I Love You Too

I Love You Too
Senior



"Macet?" tanya Tari senang didatangi Nanta dan Dania kerumah Iparnya.


"Lumayan, macetnya Jakarta di hari sabtu." jawab Nanta menyalami semua yang ada disana.


"Ini pengantinnya ya." celutuk pria yang disebelah Om Bagus. Nanta menganggukkan kepalanya sambil terkekeh.


"Kalau tidak begini, tidak bertemu ya, kita cuma lihat kamu di TV saja kalau ada kejuaraan basket." kata Pria itu lagi.


"Ini Abangnya Om Bagus, ini istrinya." tunjuk Mama pada sepasang suami istri itu.


"Iya Om, suka nonton basket juga Om?" tanya Nanta pada Abangnya Om Bagus.


"Bukan suka lagi, heboh sendiri kalau lagi nonton." kata Istrinya mentertawakan sang suami.


"Hehehe syukurlah, doakan Om tahun depan Indonesia juara piala Asia." kata Nanta pada si Om, entah siapa namanya dari tadi belum menyebut namanya.


"Oh pasti itu didoakan, harapannya Indonesia itu bisa juara dunia." kata Si Om lagi.


"Aamiin, semoga ya Bang. Biar seperti bulutangkis itu loh, sering bawa piala pulang." kata Tari pada kakak Iparnya.


"Aamiin." jawab Nanta penuh harap.


"Katanya kamu suka pempek bikinan Bagus, nih makan bikinan Tante, tidak kalah enak dengan bikinan Bagus." kata


si Tante sibuk menyiapkan makanan khas palembang itu dimeja tempat Nanta dan Dania duduk.


"Makan, Nan. Ini lebih enak, belum ada yang saingi." kata Om Bagus menepuk bahu Nanta.


"Silvy, bawa keluar cukonyo, Nak." Tante berteriak memanggil seseorang, mungkin anaknya.


"Iya." jawab seorang gadis yang baru muncul membawa botol berisi kuah pempek.


"Loh." Silvy menunjuk Dania sambil tersenyum. Dania menatap gadis tersebut ikut tersenyum.


"Dania..." sapa Silvy pada Dania.


"Iya, kamu disini?" tanya Dania kaku.


"Ini teman kuliah aku, sekelas." kata Silvy heboh pada semuanya. Dania jadi bingung, sepertinya tidak bisa merahasiakan pernikahannya, karena Silvy termasuk anak gaul di kampusnya, ia bisa dekat dengan siapa saja.


"Loh kalian satu kampus. Ini Dania menantu Tante." kata Tari pada Silvy.


"Gile, sudah menikah lu Dan, ini Nanta suami lu?" tanya Silvy heboh.


"Hehehe iya." jawab Dania salah tingkah.


"Dania ini yang aku ceritakan itu loh, Ma. Teman sekelasku yang kemana-mana tuh sendiri saja, kalau ditegur jawab seperlunya." cerocos Silvy pada Mamanya. Nanta tertawa saja memandang istrinya.


"Ternyata sudah menikah, itu mungkin yang bikin kamu sukanya menyendiri ya." kata Silvy lagi, Dania tertawa memandang Nanta.


"Suaminya ganteng, Tante tidak bilang ih punya anak seganteng ini." kata Silvy pada Tari.


"Hus, suami orang." kata Mamanya Silvy.


"Bisa kali kenalkan aku sama atlet yang masih single." kata Silvy pada Nanta.


"Hahaha nanti ya, aku cari tahu dulu. Aku belum tahu juga single tapi punya pacar apa tidak." kata Nanta terbahak.


"Dania, ternyata kita saudara loh." kata Silvy pada Dania.


"Hahaha iya." jawab Dania tertawa.


"Dania banyak yang suka loh, sayang sombong, jadi cowok-cowok kampus pada kecewa." kata Silvy lagi, yang lain tertawa Silvy terus saja nyerocos.


"Oh ya?" Nanta terkekeh memandang istrinya.


"Iya tapi pantas saja sih Dania sombong, suaminya ganteng." kata Silvy lagi membuat Nanta dan Dania tertawa.


"Kamu bicara terus, kapan mereka makannya." kata Papanya Silvy komplen.


"Maklum ya Dan, orang sumatera kalau bicara ceplas ceplos." kata Bagus pada menantunya.


"Hihi iya Om, biasa itu." jawab Dania maklum.


Setelah ngobrol ngalor ngidul dan menikmati sajian yang ada, Nanta pamit pulang, mengingat ia dan Dania sudah keluar rumah dari pagi tadi. Apalagi besok pagi Nanta harus ke GBK.


"Mama besok ke Malang." kata Tari pada Nanta.


"Cepat sekali." protes Nanta, pikirnya Mama sama seperti Bang Raymond dan Kak Roma libur sepuluh hari.


"Om Bagus kan kerja." kata Tari menjelaskan.


"Wah berarti kita baru bisa bertemu lagi in syaa Allah dua bulan lagi." kata Nanta pada Tari.


