I Love You Too

I Love You Too
Capek



Baron dan Mita tiba di rumah Kenan pukul dua belas malam, Kenan sengaja betul menunggu mertuanya, walaupun sepulang dari rumah keluarga Jonas mereka semua langsung masuk ke kamar. Sudah tidak bersemangat untuk ngobrol lagi, karena sudah mengantuk juga.


"Langsung istirahat saja." kata Kenan pada mertuanya, Ia menyambut kedatangan keduanya. Nona dan duo bocah sudah pulas dari tadi. Kenan tidak perlu memberitahu yang mana kamarnya karena Baron sudah tahu.


"Aku langsung ke kamar ya, capek." kata Mita pada Baron dan Kenan lalu berjalan meninggalkan keduanya menuju kamar yang biasa mereka tempati.


"Iya saya juga capek kok, Mbak. Besok saja kita ngobrolnya." kata Kenan pada mertuanya lalu ia juga membalikkan badan ingin ke kamar juga.


"Eh tunggu dulu, main masuk kamar saja, bagaimana Deni?" tanya Baron pada Kenan dengan gayanya yang seperti biasa.


"Lagi sedih." jawab Kenan kembali mendekat pada mertua rasa sahabat dan duduk disofa.


"Tertawakan anak saya, kamu." baron pura-pura marah tapi tertawa juga. Kenang langsung tersenyum dengan hidung sedikit mengembang karena melihat gaya Baron.


"Menurut Abang bagaimana besok? semua sudah disiapkan Pak Jonas, tadi kata Pak Jonas, pernikahan harus tetap berlangsung pukul sembilan pagi." lapor Kenan pada Baron.


"Ya datang saja, memangnya kenapa? orang tua sudah setuju toh."


"Masalahnya tadi Dini belum jawab menerima lamaran Deni apa tidak, Deni tidak mau kalau calon istrinya menikah karena terpaksa." Kenan memberitahukan Baron.


"Ya Deni mestinya hubungi Dini, pastikan apa jawabannya." kata Baron sok santai.


"Abang temui saja Deni, bicarakan berdua." kata Kenan dengan mata sayu, mengantuk berat.


"Deni ini ternyata dalam urusan cinta lebih bodoh dari kamu ya." Baron menggelengkan kepalanya.


"Ck... bilang saya bodoh lagi." omel Kenan pada mertuanya.


"Saya tidak bilang begitu."


"Apanya yang tidak, Deni lebih bodoh itu maksudnya apa, saya juga bodohkan? Enak saja." dengus Kenan kesal. Baron terkikik geli.


"Iya Deni tidak lebih pintar dari kamu rupanya." jawab Baron merubah kalimatnya mengikuti maunya Kenan.


"Nah itu lebih enak terdengar. Saya ngantuk sekali ini, boleh besok saja dilanjut obrolannya setelah sholat shubuh?" tanya Kenan minta ijin.


"Padahal masih banyak yang mau saya tanyakan, ya sudah selamat tidur." kata Baron tersenyum manis.


"Kalau senyum begitu mirip Deni." komentar Kenan terkekeh.


"Apanya yang mirip?" memicingkan mata merasa Kenan akan mengodanya.


"Semuanya." jawab Kenan.


"Sorry saya lebih pintar dari Deni dan kamu." Baron terbahak, tawanya menggelegar.


"Psssttt..." Kenan meletakkan telunjuknya dibibir.


"Cucu bisa bangun Opon." bisik Kenan pada Opa Baron.


"Ok ok saya tidur deh, besok lanjut lagi." Baron terkekeh sambil berbisik, ia pun segera berbalik ke kamarnya. Kenan tertawa jadinya dan kembali ke kamar sepeninggalan Baron.


Sementara dikamarnya Nanti masih sibuk teleponan sama Doni.


"Bagaimana Kak Dini?" tanya Nanta pada Doni. Ia kasihan sama Om Deni tadi.


"Dari tadi Kak Dini tidak keluar kamar, sudah gue gedor tidak dibuka juga pintunya." jawab Doni pada Nanta.


"Pingsan?" tanya Nanta bercanda.


"Iya, saking bahagianya di lamar Om Deni." Doni malah menimpali, mereka tertawa geli, apa saja dibawa bercanda oleh mereka.


"Jadi besok bagaimana? jangan dipaksa kalau tidak mau." Nanta mulai serius.


"Tidak ada yang memaksa." jawab Doni santai.


"Itu tadi, Om Jonas main hubungi penghulu dan lainnya saja, padahal Kak Dini masih ragu."


"Untuk persiapan kalau Kak Dini mau jadi tidak kocar-kacir." Doni terbahak.


"Kalau tidak mau, bagaimana?" tanya Nanta.


"Besok gue kabari semuanya termasuk elu." jawab Doni bingung juga


"Oke, perjalanan dari rumah gue ke rumah lu hari kerja itu satu jam ya." Nanta mengingatkan agar Doni tidak mendadak.


"Iya, pokoknya saat sarapan paling telat sudah ada kabar." janji Doni pada sahabatnya itu.


