjalankan, jodohnya sudah ada. Siap saja." jawab Nanta santai.


"Papa tidak mau kamu menikah hanya karena diminta keluarga menikah, Apa kamu sudah mantap memilih Dania menjadi istri kamu? kalian baru dua minggu kenal, meskipun kamu kenal baik Om Micko." lagi-lagi Kenan memastikan.


"Istikharah dulu Nanta." saran Nona.


"Tidak kok, jangan khawatir. Aku mantap dan yakin menjadikan Dania Istriku. Kalau Papa dan Mamon khawatir karena usia kami terlalu muda, aku menikah hanya dua tahun lebih cepat dari Bang Raymond. Selebihnya ya kami belajar saja sama yang senior." Nanta terkekeh.


"Bagaimana Dania menurut kamu?" tanya Nona.


"Kesan pertama anaknya mandiri, ceroboh seperti Mamon, santai. Setelah bertemu Om Micko ternyata anaknya sangat manja, suka merajuk dan mungkin karena kurang perhatian dan terpaksa harus mandiri, sama aku malah maunya diperhatikan, di nomor satukan." Nanta tersenyum mengingat kelakuan Dania.


"Merajuk bagaimana?" tanya Nona.


"Tadi itu dia kesal karena aku kasih tahu akan ke Amerika saat diruangan Om Micko, padahal sudah bertemu dari kampus, merasa tidak di prioritaskan katanya." Nanta terbahak.


"Kamu bujuk dong?" tanya Nona ingin tahu lebih detail.


"Ya begitu deh." jawab Nanta terbahak.


"Bujuknya bagaimana?" tanya Kenan terkekeh.


"Seperti Papa membujuk Mamon saja." jawab Nanta asal.


"Memangnya kamu tahu bagaimana Papa membujuk Mamon?" tanya Nona senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana Pa?" Nanta malah bertanya. Kenan mendekatkan kepalanya pada Nanta. Nanta pun memajukan kepalanya karena mereka berseberangan.


"Selesaikan diranjang." bisik Kenan kemudian terbahak.


"Papa..." Nanta jadi tertawa dengan wajah memerah.


"Mas Kenan bisikan apa?" tanya Nona dengan mata membesar, tapi senyum tak lepas dari wajahnya.


"Mengajari Nanta jadi suami yang benar." kata Kenan memandang istrinya.


"Parah nih Papa." Nanta menggelengkan kepalanya.


"Ih memang begitu, praktekkan saja nanti kalau sudah halal, kamu boleh tanya Raymond atau Ayah deh kalau tidak percaya." Kenan masih tertawa. Senang sekali melihat wajah anaknya memerah dan senyum malu-malu.


"Hahaha nanti saja kalau sudah halal baru aku tanya." Nanta masih tertawa geli, pertama kali mendengar kata-kata vulgar dari Papanya.


"Pa, aku maunya punya anak setelah Dania lulus kuliah, tapi jangan pisah kamar, kata Om Micko ada caranya, bagaimana caranya?" tanya Nanta polos.


"Waduh..." Kenan tertawa jadinya.


"Sayang bahas itu diruang kerja saja." kata Nona melirik pada Balen yang masih disuapi makannya.


"Urus dulu deh proses pernikahan kamu, nanti baru Papa jelaskan." kata Kenan pada Nanta.


"Iya hari ini aku ke club, mau cari informasi."


"Informasi apa, telepon Kevin saja." kata Nona.


"Tidak usah Mamon, Kak Kevin kan di Malang, khawatir peraturannya berubah." kata Nanta disambut anggukan kepala oleh Nona.


"Ini hanya pertanyaan ya, kalau Nenek angkat Dania meminta kami tinggal dirumahnya bagaimana?" tanya Nanta pada Papa dan Mamon.


"sekedar menginap saja, kalau tinggal harus disini." jawab Nona saklek. Ia juga sudah berkoordinasi dengan Tari, Tari juga minta agar Nanta jangan dilepas dulu sampai lulus kuliah.


"Ok." jawab Nanta menurut.


"Nanti kalau urusan di club lancar, kita videocall mamanya Dania ya Mamon." kata Nanta pada Nona.


"Iya, sekalian saja sama Papa videocall nya." sahut Kenan cepat.


"Loh Kenapa Mas Kenan ikutan?" tanya Nona.


"Sekalian kita Lamar virtual karena jarak kita jauh, setelah itu baru Lamar Dania ke rumah Nenek angkatnya, Nek Pur itu pengganti keluarga Mamanya kan?" kata Kenan menyampaikan pendapatnya.


"Terus Papa Lamar lagi ke rumah Om Micko ya Pa?" tanya Nanta, banyak sekali tahapannya, padahal rencana hanya menikah internal saja.


"Oh iya Dania itu belum bertemu Oma Misha juga kan, nanti Papa bahas sama Om Micko." kata Kenan menutup pembicaraan mereka malam itu. malam ini Nanta senang bisa konsultasi sama Papa.