
"Baen..." Larry hubungi Balen saat Femi sudah turun dari mobil dan masuk kerumahnya.
"Masih setin?" tanya Balen pada Abang idolanya.
"Masih, tapi parkir dulu telepon Baen, Abang Nanta mau pergi kan sebentar lagi."
"Yah."
"Kenapa tadi dimatikan, Abang kan mau ngobrol."
"Abisna Aban Leyi masih setin. Eh tatak Pemi antat teponna." jawab Balen membuat Larry tertawa.
"Aban Leyi emanna istina Tatak Pemi butan Baen?" tambah meledak saja tawa Larry.
"Bikin adek gue patah hati lu Leyi." celutuk Nanta kembali Larry terbahak.
"Belum tahu Baen, Aban tanya Papa dulu." jawab Larry pada Baen.
"Hausna aban Leyi piih Baen don." komplen berat.
"Baen sih lahirnya terlambat." kata Larry tersenyum lebar.
"Aban Leyi napa lahin duuan. Hausna tundu Baen aja." gemas sekali Larry dengan singkong cantiknya ini.
"Jadi bagaimana dong, Aban tidak usah punya istri saja?" Larry menggoda Balen.
"Teseah aja Baen sih." malah acuh tidak peduli.
"Kok terserah, kalau Abang punya istri Balen bagaimana?" tanya Larry.
"Baen juda puna isti don." tidak mau kalah. Kembali Larry dan Nanta terbahak.
"Mana patah hati, malah mau cari yang lain dia." kata Larry pada Nanta.
"Mau sama Daniel katanya." jawab Nanta mengusap kepala adiknya, bukan usap sebenarnya agak diunyeng-unyeng karena gemas.
"Bantakan ambut Baen nih." omelnya pada Nanta.
"Ish judes." kata Nanta tersenyum.
"Mau jadi istri Daniel ya?" tanya Larry pada Balen.
"Abisna Aban Leyi ndak mo isti Baen." monyongkan bibirnya pada Larry.
"Sedih tidak?" tanya Larry.
"Ndak." gelengkan kepalanya acuh tak acuh.
"Sue kenapa gue yang sedih ya." kata Larry pada Nanta. Nanta jadi terbahak dibuatnya.
"Kalau Abang punya istri masih mau belajar berenang sama Abang tidak?" tanya pada Balen.
"Eman boeh?" tanya Balen.
"Boleh dong masa tidak boleh." jawab Larry.
"Tundu ya Baen tanain aban Danil duu." jawabnya membuat Larry gemas.
"Kenapa jadi tanya Daniel?" protes Larry sementara Nanta tak kuasa menahan tawanya.
"Baen ajain Aban Danil aja, ndak mo ajain Aban Leyi." merajuk rupanya.
"Yah jangan begitu dong, nanti Abang Leyi nangis nih." Larry pasang wajah sedih.
"Biaian aja, nanis aja sendiian." tidak peduli mau nangis apa tidak.
"Huaaaa kenapa jadi begini singkong cantik ya?" Larry jadi resah.
"Udah duu ya, Baen mo te Papon. Tao Aban Danil tepon suuh tepon Baen don." Larry berasa terbuang kini, Baen mulai abaikan Larry. Sementara bocah tengil masih merajuk pada Larry.
"Sudah ya Leyi, gue mau ke Mesjid." kata Nanta pada Larry.
"Sombong betul dia, baru juga ngobrol sebentar." keluh Larry.
"Memang begitu kan kalau kesal, waktu di Amerika saja dia maunya ngomong sama elu terus, karena kesal sama gue." Nanta ingatkan Larry.
"Kalau begini bukan Balen yang patah hati tapi gue." Larry bersungut.
"Lebay lu Leyi." Nanta tertawakan Larry dan mereka akhiri sambungan teleponnya.
"Baen kenapa Abang Leyi di judesi?" tanya Nanta pada adiknya.
"Abisna Aban Leyi ndak piih Baen sih." tersenyum senang bisa abaikan Larry.
"Mana mungkin pilih Balen, Balen kan masih kecil." kata Deni pada Balen.
"Saah sendii napa lahinna duuan ndak tundu Baen." ocehnya membuat seisi rumah terbahak.
"Jadi mulai sekarang tidak usah berenang lagi ya?" tanya Nanta.
"Beenang aja." jawab Balen.
"Siapa yang ajari?" tanya Nanta.
"Bukan Abang Larry Baen?" tanya Nanta.
"Butan." jawabnya pasti.