"Iya kalau Dania belum hamil, kalian ke Malang sama-sama ya." kata Tari pada keduanya.


"Hamil?" Nanta mengerutkan dahinya, tadi saja ditanya mau punya anak kapan Dania menghindar.


"Yah, kalau ada suaminya hamil kan hal yang biasa." kata Tari terkekeh.


"Loh, kok aku?" Dania tidak terima dibilang begitu.


"Loh memang kamu mau hamil dalam waktu dekat? dua bulan lagi sudah hamil, siap?" bisik Nanta.


"Tidak tahu." jawab Dania memerah.


"Hahaha bagaimana Allah saja, mungkin maksud Dania begitu." Tari jadi terbahak melihat Dania salah tingkah.


"Adek sayang masanta pulang dulu ya, kita ketemu lagi dua bulan kedepan in syaa Allah." kata Nanta mencium Wulan.


"Iya Masanta." jawab Wulan senyum-senyum.


"Tante terima kasih ya, Pempeknya enak." kata Dania pada Mamanya Silvy.


"Kalau mau pesan lewat gue ya Dan." kata Silvy cepat tanggap.


"Jualan lagi." Mama Silvy menepuk bahu anaknya.


"Iya boleh." jawab Dania tertawa.


"Jadi sudah ada teman kampus sekarang ya." kata Nanta pada Dania saat mereka sudah di mobil dalam perjalanan kembali Ke rumah.


"Iya, Silvy." jawab Dania tertawa.


"Bagus deh, bisa jaga kamu kalau lagi di kampus." kata Nanta, tadi ia sudah bilang Silvy titip Dania di kampus.


"Hihi memangnya aku harus di jaga?" Dania terkekeh.


"Yah lumayan setidaknya aku sedikit lebih tenang, karena Ando juga tidak bisa diharapkan." kata Nanta pada Dania.


"Iya, Mas Nanta tenang saja." kata Dania pada Nanta.


"Kamu ke kampus sama Pak Atang saja mulai senin." pesan Nanta lagi.


"Ih main tunjuk saja, Pak Atang dipakai Papon kan." kata Dania mengingatkan Nanta.


"Papa bisa pakai supir kantor." kata Nanta lagi.


"Jangan, Mas. Aku tidak enak."


"Ya sudah kalau kamu tidak enak, nanti aku bilang Om Micko supaya Pak Atang yang mengantar jemput kamu. Nanti Om Micko yang sampaikan pada Papa." kata Nanta tertawa.


"Sama saja itu sih." Dania ikut tertawa, suaminya ini suka memaksa secara halus rupanya.


"Mas Nanta, aku baru masuk kuliah senin depan saja setelah Mas Nanta masuk asrama." kata Dania pada suaminya.


"Kenapa begitu, bolos ya nakal." Nanta terkekeh.


"Biar bisa lebih lama sama Mas Nanta. Kan kata Bapak siapa deh kita harus banyak ngobrol supaya lebih saling kenal."


"Pak Jaya." Nanta tertawa.


"Lumayan ya seminggu saling mengenal lebih dalam." kata Dania.


"Lebih dalam?" Nanta menyeringai jahil.


"Ish Mas Nanta, ekspresi wajahnya mencurigakan." Dania mendorong bahu suaminya, Nanta terbahak mendengarnya.


Pikirannya memang berkelana saat mendengar kalimat Dania, mulai ketularan Ando sepertinya, apa lagi setiap orang selalu membahas malam pertama dan hamil, belum lagi tutorial dari Bang Raymond yang belum sempat ditonton dan di praktekkan.


Handphone Nanta berdering, Raymond menghubunginya seperti kontak batin, Nanta sedang mengingat tutorial kiriman Abangnya.


"Tutorial sudah dilihat belum?" tanya Raymond begitu Nanta mengangkat sambungan teleponnya.


"Belum sempat Bang, semalam pulang malam, tadi dari pagi pergi, ini masih dijalan." Nanta menjelaskan.


"Ah belum praktek dong." tembak Raymond membuat Nanta terbahak.


"Payah nih Nanta, sini deh training satu jam sama gue." teriak orang disebelah Raymond.


"Siapa tuh Bang?" tanya Nanta pada Raymond.


"Arkana, kita lagi kumpul, sini Dek." ajak Raymond pada Nanta.


"Sini Nanta, gabung sama senior." teriak Arkana lagi, terdengar suara tawa disana, ramai sekali.


Abang di Warung Elite, sini ya." kata Raymond pada Nanta.


"Aku lagi sama Dania."


"Ajaklah kesini, kita lagi kumpul, pada bawa istri kok." kata Raymond setengah memaksa.


"Ya sudah." jawab Nanta pasrah.


"Capek tidak? Bang Raymond minta kita bergabung dengan sahabatnya di Warung Elite." kata Nanta pada Dania.


"Ya sudah." jawab Dania ikutan pasrah, Nanta pun melajukan kendaraannya ke Warung Elite sesuai arahan Raymond.