
"Kami menginap di rumah Papa saja ya, kasihan Bang Ray harus jemput setelah shubuh." kata Nanta pada Micko setelah bicara banyak sepulang dari mesjid.
"Tidak usah, Raymond juga sedang menginap di rumah mertuanya." kata Micko pada Nanta.
"Tapi lebih dekat ke rumah Papa dari rumah Papi Alex." kata Nanta lagi.
"Kalau menginap dirumah Papa nanti kamu susah membujuk Balen loh. Disini saja." bujuk Micko pada Nanta.
"Oh iya sih. Ya sudah." Nanta terkekeh ingat janjinya pada Balen untuk tidur bertiga berapa hari lalu.
"Jadi Om Peter bagaimana, Om?" tanya Nanta kemudian.
"Tidak usah dipikirkan, senang-senang saja ajak istrimu."
"Baru rencana besok aku antar Dania ke rumah sakit untuk test DNA." kata Nanta jujur, pasti Om Micko juga tadi dengar, pikirnya.
"Iya tadi Raymond bilang. Tapi kan Om sudah test DNA lebih dulu, malah saat Dania masih didalam kandungan, karena Peter sesumbar Dania anaknya." kata Micko menjelaskan.
"Kamu tidak pernah cerita ke Mama, Mick." protes Oma Misha.
"Yah tambah-tambah pikiran Mama saja. Aku berusaha handel semua sendiri." Micko menjelaskan.
"Tetap saja ujungnya pisah." Misha mendengus.
"Kalau tidak pisah tidak bertemu Lulu." Micko terkekeh.
"Iya juga sih, Alhamdulillah untuk semua keadaan ya." kata Oma Misha membuat Nanta mengangguk.
"Semua sudah ada bagiannya tapi Peter harus dihentikan sampai disini, dia sudah terlalu banyak menikmati yang bukan miliknya." kata Micko pada Oma Misha.
"Hati-hati Mick, jangan sampai membahayakan kamu."
"Iya Ma, tenang. Arkana punya cara, Peter sedang butuh Dana besar, sedang mengajukan proposal ke Burhan Company." kata Micko pada Mamanya, Nanta, Dania dan Lulu menyimak saja.
"Mereka banyak Dana kenapa butuh investor." Lulu ikut berkomentar.
"Entah, jatahku selama ini saja kembali Ke rekening Peter." Micko terkekeh.
"Kesal sekali Mama mendengarnya, Mama kira untuk Dania." Oma Misha jadi geram sendiri.
"Kebagian kok Oma." jawab Dania tersenyum.
"Hanya seperempatnya." sahut Micko menatap Dania.
"Tapi lupakan saja, itu tidak membuat kita miskin juga dan Dania tampak sehat bahagia, itu yang penting." kata Micko kemudian mengacak anak rambut Dania.
"Iya." jawab Dania tersenyum.
"Jadi besok Papa berjuang, kami senang-senang." kata Dania tidak tega melihat Papanya.
"Berjuang apa, hanya minta Peter berhenti, kalau mau bagian Papa, ambil saja yang penting tidak ganggu kamu lagi." kata Micko.
"Enak saja, itu lebih baik untuk Dania, Winner dan Lucky." kata Oma Misha tidak setuju.
"Winner dan Lucky tidak usah, Ma. Dania saja." kata Lulu pada Oma Misha.
"Mama tidak rela kalau Peter yang menikmati." kata Misha emosi.
"Iya Ma, besok aku bilang kalau Mama tidak rela."
"Ya biar dia tahu apa akibatnya kalau Mama bertindak, selama ini Mama diam saja dengan kelakuan ayah dan anak itu."
"Aku malah kepikiran mau menemui Kakek buyutku Oma, aku laporkan semua perlakuan Om Peter." kata Dania pada Oma Misha.
"Itu sudah ada dalam otak Oma." kata Oma Misha.
"Kumpulkan saja semua buktinya, kita datangi bersama, kamu ikut Oma nanti." kata Oma pada Dania.
"Itu nanti saja kalau aku dan Arkana tidak berhasil, Ma." kata Micko terkekeh melihat semangat Mama dan anaknya.
"Aku juga ikut." kata Lulu pada Oma Misha.
"Oh tambah tidak berkutik dia." kata Misha, Nanta hanya mendengarkan, mencoba untuk mengerti walaupun belum seratus persen.
Asik sekali membahas masalah keluarga sampai tidak terasa setelah pulang dari mesjid sholat magrib dilanjut lagi, setelah Isha masih saja membahas topik yang sama dengan berbagai strategi yang sudah disiapkan untuk membuat Peter dan Ayahnya tidak lagi mengganggu Misha dan keluarganya.
