
"Kenapa duduk disini?" tanya Nanta pada Doni dengan kening berkerut. Pantas saja Dini mengira mereka membahas suatu hal yang penting, rupanya kening keduanya sampai berkerut-kerut karena pembahasan yang memang penting tapi penuh trik selain itu silau juga kerena matahari mulai naik.
"Kak Dini ajak gue langsung pulang begitu Dania sudah pas dengan baju renangnya." lapor Doni.
"Oh jadi bagaimana?" tanya Nanta ingin tahu langkah apa yang harus mereka ambil.
"Dorong gue ke kolam deh biar baju gue basah kuyub." Doni memberi ide cemerlang.
"Terlalu kasar kalau gue dorong, nanti ketahuan sengaja." jawab Nanta.
"Jadi?"
"Lu jatuh sendiri saja, kita seakan jatuh berdua." ide dari Nanta membuat Doni mengangguk.
"Tapi kasih tahu Dania, khawatir keram perutnya karena terkejut."
"Oke, itu Dania." tunjuk Doni melihat Dania sedang berjalan menghampiri mereka. Nanta pun berdiri bergaya memeriksa setiap detail pakaian berenang Dania sambil membelakangi Dini dan Deni.
"Sayang, nanti aku dan Doni pura-pura jatuh ke Kolam, jangan panik ya." bisik Nanta membenarkan leher baju Dania yang tidak pas.
"Iya." jawab Dania.
"Kasih tahu orang rumah ya? biar tidak panik juga. Mereka menonton dari dalam." kata Dania.
"Aku kirim pesan, ya sudah sana kamu berenang." Nanta menepuk bahu istrinya. Tampak Dini dan Deni memandang ke arah mereka, sesekali tampak keduanya bicara santai, sepertinya sih banyak juga yang mereka berdua bahas.
"Sayang, aku pakai gaya apa?" tanya Dania bingung.
"Boleh pakai gaya bebas, gaya dada sama gaya punggung." jawab Nanta.
"Gaya kupu-kupu?"
"Jangan sayang, itu ada hentakan khawatir mengganggu Janin kamu." kata Nanta memberikan informasi yang dia dapatkan dari membaca. Banyak membaca membuat pengetahuan Nanta bertambah.
"Oke, aku juga tidak terlalu bisa gaya kupu-kupu, tadinya mau minta ajari kamu." Dania terkekeh. Ia segera menuju ke kolam dengan gaya seperti mau melompat, tentu saja Nanta panik dan mengejar istrinya, Doni ikutan panik langsung mengejar Dania dan Nanta tapi kakinya tersandung hingga ia terjun ke kolam sambil meneriaki nama Dania.
Mereka tidak jadi pura-pura semua dilakukan secara alami. Doni basah kuyub seperti rencananya, sementara Nanta sibuk memeluk Dania. Misi berhasil tapi bukan pura-pura melainkan karena jiwa melindungi mereka yang berlebihan.
"Ah Dania kenapa mau lompat?" omel Doni sambil berusaha naik kembali.
"Iya kamu kenapa mau lompat, gaya kupu-kupu saja tidak boleh apalagi loncat indah." Nanta ikut ngomel.
"Aku cuma bergaya, biar terkesan alami." jawab Dania polos.
"Bini lu Nan, pinter tapi bikin gue lemah." keluh Doni menggelengkan kepalanya, kemudian mereka berdua terbahak karena ide konyol mereka didukung oleh keadaan.
"Duh kuyub begini, bagaimana mau antar aku?" kata Dini mendekat kearah adiknya.
"Memang Kak Dini mau kemana?" tanya Nanta.
"Aku mau presentasi produk ke salah satu perusahaan, rencananya tadi Doni mau antarkan dan temani aku." Dini langsung saja resah.
"Waduh, Doni bawa baju tidak? kalau pulang dulu apa sempat?" tanya Om Deni khawatir.
"Tidak bawa baju lagi, berangkat satu jam lagi keburu tidak?" tanya Doni sok iye.
"Mana sempat Doni, aku sendiri saja naik taxi online." sungut Dini.
"Jangan Kak, Biar Om Deni saja yang antar dan temani Kak Dini." kata Nanta lagi memandang Om Deni penuh harap.
"Iya, saya antar saja." kata Deni menawarkan diri."
