
"Balen sini kita telepon Abang Ando dulu." ajak Nanta sebelum Balen mengajaknya beranjak dari kursi makan, sementara yang lain satu persatu sudah meninggalkan meja makan.
"Papon mandi dulu ya." ijin Kenan pada Balen.
"Yah." jawab Balen sesaat menatap Papon lalu kembali fokus pada Abangnya.
"Balen mau tidur sama Bang Ray lagi tidak?" ajak Raymond pada Balen.
"Tasian Aban ndilian." katanya pada Raymond, seperti orang tua saja yang ingin menemani Nanta.
"Banyak gaya." kata Raymond mengacak anak rambut Balen gemas. Balen memonyongkan bibirnya dengan ekspresi yang tambah menggemaskan. Roma terkikik geli dibuatnya, tambah tidak sabar menanti baby diperut segera keluar.
"Nanti mau tidur sama Abang?" tanya Nanta pada Balen sambil menekan tombol di handphonenya.
"Yah." jawab Balen tersenyum.
"Oke." jawab Nanta mengacungkan jempolnya.
"Ote." balas Balen ikut mengacungkan jempolnya.
"Baleeen singkong rebusku, Abang Ando kangen nih." teriak Ando saat melihat Balen dilayar handphonenya bersama Nanta.
"Aban, butuna baduuuuus." katanya masih mengacungkan jempol sambil meliukkan badannya. Ando terbahak melihatnya.
"Bilang apa sama Bang Ando." Nanta menatap Balen.
"Matatih ya Aban Ando." katanya pada Ando.
"Kiss dulu Abang." Ando mengikuti gaya Nanta. Balen mendekatkan bibirnya pada layar handphone Nanta kemudian menempelkannya hingga layar tersebut basah.
"Duh bau sop deh handphone gue." kata Nanta terbahak. Ando jadi ikut terbahak dibuatnya.
"Kapan Balen pulang ke Jakarta lagi?" tanya Ando pada Balen.
"Ndak tau." jawab Balen polos.
"Abang tidak diajak ke Malang." Ando pura-pura merajuk.
"Aban Ando situ dulu ya. Janan nanis." kata Balen lagi, kembali Nanta dan Ando terbahak.
"Balen suka bukunya?" tanya Ando kemudian.
"Yah." jawabnya menganggukkan kepala.
"Nanti Abang Ando belikan lagi ya." janji Ando pada Balen.
"Yah." jawab Balen lagi senang.
"Eh gue lupa belikan pinsil warna untuk Wulan." kata Nanta pada Ando.
"Yah elu bagaimana sih? gue juga baru lihat pas mau ke kasir." kata Ando terkekeh.
"Nanti belikan di toko buku dekat rumah saja." kata Nanta kemudian.
"Ndo, jangan lupa absenin gue besok." kata Nanta pada sahabatnya.
"Dosennya kenal elu, nanti bagaimana kalau dia tahu?" tanya Ando pada Nanta.
"Pas mau pulang saja absennya, kalau dia tidak sebut nama gue baru elu absenin." kata Nanta mengajari Ando, seperti yang biasa dilakukan teman-teman mereka dikelas jika ada yang tidak masuk, hanya saja Nanta kadang suka disebut namanya oleh Pak Dosen hingga sedikit sulit membuat Nanta seakan hadir.
"Siap." jawab Ando mengacungkan jempolnya sambil meliuk seperti yang Balen lakukan tadi, kemudian mereka bertiga terbahak, Balen paling kencang tertawanya. Nanta mengakhiri sambungan teleponnya, kemudian menggendong Balen bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.
"Balen mau tidur sama aku." katanya pada Nona.
"Betul Balen?" tanya Nona pada anaknya.
"Yah." jawabnya sambil memeluk Nanta.
"Nanti nangis." kata Nona lagi pada Balen.
"Ndak." jawabnya kemudian menyembunyikan wajahnya dileher Nanta.
"Sudah ngantuk belum?" tanya Nanta pada adiknya.
"Beum." jawab Balen masih bersandar dileher Nanta.
"Ganti baju tidur dulu Balen, bersihkan badannya." ajak Nona pada putrinya.
"Ayo Balen sama Ncusss ganti bajunya." perintah Kenan pada Balen.
"Yah." jawab Balen cepat, segera meronta minta diturunkan dari gendongan Nanta.
"Tundu ya Aban." katanya pada Nanta.
"Mesra sekali sama Abang." kata Reza tertawa melihat Balen. Nanta terkekeh mendengar komentar Ayah.
Richi mana?" tanya Nanta pada Ncusss, ia belum melihat Richi sejak dari datang tadi.
"Dikamar, minum susu." jawab Ncusss, Nanta segera menuju kekamar mengintip Richi yang sedang asik memegang botolnya sambil memainkan kedua kakinya. Nanta tidak memanggil Richi karena mata adiknya sudah kriep-kriep.
"Aban ndak boeh bobo sama Ichi." kata Balen pada Abangnya.
