
"Kalian makan dulu ya?" kata Micko pada Dania dan Nanta.
"Iya Om, kita semua makan dulu, energi banyak terkuras." jawab Nanta terkekeh, ia masih menggenggam jemari Dania.
"Kamu harus makan, karena tekanan darah mu tadi tiba-tiba turun." Micko mengusap rambut Dania. Nanta menggerakkan jemari mereka memberi kode agar Dania menjawab. Dania menganggukkan kepalanya, ia juga tidak mau sakit karena besok mau lihat pertunjukan Ice Skating. Gara-gara tadi pingsan saja, Dania malam ini tidak bisa mengikuti makan malam dengan bintang tamu. Kenan tersenyum pada Dania.
"Si Bagus sudah minta orang antar makanan kesini, Bang." kata Kenan pada Micko.
"Seharusnya kita makan di bawah, tapi lebih enak makan disini kan sambil ngobrol." kata Kenan lagi pada Dania tersenyum ramah. Dania membalas senyum Kenan dengan kaku. Setidaknya ia masih mau tersenyum, pikir Kenan.
"Apa sering pingsan begini?" tanya Micko pada Dania.
"Hanya saat berlebihan sedih dan takutnya." kata Dania, matanya mulai berkaca-kaca. Nanta menggerakkan jemarinya, menenangkan Dania.
"Maafkan Papa sudah membuat kamu sedih berlebihan." kata Micko dengan suara lirih, Dania tersenyum miris.
Bel di kamar berbunyi, pegawai hotel yang mengantar makanan pun tiba. Makanan mulai disusun dimeja makan yang tersedia dikamar hotel.
"Ayo, kuat tidak jalan ke meja makan atau mau diambilkan kita makan disini?" tanya Micko pada Dania. Dania bangun perlahan dari tidurnya dibantu Nanta.
"Masih goyang." katanya pada Micko.
"Papa ambilkan makanan kamu ya, mau disuapi?" tanya Micko.
"Tidak usah." Dania tersenyum tipis pada Micko, membuat Micko menarik nafas lega melihatnya dan membalas Dania dengan senyuman lebar.
"Kita juga makan disini saja Bang." kata Kenan pada Micko.
"Tidak usah, Om. Biar saja aku makan disini sendiri, yang lain dimeja makan." kata Dania cepat.
"Mana enak begitu, namanya saja makan bersama." jawab Kenan.
"Tapi Papa tidak bisa kalau tidak makan dimeja." kata Dania ingat kebiasaan Micko dulu.
"Oh iya, aku lupa." kata Kenan terkekeh.
"Kamu makan ditemani Nanta ya, biar Om sama Papamu makan dimeja." kata Kenan kemudian. Dania menganggukkan kepalanya.
"Aku ambil makan dulu." Nanya berdiri memandangi Dania, lagi-lagi Dania menganggukkan kepalanya, untung saja dalam kondisi begini sudah punya teman pikirnya.
Nanta kembali dengan dua piring ditangannya, yang satu diserahkannya pada Dania. Dengan beralaskan bantal dipaha, Dania pun meletakkan piring tersebut di sana dan mulai menikmati makanannya.
"Kata Om Micko, ini makanan kesukaan kamu." Kata Nanta menunjuk ikan bakar dipiring Dania.
"Iya." Dania terkekeh dengan suara sengau efek kebanyakan menangis.
"Kalian masih saling mengingat kebiasaan dan kesukaan masing-masing." kata Nanta sambil menikmati makanannya.
"Namanya saja Papa sama Anak." sahut Micko yang menguping pembicaraan Nanta dan Dania.
"Ih Om menguping ya." Nanta dan Dania tertawa.
"Dari awal kami menguping Boy." jawab Kenan terbahak, pastinya awal menguping yang Nanta pikir dengan yang Kenan katakan itu berbeda.
Semua sudah siap makan, Nanta pun sudah meletakkan piring mereka ke meja. Ia juga sudah memberikan mineral water pada Dania.
"Bagaimana masih goyang?" tanya Nanta, Dania menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya perlu di cek tensi lagi." kata Kenan pada Micko.
