
"Pada dai mana sih? udah maam masih pedi juda?" sambutan dari Balen saat Nanta dan semuanya masuk ke dalam rumah.
"Loh kok bangun?" tanya Nona pada kesayangannya.
"Banun caiin Mamonna ama Paponna ndak ada tamal." wajah Balen tidak bersahabat.
"Habis temani Abang sama Tania." jawab Kenan mengangkat tubuh Balen dalam gendongannya.
"Udah dedek temenin, anat tecil tindalin di umah." masih saja ngomel, Kenan langsung terkekeh dan menciumi pipi gadis kecilnya.
"Ya deh sekarang ditemani, yuk bobo lagi." ajak Kenan menenangkan Balen.
"Bangun jam berapa Ncusss?" bisik Nona pada pengasuhnya.
"Satu jam yang lalu." jawab Ncusss ikut berbisik.
"Lama juga ya, nangis?" tanya Nona.
"Tidak, lihat Pak Atang bawa makanan langsung mau." jawab Ncusss.
"Eh dimakan?" tanya Nona khawatir karena itu punya Dania.
"Diambil satu tadi." jawab Ncusss lagi.
"Dania, fish and chips kamu diambil satu ya untuk Balen." kata Nona pada Dania.
"Balen suka?" tanya Dania.
"Suta, tapi ndak boeh abisin." gerutu Balen.
"Habiskan saja, boleh kok kalau mau lagi." kata Dania tersenyum, ia sudah kenyang. Lagi pula besok rencana mau nonton lagi kan, bisa beli juga.
"Tapi Baen masih tesel." Kening Balen kembali mengkerut.
"Tadi makan fish and chips nya lagi kesal?" tanya Baron pada cucunya.
"Yah. Pa Atan sih ndak ajat Baen." mulutnya mengerucut.
"Duh kalau masuk tv mana boleh wajahnya seperti itu." Baron terkekeh.
"Taya mana eman?" tanya Balen penasaran.
"Seperti ini." Kenan menghadapkan wajah Balen pada cermin.
"Ya ampun jeek benen." Balen menutupi wajahnya.
"Coba senyum pasti cantik lagi." kata Baron, Balen mengikuti tersenyum menghadap cermin.
"Cantik kan?" tanya Baron tertawa.
"Talo taya dini boeh masut tipi ya Opon?" sepertinya kekesalan Balen mencair.
"Iya dong, cantik begitu pasti enak dilihat." jawab Opa Baron.
"Masih kesal?" tanya Nanta pada adiknya.
"Ndak, nanti Baen jeek mutana." jawab Balen kembali tersenyum.
"Tuh cantik begini, bikin gemas saja." kata Nanta mengacak anak rambut Balen.
"Tapina talo maam janan tindalin anakna don. Tasian tau caiin Papon ama Mamonna ndak ada, tatutan." keluhnya lagi.
"Tadi Balen ketakutan Bu, dikira Papon sama Mamonnya diculik." kata Ncusss pada Nona.
"Hei kamu nonton apa sih, kok kepikiran di culik." Kenan tertawa.
"Temaen Baen main di teas, Oma suuh masut. Baen janan main diual, nanti cuik." Balen ulangi kalimat Oma Mita. Mita tertawa geli.
"Oh iya anak kecil jangan keluar sembarangan. Oma betul." kata Nona pada Balen.
"Oang dedek Juda janan tual sembaanan, udah maam tuh Bobo, Mamon." malah membalikkan perkataan Mamon.
"Iya, ayo bobo." Nona nyengir lebar.
"Tusi tati ama tanan duu dih." perintahnya pada Nona.
"Iya Ibu Balen." kata Nona lagi sambil masuki kamar tinggalkan Balen dan yang lainnya. Semua tertawa geli jadinya.
"Oke saya ke kamar dulu, selamat tidur." Kenan tersenyum pada mertuanya.
"Samat bobo Opa, Oma." kata Balen pada Opa dan Omanya.
"Selamat tidur sayang, kamu bobo sama Papon? tidak sama Ichie?" tanya Baron.
"Ama Papon aja, bian ndak pedi ladi." jawabnya membuat Kenan tertawa.
"Eh matanan Baen mana Ncusss." teriaknya teringat fish and chips yang tadi dimakannya.
"Dimeja makan." jawab Ncusss.
"Papon Baen mo matan duu." pintanya pada Kenan.
