
Sheila menangisi nasibnya, orang yang ia cintai menikah dengan gadis lain. Selama ini Sheila mencoba untuk menyangkal perasaannya terhadap Reza. Dipikirnya kedekatannya dengan Reza sama dengan kedekatannya dengan Kenan. Tapi setelah Reza terasa menjauh dan fokus dengan calon istrinya, Sheila merasa kehilangan. Kedekatannya dengan Kenan dan Farhan hanyalah untuk menutupi perasaannya.
Rasa sedih Sheila bertambah, ketika dalam perjalanan pulang ibunya terus merutuki kebodohannya. Melepaskan Reza untuk gadis lain.
"Sudah bertahun-tahun selalu berdua, pulang pergi kekampus bersama, lolos juga dia dari genggamanmu, apa saja kerjamu."
"Ma, sudahlah. Berarti dia bukan jodohku."
"Mama tak habis fikir, bagaimana bodohnya kamu menutupi perasaanmu. Kenapa tak terus terang saja bahwa kamu mencintainya. Pasti dia akan mempertimbangkanmu. Benar-benar bodoh."
"Reza hanya menganggapku saudaranya ma, ga lebih. Dia memang suka Kiki dari awal bertemu. Bahagia sekali dia menceritakan tentang Kiki yang ternyata akan menjadi calon istrinya."
"Itu karena kamu bodoh tak pernah berterus terang. Kamu melepaskan berlian ditanganmu. Sekarang dia sudah menikah, bisa kamu rebut perhatiannya, kalau dia mencintaimu, saat kamu berterus terang, dia pasti akan memilih kamu, ingat ya jangan pernah kamu beralih Ke Kenan. Mama tak pernah suka dengan anak tak mandiri itu."
"Maa.."
"Jauhi dia. Jangan kasih harapan. Anak itu hanya mengandalkan harta orang tuanya. Bisa-bisa kalau kamu sama dia, kamu yang kerja, dia hanya bermalas-malasan."
"Maaa ga gitu juga. sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku akan menemukan jodohku, mama tak usah khawatir. Jangan bahas mereka lagi. Mereka baik sama aku."
"Nanti malam aku akan datang ke acara private Reza dan Kiki ma."
"Ga usah, kecuali kamu berterus terang menyatakan perasaanmu."
"Ma, itu ga mungkin. Reza baru saja menikah. Mama lihat tadi dia sangat bahagia."
Terus saja begitu, Retno mengulang-ulang kekesalannya. Impiannya mempunyai menantu Reza punah sudah. Sosok sempurna dimata Retno yang tampak serasi bila bersanding dengan anaknya. Membuat Sheila terpojok dan akhirnya menangis pilu.
Sheila mengabaikan ratusan telepon masuk dari Kenan.Ia tak mau memberi harapan pada Kenan, terlebih Ibunya sudah memperingati untuk menjauhi Kenan. Sudah saatnya menghilang dari kehidupan Reza dan Kenan.
Shei nanti malam datang kan?
Shei mau dijemput jam berapa?
Shei lagi ngapain?
Acaranya sudah mulai, kamu dimana Shei?
Shei seru nih, beneran ga mau datang?
Shei angkat teleponku!!!!
Banyak lagi pesan lain yang dikirim Kenan, tak dibalas Sheila. Hanya dibaca saja. Sorry Ken, lupakan aku, bathin Sheila. Saatnya aku menjauh. Sheila memblokir telepon Kenan dan juga telepon Reza, supaya tak terganggu bila mereka menghubungi. Mereka??? hmmm Kenan bukan mereka. Reza tak mungkin menghubunginya. Selama ini selalu Sheila yang memulainya. Apalagi sekarang sudah ada Kiki disampingnya.
Dihotel Kenan tampak frustasi, teleponnya tak dibalas Sheila, puluhan pesan yang ia kirim pun tak dibalas Sheila. Hanya dibaca saja tak dibalas. Shei segitu cintanya kamu sama bang Eja. Kamu mengabaikan teleponku, bahkan sekarang kamu memblokir nomorku. Kenapa Shei, apa salahku bathin Kenan. Kenan menarik nafas panjang. Kusut sekali wajahnya sore ini.