Baru saja hendak memanggil dokter, bel kamar kembali berbunyi. Dokter yang tadi memeriksa Dania kembali datang untuk mengukur tekanan darah Dania, juga membawakan sejumlah vitamin.
"Sudah mulai normal." kata Dokter pada Micko setelah selesai memeriksa Dania, sekarang mereka ada didepan pintu kamar.
"Apa perlu diperiksa lebih lanjut, saya khawatir ada masalah pada syarafnya." kata Micko pada dokter tersebut.
"Boleh, Pak. Jadi lebih pasti." jawab Dokter sebelum meninggalkan Micko dan yang lainnya.
"Kalau mau ke toilet kasih tahu Papa." Micko mulai duduk disebelah Dania, di atas kasur.
"Apa Papa sudah bisa bercerita? kalau kamu belum siap, nanti saja dipertemuan kita berikutnya." kata Micko pada putrinya.
"Cerita saja." kata Dania sambil memainkan bantal ditangannya.
"Saya dan Nanta keluar ya? kalian perlu waktu berdua." Kenan menatap Micko dan Dania.
"Mas Nanta..." Dania menggelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya pada Nanta. Nanta kembali menggenggam tangan Dania, Nanta menggelengkan kepalanya pada Kenan, ia juga tidak mau ditinggal Kenan.
Kenan terkekeh dan ikut duduk dikasur didekat Nanta yang duduk disebelah Kiri Dania.
"Papa, tidak masalah kan ada Mas Nanta dan Om Kenan disini." tanya Dania pada Micko.
"Tidak masalah, Om Kenan sudah seperti keluarga Papa juga. Mungkin itu yang membuat kamu nyaman berteman dengan Nanta." kata Micko pada Dania.
"Papa tiga kali ke London, bertemu Mamamu dan Jack suaminya. Tapi tidak diijinkan untuk bertemu kamu. Ada saja alasannya, Papa mohon jangan ada yang disalahkan dalam hal ini, mereka pasti punya alasan melarang kita bertemu." Micko mulai menjelaskan.
"Papa tidak bohong, Papa punya fotonya, sengaja difoto dari jauh untuk bukti, kalau kami memang pernah bertemu, di restaurant yang sama dekat tempat tinggal kalian, dengan waktu yang berbeda." Micko menunjukkan foto-foto saat sedang berbicara dengan Mama Dania dan suaminya.
"Aku akan tanya Mama." kata Dania meraih handphonenya.
"Jangan, Papa harap kamu tidak membenci Mama dan juga tidak membenci Papa." Micko menunjukkan chat percakapannya dengan Mama Dania.
Dania memegang handphone Papanya, mulai membaca percakapan keduanya, Dania lihat itu memang nomor handphone Mama, bahkan sampai kemarin Papa masih menanyakan Dania pada Mama.
Dania melihat isi percakapan sedari awal mulai dari atas, bahkan percakapan beberapa tahun kebelakang masih ada disimpan Micko via screen shoot.
Hampir semua isi percakapannya menanyakan kabar Dania, bahkan Micko selalu mengirim uang bulanan untuk Dania. Uang yang dikirim Micko pada Mama setiap bulannya sangat besar, tapi Mama selalu mengeluh tidak punya uang.
Pesan Papa kemarin menanyakan posisi Dania saat ini ada dimana. Jawaban Mama membuat Dania terkejut, Mama mengaku pada Papa kalau saat ini Dania masih tinggal di London bersama Mama.
"Papa tidak ada maksud menelantarkan kamu." kata Micko setelah Dania mengembalikan handphonenya.
"Kenapa Mama tidak mau kita bertemu?" Dania jadi bingung sendiri.
"Aku pasti penasaran sekali apa alasan Mama. Aku pindah ke Jakarta sudah hampir satu tahun. Mulai dari mengurus kuliah." Dania sudah mulai banyak bicara.
"Mungkin ada hubungannya dengan keluarga Papa. Sudahlah tidak usah dicari tahu, yang penting kamu sudah tidak marah sama Papa. Papa harap hubungan kita bisa normal selayaknya Ayah dan anak." Micko merangkul anak gadisnya.
