I Love You Too

I Love You Too
Tidur



Sampai di bioskop untung saja tidak terlalu antri, jadi datang sepuluh menit sebelumnya saja masih kebagian tiket, padahal film ini lagi booming dan di bioskop lain banyak yang tidak kebagian tiket. Nanta dan keluarganya beruntung rencana nonton mereka terlaksana sesuai rencana. Bahkan masih bisa pilih mau di bangku mana.


"Kamu sudah sering nonton disini?" tanya Dania pada suaminya.


"Beberapa kali." jawab Nanta tersenyum


"Kamu mau beli cemilan dulu?" tanya Nanta.


"Mau." Dania menganggukkan kepalanya cepat, paling enak nonton sambil makan. Kebetulan pintu theater belum di buka masih bisa pesan makanan.


"Papa mau pesan apa? Mamon, Padeh, Bude? aku mau antri beli cemilan." tanya Nanta pada Papa dan yang lainnya.


"Padeh air mineral saja, sudah kenyang." jawab Baron.


"Iya Bude juga air mineral saja." jawab Mita. Nanta memandang Papa dan Mamon menunggu jawaban.


"Samakan saja Boy, baru saja makan malam dirumah." kata Kenan, Nanta anggukan kepalanya. Ia juga kenyang, tapi ini kan yang mau Ibu hamil dan calon babynya.


"Oke aku pesan ya." Nanta menarik tangan istrinya untuk memesan makanan dan minuman.


"Sebentar lagi filmnya mulai, kamu pesan yang cepat saja." kata Nanta pada Dania.


"Iya, yang cepat apa Mbak?"


"Popcorn." jawab petugasnya sambil tersenyum.


"Ya sudah popcorn saja." jawab Dania. Padahal sudah kenyang dasar saja mulut masih mau mengunyah.


"Padahal aku mau fish and chips." bisik Dania pada suaminya.


"Fish and chips harus menunggu berapa lama, Mbak?" tanya Nanta setelah mendengar keinginan istrinya.


"Sepuluh menit." jawab petugas itu lagi.


"Tidak mungkin, sayang." jawab Nanta berbarengan dengan pengumuman pintu theater telah dibuka. Jadilah Dania harus menahan saliva karena tidak bisa pesan fish and chips.


"Pesan saja deh Mbak." kata Nanta pada petugasnya.


"Menunggu?" tanya petugas pada Nanta.


"Kalau film selesai kalian masih buka tidak?"


"Tutup mas, ini jam tayang terakhir." jawab petugas itu lagi.


"Ya sudah pesan saja, nanti yang ambil orang rumah saya. Ini orangnya ya." Nanta tunjukkan foto Pak Atang pada petugas tersebut.


"Nanti saya fotokan struk pembelian Kirim ke Pak Atang via chat. Bisa kan hanya tunjukkan foto struk itu?" tanya Nanta.


"Bisa Mas." jawab petugas tersebut, pikirnya sudah ada konfirmasi sebelumnya, kecuali tiba-tiba datang bilang mau ambil pesanan sudah pasti ditolak.


"Makannya dirumah saja ya." bisik Nanta setelah selesai berurusan jual beli makanan. Ia tersenyum senang bisa ikuti kemauan istrinya. Tidak mau anaknya ngences karena keinginan Mama tidak tercapai.


"Oke." jawab Dania cengengesan. Nanta segera hubungi Pak Atang untuk ambilkan pesanan makanan Dania. Sebenarnya sih bisa saja Nanta keluar dulu nanti saat film tayang untuk ambilkan pesanan Dania, tapi takut mengganggu penonton lainnya. Seandainya cafe di bioskop bisa layanan antar tentu akan lebih mudah lagi, pikir Nanta.


"Kasihan Pak Atang, harusnya istirahat." Dania tidak enak hati.


"Terus bagaimana dong, kasihan anakku kalau sampai ngences." Nanta terkekeh, berikan minuman pada Papa, Padeh, Mamon dan Bude Mita.


"Lama betul, dikasir tadi." Baron ingin tahu.


"Dania mau pesan Fish and chips tapi lama, keburu film mulai nanti." jawab Nanta.


"Terus bagaimana?"


"Memangnya enak sampai kamu kepengen?" tanya Nona sambil perlahan berjalan ke theater yang dimaksud.


"Tidak tahu, belum pernah coba sih." jawab Dania terkekeh.


"Besok Bude bikin deh, dijamin rasanya juara." janji Mita pada Dania.


"Bude bikin apa juga rasanya juara." Nanta terkekeh.