"Kamu kenapa Ken? jangan difikirin omongan ibunya Sheila. Kan mama sudah bilang kamu ga akan sanggup menghadapi mertua seperti itu. Carilah yang lain nak." Nina mengusap bahu Kenan, menyadari kegalauan anaknya.
"Iya ma." Kenan tak mendebat mamanya. Mama paling mengerti apa yang Kenan rasakan, bahkan selalu tau apa yang terbaik untuk anaknya.
"Maafin mama tak mencarikan kamu jodoh sedari kecil seperti abangmu. Karena mama takut gagal. Jadi satu aja anak mama yang mama jodohkan. Tapi jangan khawatir nak, nanti kalau ada yang cocok mama akan segera bergerak."
"Jangan asal cari nak. Tetap harus mama seleksi."
"Iya mama. Tenang aja, pasti akan kubawa ke mama dulu. Kalau mama ga setuju ga akan aku lanjuti."
"Pintar, Senin kita ke Malang ya. Mama akan ikut temani kamu disana."
"Kasian papa ma, ga papa aku bisa sendiri."
"Papa juga ikut lah, kita akan sama-sama, biarkan Reza sama Kiki dijakarta."
"Makasih mama. I love you" Kenan memeluk mamanya. Selalu saja mama hadir menghibur Kenan disaat ia sedang bersedih atau sedang galau. Dwi yang tau anak bungsunya galau hanya berbisik pada istrinya untuk mengajak Kenan bicara dari hati ke hati.
"I love you too nak." Nina membalas pelukan Kenan dan mengusap bahunya. Memberi ketenangan pada anaknya. Dwi hanya tersenyum dari jauh pura-pura sibuk dengan telepon genggamnya.
Kenan menyadari jika Sheila mencintai abangnya, dan semakin yakin dengan kejadian hari ini. Tak pernah-pernahnya Sheila memblokir nomor teleponnya.
"Bang, coba telepon atau kirim pesan ke Sheila. Nomorku diblokir." Kenan mengirim pesan pada Reza.
"Bilang apa?"
"Suruh datang nanti malam."
"Ok."
Tak lama,
"Sama diblokir juga. Ditelepon juga ga bisa. Kenapa dia?"
"Ah malam itu kan sudah kubilang, Sheila suka sama abang. Sepertinya benar kan bang."
"Sudahlah Ken, biarkan Sheila. Kamu fokus dulu dengan kerjaan dan kuliahmu. Buktikan kamu akan berhasil Ken. Jangan galau ya, Mukamu jelek sekali tadi tuh"
"Hahaha siap bang."
Kenan memandangi layar handphonenya, sudahlah tadi siang celotehan Ibu Sheila tak enak didengar, Sore ini Sheila seperti ingin menjauh dari kehidupannya. Tak hanya Kenan yang diblokir, Reza pun.
Ah Sheila segitu patah hatinya kamu ya. Rupanya tak sedikit celahpun hatinya terbuka untuk Kenan. Seperti yang Reza bilang, Kenan bertekat akan membuktikan kepada Sheila dan Ibunya bahwa ia layak. Ia akan mempunyai pekerjaan dan akan membangun bisnisnya sendiri. Tak akan kalah dengan abang kesayangannya. Mungkin bukan berbisnis dibidang kuliner, tapi akan sama sukses dan mandiri seperti abangnya.
Kenan bersiap untuk acara nanti malam. Seperti yang Reza bilang lagi, Kenan tak mau galau. Ia akan mencari kebahagiaannya, tak mau mukanya terlihat jelek seperti yang Reza bilang. Tak mau ditertawakan Wina seperti tadi siang, dibilang mendapat shock terapi.
Menjelang waktu magrib, Kenan bergegas ke kamar papa, mengajak papa kemesjid bersama. Kamar Kenan dilantai yang sama dengan papa mama, ada dilantai lima, beda lantai dengan Reza. Membuatnya malas berkumpul dengan teman Reza. Karena harus menggunakan lift.
"Sudah rapi kamu Ken." sambut papa melihat Kenan yang sudah keren.
"Habis dari mesjid mau langsung makan malam pa, terus langsung ke acara."
"Sebentar papa ganti baju dulu."
"Kenan menunggu papa sambil menonton televisi dikamar papa. Mama sedang berada dikamar mama Ririn. Entah apalagi yang akan dibahas duo mama. Sementara proyek perjodohan mereka sudah goal.