I Love You Too

I Love You Too
Makan Malam



"Senang ya banyak yang belain." kata Reza pada Kiki saat mereka sudah sampai dirumah. Kiki cengengesan saja sambil memandang suaminya. Mereka sedang duduk di ruang keluarga menunggu Mama dan Papa yang sedang mengganti baju.


"Lagian kak Eja pakai keceplosan. Jadi kan mama sama papa tau deh. Hmmm... Awas ya kalau masih telponan sama Sheila aku ikutin saran mama loh." katanya setengah mengancam.


"Ga mau dengar kamu ngomong gitu ya nyil. Ga usah bahas Sheila lagi aku pusing diomelin terus." Reza mencubit pipi Kiki gemas. Kiki mengerucutkan bibirnya.


"Tapi janji ya. Ga boleh curhat curhatan."


"Iya sayang." Reza memeluk istrinya dan mencium pucuk kepalanya.


"Papa sudah lama ga peluk mama begitu lo pa." Kata Nina pada Dwi saat mereka keluar dari kamar. Dwi terkekeh dan langsung memeluk Nina juga mencium pucuk kepalanya. Reza yang melihat aksi mama dan papanya langsung terbahak.


"Ga mau kalah banget sih pa." katanya disela tawanya.


"Mama kamu iri liat kamu begitu." kata Dwi yang ikut tertawa.


"Kita ga makan diluar ma? mumpung mama papa disini." ajak Reza, Dwi meminta persetujuan Nina.


"Pesan aja ya, Besok kamu acaranya pagi kan? pulang dari wisuda aja kita makan diluar."


"Ya sudah, mau pesan dari warung apa tempat lain?"


"Warung dong, mama kangen menu disana. Kapan kalian perform?"


"Belum bahas lagi, bulan depan kali ma, Erwin juga mau menikah minggu depan ma, sudah kaya arisan aja kami menikah selang beberapa minggu ."


"Oh ya sama Enji?" tanya Nina semangat.


"Kok mama tau?"


"Loh waktu ke House of Charming, Erwin jemput Enji dan acara pernikahan kalian juga Erwin sama Enji."


"Oh aku kira mama tau dari Bu Burhan."


"Ga sayang, mama jarang ngobrol kalau ga penting-penting amat."


"Oh iya, papa ternyata minggu lalu meeting sama pak Burhan dan Papinya Mario ya?" tanya Reza pada papanya. Dwi yang sedang menonton berita di TV menganggukan kepalanya.


"Kamu tau dari mana Ja? itu pertemuan rahasia loh. Misha ga papa kasih tau. Karena ada pembahasan yang urusan diluar kantor."


"Papi Mario panggil aku ngobrol soal Mario waktu disemarang. Minggu depan juga Erwin menikah sama anak Pak Burhan, jangan-jangan hasil kolabs papa juga nih, kita bisa menikah berurutan begini."


"Ck jangan suka menduga-duga. Iya atau tidak kan yang penting kalian sekarang bahagia. Nanti kalau punya anak kamu baru mengerti."


"Ck papa jawabannya ambigu. Tapi makasih ya pa bikin kita jadi seperti sekarang."


"Dari tadi ngobrol terus sudah pesan makan belum?" Dwi mengingatkan Reza, Reza langsung menepuk dahinya.


"Lupa aku pa, ma makan disana aja yuk, begini aja ga usah ganti baju." ajak Reza langsung memegang kunci mobilnya.


"Ayo sayang." Nina menarik lengan Kiki berjalan menuju mobil. Benar-benar tak ganti baju, mereka hanya pakai baju rumahan, walaupun bukan daster tapi terlihat sangat santai.


"Kamu masih muda sudah pelupa." Sungut Nina menepuk bahu Reza.


"Hahaha efek kangen ma, jadi keasikan ngobrol. aku pesan menu dari sekarang, jadi kita datang sudah tinggal makan." Reza yang sedang mengemudi kendaraan menghubungi pegawai warung elite cabang terdekat dari rumahnya, cabang utama tempatnya berkantor. Setelah memesan menu yang diinginkan Reza kembali fokus melajukan kendaraannya.


"Hari minggu aku ijin shooting iklan ya ma, pa." kata Kiki yang tak enak hati karena terpaksa meninggalkan Mama dan Papa yang sedang berada di Jakarta.


"Iya sayang, kamu diantar Eja kan? atau mau mama temani? Shooting dimana sih?"


"Ngapain, nanti disana malah ganggu Kiki kerja." Dwi sedikit keberatan.


"Kiki biarin kerja kita jalan-jalan pa, kuliner di Bogor." bujuk Nina, Dwi pun akhirnya menyetujui. Kiki menarik nafas lega tak jadi meninggalkan mertuanya dirumah.


