
Kevin menghampiri Kenan dan Nona dengan wajah sumringah. Ia datang bersama Manda, calon istrinya.
"Yang fitting baju siapa? eh yang nikah duluan siapa?" kekeh Kevin sambil menyalami Nona dan Kevin.
"Sorry ya kita balap." jawab Nona dengan wajah bahagia.
"Terima kasih ya Vin sudah datang." kata Kenan pada Kevin.
"Nanti saat kita menikah harus datang loh." kata Kevin pada Kenan.
"In syaa Allah pasti datang. Asal saja tidak lagi diluar kota." jawab Kenan sambil merangkul Nona.
Kenan kembali berbincang dengan Reza dan sahabatnya, sudah cukup lama Kenan tidak berjumpa dengan mereka Kangen juga rasanya, makanya ia sangat bersemangat bertemu semuanya. Lutfi sahabat Kenan berhalangan hadir karena sudah kembali ke Malaysia. Tapi ia mengundang Kenan dan Nona untuk menginap dirumah mereka di Malaysia.
Tari dan Bagus mendatangi Reza dan sahabatnya, Tari juga sempat mengenal mereka saat berlibur ke Jakarta dan menginap di rumah Reza dulu, saat masih menjadi istri Kenan. Entah kenapa Melly dan Jessica selalu mengikuti Tari kemanapun. Jadilah saat ini Melly ikut berbincang akrab dengan rombongan Kenan. Sementara Nona yang awalnya sibuk melayani Kevin dan calon istrinya jadi tidak konsentrasi dibuatnya.
Nona mencari keberadaan Deni, ingin marah rasanya. Sudah difasilitasi mengundang Jessica malah menghilang entah kemana. Bukannya pendekatan, ini kesempatan.
"Jes, sudah makan?" tanya Nona pada Jessica.
"Sudah kenyang sekali. Ini malah sudah mau pulang, tapi Melly sepertinya masih betah." kata Jessica dengan polosnya.
"Itu Wawan." tunjuk Jessica saat melihat Wawan bersama kedua orang tuanya. Mereka sebenarnya sudah datang dari tadi, tapi belum foto bersama Kenan dan Nona.
"Mas, Om dan Tanteku sudah bertemu? Orang tuanya Wawan." kata Nona pada Kenan sambil menunjuk ke tempat Wawan berdiri.
"Belum, yuk kesana." ajak Kenan, kemudian berpamitan pada yang lain menghampiri Wawan.
"Mas Kenan, selamat jadi Ipar." kata Wawan tersenyum memeluk Kenan, kemudian memeluk Nona dan mencium pipinya. Kenan melirik saja, tanpa ekspresi. Ada rasa tidak suka melihat Wawan memeluk dan mencium pipi Nona, tapi bagaimanapun saudara ya, masa mau komplen. Serba Salah jadinya.
"Om, Tante. Ini Mas Kenan." Nona memperkenalkan suaminya pada Tante Gadis dan suaminya.
"Titip Nona ya, jangan disakiti. Kalau kamu sekali saja menyakiti Nona, berhadapan dengan saya." ancam Tante Gadis pada Kenan, seperti jagoan saja.
"Iya Tante." jawab Kenan mangut-mangut dengan senyum khasnya.
kaya gini deh kalau Kenan senyum.
"Semoga kalian langgeng ya. Om bahagia sekali melihat Nona bahagia." kata Om Kasali pada Kenan dan Nona.
"Terima kasih Om." jawab Nona dan Kenan bersamaan.
"Mas Wawan, ada Jessica loh aku undang juga." kata Nona pada Wawan
"Oh kamu masih kontak toh?"
"Tidak, baru ketemu lagi beberapa hari lalu, biasa Deni maunya parkir merapat rumah Jessica." adu Nona pada Wawan.
"Hahaha masih suka ya Deni, mana dia?"
"Siapa? Deni atau Jessica?
"Deni, kalau Jessica sering ketemu. Kami kan kemarin itu dinegara yang sama, ke Indonesia juga sama-sama." jawab Wawan.
"Kalian pacaran?" tanya Nona. Wawan menggelengkan kepalanya.
"Sahabat." jawab Wawan.
"Lah senasib sama kamu Mas, terjebak dengan kata sahabat." bisik Nona pada Kenan. Kenan mencubit Nona gemas.
"Tante, apa kabar?" sapa Jessica pada Tante Gadis.
"Baik." jawab Tante Gadis ketus. Jessica mencebikkan mulutnya. Selalu saja tidak pernah ramah pikirnya.
