
"Tante, aku pulang dulu ya, kenyang sekali ih." kata Wilma pada Mama Ando setelah selesai makan. Wajahnya tampak kepedasan.
"Kamu suka sekali Pepes ternyata ya." Mama Ando tertawa menepuk bahu Wilma.
"Dia tuh suka sekali makan, Tante." jawab Nanta mentertawakan Wilma yang tampak kekenyangan. Ando jadi ikut tertawa.
"Suka sekali aku pepes, tapi tadi Tante sendokkan nasinya kebanyakan." Wilma memegang perutnya yang sedikit membesar.
"Hahaha nanti dirumah tidak usah makan lagi." jawab Mama Ando.
"Sepertinya begitu Tante." jawab Wilma nyengir kuda.
"Ndo, thank you ya." kata Wilma saat akan menaiki mobil Nanta.
"Take care." Ando melambaikan tangannya pada Nanta dan Wilma.
"Semoga besok sukses, quiznya." Wilma mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa.
"Aamiin." jawab Nanta dan Ando bersamaan. Perlahan Nanta melajukan kendaraannya meninggalkan Ando yang senyum-senyum ingat konyolnya Wilma.
"Apa itu Bang?" tanya Wilma menunjuk mica di Mobil Nanta.
"Rendang jamur sama dendeng balado." jawab Nanta baru ingat, rencananya setelah mengantar Wilma ia akan kerumah Ayah, sekaligus menginap disana, juga ingin membahas keberangkatan ke Malang.
"Kamu beli?" tanya Wilma, Nanta menggelengkan kepalanya.
"Dikasih teman." jawabnya jujur.
"Siapa?" kepo deh mau tahu lebih detail.
"Neneknya temanku sih." kata Nanta kemudian.
"Baik sekali, teman apa itu sampai Nenek kasih lauk." Wilma terkekeh memandangi Nanta.
"Kamu juga teman apa, sampai Tante menyendokkan nasi makan sepiring berdua kamu." Nanta mengernyitkan hidungnya. Wilma kembali terkekeh, bersyukur karena banyak yang sayang jadi perut bisa kenyang, itu saja diotaknya.
Nanta menurunkan Wilma didepan rumah, karena Mommy Liana tampak sedang duduk diteras, Nanta pun turun menyalaminya.
"Mampir dulu Nan." kata Mommy Liana pada Nanta.
"Langsung saja ya Mom, sudah malam, aku mau kerumah Ayah." jawab Nanta, Mommy Liana pun menganggukkan kepalanya.
"Salaam untuk Ayah dan Bunda, ya." kata Mommy pada Nanta.
"Iya Mom, oh iya Wilma sudah makan tadi, Mom." lapor Nanta pada Mommy.
"Dirumah temanmu itu lagi?" Mommy terkekeh saat Nanta menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada malunya." kata Mommy mengacak anak rambut Wilma, Nanta tersenyum lebar.
"Hadeuh Mommy ih, masih kenyang aku. Perut aku lihat nih Mom." kata Wilma bangga menunjuk perutnya kemudian tertawa sendiri.
"Enak sekali ya makannya sampai buncit begitu?" Mommy tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Si Tante sendokin nasinya terlalu banyak Mom." Nanta kembali tertawa melihat Wilma yang kocak.
"Mommy aku pamit ya, salaam buat Daddy." kata Nanta kemudian. Mommy Liana pun mengantar Nanta sampai ke pintu Mobil.
"Hati-hati sayang." katanya pada Nanta.
"Nanta besok jemput." teriak Wilma lagi.
"Di Gerbang seperti tadi, tidak ada tinggal." jawab Nanta masuk kedalam mobilnya. Mommy Liana terkekeh, bungsunya paling sering merepotkan Nanta.
"Oke." jawab Wilma cepat sebelum Nanta melajukan kendaraannya menuju rumah Ayah dan Bunda.
"Assalamualaikum..." Nanta tersenyum saat melihat Bunda yang sedari tadi ternyata menunggu kehadirannya.
"Waalaikumusalaam, lama sekali pulangnya, Bunda sudah lapar nih mau makan dendeng balado." kata Kiki terkekeh melihat box mica yang dipegang Nanta.
"Siapa yang bikin dendeng balado?" tanya Ayah Eja senyum-senyum jahil. Padahal tadi dijalan Nanta sudah cerita pada Ayah dan Bunda melalui telepon.
"Ayah dan Bunda makan duluan saja, Nanta mau mandi ya." katanya meletakkan mica dimeja makan, kemudian bergegas memasuki kamar tempatnya biasa menginap.