Tak lama mereka pun tiba diwarung Elite. Tampak mobil Mario, Erwin dan Andi di parkiran, Reza sedikit heran karena dipikirnya sahabatnya sudah pada pulang. Saat masuk Reza langsung disambut Bowo, mengantarkannya ke meja dimana menu makanan yang sudah Reza pesan tertata rapi.


"Masih pada ngumpul yang lain Wo?" Reza menunjuk ruang kerjanya.


"Mas Mario sama istrinya baru datang, Mas Erwin sama Mas Andi lagi ada tamu didalam." jawab Bowo sambil membuka tutup wadah makanan dan mempersilahkan Nina dan Dwi makan.


"Mama Papa makan duluan ya. Aku ngintip dulu ke ruang kerja, ternyata masih pada kumpul." Reza meminta ijin pada orang tuanya. Setelah Kiki kembali dari toilet, Reza segera menuju ruang kerjanya.


"Assalamualaikum." Reza hanya menyembulkan kepalanya, tampak Mario sedang merangkul Regina di sofa, Hubungan mereka sudah sangat dekat, disebrangnya tampak Andi, Enji dan Erwin.


"Waalaikumusalaam friend, sama siapa lu?"


"Sama bokap nyokap lagi pada makan, sama Kiki juga. Yuk makan bareng diluar." ajak Reza pada sahabatnya.


"Yuk aku mau ada tante Nina kan?" Enji tampak semangat langsung saja berdiri ingin keluar tapi terhalang oleh Erwin.


"Kamu semangat sekali mau ketemu tante Nina atau memang lapar?" tanya Erwin yang ikut berdiri.


"Aku lapar dan kangen tante Nina, juga kesayangan aku Kikiii." kata Enji setengah berteriak.


"Ayolah kangen juga gue sama om Dwi. Yuk Re ada Kiki juga didepan." kata Mario beranjak dari Sofa dan menarik lengan Regina agar mengikutinya. Yang lain pun meyusul langkah Mario menghampiri Om Dwi dan Tante Nina.


"Malam Om, Tante." sapa mereka seperti paduan suara, kompak sekali, hanya kurang merdu.


"Wah anak-anak tante pada kumpul. Ayo sayang makan, tante sudah duluan nih." Nina menunjuk menu dipiringnya.


"Kalau tau tante kesini aku ajak mama papa kesini juga." Enji menghampiri Nina dan duduk disebelahnya, dibangku yang harusnya tadi menjadi tempat duduk Reza.


"Tante aku mau menikah hari jumat depan, tante lagi disini ga? datang ya." bisiknya manja pada Nina.


"Gimana pa, sepertinya kita berangkat ke Malang setelah acara Erwin dan Enji ya." kata Nina pada Dwi sambil tersenyum hangat pada Enji. Dwi menganggukan kepalanya.


Sedangkan Reza, Mario, Andi dan Erwin sibuk menggeser meja agar rapat, lalu memanggil pegawai untuk membawakan makanan yang mereka mau, Regina sudah duduk disebelah Kiki, mereka melepas kangen membahas kegiatan mereka sepulang dari Bali, Kiki belum sempat ngobrol dengan Enji karena jarak mereka cukup jauh.


"Om Dwi kok ga datang pas acara pernikahan aku. Padahal Jumat om ketemu papi di Semarang." Mario komplen pada Dwi.


"Kamu tau om ketemu Papimu hari jumat, Yo? Itu pertemuan rahasia kita loh." jawab Dwi terkekeh.


"Kita juga punya mata-mata om, bukan om sama papi aja." jawab Mario sambil tersenyum lebar.


"Sudah mulai pintar kamu ya. Memang kebetulan Om ga diundang, Papi kamu bilang acara khusus keluarga dan sahabat Mario saja. Lagian kan sudah diwakili Reza."


"Belum sepintar om dan papi, kami masih harus banyak belajar dan rupanya acara jumat minggu depan itu juga bagian dari pertemuan di Semarang kemarin ya om." Mario tertawa memandang Erwin dan Enji.


"Yo sepertinya kamu harus kenalkan mata-mata kamu sama Om ya. Bagus juga infonya akurat." Dwi terbahak ikut memandang Enji dan Erwin. Sedangkan Enji masih sibuk ngobrol dengan Nina sehingga tak mendengarkan obrolan Dwi dengan Mario. Erwin, Andi dan Reza ikut tertawa, mereka menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan orang tua mereka yang penuh ide untuk hubungan asmara mereka.


"Om ada pertemuan rahasia juga dengan papa aku?" tanya Andi ingin tau.


"Hahahha kalau om kasih tau, ga rahasia Ndi." jawab Dwi terbahak.


"Mesti kerahkan mata-mata juga nih om. Papa-papa mesti kita awasi friend." kata Andi pada sahabatnya.


"Yang pasti pergerakan kami untuk kebahagiaan kalian. Giliran kamu masih dipikirkan Ndi" kata Dwi masih terkekeh. Membuat Andi membulatkan bola matanya yang sudah bulat.