"Daniel kan diasrama, setelah itu kuliah di Ohio." Nanta ingatkan Balen.
"Oh iya, jadi dimana don Baen beenangna?" tanya pada Nanta.
"Terserah mau diajari Abang saja atau Abang Larry?" tanya Nanta.
"Ajain Aban Leyi aja deh." jawabnya kembali Larry yang ajarkan.
"Tapi tadi marah sama Larry?"
"Sebentan aja." jawabnya.membuat Nanta gemas dan cubiti pipi adiknya.
"Satit tau." omelnya pada Nanta.
"Omeli terus Abangnya." keluh Nanta pada Balen.
"Abisna tadi bantakin ambut Baen, teus sekaang cubit Baen." lanjut ngomel.
"Maaf ya Ibu Balen." akhirnya Aban minta maaf.
"Janan ditu ladi ya." kembali semua tertawakan Balen yang sok tua.
"Iya tidak gitu lagi kok." jawab Nanta terkekeh.
Setelah kembali dari Sholat magrib Nanta dan istrinya pun berpamitan kembali Ke hotel, padahal hanya satu malam tanggung sekali, tapi demi kumpul keluarga, ikuti kemauan Papa Micko deh.
"Aban ninapna janan ama-ama ya." pinta Balen pada Nanta. Balen pasti kesepian karena Richie ikut menginap dirumah Ayah Eja, tidak peduli walaupun tadi sudah dibilang ada Deni dan Dini di rumah.
"Iya sayang, besok siang Abang sudah di rumah kok." jawab Nanta pada Balen.
"Aban sayan Baen tan?" tanya lagi sama Nanta.
"Sayang dong, masa tidak." Nanta tertawa dan peluki Balen.
"Bian udah puna isti haus sayan Baen ya." pesannya pada Nanta.
"Memangnya Abang tidak sayang Baen?" tanya Dania pada Balen.
"Sayan sih, tatut upa aja." jawabnya membuat Dania tertawa.
"Mau ikut menginap di hotel?" tanya Dania pada Balen.
"Ndak, Baen ladi ada tamu." jawabnya membuat semua terbahak, hari ini Balen lagi jadi tuan rumah, latihan jika punya hotel, pikirnya.
Perjalanan menuju hotel hanya setengah jam, dekat sekali memang. Makanya Nanta dan Dania bisa makan malam bersama bersama keluarga besar Suryadi tanpa khawatir kena macet.
"Baru datang, padahal dari tadi ditunggu." Mike bersungut melihat Nanta dan Dania baru datang.
"Kenapa ditunggu, bukannya sibuk olah raga?" tanya Nanta pada Mike sambil tertawa.
"Bagaimana mau olah raga, tidak ada Dania sudah pasti gue yang dipanggil temani Kakek ngobrol." sungut Mike membuat Nanta tertawa geli.
"Bilang dong dari tadi, kalau tahu roti unyil Balen gue kirim pakai ojek online." kata Nanta merangkul sahabatnya. Sementara Dania asik ngobrol dengan Seiqa yang sudah berpakaian santai.
"Mana Kakek?" tanya Nanta pada Mike.
"Cucu yang lain baru pada muncul, itu lagi di pinggir kolam sama mereka." jawab Mike tunjuk kolam renang hotel.
"Bagaimana tadi seru?" tanya Mike ingin tahu, baru kali ini tidak diajak pergi bersama.
"Seru." jawab Nanta santai.
"Tapi Larry kenapa tadi telepon gue?" tanya Mike.
"Kapan?" Nanta balik bertanya.
"Lima belas menit yang lalu." jawab Mike.
"Oh bilang apa?"
"Balen tidak mau diajari Larry berenang lagi." jawab Mike tertawa.
"Lu tahu kenapa?" tanya Nanta, Mike gelengkan kepalanya.
"Karena Larry tidak pilih Balen jadi istrinya." Mike langsung terbahak mendengarnya.
"Jadi mau berenang sama siapa?" tanya Mike lagi.
"Sama Daniel." jawab Nanta, kembali Mike terbahak mendengarnya.
"Sama gue marah tidak?" tanya Mike khawatir Balen juga marah karena Mike menikah.
"Tidak, tadi bilang Aban Maik bobo sama istri nih." Nanta ulangi kalimat Balen.
"Rese, bocah. Tidak tahu dia kalau gue dari tadi dikamar Kakek, Seiqa sendiri di kamar." Nanta tertawa bayangkan Mike yang tidak konsentrasi saat temani Kakek tadi.