I Love You Too

I Love You Too
Jemput



"Sudah pada berangkat?" tanya Dania saat suaminya tiba dirumah setelah jam makan siang.


"Sudah." jawab Nanta tersenyum mencium dahi Dania.


"Kok Mas Nanta lama?" tanya Dania lagi seharusnya jam sepuluh tadi Nanta sudah kembali kerumah.


"Keasikan ngobrol sama yang lain. Mereka baru berangkat jam sebelas siang. Padahal persiapan dari subuh." Nanta tertawakan Om Deni dan sahabatnya.


"Aku belum makan siang nih." kata Nanta lalu menggiring istrinya ke meja makan. Ia mau langsung makan saja karena Dari tadi sengaja menahan lapar supaya bisa makan bersama Dania.


"Tidak dikasih makan disana tadi ya?" Dania terkekeh, Nanta ikut terkekeh.


"Mana ada makanan, mereka saja niatnya mau kuliner di Cirebon yang ada sekarang pada makan siang di rest area." kata Nanta membuka tudung saji.


"Pada kemana kok sepi?" tanya Nanta bingung, tidak terdengar celotehan Balen dan Ichi, biasanya mereka menyambut kedatangan Nanta dengan riang gembira.


"Ke rumah Ayah, kita diminta menyusul." kata Dania pada suaminya.


"Oh kalau tahu makan masakan Bunda saja." Nanta mulai menikmati makanannya. Sementara Dania duduk disebelah suaminya tanpa menyendok makanan.


"Nanti makan lagi saja dirumah Bunda." jawab Dania memberikan kode minta disuapi suaminya. Ini nih yang bikin Nanta bela-belain makan siang dirumah bersama istrinya, sejak pulang dari Abu Dhabi, Dania selalu saja minta disuapi Nanta kalau makan.


"Mau lagi?" tanya Nanta saat nasi dan lauk dipiringnya sudah habis.


"Nanti mau makan dirumah Bunda tidak?" tanpa menjawab Dania balik bertanya, pikirnya kalau mau makan dirumah Bunda nanti saja lagi makannya.


"Oke, nanti saja dirumah Bunda ya." jawab Nanta menyudahi makannya. Dania menganggukkan kepalanya, ia bersandar dibahu Nanta, enggan untuk beranjak dari meja makan.


"Kita kerumah Bunda sore saja setelah ashar atau mau sekarang?" tanya Nanta kemudian.


"Terserah." jawab Dania pelan.


"Kamu sepertinya mengantuk." kata Nanta memandang Dania yang sebentar-sebentar matanya kriep-kriep.


"Hehehe Mas Nanta tahu saja." Dania terkekeh.


"Tidur dulu saja ya." Dania menganggukkan kepalanya, ia segera beranjak diikuti langkah suaminya, mereka masuk ke kamar. Langsung saja Dania membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling.


"Habis makan malah tidur." Nanta terkekeh, ia memilih duduk di sofa dan menyalakan laptopnya.


"Mas Nanta yang suruh tidur kan tadi?" kata Dania sambil menguap.


"Iya karena kamu mengantuk, tidurlah." kata Nanta kembali sibuk dengan laptopnya.


"Mas Nanta ngapain?" tanya Dania ingin tahu.


"Mau periksa email dari Ando." jawab Nanta, ingat tadi Ando menelepon meminta Nanta mengecek email terkait kerja sama mereka. Ando mengirim surat perjanjian kerja sama mereka, nantinya akan dilegalkan dikantor notaris.


"Tugas kuliah?" tanya Dania.


"Bukan, urusan pekerjaan." jawab Nanta kemudian menghela nafas, ia belum bercerita pada istrinya jika ia dan Ando sedang merintis usaha jual beli mobil.


"Besok kamu kuliah?" tanya Nanta pada istrinya.


"Maunya begitu." jawab Dania cengengesan, masih senang dirumah dia, malas sekali kekampus.


"Besok setelah dari kampus aku sama Ando mau ke Bank dulu, lalu ke kantor notaris." kata Nanta menjelaskan.


"Aku bagaimana?" tanya Dania bingung.


"Enaknya kamu deh, mau ikut ayo, kalau tidak mau ikut minta Tomson saja yang jemput." jawab Nanta memandang istrinya.


"Mas Nanta maunya aku ikut apa tidak?" Nanta terkekeh, istrinya pasti minta diajak.


"Ya sudah kamu ikut saja ya, tidak apa kan acaranya agak membosankan." jawab Nanta tersenyum lebar.


"Iya, kalian bikin apa sih?" tanya Dania ingin tahu.


