
"Eh pengantin baru." sapa Pak Jaya saat melihat Nanta hadir di GBK, Pak Jaya menyelamati Nanta begitu juga teman-teman yang lain.
"Baru Ijab kabul sudah langsung kelapangan." kata Doni salah satu temannya.
"Hahaha sudah minta ijin tidak dikasih." jawab Nanta tertawa.
"Sudah mepet begini minta libur, enak saja." jawab Pak Jaya, membuat Nanta kembali terbahak.
"Kasihan, Pak. Minggu depan sudah pergi." kata Mike temannya yang lain.
"Salah sendiri, menikah terburu-buru." jawab Pak Jaya tidak perduli, Nanta terus saja tertawa, melihat respon Pak Jaya.
"Ajak saja istri kita ke Amerika." goda Doni lagi.
"Ish yang ada disana Aku tidak konsentrasi." jawab Nanta membuat pikiran teman-temannya berkelana dan riuh menggoda Nanta.
"Ih pikirannya kalian ini, maksudku tidak konsen itu nanti dia luntang lantung sementara kita sibuk." Nanta menjelaskan dan ikut tertawa jadinya.
"Nanta, kamu setelah akad nikah ajak istrimu sholat sunah dua rakaat setelah itu kamu baca doa sambil memegang ubun-ubun istrimu." kata Pak Jaya mengirimkan chat isi doanya pada Nanta.
"Makasih, Pak." kata Nanta tersenyum manis pada Pembinanya.
Benar seperti yang Nanta bilang, mereka baru selesai pukul sepuluh malam, itu pun masih ada yang mengajak makan dulu diluar.
"Aku pulang saja, ya. Kemalaman soalnya." jawab Nanta, langsung saja semua bersorak menggoda Nanta.
"Tidak sabar mau malam pertama ya?" tanya Mike mengangkat alisnya.
"Bukan begitu, aku malam ini menginap dirumah mertua, tidak punya kunci, harus bangunkan Istriku nanti untuk buka pintunya." jawab Nanta sedikit canggung menyebut kata mertua dan istri.
"Iya-iya percaya." sahut Doni sambil terkekeh.
"Tapi aku juga lapar sih." kata Nanta memegang perutnya.
"Ya sudah makan saja dulu, belum tentu dirumah mertua kamu masih ada makanan di meja makan semalam ini." bujuk Doni.
"Ya sudah." jawab Nanta akhirnya memutuskan ikut bergabung dengan yang lain untuk makan bersama. Ia langsung masuk ke mobilnya, tidak bergabung dimobil Doni bersama Mike dan yang lainnya karena Nanta ingin langsung pulang setelah Makan.
"Belum selesai?" baru saja Nanta akan menghubungi Dania, Dania sudah menghubunginya lebih dulu.
"Baru saja selesai, aku ikut makan dulu ya sebentar, kamu mau dibungkusi apa?" tanya Nanta pada Dania.
"Makan diluar, lama dong sampainya." sungut Dania.
"Kamu sudah mengantuk?" tanya Nanta.
"Hu uh."
"Ya sudah tidur saja, nanti aku hubungi Winner atau Lucky untuk bukakan pintu." kata Nanta sambil fokus menyetir.
"Tidak mau aku temani makan?" tanya Dania.
"Mau sih, tapi sudah terlanjur bilang ikut makan bersama, bagaimana ya?" tanya Nanta bingung.
"Telepon saja, bilang tidak jadi ikut." Dania sedikit memaksa.
"Hehehe kalau begitu aku bungkus saja makanannya, tidak enak kalau batalkan lewat telepon." kata Nanta akhirnya.
"Disini banyak makanan loh, Mas." kata Dania.
"O ya, oke." jawab Nanta akhirnya, menutup sambungan teleponnya. Begini ya kalau punya pasangan, ternyata tidak bisa sembarangan ambil keputusan, bahkan untuk makan diluar sekalipun, pikir Nanta terkekeh.
"Aku tidak jadi makan, ya. Ternyata sudah ditunggu makan dirumah." kata Nanta saat menemui Pak Jaya dan temannya di tempat makan. Ia tidak membatalkan via telepon, selain memang melewati tempat makan langganan mereka, juga rasanya tidak sopan, sudah bilang iya tiba-tiba berubah pikiran.
"Untung saja belum dipesan makanannya." kata Doni terkekeh.
"ya sudah pulanglah, kapan kenali kami dengan istrimu, Nan?" tanya Pak Jaya.
"Nanti saja saat antar aku ke titik kumpul sabtu depan." jawab Nanta. Pak Jaya menganggukkan kepalanya.
"Kenalkan juga dengan Istriku nanti." kata Doni.
"Iya." jawab Nanta, ia pun pamit pada Pak Jaya dan semua temannya.
Nanta melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, jalanan lumayan lancar, tapi termasuk ramai, sudah semalam ini masih pada sibuk dijalan. Lima belas menit saja jarak tempuh dari GBK ke Menteng, cepat sekali Nanta sampai dirumah Om Micko, kalau siang jangan harap bisa secepat itu.
