I Love You Too

I Love You Too
pola pikir



"Duh sudah kenyang, pamit dulu Tante." kata Nanta pada Mama Ando setelah mereka selesai makan.


"Cepat sekali, Om belum pulang." kata Mama Ando pada Nanta.


"Iya, tapi Dania biasanya tidur cepat Tante, Salam dulu untuk Om ya Tante." kata Nanta, Mama Ando pun mengangguk sambil melihat ke arah perut Dania.


"Terima kasih ya sudah mampir." kata Mama Ando pada Nanta dan Dania.


"Kami yang terima kasih Tante. Selalu merepotkan." kata Nanta, Mama Ando menggelengkan kepalanya.


"Tante senang, rumah jadi ramai." katanya menepuk bahu Nanta.


"Hati-hati ya, in syaa Allah bertemu lagi setelah dari Abu Dhabi."


"Aamiin, iya Tante."


Dalam perjalanan pulang, perut pun sudah kenyang, tinggal mengantuk saja. Nanta juga sudah memberitahu Kenan jika ia tidak jadi menginap. Wilma masih dirumah Ando, menunggu calon Papa Mertua pulang karena calon Mama Mertua sendiri dirumah.


"Mas Nanta, besok tidak keluar rumah kan?" tanya Dania pada suaminya setelah sekian lama saling berdiam diri.


"Aku tidak. Kamu ada kuliah?" tanya Nanta pada istrinya, jika Dania kuliah, biar Tomson yang antar karena Nanta mesti mengajar Balen berenang.


"Ada, tapi capek." jawab Dania membuat Nanta tertawa, tapi memang benar hari ini terasa capek karena rute mereka cukup banyak.


"Semangat kuliah kamu sepertinya mengendor ya." kata Nanta lagi.


"Iya." jawab Dania jujur.


"Benar juga kata Papa, kamu mesti pindah kampus yang bisa online. Supaya tetap bisa melanjutkan kuliah sampai selesai. Sayang kalau putus ditengah jalan, meskipun kamu baru semester awal."


"Kan aku juga maunya begitu dari awal kita menikah, tidak mau dengar sih." Dania nyerocos, Nanta mencubit pipi Dania yang bersandar di dadanya biar tidak bawel. Bagaimana tidak capek istrinya seharian menggelendot saja, mau dilarang mana Nanta tega.


"Jadi besok Tomson ke kantor saja ya, kamu tidak ke kampus kan?" tanya Nanta pada Dania.


"Iya." jawab Dania yakin, matanya mulai kriep-kriep.


"Tuh Tom dengar sendiri kan?" kata Nanta terkekeh.


"Hehehe iya Mas." Tomson cengengesan saja, ia masih kaku bicara dengan Nanta, sama Ando bisa santai saja, padahal Nanta juga biasa, hanya saja memang Nanta bicara seperlunya, Nanta sibuk meladeni istrinya dan teleponnya yang selalu berdering.


Mereka tiba dirumah berbarengan dengan Deni yang juga baru saja turun dari Mobil, habis antar pulang gebetan jadi tidak terlihat lelah.


"Kalian tidak jadi menginap?" tanya Deni heran.


"Tidak jadi, aku mau dengar cerita Om." kata Nanta menggoda Om Deni.


"Cerita apa ya, biasa saja serba mengalir." jawab Deni terkekeh.


"Serba mengalir kok biasa saja, Alhamdulillah dong."


"Iya Alhamdulillah." Deni terkekeh.


"Eh Tom, kamu mau menginap disini atau bagaimana?" tanya Nanta pada Tomson.


"Pulang Mas, mobilnya saya kembalikan ke rumah Pak Micko atau ditinggal?" tanya Tomson.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Nanta.


"Mobil saya tinggal dirumah Pak Micko."


"Oh kalau begitu kembalikan ke rumah Papa saja, sekalian kamu ambil mobil kamu." kata Nanta pada Tomson.


"Saya Pamit langsung, Mas, Mbak, Om." Tomson yang langsung pamit mengikuti arahan Nanta.


Kembali pada Deni, Nanta segera menempel pada Om Deni sambil menggandeng Dania.


"Tidak ada yang menarik untuk diceritakan?" tanya Nanta lagi.


"Menarik tapi tidak perlu diceritakan setiap detailnya dong, Kamu nanti hasil akhirnya saja." kata Om Deni pada Nanta.


"Ah tidak seru." sungut Nanta membuat Deni terbahak.


"Seperti yang Papamu bilang, sudah bukan abege, jadi fokus sama tujuan akhir saja, menikah."


"Oke, jadi ya pulang dari Abu Dhabi?" tanya Nanta.


"Maunya sih sebelum kesana." Deni terbahak.


"Bisa sih kalau Om dan Kak Dini sudah siap. Aku sudah tahu siapa yang bisa bantu. Mau menikah besok pun bisa." kata Nanta santai.


"Ish kamu pikir menikah itu main-main ya. Enak saja menikah besok."


"Siapa yang main-main sih. Semua bisa kalau memang mau dan siap." kata Nanta tertawa.


"Om belum bicara ke arah sana, takut Dininya kabur." kata Deni mulai curhat.


"Yah cepat saja Om tentukan begitu Om ungkapkan niat Om." Nanta memberi saran.


"Masalah tidak nantinya?" tanya Deni.


"Masalah bagaimana? begini Om..."


"Sayang, aku ke kamar duluan." Dania memotong pembicaraan Deni dan Nanta.


"Iya." Nanta tersenyum.


"Begini Om, langsung saja bilang Om cari calon istri bukan pacar, kalau mau langsung nikahkan." kata Nanta terkekeh.


"Bicara seakan semua gampang." Deni terkekeh.


"Tergantung pola pikir sih." kata Nanta santai.


"Jadi kalau Om pikir sulit maka semua akan sulit." Nanta terkesan bijaksana.


"Hahaha iya sih, kok kamu seperti lebih pengalaman dari Om sih, padahal sama Dania kamu tidak pedekate kan?"


"Tidak."


"Tuh bicara sih gampang, kamu saja tidak mengalami yang om alami." sungut Deni, Kenan dan Samuel mengintip dari balik jendela. Mau tahu berdua kenapa belum masuk rumah dari tadi, sementara Dania sudah duluan ijin masuk kamarnya.


"Pantas saja lama, lagi berguru rupanya." Samuel yang tidak sabaran langsung saja menghambur keluar, sementara Kenan terkekeh dan berbalik arah mendatangi istrinya.


"Duh masuk yuk." ajak Deni malas, Samuel pasti akan menggodanya semaksimal mungkin.


"Gue lebih senior dari Nanta loh." kata Samuel sombong, Nanta terbahak.


"Om Deni tidak percaya sih kalau aku bilang aku bisa urus proses pernikahan Om sama Kak Dini dalam waktu satu kali dua puluh empat jam." Nanta melanjutkan aksinya.


"Kenapa bahas itu?" tanya Samuel.


"Om Doni berharap menikah sebelum Ke Abu Dhabi."


"Bisa saja kenapa tidak." jawab Samuel semangat.


"Tapi Om Doni belum bahas kearah sana dengan Kak Dini."


"Bahas dong, besok saja langsung bahas." Nanta semangat.


"Bilang ya om." pesan Nanta pagi. Deni terkekeh dan menganggukkan kepalanya.