"Iya, kan bobonya sama Balen." jawab Nanta. Balen menganggukkan kepalanya senang.
"Balen, besok Abang mau bobo dirumah Wulan, kamu mau ikut?" Nanta mengajak Balen seperti keinginan Wulan.
"Naik sawat?" tanya sang bocah pada Abangnya.
"Naik mobil dong, kan Wulan rumahnya di Malang." jawab Nanta sambil menunggu adiknya dipakaikan baju oleh pengasuh.
"Jangan nangis cari Papon dan Mamon disana ya." kata Nanta lagi.
"Papon ndak itut?" tanya Balen sedikit ragu.
"Tidak, kita saja berdua." jawab Nanta pada Balen.
"Ndak au." Balen menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, Abang saja yang kerumah Wulan." jawab Nanta terkekeh.
"Ndak boeh, Aban." Balen memonyongkan bibirnya dengan kening berkerut.
"Pilih saja tinggal sama Papon apa ikut Abang." tegas Nanta pada Balen.
"Huaaaa..." Balen menangis kencang. Ish gemas sekali Nanta dibuatnya.
"Kalau menangis tidak boleh tidur sama Abang malam ini." kata Nanta pada gadis kecil kesayangannya, Balen segera terdiam, dramanya gagal.
"Aban..." Balen berlari memeluk Nanta, ia sudah berganti piyama kini.
"Apa?" tanya Nanta terkekeh.
"Baen bobo sama Aban ya." bujuknya pada Nanta.
"Iya, tapi jangan nangis." kata Nanta pada adiknya.
"Yah." jawabnya, cepat sekali berubah ekspresi wajahnya.
"Jadi besok ikut Abang apa tinggal sama Papon?" tanya Nanta.
"Tidak pakai nangis." kata Nanta lagi.
"Mau itut Aban, tapi Papon itut juda." jawabnya dengan suara melemah.
"Kalau Papon ikut nanti Oma sama Opa nangis, kasihan." kata Nanta pada adiknya.
"Opa sama Oma itut juda." kata Balen mengatur.
"Tidak bisa seperti kemarin, karena kemarin itu villa bukan rumah Wulan. Besok itu kita dirumah Wulan." Nanta menjelaskan.
"Nanti Balen bawa bukunya, mewarnai bersama Wulan." bujuk Nanta lagi.
"Ote." jawab Balen cepat.
"Jadi kita berdua saja ya." Nanta memastikan.
"Yah." jawab Balen setuju. Nanta pun mengajak Balen ke ruang keluarga dalam gendongannya.
"Besok aku menginap dirumah Mama, ajak Balen ya." ijinnya pada Nona.
"Aih, nanti menangis Balen, bikin repot Mamamu saja." Nona sedikit keberatan.
"Ndak nanis Mamon." jawab Balen membujuk Mamanya agar diijinkan ikut Abang kerumah Wulan.
"Boleh Mas?" tanya Nona pada Kenan.
"Kamu jam berapa ke rumah Mama?" tanya Kenan pada Nanta.
"Maunya sih pagi." jawab Nanta.
"Besok sore saja." tawar Oma pada cucunya, ia masih kangen dengan Nanta.
"Ya sudah sesudah ashar aku ke Mama." jawab Nanta pada Papa.
"Ajak saja Balen, tapi malam Papa jemput." Kenan memutuskan.
"Tuh Balen, kamu besok main saja di rumah Wulan, malam Papa jemput." kata Nanta pada adiknya.
"Baen bobona sama Aban." rengeknya pada Kenan.
"Nanti kamu ngompol." kata Kenan menggoda Balen.
"Pate pempes." jawab Balen menawar.
"Ncusss diajak ya." kata Kenan pada Nanta, ia tidak mau Nanta kerepotan jika adiknya ingin ini dan itu.
"Janan." jawab Balen mengatur.
"Memangnya kenapa?" tanya Kenan pada Balen.
"Ndak boeh itut." jawab Balen.
"Kalau Ncusss tidak ikut, Abang repot urus kamu." kata Nona terkekeh, gadis kecilnya sok tua sekali.
"Aban???" Balen menatap Nanta meminta persetujuan.
"Biarkan Ncusss kita ajak." kata Nanta pada Balen.
"Nanti nanis Ichi." Balen masih beralasan.
"Ichi kan sama Mamon dan Papon. Ada Oma, Opa, Ayah, Bunda, Bang Ray dan Kak Roma. Banyak temannya." Nanta menjelaskan.
"Nanti Ncusss bobo ndilian." kata Balen lagi masih keberatan, tidak mau kebersamaannya bersama Abang terganggu dengan kehadiran Ncusss.
"Balen saja yang temani Ncusss bobo kalau begitu." Nanta menggoda Balen.
"Ndak au." jawab Balen kembali memeluk Abangnya, kemudian mencium Nanta, benar-benar manis sekali. Nanta terkekeh membersihkan wajahnya yang basah karena ciuman Balen, ada saja cara Balen merayu Abangnya.