
Pagi ini Kenan sudah bersiap menunggu kedatangan Raymond, rencananya mereka akan diantar Pak Atang ke Bandara. Kenan agak sedikit tenang karena perut Nona sudah terisi dengan makanan bernutrisi sesuai kebutuhan Ibu hamil. Saat ini Pak Atang sudah standby, hanya saja Raymond belum muncul.
"Kemana Raymond? tumben sekali belum muncul, tidak seperti biasanya." tanya Nona heran. Baru saja Kenan akan menghubungi Raymond, yang ditunggu sudah tiba sambil menggeret koper.
"Tumben terlambat, Pak Atang baru saja mau jemput kamu." Kenan tersenyum pada Raymond dan Roma.
"Biasa Om, dihajar Roma semalaman karena tiga hari mau keluar kota." kekeh Raymond menggoda Roma.
"Ish." Roma mencubit perut suaminya kesal, selalu sembarangan kalau bicara.
"Bagaimana hasil kedokter kandungan kemarin?" tanya Raymond memandang Nona.
"Tiga minggu." jawab Nona.
"Kak Nona hamil? beneran?" tanya Roma menghambur memeluk Nona, berjingkrakan seperti menang undian.
"Benar." jawab Nona gelagapan dipeluk Roma yang tidak bisa diam menggoyangkan badan Nona.
"Aaah, selamat Kak Nona, Om Kenan. Yeay ada adek bayi." Roma terlihat bahagia mendengar Nona hamil, masih memeluk Nona ia menoleh kearah Kenan. Kenan tertawa melihatnya.
"Terima kasih Roma. Aku juga masih seperti mimpi. Semoga saja tidak rewel dedeknya diperut." kata Nona berusaha melepaskan pelukan Roma.
"Titip Nona ya Rom. Lapor sama Om kalau tidak mau makan." kata Kenan mulai beranjak memanggil Pak Atang dengan tangannya kode agar Pak Atang mengangkat koper ke mobil.
"Aku ikut senang, tapi tolong jangan galak-galak. Kamu tahu seminggu kemarin semua pekerjaan dilimpahkan padaku karena Pak hamil moodnya kurang bagus. Untung saja tidak ikut galak dikantor." pesan Raymond pada Nona sambil menaikkan alisnya mencebik pada Kenan.
"Hahaha maafkan aku Ray, tapi kan memang semua kerjaan sekarang mulai kamu yang handel." Nona tertawa .
"Iya itu kan kalau Om Kenan sudah di Jakarta, lagi pula serah terima baru setelah dari Semarang." jawab Raymond, sementara Kenan terkekeh.
"Sebentar lagi wakilmu akan datang Ray, tenang saja." kata Kenan masih terkekeh
"Laki-laki kan Om?" tanya Roma cepat
Kenan dan Raymond terkekeh mendengarnya.
"Memang kalau perempuan kenapa?" tanya Raymond tersenyum lebar merangkul istrinya.
"Aku yang seleksi, bahaya kalau dapat yang model Melly, kalem tapi lapar." jawab Roma membuat Raymond dan Kenan tambah terbahak saja.
"Laki-laki Rom, tenang saja. Sekretaris pengganti Tari juga laki-laki, doakan saja normal, kalau melambai kamu juga yang repot." kata Kenan sambil terbahak. Nona dan Roma pada akhirnya ikut terbahak.
"Apa Nanta sudah tahu kalau Kak Nona hamil?" tanya Roma, Nona menggelengkan kepalanya.
"Sudah, nanti malam selama kami di Semarang, Nanta menginap disini menemani kalian." jawab Kenan cepat.
"Mas Kenan kapan kasih tahu Nanta?" tanya Nona heran.
"Tadi malam, saat kamu tidur kebetulan Nanta menelepon saya." jawab Kenan sesekali melihat jam dipergelangan tangannya.
"Aku juga akan menginap disini." kata Roma memberitahu Nona lagi, memang sudah direncanakan sejak awal ia akan bersama Nona selama Ray disemarang, dari pada dirumah sendirian.
"Kita ajak Nanta nonton bioskop." Nona memberi ide.
"Non, ingat kamu tidak boleh terlalu capek, menuju kebioskop kamu harus berjalan kaki beberapa meter, belum lagi menuju keparkiran." Kenan menghitung jarak dari parkiran menuju bioskop.
"Apa sampai begitunya?" tanya Nona mengerutkan dahinya.