"Jangan lama-lama mandinya ya, Ayah tunggu." kata Reza pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta menutup pintu kamar.
"Enak loh Kak." kata Kiki pada Reza saat mencoba dendeng baladonya.
"Enakan mana sama buatan Mama?" tanya Reza mendekati istrinya.
"Beda-beda enaknya, nih coba." jawab Kiki menyuapi Reza. Reza menganggukkan kepalanya saat merasakan dendeng dimulutnya.
"Iya enak." katanya mengacungkan jempolnya.
"Banyak Dek?" tanya Reza lagi pada Kiki.
"Banyak, sisanya aku masukkan kulkas, kenapa?"
"Kita bawa ke Malang, biar yang lain ikut makan." kata Reza, Kiki pun mengangguk setuju.
"Ayah ada rendang jamur juga loh, rencana mau aku bawa buat Papa." kata Nanta yang kini tampak segar, sudah selesai mandi.
"Iya dendengnya juga rencana Ayah mau bawakan untuk yang di Malang, biar bisa coba." jawab Reza pada Nanta. Mereka lalu mulai makan malam bersama, kebetulan Kiki masak tumis kangkung, tambah lahap saja makan Nanta.
"Ayah sama Bunda ke Malang rabu jam berapa?" tanya Nanta kemudian setelah selesai makan.
"Kamu maunya jam berapa?" tanya Reza pada Nanta.
"Aku baru selesai kuliah jam dua belas." jawab Nanta.
"Ya sudah kita berangkat jam tiga sore." jawab Reza.
"Kamu tidak usah bawa Mobil ke kampus. Nanti Ayah dan Bunda jemput, kita langsung ke Bandara." sambung Reza lagi.
"Oke." jawab Nanta senang, ia jadi berangkat bersama Ayah dan Bundanya.
"Kamu kok bisa sih dikirimin makanan begini? enak lagi." kata Kiki jadi bangga sendiri.
"Kan ucapan terima kasih dari Nenek." jawab Nanta seakan sudah mengenal Nenek lama.
"Bilang sama Neneknya teman kamu tuh, terima kasih dari Ayah dan Bunda, berkah deh makan Bunda jadi lahap." kata Kiki tersenyum.
"Iya Bunda nanti aku bilang." jawab Nanta ikut tersenyum.
"Oh iya, Ayah dan Bunda tadi Mommy Liana Kirim salam." kata Nanta kemudian.
"Kamu kerumahnya?" tanya Bunda Kiki pada Nanta.
"Iya, mengantar Wilma pulang, tadi kan pulang sekolah aku jemput." jawab Nanta apa adanya.
"Jadinya sama Wilma atau Dania yang kasih dendeng nih?" tanya Bunda Kiki terkekeh.
"Yang kasih dendeng Nenek, bukan Dania." jawab Nanta ikut terkekeh.
"Tentukan pilihan dari sekarang, Boy." Reza menepuk bahu Nanta.
"Kerja dulu dong, Ayah. Baru setelah itu bisa pilih." jawab Nanta pada Reza.
"Seperti Ayah dulu." kata Kiki pada Nanta.
"Nanta kan sudah kerja juga sayang, kamu kira dia tidak punya penghasilan dari basketnya." Nanta terkekeh, beberapa kali mendapat uang dari basket saat menang pertandingan.
"Kapan mau mulai belajar di Warung Elite. Kamu mau jadi pengusaha juga kan?" Reza menatap Nanta.
"Mau seperti Ayah." jawab Nanta yakin.
"Seperti Papa dan Bang Ray juga." katanya lagi.
"Makanya belajar dari sekarang, kita semua sudah mulai saat masih kuliah, walaupun tidak maksimal karena lebih fokus pada urusan kampus." kata Reza mengingat pengalamannya dulu.
"Iya Ayah, sekarang masih belum bisa, mungkin mulai semester depan ya." janji Nanta pada Reza.
"Yang tidak membuat kuliahmu berantakan saja." jawab Reza pada keponakannya tersayang.
"Jangan dong, masa berantakan." Kiki menepuk bahu suaminya.
"Mulai di atur waktunya, Nak. Kapan main basket, kapan bekerja part time." kata Reza semangat sekali ingin mengajari Nanta mengurus perusahaan seperti niatnya ketika mengajak Nanta pindah ke Jakarta.
"Iya Ayah." jawab Nanta menurut.
Ini yang ketinggalan, mohon maaf sedikit terlambat all💗💕, terima kasih untuk semua bentuk dukungannya ya, aku terharu🥰