"Kasihan om gue di gantung." sungut Nanta membayangkan wajah nelongso Om Deni.


"Kak Kakak gue minta waktu berpikir." Doni membela Kakaknya.


"Bokap lu main suruh datang saja besok akad nikah, Om gue kan jadi galau." Nanta juga membela Om Deni.


"Nah, yang Abu Dhabi tetap ya sesuai rencana, tidak ada yang batal. Semua sedang proses pengurusan." kata Nanta khawatir Kak Dini tidak jadi ikut.


"Iya itu tidak boleh berubah." Doni setuju, pikirnya mereka pasti jadi menikah.


Nanta tersenyum pada Dania begitu menutup teleponnya, dari Nanta pergi sampai detik ini Dania masih marathon menonton film. Sudah tamat yang satu lanjut yang lain lagi.


"Sibuk sekali." Dania menggelengkan kepalanya.


"Kamu juga sibuk dari tadi ya?" Nanta tertawakan Dania sambil geleng kepala.


"Killing time." jawab Dania.


"Killing time? ini sudah malam, ayo bobo." Nanta menunjuk jam dipergelangan tangannya.


"Aku belum ngantuk." jawab Dania merengek.


"Bo-bo. Besok kalau Om Deni jadi menikah, kita pasti pagi-pagi sudah sibuk. Ada Padeh Baron dan Bude Mita juga mau datang." kata Nanta yang belum tahu kalau keduanya sudah beristirahat di kamar.


"Orang tuanya Mamon ya? mereka datang? berarti jadi menikah dong Om Deni?" tanya Dania banyak sekali.


"Kalau Orang tua Kak Dini sudah siapkan semuanya termasuk penghulu, tapi Kak Dini belum jawab Iya, Om Deni tidak mau datang kalau tidak ada jawaban." Nanta menjelaskan pada istrinya.


"Di gantung?"


"Bukan digantung, Kak Dini minta waktu untuk berpikir. Tapi Om Jonas maunya gerak cepat saja." jawab Nanta terkekeh. Dania tersenyum, kemudian...


"Sayang," Dania mengulurkan Laptop yang dipakainya menonton pada Nanta, minta dibereskan. Nanta pun menggeser meja dan laptopnya agar istrinya bisa merebahkan badannya dikasur. Ia segera mematikan laptop lalu meletakkan di meja kerja.


"Semoga Kak Dini mau menerima lamaran Om Deni." kata Dania sambil memejamkan matanya.


"Kalau jodoh tidak kemana." jawab Nanta ikut merebahkan badannya, kegiatannya hari ini sangat padat tubuhnya butuh istirahat. Tidak lama mereka berdua terlelap tanpa berpelukan.


Keesokan harinya seperti biasa menjelang ritual mandi pagi menjelang ke Mesjid. Dania lebih dulu bangun, kali ini ia yang bangunkan suaminya.


"Mas Nanta, ayo ke Mesjid." katanya sambil memeluk Nanta. Perdana Dania membangunkan Nanta, biasanya Nanta yang lebih dulu bangun, sepertinya suaminya lelah, tidak ada tanggapan.


"Mas Nanta..." bisiknya ditelinga Nanta, melepaskan pelukannya.


"Hmm..." belum juga membuka matanya hanya suaranya saja.


"Bangun, akad nikah Om Deni sekarang." bisik Dania.


"Jadi ya?" tanya Nanta langsung duduk, untung saja Dania sudah minggir lebih dulu, kalau tidak entahlah bagaimana jadinya.


"Sholat dulu baru tahu jadi apa tidak." jawab Dania kembali membaringkan tubuhnya di kasur.


"Kamu tidak tidur? begadang?" tanya Nanta khawatir.


"Tidur kok, baru saja terbangun." jawab Dania.


"Kok tidur lagi?" tanya Nanta segera bangun hendak menuju kamar mandi.


"Mau mandi ya?" tanya Dania membuat langkah Nanta terhenti.


"Iya, mau tahajud masih sempat tidak?" tanya Nanta belum melihat jam.


"Masih." jawab Dania mengurungkan niatnya, tadinya mau menggoda Nanta untuk mandi bersama.


"Kamu sudah tahajud?"


"Belum."


"Ayo, jangan malas." ajak Nanta kembali mendekat pada istrinya dan mengulurkan tangannya.


"Mas Nanta..."


"Apa?"


"Tidak mau mandi berdua ya?" tanya Dania polos, Nanta terkekeh.


"Nanti tidak jadi tahajud." jawab Nanta mengambil handphonenya, melihat sudah jam berapa. Ups baru pukul tiga dini hari


"Ayo." ajak Nanta cengengesan.


"Mas Nanta duluan." kata Dania mau tidur lagi.


"Tidak mau mandi berdua ya?" Nanta mengulang kalimat Dania sambil terkekeh.


"Hehehe mau, Mas Nanta tapi kan capek." kata Dania lagi tidak tega.


"Tidak Kok, ayo. Jangan digendong ya takut jatuh, dedeknya kasihan." kata Nanta menarik tangan istrinya yang bangun perlahan, kemudian mereka mandi berdua deh menjelang shubuh.