"Kamu googling saja lagi, berapa meter maksimal kamu boleh berjalan kaki." jawab Kenan, membuat Nona mengangguk tidak mendebat. Tapi berpikir apa yang akan ia, Roma dan Nanta lakukan nanti
"Sudah siap, Pak?" tanya Pak Atang setelah memasukkan koper kedalam Mobil.
"Oke saya jalan dulu." Kenan memeluk Nona, mengecup kening, mata Kiri kanan, hidung dan bibir istrinya kemudian dilanjut mengecup perut, kembali mengelus dan berbicara dalam hati dengan calon bayinya. Hal yang hampir sama dilakukan Raymond pada Roma, hanya saja Raymond tidak mengusap perut Roma, Ia hanya mengecupnya sambil berkata,
"Cepatlah hadir, temanmu sudah on the way." katanya membuat semua yang mendengarnya tertawa.
"Jangan berpikiran negatif. Doakan saja suamimu selalu dijalan Allah, dalam lindungan Allah dan dimudahkan semua urusannya." potong Kenan membuat Nona terkekeh, seperti tahu saja Nona akan mengatakan apa.
"Aku belum selesai bicara, sudah main potong saja, seperti tahu saja aku mau bilang apa." kata Nona memeluk suaminya manja.
"Memang mau bilang apa?"
"Jangan lupa makan." jawab Nona tertawa.
"Hmmm... hanya itu saja?" tanya Kenan menyeringai.
"Makannya jangan sama cewek." kata Nona lagi membuat Kenan menjentikkan dahinya lagi dikening Nona.
"Curiga terus." katanya menggandeng Nona menuju mobil.
"Bawaan dedek bayi." kata Nona beralasan. Roma terkikik dibuatnya.
"Om belikan Kak Nona piano nanti dirumah baru." kata Roma pada Kenan yang sudah duduk di Mobil.
"Mau sayang?" tanya Kenan pada Nona. Langsung saja Nona mengangguk senang.
"Ok." jawab Kenan mengacungkan jempolnya.
Nona dan Roma kembali masuk ketika Mobil hilang dari pandangan mata.
"Kenapa mintakan aku piano tadi?" tanya Nona pada Roma.
"Bagus kan untuk Ibu hamil dengarkan musik menambah kecerdasan anak." jawab Roma sok tahu. Nona mengangguk setuju.
"Kak Nona nanti sore temani aku ke dokter kandungan, mau?"
"Bukannya kamu sama Ray kemarin mau ke dokter kandungan ya?"
"Iya tapi Ray pulang malam kemarin, batal deh."
"Duh maafkan, Mas Kenan pulang cepat kemarin." Nona jadi tidak enak hati.
"Ih tidak masalah, antarkan aku ya nanti." pinta Roma pada Nona. Nona mengangguk setuju.
"Kamu hamil?" tanya Nona lagi.
"Belum, hanya mau konsul saja dan minta obat biar cepat hamil." Jawab Roma berharap ia segera hamil, walau usia pernikahannya dengan Ray belum terlalu lama tapi Roma tiba-tiba saja ingin cepat punya anak, awalnya masih santai nanti-nanti saja.
"Semoga saja kamu juga hamil, tapi kalau awal kehamilan ternyata tidak boleh hajar semalaman seperti yang Raymond bilang tadi, bahaya rawan keguguran." kata Nona polos membuat Roma bersemu merah.
"Ish Kak Nona, Raymond itu hanya bercanda. Dasar Raymond minta kujewer nanti kalau pulang." Kata Roma kesal, Raymond selalu saja membuat Roma malu.
"Loh kukira benar karena kan Raymond biasanya tidak pernah ditunggu selalu saja menunggu.
"Hihi serangan fajar dulu kok Nona bukannya semalaman." jawab Roma akhirnya mengaku, Nona terbahak dibuatnya.
"Kak, ada keponakan teman kuliahku mau kursus piano private, Kak Nona mau ajari?" tanya Roma kemudian.
"Ijin Mas Kenan dulu ya. Rumahnya dimana?" tanya Nona, sedikit tertarik karena ada aktifitas baru nantinya.
"Masih dikomplek yang sama." jawab Roma.
"Pasti temanmu lihat story kamu dimedsos ya?" Nona menebak, Walaupun ia tidak terlalu suka bermain medso tapi sekali waktu melihat jika ada yang mention namanya, hingga muncul notifikasi di handphonenya.
"Iya, katanya andai aku di Jakarta keponakannya bisa private. Ku bilang sama istri Om ku saja, yang disebelahku."
"Langsung saja jawabnya mauuuuu. Banyak sekali huruf U nya." Roma terkekeh, Nona pun ikut terkekeh.