"Bisnis kecil-kecilan. Doakan ya biar berhasil." jawab Nanta sambil mengotak-atik laptopnya.


"In syaa Allah adek bayi doakan Papa Nanta." jawab Dania mengusap perutnya. Nanta jadi gemas sendiri melihatnya.


"Panggil Ayah saja ah." kata Nanta terkikik geli.


"Ayang." jawab Dania sambil tertawa.


"Nah itu juga boleh, tapi kalau seperti Balen belum bisa sebut eng, jadi Ayan dong." tawa Nanta meledak, Dania juga tertawakan suaminya.


"Panggil Aban, biar sama seperti Balen." Nanta kembali terbahak.


"Biar muda terus ya, dedek ini Papanya maunya dipanggil Aban loh. adu Dania pada anaknya sambil mengusap perutnya.


"Panggil Mamanya Tania saja dek, ikuti Tante Balen. Eh sayang singkong rebus sebentar lagi jadi Tante loh." Nanta kembali tertawa.


"Lucu ya, Balen Ichi masih bocah sudah jadi Om dan Tante saja nanti."


"Kalau sudah besar nanti mereka pasti seperti teman saja ya Mas."


"Iya, seperti aku sama Bang Ray." kata Nanta mengingat Abangnya.


"Kak Roma kapan lahiran sih?" Nanta mengedikkan bahunya, mengambil handphone dan menghubungi Abangnya.


"Assalamualaikum..." jawab Raymond santun, Nanta terkikik geli mendengarnya.


"Anaknya siapa sih ini? kalau ada yang kasih salam dijawab dong." omel Raymond membuat Nanta menghentikan tawanya dan berdehem.


"Hmm.. waalaikumusalaam warahmatullahi wabarakatu."


"Apa kabar Bang?" tanya Nanta serius.


"Mau apa tanya kabar?"


"Kangen hehehe... Kak Roma kapan lahiran? Mau melahirkan dimana sih? Jakarta apa Malang?" tanya Nanta pada Abangnya.


"Masih lama lahirannya tiga bulan lagi. Di Malang sajalah, repot kalau harus melahirkan di Jakarta." jawab Raymond.


"Berarti aku ke Malang tiga bulan lagi yax, Oma Opa apa kabar Bang?"


"Teleponlah, kamu ini mau jadi cucu durhaka ya, istri sudah hamil tidak kabarkan keluarga besar." ups Nanta sengaja simpan sampai pulang dari Abu Dhabi malah ternyata Bang Raymond sudah tahu dulu.


"Eh tahu dari mana bang?" tanya Nanta bingung.


"Om Micko lah, dari mana lagi."


"Iya aku tuh memang niatnya mau kasih tahu saat pulang dari Abu Dhabi, tapi ternyata sudah tahu lebih dulu."


"Oma ngambek loh sama kamu."


"Duh benarkah Bang?"


"Coba saja telepon, pasti Oma tidak angkat telepon kamu." Nanta langsung menghubungi Oma, benar saja tidak angkat telepon.


"Tidak diangkat, Opa ngambek juga tidak?"


"Mana aku tahu, kamu sih sejak menikah jarang hubungi keluarga." protes Raymond.


"Kalau begini aku jadi ingin terbang ke Malang deh." Raymond terkekeh mendengarnya.


"Sampai ketemu di Malang ya." Raymond terbahak.


"Bang serius nih, jumat jemput ya." pinta Nanta pada Abangnya.


"Istrimu lagi hamil, Dek." Raymond mengingatkan.


"Sayang, bisa kan? kita ke Malang jumat?" tanya Nanta pada istrinya.


"Bisa." Dania menjawab cepat, tidak mau suaminya berubah pikiran.


"Oma tidak ngambek kok, aku bercanda." Raymondo menjelaskan.


"Sudah beli tiketnya." tegas Nanta cepat. Ia tidak sabar mau memeluk Omanya, tidak mau Oma ngambek Karena Nanta jarang menghubunginya.


"Tapi Oma tidak ngambek kok." Raymond jadi khawatir tadi bercandai Nanta bilang Oma ngambek tidak mau angkat telepon Nanta. Padahal handphone Oma sedang Raymond bawa untuk dibetulkan.


"Jemput jumat jangan lupa." pesan Nanta pada Abangnya itu sambil tertawa.


"Supir saja yang jemput ya."


"Tidak mau, kalau supir lebih baik aku naik taxi." Nanta menolak cepat.


"Ok Roma nanti yang jemput." kata Raymond pada adiknya.


"Tidak mau, aku mau Abang yang jemput." sepertinya gantian Nanta yang kerjai Raymond.