
"Kalian ini mau rahasia tapi malah bahas di depan orangnya." kata Larry tertawa.
"Begini..."
"Kak Rumi." Daniel hentikan makannya lalu gelengkan kepala tidak mau Rumi bocorkan.
"Tadi katanya terserah." Rumi jadi bingung.
"Aku berubah pikiran." jawab Daniel tersenyum pada Abangnya.
"Stop uang jajan." Larry terkekeh.
"Bang..." merengek keluar bocahnya.
"Kasih tahu dulu." Larry menyeringai jahil.
"Nanti saja kalau sudah dirumah." jawab Daniel.
"Sekarang saja." pinta Larry. Daniel gelengkan kepalanya pada Rumi.
"Aku lagi capek nih." katanya pada Larry.
"Capek apa, tidak menyetir, tidur paling pulas, makan paling banyak." Larry terkekeh.
"Tadi habis bawa dua Baki." jawabnya membuat Larry dan Rumi terbahak.
"Daniel lucu." kata Rumi memandang Daniel.
"Abangku juga lucu kan?" Daniel menyeringai jahil.
"Lucuan kamu sih." jawab Rumi jujur, Larry tidak selucu Daniel.
"Mau cerita tidak?" tanya Larry pada Daniel.
"Iya mau." jawab Daniel takut uang jajan dari Abangnya di stop.
"Apa?" tanya Larry penasaran.
"Makan dulu dong, kan belum habis." jawab Daniel lanjutkan makannya, Larry jadi tertawa ikut lanjutkan makan begitu pun Rumi.
Handphone Larry berdering, perdana Femi hubungi Larry. Berhubung lagi makan Larry abaikan teleponnya yang berdering.
"Tidak diangkat?" tanya Rumi.
"Lagi makan." jawab Larry, tangannya lengket kena susu dari es campur, harus cuci tangan dulu baru bisa angkat supaya handphonenya tidak kotor, tidak mungkin loudspeaker karena di area umum.
"Kalau lagi makan tidak mau angkat telepon ya?" tanya Rumi.
"Tergantung tanganku kotor apa tidak." jawab Larry apa adanya.
"Mungkin penting." kata Rumi pada Larry.
"Nanti pasti telepon lagi kalau penting." jawab Larry.
"Kamu beneran suka sama Femi apa tidak sih?" tanya Rumi heran, kalau beneran suka pasti langsung angkat begitu pujaan hatinya telepon. Larry tertawa saja tidak menjawab pertanyaan Rumi.
"Abangmu selalu begitu, kalau aku telepon juga jarang diangkat." adu Rumi pada Daniel.
"Dia cuma rajin angkat telepon dari Balen." Daniel bocorkan apa yang dilihatnya selama seminggu di rumah bersama Larry.
"Memang iya?" tanya Rumi. Larry anggukan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Rumi penasaran.
"Kalau ngobrol sama Balen kan selalu videocall dan tidak masalah dimanapun, mau lagi di area umum atau tidak." jawab Larry apa adanya.
"Oh kalau dari cewek-cewek takut terdengar sama yang lain ya?" Rumi tertawa.
"Loh iya, coba saja kalau kamu telepon terus aku loudspeaker. Semua dengar apa yang kamu bahas, mau?" tanya Larry.
"Tidak mau dong." jawab Rumi cepat.
"Nah Femi dan yang lain juga pasti tidak mau." jawab Larry tertawa.
"Berarti banyak cewek yang hubungi kamu ya?" tanya Rumi ingin tahu.
"Banyak." jawab Daniel cepat. Larry diam saja tidak membantah.
"Daniel diantara wanita yang hubungi Leyi, siapa yang paling dekat dengan Leyi?" tanya Rumi pada Daniel.
"Siapa ya? Balen." jawab Daniel tertawa.
"Itu sih bocah." jawab Rumi terkekeh.
"Ini wanita loh yang berusaha dekati Abangmu." Rumi ingin tahu detail.
"Tidak ada." jawab Larry cepat, memang begitu adanya.
"Femi?" tanya Rumi.
"Barusan ini pertama kali Femi hubungi aku, surprised juga sih, siapa tahu tidak sengaja pencet nomorku dia." Larry tersenyum.
"Senang dong, akhirnya Femi hubungi kamu." Rumi tersenyum tipis, sebenarnya Rumi masih berharap bisa sama Larry.
"Senang." Larry anggukan kepalanya.
"Hari apa saja sih jadwal terapi kamu?" tanya Larry.
"Bisa diatur yang penting seminggu dua kali." jawab Rumi.