"Aku pamit ya Non, telepon, telepon ya." kata Jessica kemudian. Ia tidak menegur Wawan, cukup mengherankan.
"Terima kasih ya Jes. Ok nanti saling berkabar." kata Nona pada Jessica.
Melly pun ikut pamit, menyalami Nona dan Kenan.
"Mas Kenan sampai ketemu lagi." katanya pada Kenan.
Wawan pamit mencari Deni, sudah lama tidak bertemu membuatnya rindu. Walaupun menyukai wanita yang sama, mereka tidak bermusuhan. Malah saling mencari dan merindukan.
Nona pun pamit pada Om dan Tante untuk menemui tamu yang lain. Ia menarik tangan Kenan agar menjauh dari Tante Gadis. Jangan terlalu lama disana, nanti ada kalimat tidak enak lagi. Tampak Kevin sedang berbincang akrab dengan Baron, Wawan dan Deni juga tampak saling melepas rindu. Raymond bersama Nanta dan Samuel saling mencoba berbagi makanan dipiring mereka.
"Mas Kenan yakin, Melly itu hanya client? tidak pernah lebih akrab begitu?"
"Kenapa?"
"Akrab betul panggilnya Mas Kenan. Kalau urusan kantor bukannya panggil Pak gitu." dengus Nona kesal.
"Ih cemburu." Kenan menjepit hidung Nona dengan kedua jarinya.
"Tidak suka lihat cara dia pandangi Mas Kenan."
"Saya malah tidak lihat dia, mata saya ketutup kamu tahu? Tadi saja saya lupa dia itu siapa. Sampai sekarang masih tidak ingat." kata Kenan apa adanya. Tidak merasa pernah akrab dengan Melly. Nona senyam senyum digombali Kenan. Bukan gombal sih itu yang sebenarnya Kenan rasakan.
"Mau tanya Tari?" ajak Kenan pada Nona. Tidak mau dicurigai.
"Tidak usah."
"Kalau tidak usah jangan uring-uringan." tegas Kenan.
"Iya."
"Kamu tuh lucu, yang undang teman kamu, undang mantan pacar kamu, dipeluk sama dicium cowok kamu, Yang uring-uringan kamu juga." kekeh Kenan merangkul erat istrinya.
"Aku kan..."
"Apa, betul kan yang saya bilang? harusnya saya yang uring-uringan loh." Kekeh Kenan lagi.
"Bodo ah." sungut Nona tidak bisa mendebat Kenan.
"Mau pulang?" tanya Kenan melihat Nona tampak lelah, terlebih sedikit merajuk pasti energinya sedikit terkuras.
"Masih banyak keluarga, masa kita pulang." tolak Nona tak enak hati.
"Mas, yang model Melly begitu banyak ya? sering Mas Kenan temui client yang begitu?"
"Duh kamu nih bahas Melly lagi."
"Aku tanya yang model begitu, yang sampai ngences lihat Mas Kenan tuh banyak kah client Mas Kenan?"
"Tidak tahu, tidak perhatian mereka ngences apa tidak."
"Tuh Kevin, mau kesana? mantan pacar." goda Kenan pada Nona.
"Ih cari pelampiasan."
"Tuh Wawan, mau kesana biar dipeluk lagi."
"Ih Menyebalkan Mas Kenan." Nona menepuk bahu Kenan resah.
"Tuh tidak enak kan rasanya di curigai. Percaya deh sama saya. Kalau saya mau dari dulu sudah banyak pacar saya."
"Ya iya lah, dulu ketutupan Sheila." dengus Nona. Kenan terkekeh dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Nona.
"Marah-marah terus saya cium disini ya." katanya lagi pada Nona.
"Tidak mau, Mas Kenan Aku marah pokoknya." ancam Nona panik, wajahnya sudah memerah. Kenan terbahak dan melepaskan tangannya dari pipi Nona.
"Saya tuh cemburuan, kamu lebih parah ternyata. Bahaya kalau tidak bisa tahan diri, bisa ribut terus kita nanti." Kenan mengingatkan Nona.
"Jadi mesti bagaimana?"
"Saling percaya saja, Saya titip kamu sama Allah, Kamu juga begitu, titip saya sama Allah. Kita saling mendoakan supaya selalu dijalan yang lurus, tidak mudah tergoda. Saya pernah gagal, rasanya tidak enak. Jadi tidak mau gagal lagi." kata Kenan mencubit pipi Nona gemas.
tampilan Nona hari ini, kurang lebih seperti ini deh ya. Nite Nite❤️