"Kalau Tante datang yang senang Mas Kenan, selera makannya jadi dua kali lipat." kata Nona. Mita tertawa menepuk bahu Nona. Mereka mulai memasuki ruangan gelap dan mulai mencari kursi sesuai nomor tertera di ticket.


"Besok-besok nonton disini lagi ya." pinta Dania saat baru saja duduk sesuai nomor urut. Walaupun sepi tapi bioskop ini terawat, rapi dan nyaman.


"Iya." Nanta tertawa mengacak anak rambut istrinya.


"Perdana nonton sama Mas Nanta." bisik Dania membuka bungkus popcorn, tawarkan Nanta. Nanta gelengkan kepalanya, no cemil-cemil deh sudah makan malam. Makanya Nanta hanya pesankan untuk Dania saja tadi, karena yang lain pun sama tertular pola makan Kenan. Tapi kalau sate ayam, Nanta tidak bisa menolak, semalam apapun kalau ada yang ajak pasti Nanta iyakan.


"Pencinta drama Korea di ajak nonton bioskop jadinya begini." gumam Nanta sambil benarkan posisi tidur istrinya, biarkan kepala Dania bersandar dibahunya. Bisa-bisanya pulas saat film berlangsung dan efek suara dari film yang volume suaranya cukup besar. Istrinya tidak terganggu sama sekali.


Nanta bangunkan Dania saat film sudah berakhir, lampu sudah mulai menyala. Semua penonton sudah beranjak dari bangku masing-masing.


"Sayang..." Nanta menepuk pipi Dania seperti biasa saat bangunkan Dania


"Hmmm..." Dania membuka mata sedikit, niatnya mau pejamkan dan tidur lagi. Tapi melihat banyak orang yang lewat, sadarkan Dania jika saat ini ia sedang di bioskop bersama suami dan mertuanya, berikut Padeh Baron dan Bude Mita. Duh malunya, mereka tampak berdiri menunggu Dania bangun.


"Pulas sekali." Nona terkekeh.


"Ke Bioskop cuma untuk makan popcorn, popconnya belum habis dia tidur." Nanta ikut terkekeh. Baron, Kenan dan Mita tertawa geli.


"Aku ngantuk." jawab Dania manja.


"Mungkin popconnya ada obat tidur." Padeh Baron tertawakan Dania.


"Padeh, bukan begitu." Dania segera bangun setelah dirasa matanya cukup aman untuk terbuka lebar, tidak menyipit khas orang mengantuk saat terbangun tengah malam mau ke toilet.


"Bagus loh filmnya." kata Nona pada Dania.


"Mau ajak Balen sama Ichie ah besok, boleh kan Mas?" ijin Nona pada Kenan.


"Aku ikut ya Mamon." pinta Dania.


"Nanti tidur lagi." kata Nanta menggandeng tangan istrinya perlahan turun tangga menuju keluar theater.


"Ini karena sudah malam." kata Dania beralasan.


"Iya besok kita siang kok. Kalau begitu kamu saja bertiga ya nonton film ini, Mamon nonton yang lain, mau kan Pa, Tante?" Nona tanyakan Baron dan Mita.


"Tergantung Balen dan Richie, ajak saja Tante Mita. Papa ada urusan pekerjaan dengan Kenan." tegas Baron.


"Oh kerja toh. Kenapa tergantung Balen dan Ichie, kan aku yang ajak."


"Kalau mau ajak anak kan harus ditanya mereka mau apa tidak nonton film itu." Baron mengacak anak rambut Nona. Sudah punya anak dua pun tetap dianggap bocah oleh Papanya.


"Iya sih, kita sudah pernah ajak mereka nonton dan anaknya sampai sekarang tidak pernah minta diajak nonton lagi. Biasanya kalau suka pasti minta diajak kesana lagi." jawab Nona, mereka sedang menuju parkiran. Toko sudah pada tutup hanya sesama penonton saja yang berjalan tinggalkan Mal. Lampu-lampu sudah mulai padam.


"Sepi sekali padahal belum terlalu malam." keluh Dania.


"Mal kan tutup jam sembilan, ini sudah jam sepuluh." Nanta terkekeh.


"Iya, makanya aku bilang belum terlalu malam. Kalau masih buka siapa tahu kita minat beli." Dania menyayangkan.


"Siapa tahu kan belum tentu minat. Lagi pula pegawai toko perlu istirahat. Mereka saja jam segini baru tinggalkan toko dan tutup rolling door." Nanta jelaskan pada istrinya seakan Mal ini milik keluarganya. Tapi bukan kok karena Syahputra group tidak mengepakkan sayapnya di pusat perbelanjaan.