"Seperti yang aku bilang kalau ikut temani harus bilang sama Papaku supaya tidak ada pertanyaan dan dugaan tidak jelas. Tapi kalau jemput kamu di lobby masih memungkinkan sih." jawab Larry.
"Kemarin tidak bisa jemput aku di lobby." protes Rumi.
"Kamu lihat sendiri aku melatih Balen berenang." jawab Larry yang sudah selesai makan, handphonenya kembali berdering, Femi kembali menghubunginya.
"Sepertinya bukan tidak sengaja." Larry terkekeh, bersihkan tangannya dengan tissue basah yang disiapkan Rumi lalu angkat telepon dari Femi.
"Femi..." Larry tersenyum walau Femi tidak melihat.
"Sudah sampai Jakarta?" tanya Femi dari seberang.
"Belum, masih di rest area, temani Dania makan." Larry tertawa senang Femi tanyakan Posisinya saat ini.
"Aku ganggu?" tanya Femi.
"Tidak, sudah selesai. Tadi kamu telepon aku lagi makan, makanya tidak angkat." jawab Larry jujur.
"Larry, maaf ya kalau kemarin aku bicara terkesan kasar dan tidak enak didengar."
"Loh kenapa ini?" tanya Larry bingung, tiba-tiba minta maaf.
"Fino marahi aku." jawabnya jujur.
"Karena dimarahi Fino bukan karena memang kamu merasa harus minta maaf." Larry tertawa.
"Karena dimarahi aku jadi mikir dan aku merasa bersalah." jawab Femi.
"Tidak masalah, tenang saja." jawab Larry santai.
"Kamu lagi sama siapa?" tanya Femi.
"Sama semuanya, tapi aku duduknya sama Rumi dengan Daniel." jawab Larry apa adanya.
"Oh..." diam tidak ada pembicaraan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa." jawab Femi.
"Ya sudah salam untuk Rumi, Daniel dan semuanya ya." Femi akhiri teleponnya.
"Mau apa kok buru-buru?" tanya Larry.
"Takut ganggu kalian." jawab Femi matikan sambungan teleponnya. Larry tersenyum senang, tidak tahu kenapa tiba-tiba senang saja.
"Salam dari Femi." kata Larry pada Rumi dan Daniel.
"Hu uh." jawab Daniel memandang Rumi.
"Leyi, rabu jemput aku terapi bisa?" tanya Rumi tanpa menjawab salam dari Femi.
"Nan, kita latih basket rabu ya?" tanya Larry pastikan jadwalnya pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta seingatnya memang rabu.
"Jam berapa deh?" tanya Larry lagi.
"Gue juga lupa, besok ya gue lihat di agenda." jawab Nanta.
"Besok aku kabari, jam berapa sih kamu selesai terapi?" tanya Larry, siapa tahu setelah melatih basket bisa memenuhi permintaan Rumi. Ia harus tepati janji sama Steve dan Oma Lani untuk bantu Rumi.
"terapi jam tujuh selesai jam delapan atau setengah sembilan." jawab Rumi.
"Oke, kalau sudah bertemu Papa juga aku kabari ya, kalau bisa temani kamu terapi aku temani." kata Larry lagi.
"Janji?" tanya Rumi.
"Janji, kan aku juga sudah janji sama Bang Steve dan Oma Lani, karena kemarin kamu sudah dibantu Papi jadi aku santai saja." jawab Larry tersenyum.
"Femi marah tidak?" tanya Rumi pada Larry.
"Marah kenapa? kami belum ada ikatan, kalau sudah jadi pacarku baru bisa marah." jawab Larry tertawa.
"Ada kemungkinan dia jadi pacar kamu tidak?" tanya Rumi, Daniel beneran jadi pajangan kali ini hanya dengarkan pembicaraan Abangnya dengan Rumi.
"Mungkin saja, apa sih yang tidak mungkin." jawab Larry.
"Kalau aku mungkin juga dong." Rumi tertawa.
"Mungkin saja." Larry ikut tertawa.
"Jangan kasih aku harapan Leyi." kata Rumi merengut.
"Aku tidak merayu kamu loh, kita sahabat seperti yang kamu bilang di Clark Quay saat itu." Larry ingatkan permintaan Rumi malam itu.
"Mana ada persahabatan murni perempuan dengan lelaki, Salah satu pasti ada yang suka." Rumi mendengus.
"Iya Kak Rumi kan yang suka abangku." celutuk Daniel tanpa beban, Rumi tertawa mencubit pipi Daniel gemas.