Begitu tiba dikamar Nanta menghubungi Mamanya, memastikan Mama, Om Bagus dan Wulan tiba dengan selamat. Ternyata Mama sudah santai berdaster dirumah, mestinya tadi Nanta mengantar Mama ke Bandara, tapi Mama menolak karena Wulan ingin mencoba naik Damri.
"Wulan enak tidak naik Damri?" tanya Nanta pada adiknya.
"Enak Masanta." jawab Wulan mengacungkan jempolnya.
"Kalau ke Jakarta lagi, kita naik MRT." janji Nanta pada Wulan.
"Yah memang kalau Dania melahirkan aku tidak bisa temani Wulan naik Damri." Nanta terkekeh.
"Jangan coba-coba biarkan istrimu urus anak sendiri, sementara kamu senang-senang dengan adikmu atau siapapun." ancam Mama pada Nanta.
"Hahaha Om Bagus tidak begitu kan?" Nanta menggoda Mama.
"Om Bagus suami idaman deh pokoknya." Mama terkekeh mengarahkan kamera handphonenya pada Om Bagus.
"Tanyakan Mamamu mau minta belikan apa?" kata Bagus terbahak.
"Tiket ke Jakarta Om." jawab Nanta ikut terbahak.
"Itu sih nanti kalau lihat cucu." jawab Bagus menyindir Nanta.
"Ah Om Bagus, Dania jadi malu nih." kata Nanta mengarahkan kameranya pada Dania.
"Besok honeymoon ke Bandung kan?" tanya Bagus.
"Ish cepat sekali tersebar, aku tidak punya rahasia sepertinya." Nanta menggelengkan kepalanya.
"Lebih dari sekali saja kami tahu." Bagus terbahak.
"Ya Allah Bang Ray, mesti jaga sikap aku di Bandung besok nih." Nanta menutup wajahnya, Bagus tambah terbahak saja. Sementara Dania melemparkan bantal kebadan Nanta, suaminya ini gampang sekali terpancing.
Dalam hati Dania berdoa semoga yang bagian Dania keceplosan tidak sampai menyebar. Dania saja tidak cerita sama Nanta, khawatir suaminya malu berhadapan dengan keluarganya.
"Ya sudah Mama istirahat dulu." kata Tari pada anak menantunya, mereka menutup sambungan teleponnya.
"Bobo yuk, besok shubuh sudah jalan lagi." ajak Nanta pada istrinya.
"Tidak usah peluk." kata Dania mengingatkan Nanta.
"Kenapa, peluk saja tidak masalah." jawab Nanta.
"Nanti ada yang bangun." Dania terkekeh.
"Hahaha tidak usah banyak gaya makanya, jangan banyak bergerak."
"Mana bisa aku kan harus putar Kiri kanan supaya tidak pegal-pegal." tolak Dania.
"Ya sudah pegang tangan saja." kata Nanta yang sudah berbaring dikasur.
"Iya." jawab Dania setuju.
"Batasi guling ya." kata Dania lagi, Nanta terkekeh.
"Iya." katanya dengan senyum melengkung diwajahnya.
"Duh jangan senyum begitu." protes Dania.
"Kenapa?" tanya Nanta bingung.
"Aku jadi pengen peluk dan cium leher." kata Dania melengos.
"Tuh kan apa aku bilang, kamu tuh suka mancing-mancing." Nanta mengacak anak rambut Dania.
"Mas Nanta sih..."
"Kenapa aku?"
"Terlalu ganteng."
"Hahaha mau minta dibelikan apa? kamu ikuti gaya Mama barusan pada Om Bagus ya." Nanta memeluk Dania dan menciumi pipinya gemas.
"Tuh aku tidak tanggung jawab ya kalau Mas Nanta kenapa-napa." kata Dania memonyongkan bibirnya.
"Tuh mancing-mancing lagi minta dicium." Nanta mencium bibir Dania.
"Mas Nanta besok shubuh kita berangkat jangan macam-macam."
"Hahaha iya bawel, kan cuma peluk sama cium, jangan bergerak." kata Nanta memeluk Dania menggantikan guling yang tadi dijadikan batasan oleh Dania.
"Nite sayang." bisik Nanta ditelinga Dania.
"Ah Mas Nanta kuping aku geli kena bibir dan nafas Mas Nanta." kata Dania.
"Terus?"
"Jadi tidak tahan mau ciumi leher Mas Nanta, boleh?" tanya Dania. Nanta terkekeh membiarkan Dania berbalik badan dan mulai mengendus dan menciumi lehernya, selanjutnya cuma mereka berdua yang tahu