"Apa tidak merepotkan?" tanya Dini pasrah, ia paling takut kalau harus naik taxi, mana tidak bisa setir mobil juga, kalau bisa sudah dibawanya mobil Doni.
"Tidak, saya santai kok." jawab Deni jujur.
"Ya sudah." Dini akhirnya setuju.
"Om jalan dulu ya." pamit Deni.
"Titip ya Om." teriak Doni tersenyum jahil, berani tersenyum karena Dini tidak melihat.
"Sister, Sorry ya." teriaknya lagi pada Kakaknya. Dini mengangguk saja, tidak bisa marah, memang siapa juga yang mau jatuh ke kolam, pikir Dini.
"Napa tuh Aban datoh?" tanya Balen yang tadi sempat panik karena ada adegan jatuh.
"Ayo Balen, coba lagi gerakan kakinya." tegas Larry yang serius sekali mengajar Balen ala professional.
"Tan udah." protes Balen.
"Belum bisa kan? sampai bisa dong." tegas Larry. Balen pun mengikuti perintah Larry walaupun kakinya dirasa pegal, kemauannya kuat juga.
"Kalau capek besok lagi saja lanjut sama Bang Nanta." kata Nanta pada adiknya.
"Masih mau beajal tapi mau matan duu boeh ndak?" tanya Balen.
"Tadi kan sudah makan?" Nanta berkerut.
"Lapel ladi aban." kata Balen meringis. Hahaha semua tertawa.
"Oke kita makan dulu, Abang minta antarkan makanannya kesini." kata Nanta pada adiknya.
"Ichi mau makan juga?" tanya Dania.
"Hu uh." Richi mengangguk kemudianasik menggerakkan kakinya seperti yang Mike perintahkan.
Nanta menghubungi bagian dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka semua. Tidak lama makanan berdatangan dengan bermacam jenisnya, sepertinya ini piknik, mereka begitu dimanja dengan berbagai macam menu oleh Kenan dan Nona.
"Semua mulai menikmati makanan termasuk Balen dan Richi.
"Olah raga macam apa ini." Larry terkekeh.
"Tidak usah makan kalau tidak sehat." kata Nanta santai.
"Mana mungkin sudah didepan mata tidak dimakan." dengus Larry tetap menyendok menu yang tersedia.
"Handphone lu bunyi tuh." tunjuk Mike pada Larry.
"Tidak usah diangkat." kata Larry santai.
"Eh nanti merajuk lagi ini." Mike mengintip handphone Larry gambar gebetan Larry yang mereka tidak suka.
"Sudah gue putusin." jawab Larry melengos.
"Eh beneran putus?" tanya Doni.
"Iya."
"Kenapa putus?" tanya Mike terkekeh.
"Sok tanya lagi, yang teror gue suruh putusin itu cewek siapa?" langsung saja Larry sengit.
"Yah kalau lu beneran cinta mana mungkin terpengaruh sama teror gue." kata Mike, mereka ribut saja, sementara Balen dan Richi sambil makan kepalanya putar Kiri putar kanan tergantung siapa yang bicara.
"Iya sih, tapi dia waktu jemput gue itu kelewatan, klakson tidak sabaran. Kalau cuma ada elu sama Nanta gue sih bisa bodo amat, tapi ada Om Kenan dan Tante Nona itu loh." sungut Larry kesal.
"Ada Baen juda." celutuk Balen membuat mereka tertawa, seperti yang mengerti saja.
"Memang Balen lihat apa?" tanya Mike.
"Itu, temen Aban takson-takson." jawab Balen.
"Iya jangan ditiru." Larry mencubit lengan Balen gemas.
"Tapi Baen suuh Papon takson, Papon ndak mau." cerita Balen lagi.
"Iya, karena tidak sopan." sahut Mike.
"Baen mo dadah tan. Takson teus Dadah ditu." cerocos Balen.
"Dadah Balen." kata Larry menggoda Balen.
"Eeh, masih beenang tau, janan pedi duu." Larry dan yang lain tertawa mendengarnya.
"Eh bunyi lagi tuh, blokir saja lah." kata Mike mengambil handphone Larry dan memblokir nomor mantan pacar Larry.
"Tuh temen lu, hidup gue diatur bener, masih juga bilang gue jomblo Sesat." dengus Larry menunjuk Mike, Doni dan Nanta terbahak, biarkan saja kedua jomblo ini saling teror.