
Kalian sudah makan?" tanya Kenan saat memasuki paviliun, terlihat Raymond, Nanta, Deni dan Samuel sedang bermain PS, entah apalah kejuaraan yang akan mereka mainkan, tampak heboh sendiri memilih Tim secara bergantian dan walaupun Kenan tidak pernah tertarik mengikutinya, Kenan ikut duduk diantara mereka.
"Sudah." jawab Nanta yang sedang menunggu giliran memilih Tim yang akan dimainkannya.
"Ayo, Papa ikut main?" ajak Nanta semangat.
"Tidak usah, Papamu istirahat saja." kata Deni pada Nanta. Ia menaikkan alisnya pada Kenan. Kenan tersenyum saja melihatnya.
"Huh padahal seru." kata Nanta mencebikkan mulutnya.
"Iya, biarkan saja Papa istirahat, sana Om masuk kamar." kata Raymond sambil mengutak-atik stick PS nya. Kenan menoyor kepala Raymond pelan.
"Roma tidak menunggu kah?" tanya Kenan pada Raymond.
"Aku sudah bilang, dapat tugas dari Om Kenan menemani Om Deni dan Om Samuel." jawab Raymond terkekeh.
"Tugas kamu selesai, sekarang sudah boleh pulang." kata Kenan mengusir Raymond, tidak tega jika Roma harus ditinggal begadang.
"Entertain baru akan dimulai, tenang saja Roma tidur ditemani Oma." jawab Raymond yang lebih dulu mengatur agar Roma tidak kesepian. Kenan terkekeh saja melihat kelakuan keponakan kesayangan.
Sementara Kenan ikut asik dengan para pria, Nona langsung masuk ke Kamar, ia harus memastikan kamar yang akan mereka tempati dalam keadaan rapi karena Nona tidak mau malu pada suaminya. Setelah memastikan kamarnya rapi baru Nona segera masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Upfff, Nona menghela nafas panjang. Sejuta rasa yang ia rasakan saat ini. Nona mengintip dengan sedikit melongok saat akan keluar kamar mandi, aman Kenan masih diluar bersama yang lain, Nona jadi leluasa untuk bergerak tanpa salah tingkah.
Sudah ditunggu lebih dari satu jam, Kenan belum juga masuk kamar, pada akhirnya Nona tertidur dengan pulasnya, sementara Kenan belum bisa masuk karena Wawan datang membawa beraneka ragam makanan kecil untuk mereka para petarung. Untung saja paviliun cukup luas untuk menampung kehadiran mereka.
"Apa tidak mengganggu kita semua berkumpul disini?" tanya Wawan pada Kenan.
"Dengan senang hati. Jangan lupa besok malam kita semua hadir di hotel X, ada pertunjukan gratis dari Ayah Raymond dan para sahabatnya. Khusus untuk Nona." undang Kenan pada Wawan dan yang lainnya.
"Beneran Om? Ayah mau tampil?" tanya Raymond tidak percaya.
"Iya, tadi Bang Mario sudah konfirm dengan pihak hotel."
"Perlu kuumumkan para junior, jarang-jarang senior perform." kata Raymond bersemangat memberikan informasi kepada para sahabatnya.
"Ini hanya sebentar, karena Nona ingin melihat mereka tampil."
"It's ok, hanya menginformasikan. Siapa tahu mereka ingin melihat juga." kata Raymond senang.
"Kami ingin hadir, apa muat tempatnya?" tanya Samuel pada Kenan.
"Muat." jawab Kenan pasti. Tak lama Kenan pamit untuk masuk kamar karena permainan sudah dimulai, lagi pula Kenan sudah cukup lama ikut nimbrung bersama yang lain. Melihat Nona sudah tertidur, Kenan langsung masuk ke kamar mandi, Nona sudah menyiapkan baju ganti Kenan sebelum tidur.
"Hei pulas sekali, seperti habis menyambut ribuan tamu saja." Kekeh Kenan ketika merebahkan badannya disamping Nona dan menciumi pipi istrinya. Tak ada reaksi, akhirnya Kenan pun tidur sambil membenamkan wajahnya dipunggung Nona.
Tengah malam Nona terbangun saat merasakan hembusan hangat dari dengkuran halus Kenan pada punggungnya, Nona membalikkan badan mendapati wajah tampan suaminya.
"Ganteng sekali suamiku." katanya sambil mengecup dahi Kenan.
"Baru tahu?" tanya Kenan yang terbangun dengan suara bantalnya kemudian memeluk Nona erat. Padahal matanya masih saja terpejam. Ih dengar lagi bikin malu saja, pikir Nona tidak menyangka Kenan mendengar ucapannya.
"Aku kira Mas Kenan ikut begadang di depan." kata Nona sambil memainkan alis Kenan.
"Tidak suka." jawab Kenan mulai membuka matanya sedikit karena tangan Nona masih saja sibuk dengan alisnya.