"Ayo." Kenan ikuti kemauan Balen menuju meja makan.
"Semuana bobo aja, Baen mo matan duu." kata Balen pada yang lain.
"Opon ikut temani boleh?" tanya Baron.
"Boeh, tapi matananna ndak ada ladi." takut diminta Opon.
"Tidak apa, Balen saja yang makan. Opon temani saja." Baron terkekeh.
"Oma langsung ke kamar ya." kata Mita pada Balen.
"Yah." jawabnya lambaikan tangan pada Mita.
"Abang sama Tania langsung ke kamar juga." Nanta ikut lambaikan tangan, tapi lagi-lagi Balen mencibir pada Abangnya.
"Kenapa begitu?" tanya Dania bingung.
"Udah dedek pedi minta temenin semuana." jawab Balen kembali mencibir.
"Singkong Rebus mencibir sekali lagi Abang sekap nih." ancam Nanta pada adiknya.
"Yah." jawab Balen.
"Iya-Iya saja lagi." lanjut Nanta. Dania tertawa menepuk bahu suaminya.
"Kenapa?" tanya Nanta bingung.
"Ketularan Mamon kamu." sahut Baron membuat Nanta terbahak.
"Hahaha iya ya. Aku bobo ya." pamit Nanta pada Padeh dan Papanya.
"Yah." jawab Baron dan Kenan bersamaan seperti jawaban Balen. Semuanya jadi tertawa geli.
"Tidak boleh kesal begitu sama Abang, tadi Papon yang mau temani kok bukan Abang yang minta." kata Kenan pada Balen setelah Nanta dan Dania menghilang dari pandangan mata.
"Ditu?" tanya Balen asik melahap fish and chips yang awalnya untuk Dania.
"Lagi pula kalau tadi Abang tidak pergi, Balen tidak makan ini." tunjuk Baron pada makanan Balen.
"Iya ya, tasian Aban." Balen jadi menyesal.
"Iya besok baik lagi sama Abang ya." kata Kenan tertawa. Balen menganggukkan kepalanya sambil menikmati makanannya. Kenan baru tahu kalau Balen suka fish and chips. Selama ini memang tidak pernah di ajak makan seperti ini. Makanan habis dalam waktu singkat, Kenan yakin Balen tidak lapar karena tadi sudah makan. Efek selalu makan sop dirumah.
"Papon, Opon. Baen mo bobo ama Aban aja." kata Balen segera beranjak tinggalkan keduanya berlari cepat ke kamar Abangnya.
"Aban..." Balen mengetuk kamar Abangnya, bukan ketuk sih tapi menggunakan semua tenaga yang dimilikinya.
"Abaaannnn..." teriak Balen lagi, kali ini pakai emosi.
"Ya..." Nanta membuka pintu kamar memandang adiknya yang berdiri sambil tersenyum manis.
"Baen mo bobo ama Aban." katanya mengulurkan kedua tangannya minta digendong.
"Eh..." Nanta menggaruk kepalanya.
"Senen tan adekna ndak maah ladi." Balen terkekeh saat Nanta menggendongnya.
"Iya dong." jawab Nanta ikut terkekeh tapi belum juga masuk, sesekali menoleh ke belakang.
"Ayo masut tamal, napain bedii disini?" tanya Balen heran.
"Ambil selimut Balen dulu." kata Nanta pada adiknya.
"Oh iya Baen upa." Balen terkekeh.
"Dan, aku ambil selimut Balen dulu, dia mau tidur sama kita." teriak Nanta pada Dania.
"Iya." terdengar jawaban Dania dari dalam. Nanta menarik nafas lega, untung saja Balen belum bawa selimut, kalau sudah langsung bawa bisa teriak lagi tanya kenapa Dania tidak pakai baju. Singkong rebus benar-benar minta di sekap.
Sebelum sampai dikamar Balen, Nanta kembali memastikan jika bajunya tidak terbalik. Setelah dirasa aman, baru deh berjalan cepat menuju kamar Balen, menurunkan Balen dan menunggu di depan pintu, karena ada Ncusss di dalam.
"Simut Baen mana Ncusss, Baen mo bobo ama Aban." terdengar suara Balen bicara dengan pengasuhnya. Tidak lama keluar sambil memeluk selimut yang terlihat rapi.
"Ndak usah dendong, Baen duuan ya." katanya berlari tinggalkan Abang yang mengikuti sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.