"Sudah pulang?" tanya Micko dengan senyumnya, ia yang membukakan pintu Nanta.
"Om belum tidur?" Nanta malah balik bertanya.
"Belum, Om juga baru pulang." jawab Micko kembali mengunci pintunya setelah Nanta masuk.
"Dari mana Om?" tanya Nanta iseng, padahal tidak perlu juga dia tahu.
"Loh, tidak bilang aku, biar aku dan Dania besok yang beli." Nanta menatap Micko bingung.
"Yang ini masih tanggung jawab Om." kata Micko menepuk bahu Nanta.
"Makan yuk, kata Dania kamu belum makan." kata Micko kemudian.
"Iya." jawab Nanta dengan mata berkeliling mencari keberadaan Dania yang katanya mau menemani Nanta makan.
"Dania lagi didapur." Micko terkekeh.
"Masak?" tanya Nanta heran, katanya banyak makanan.
"Tidak, Om minta Dania bikinkan kamu minuman." jawab Micko menyeringai jahil.
"Aku kan air putih saja, sudah malam." Nanta menggaruk kepalanya, tidak enak hati.
"Yang lain sudah tidur, Om?" tanya Nanta karena rumah tampak sepi.
"Dikamar, biarkan saja." Micko merangkul Nanta menuju ruang makan yang melewati lorong panjang dari ruang tamu.
Setelah tiba diruang makan, baru Nanta melihat Dania yang tersenyum saat melihat Nanta datang bersama Papanya.
"Aku bikinkan ini." kata Dania menunjuk air berwarna kecoklatan didalam gelas yang dipegangnya.
"Apa itu?" tanya Nanta yang masih dirangkul Micko.
"Air madu dan kayu manis." jawab Dania.
"Untuk apa itu Om?" tanya Nanta.
"Kata orang sih biar cepat punya anak." bisik Micko dengan senyum jahilnya.
"Aish." Nanta menatap Micko sambil tersenyum canggung serba salah. Nanta belum membahas itu lebih lanjut, seingatnya ia dan Dania berencana punya anak setelah Nanta lulus kuliah.
Micko menggiring Nanta untuk duduk dimeja makan, disebelah Dania, ia duduk di ujung kepala meja makan agar dekat dengan keduanya.
"Tante Lulu tidak makan?" tanya Nanta.
"Mana mau makan semalam ini, takut berat badannya bertambah." Micko terkekeh.
"Papa dari mana sih?" tanya Dania pada Papanya, tadi ia yang membukakan Micko pintu, dipikirnya Nanta yang pulang.
"Ada deh." jawab Micko terkekeh melirik Nanta sambil tersenyum, Nanta ikut tersenyum saja tidak mengerti, tadi Om Micko bilang beli kebutuhan Dania, tapi Dania sendiri tidak tahu dan sekarang merahasiakannya dari Dania.
Nanta makan seadanya, sekedar mengisi perutnya, karena hari sudah malam. Tadinya ia mau makan sate ayam pakai lontong, tidak makan nasi. Tapi Dania memaksa untuk makan dirumah.
"Dikit sekali makannya." kata Micko.
"Sudah malam, Om. Ini minuman manis belum aku minum, terlalu banyak karbohidrat nanti." jawab Nanta mengikuti gaya Kenan yang makan dengan pola hidup sehat.
"Sama saja dengan Papamu." Micko terkekeh.
"Iya aku memang ikuti Papa." jawab Nanta ikut terkekeh.
"Makan-makan saja, yang penting mengunyah tiga puluh dua kali." kata Micko pada menantunya.
"Hahaha itu juga Om, tapi aku belum bisa, kadang tidak sabar langsung lahap." jawab Nanta tertawa.
"Itu yang tidak sehat." kata Micko sambil menikmati makanannya.
"Repot sekali mau makan." keluh Dania memandangi Papa dan suaminya bergantian.
"Biar sehat." kata Nanta tersenyum manis memandang Dania, membuat Dania salah tingkah.
"Oh." jawabnya buru-buru mengalihkan pandangan pada Papa.
"Iya." jawab Papa setuju. Dania tersenyum saja, pikirnya kalau mau sehat mestinya tidak makan lagi jam segini.
"Nek Pur mau pulang besok, Pa." kata Dania kemudian.
"Oh cepat sekali."
"Sudah selesai urusannya." Dania tertawa kecil.
"Besok kita saja yang antar, aku besok libur, tapi Minggu pagi ke GBK lagi." kata Nanta.
"Sudah mau masuk asrama, masih juga ke GBK." protes Micko, Nanta terkekeh mendengarnya.
"Memang begitu, tidak apa kan?"
"Ya tidak apa, tidak bisa melarang juga." jawab Micko terbahak, Nanta dan Dania tertawa melihat Micko.