I Love You Too

I Love You Too
Optimis



"Jangan sembarangan menuduh." dengus Nona kesal, ia buru-buru meminum air yang ada dihadapannya, entah punya siapa sepertinya belum diminum.


"Kamu belum pesan sudah minum saja." kata Baron pada putrinya.


"Eh ini punya siapa?" tanya Nona tersenyum malu mulai melihat kearah Kenan dan Raymond.


"Punya saya, minum saja." jawab Kenan yang duduk dihadapan Nona dengan tangan masih terlipat.


"Eh maaf Mas biar aku pesan lagi." Nona tampak salah tingkah, ia segera keluar ruangan untuk memanggil pelayan restaurant. Baron tersenyum melihat anak gadisnya. Belum pernah Nona berdandan cantik kekantor seperti hari ini. Apa dia tahu akan bertemu Kenan hari ini? hati Baron bertanya-tanya dalam hati.


"Jangan drama." kata Kenan pada Baron saat Nona tidak ada diruangan. Tawa Baron meledak, ia sangat menikmati ekspresi anak gadisnya saat ini. Raymond menggelengkan kepalanya, ikut tertawa, Pantas Kak Nona Jahil, bapaknya juga ternyata. Rezeki Om Kenan deh dikelilingi orang-orang jahil, pikirnya.


"Aku sudah pesankan Mas Kenan minuman yang sama." kata Nona sambil nyengir lebar melihat Kenan.


"Kamu apa kabar?" tanya Kenan lembut pada Nona. Ah baru ditanya begitu saja Nona merasakan debaran yang aneh pada jantungnya, suaranya itu loh, duh kenapa begitu sih? seperti menebar persona dan baru berapa bulan tidak bertemu, kenapa tambah ganteng bapaknya si Nanta ini, pikir Nona dalam hati.


"Alhamdulillah, sehat." jawab Nona setelah berhasil menetralisirkan suasana hatinya dan ia kembali duduk dihadapan Kenan.


"Jadi ini Papamu yang bikin kamu marah sampai mau kamu tuntut waktu itu ya?" tanya Kenan memprovokasi sambil melirik kearah Baron. Nona mendelikkan matanya, tidak menyangka Kenan mendengarkan ancamannya pada Papa dan Abangnya saat itu.


"Eh sudahlah saat itu Nona hanya lagi emosi, sekarang kita bahas pekerjaan yang tadi saya katakan." sebelum Nona menjawab Baron segera memotong, ia tidak mau Nona terpancing. Dan Baron langsung membahas rencana kerja pada perusahaannya hingga enam bulan kedepan, rencananya akan banyak pengiriman dari Jerman dan China, ia meminta perusahaan Kenan yang menghandel jasa pengiriman tersebut.


"Sebaiknya kamu pelajari dulu." katanya pada Kenan sambil melemparkan berkas yang sudah ia bawa sebelumnya.


"Nona kamu siapkan dananya, data sudah Papa email." kata Baron lagi pada Nona, karena Nona yang bertanggung jawab pada bagian keuangan di perusahaannya.


"Ray, pelajari." Kenan menyerahkan berkas tersebut pada Raymond.


"Nanti Ray yang akan handel, kalian bisa saling komunikasi nanti." kata Kenan pada Nona dan Raymond. Tampak Nona dan Raymond membuka berkas dan mereka kompak membacanya bersama.


"Saya titip Nona juga sama kamu, Ken?" kata Baron pada Kenan, membuat Kenan mengernyitkan dahinya.


"Maksud Papa?" tanya Nona mengalihkan pandangan dari berkas pada Papanya.


"Kamu kan tidak mau tinggal sama Papa, jadi Papa minta Kenan ikut menjaga kamu menggantikan Deni. Kalau ada sesuatu hubungi saja Kenan, dia sudah Papa anggap seperti adik sendiri." kata Baron lancar. Kenan hanya termenung memandangi Baron seperti minta penjelasan entah apa rencana Baron saat ini.


"Oh iya selain Mas Kenan, ada Raymond juga yang akan menjagaku, iya kan Ray?" kata Nona senang, seperti menemukan pengganti Samuel dan Deni. Raymond mengangguk saja.


"Tapi Ray punya istri, akan merepotkan kalau harus ikut menjaga kamu." kata Baron lagi.


"Mas Kenan juga sibuk, Pa. Bukan Papa saja yang sibuk. Lagi pula aku bisa menjaga diriku sendiri. Beberapa bulan ini aku di Malang toh tidak bertemu Papa juga. Aku tetap sendiri." dengus Nona sedikit kesal.


"Kenapa tidak mau tinggal sama Papa?" tanya Kenan pada Nona.


"Aku malas tinggal dengan Ibu tiri." Nona melipat tangannya kesal.