"Maafkan Dania sudah salah sangka sama Papa selama ini." Dania menyandarkan kepalanya pada Micko.
"Tidak masalah yang penting kamu sudah bisa terima Papa." Micko terkekeh. Kenan tersenyum ikut bahagia.
"Papa kesini sama keluarga Papa?" tanya Dania kemudian.
"Hu uh, kamu mau kenal?" tanya Micko dengan mata berbinar-binar.
"Kalau mereka mau kenal sama aku.' jawab Dania.
"Mau sayang, mau sekali. Mau bertemu malam ini apa besok saat sarapan?" tanya Micko lagi.
"Malam ini aku berantakan, besok saja. Aku malu kalau mereka tahu aku lemah." Dania terkekeh.
"Lemah tapi suka travel sendirian, mengkhawatirkan sekali." Nanta memandang Micko dengan wajah khawatir.
"Oh ya, kamu suka solo traveling?" tanya Micko tidak percaya. Dania menganggukkan kepalanya.
"Tidak boleh lagi mulai sekarang." kata Micko mulai berani melarang.
"Papa, Lima tahun terakhir aku selalu liburan ke Indonesia setiap tahunnya, tapi tidak ke Jakarta."
"Kemana saja?"
"Bali, Lombok, Raja Ampat, Toraja dan minggu lalu ke Malang, eh kenalan sama Mas Nanta pulangnya." Dania tertawa.
"Apa setiap kota yang kamu kunjungi kamu kenalan sama orang? harusnya temanmu banyak." kata Nanta tertawa.
"Sebenarnya aku tidak pernah mau bicara dengan orang asing, kemarin itu karena ada kejadian uang cash." jawab Dania tersenyum pada Nanta.
"Kenapa pindah ke Jakarta?" tanya Micko ingin tahu.
"Tidak cocok dengan suami Mama."
"Kenapa, bukannya dia rawat kamu selama sepuluh tahun ini?"
"Dengan uang yang Papa Kirim untuk aku." Dania tertawa.
"Itu kewajiban Papa, apa dia memperlakukan kamu dengan buruk?"
"Dia baik, hanya saja setiap kumpul acara keluarga mereka, aku jadi seperti orang asing, mungkin keluarga suami Mama tidak suka aku."
"Seperti orang asing bagaimana?"
"Aku dianggap tidak ada, mereka hanya bicara diantara mereka, kalau aku ajak bicara tidak ada yang menanggapi, mereka pikir aku hantu."
"Saat aku menyampaikan apa yang aku rasakan, Jack marah besar, dia menyalahkan aku yang tidak bisa mengambil hati keluarganya, jadi aku putuskan pindah saja ke Jakarta, daripada Mama dan suaminya jadi tidak akur karena aku." Dania menarik nafas panjang.
"Papa jangan khawatir, aku bahagia tinggal bersama Nek Pur, aku bantu usaha Nenek, Kos-kosan sama catering." kata Dania pada Papanya.
"Papa berpikir untuk mengajak kamu tinggal bersama Papa." kata Micko, Dania menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah nyaman bersama Nenek. Papa saja kunjungi kami jika ada waktu." Micko termenung, ia tidak tahu Nek Pur netral apa tidak.
"Nek Pur tahu loh Papa selalu mencari kamu, kenapa tidak mengabari Papa ketika kamu sudah tinggal dirumahnya." Micko jadi bertanya-tanya.
"Kita tanya saja Nenek." kata Dania.
"Tidak semudah itu, Papa harus cari tahu Nenek berpihak pada siapa. Jangan dulu ceritakan pada Nenek kalau kita sudah bertemu. Sementara kamu saja yang menemui Papa dikantor atau dirumah Papa." kata Micko pada putrinya. Nanta dan Kenan menjadi pendengar setia tanpa berkomentar apapun. Melihat keduanya bicara panjang lebar saja sudah membuat Kenan dan Nanta bahagia. Misi mereka berhasil.