"Mas..."
"Hmmm?"
"Kita tidak mau bikin anak?" tanya Nona polos sontak Kenan tertawa dibuatnya. Seketika rasa kantuk yang masih terasa tadi hilang seketika.
"Mau sekarang?"
"Mestinya dari tadi, kata teman-temanku di kantor sebaiknya dari selesai sholat Isha sampai..." Kenan tak menunggu celotehan istrinya sampai selesai, pada akhirnya celotehan itu pun berubah menjadi lenguhan yang terdengar sexy ditelinga Kenan. Beberapa kali Nona menutup mulutnya menahan agar suaranya tidak terdengar sampai keluar kamar.
"Tidak tahu." jawab Nona dengan selimut menutupi tubuh polosnya.
"Lain waktu kita coba seperti mereka, sekarang masih banyak tamu. Ayo mandi." ajak Kenan tersenyum setelah memakai kembali baju dan celananya.
"Mas Kenan saja duluan."
"Tidak bisa, dasar pemalas." Kenan langsung menggotong tubuh Nona membawanya ke kamar mandi.
Pagi hari setelah sholat shubuh, tentu saja rambut sudah dikeringkan sebelum adzan shubuh, sambil menunggu Kenan dan yang lain pulang dari mesjid Nona kerumah utama untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Kamu sudah bangun, sayang?" sapa Mama Nina saat menantunya muncul dari pintu samping.
"Sudah Ma, Mama mau aku masakin apa?'
"Nasi goreng saja, Non. Papa dan Nanta suka sekali nasi goreng kamu."
"Ok Mama." Nona segera membuka kulkas mengeluarkan bahan baku yang ada, ia mulai konsentrasi dengan tugas pertama sebagai menantu.
"Non, bagaimana? sudah gol belum?" aih Mama bisik-bisik Kepo bikin Nona salah tingkah saja.
"Hmm, sudah Mama duga pasti langsung gol, Kenan mana tahan tunggu sepi. Ingat ya, jangan menunda kehamilan." Kata Mama Nina ketika melihat Nona tampak salah tingkah, lagi pula rambut Nona wangi sekali seperti orang habis keramas.
"Iya Ma." jawab Nona pasrah, mau bagaimana lagi Mama mertuanya lebih berpengalaman. Kalau bohong pun pasti ketahuan.
"Bikin apa?" tanya Kenan memeluk istrinya dari belakang, tak menghiraukan Mama dan Bibi yang ada disana.
"Awas salah peluk, tahu saja kalau istrimu lagi didapur." Mama terkekeh ikut senang melihat kemesraan Kenan dengan Nona.
"Papa juga mau peluk Mama, eh Kenan sudah duluan." kekeh Papa Dwi mencium pipi Mama Nina. Tinggalah Bibi yang salah tingkah melihat majikannya umbar kemesraan.
"Duh ini kenapa jadi pada didapur semua, Bi lanjutkan ya, bisa gosong nanti kalau Papa dan Kenan terus ada disini." Mama Nina menarik tangan Nona agar meninggalkan dapur, sudah pasti Papa dan Kenan mengikuti langkah Mama juga.
"Bi, Jus melon saja pakai kurma." pesan Kenan pada Bibi.
"Siap." jawab Bibi terkekeh mentertawakan Kenan yang sedang dijewer Mama karena merusak konsentrasi Mama membantu Nona membuat sarapan.
"Kamu ini ya, tidak lihat tempat." kata Mama pada Kenan. Kenan terkekeh senang berhasil menggoda Mamanya.
"Mama tidak jadi ke Jakarta minggu ini ya?" tanya Kenan pada Mama.
"Seharusnya minggu ini, tapi Nanta berangkatnya minggu depan, jadi Mama dan Papa menunggu Nanta saja sekalian menemani."
"Nanta jadi ke Jakarta?" tanya Nona belum mendapat kabar.
"Hu uh. Kevin tidak cerita?"
"Tidak, Nanta juga belum cerita."
"Nanti kamu tanya saja, saya juga baru dengar Nanta cerita detail tadi saat ke mesjid."
"Sekarang mana Nanta?"
"Tidur, minta dibangunkan jam sembilan. Mereka benar-benar begadang semalaman." Kenan menggelengkan kepalanya.
"Deni sama Samuel ini nanti ku jewer."
"Hei sekali-sekali. Tidak apa." kata Kenan menunggu Jus buatan Bibi datang.
"Tidak sabar menunggu Jus ya, sebentar aku saja yang bikin."
"Tidak usah Non, biar Bibi saja, kamu temani saja Kenan disini, bisa ikut kedapur lagi nanti." kata Mama Nina menahan Nona yang hendak berdiri. Kenan terbahak melihat ekspresi Mama yang menyeringai jahil pada Kenan, sementara Papa juga ikut terbahak. Bahagia sekali melihat anak bungsunya kini sudah tidak lagi sendiri.