"Kamu belum kenal Mbak Mita istri Papamu ya?" tanya Kenan.


"Tidak mau kenal." dengus Nona lagi. Kenan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Seperti Nanta saja kelakuan Nona saat ini.


Menjelang pukul Lima, Kenan pun undur diri, masih ada yang harus ia bereskan di kantor, tumpukan berkas sudah menunggu untuk di tanda tangani.


"Mau langsung pulang atau kembali kekantor?" tanya Kenan pada Nona. Baron sudah pergi lebih dulu.


"Langsung pulang, habis bertemu Papa energiku seperti habis." kata Nona sambil membongkar isi tasnya seperti mencari sesuatu. Kenan dan Raymond menunggu sambil membahas pekerjaan yang harus mereka selesaikan besok.


"Aku lupa kunci mobilku, di dalam tas tidak ada." suara Nona tampak melemah, ia seperti kebingungan mengingat-ingat dimana kunci mobilnya. Raymond ikut mencari, ia kembali ke VIP Room untuk memastikan apakah ada kunci Mobil yang tertinggal. Sementara Kenan menemani Nona di Lobby hotel.


"Tidak ada." kata Raymond setelah kembali dari restaurant.


drrttt....drrrtttt.... handphone Nona berdering.


"Iya Papa mau bilang, kunci Mobil terbawa Papa, kamu minta Kenan saja mengantar kamu pulang ya. Nanti mobilmu biar diurus sama supir Papa."


"Hmm Papa..." suara Nona seperti ingin menangis.


"Mana Kenan Papa mau bicara."


Nona memberikan handphonenya pada Kenan.


"Kenapa Bang?" tanya Kenan pada Baron.


"Titip Nona ya, antarkan dia pulang. Kunci mobilnya saya bawa." Baron terkekeh bicara pada Kenan.


"Ok."


"Dijaga kehormatannya ya, anak Saya itu."


"Ck memang mau saya apakan, jangan jahil." kata Kenan memalingkan wajahnya dari Nona sedikit menjauh, "Kamu sengaja ya?" Kenan memelankan suaranya. Baron terbahak, terdengar puas sekali mentertawakan Kenan.


"Saya antar ke rumah Bang Baron ya?" kata Kenan pada Baron.


"Kenan jangan macam-macam, Nona bisa ribut sama Mita. Pelan-pelan akan aku kenalkan. Tolong ya Kenan, antar anak Saya pulang."


"Ok." Kenan mematikan sambungan teleponnya dan mengembalikan handphone pada Nona.


"Ayo." kata Kenan mengajak Raymond dan Nona ke mobil.


"Kemana dulu nih, Om?" tanya Raymond pada Kenan setelah mereka berada didalam Mobil


"Antar Nona, terus pulang." jawab Kenan sambil menghubungi Tari.


"Saya langsung pulang, jika memang urgent minta anak-anak mengantar berkas ke rumah setelah magrib." kata Kenan pada Tari.


"Nanti Jhon yang akan mengantar berkas yang harus diproses malam ini kerumah ya." jawab Tari Dari seberang.


Kenan mematikan sambungan teleponnya dan mendengarkan Raymond dan Nona yang asik ngobrol entah apa yang dibahas, sementara Kenan kembali sibuk mengangkat teleponnya yang terus saja berdering. Baru saja selesai sudah berbunyi lagi dari yang lain. Begitu terus sampai Mobil berhenti di depan rumah Nona.


"Sudah sampai, mau mampir dulu?" Nona menawarkan.


"Lain kali saja Non." jawab Kenan tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih Nona turun dari Mobil Dan segera masuk kedalam rumahnya. Setelah Nona menghilang dari pandangan, Raymond melajukan kendaraannya.


"Lain kali???" goda Raymond pada Om kesayangannya.


"Jangan jahil, kamu tahu Pak Baron sengaja membawa kunci mobil Nona." dengus Kenan membuat Raymond terbahak. Puas sekali mentertawakan Kenan dan Nona.


"Sepertinya dia mau menjodohkan Nona sama Om tuh." kata Raymond menduga-duga. Kenan menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkinlah, Nona lebih baik cari yang single jangan duda seperti Om. Pasti banyak yang mau sama Nona." jawab Kenan yakin.


"Om minder?"


"Sembarangan, Om hanya berpikir logis. Nona masih muda dan Om sudah setengah tua.'


"Kalau Nona mau dan Keluarga setuju apa salahnya Om."


"Ih sudahlah kamu membahas apa sih. Memang Baron itu jahil, makanya Nona juga begitu kan. Jangan pikir yang aneh-aneh."


"Aku optimis. Aku mendukung Pak Baron." kata Raymond membuat Kenan menoyor kepalanya sambil terkekeh.