I Love You Too

I Love You Too
Sekap



Malam harinya, begitu sampai dirumah Nona langsung menyiapkan baju yang akan dibawa Kenan ke Semarang, sesuai dengan pilihannya yang tidak membuat dirinya kesal melihat suami memakai pakaian yang membuat asam lambungnya naik.


Mereka pulang agak malam, karena tadi setelah dari dokter kandungan, Kenan mengajak Baron dan Mita makan malam bersama. Apalagi mood istrinya sudah membaik ditambah ada calon baby diperut istrinya, Kenan tidak mau Nona terlambat makan.


"Sayang kamu benar tidak mau ikut?" Kenan meyakinkan Nona, karena tiba-tiba saja Nona berubah pikiran, setelah mencari informasi via internet bahwa usia kehamilan trisemester awal dilarang untuk bepergian jarak jauh karena beresiko keguguran. Nona tidak mau kehilangan calon bayinya, ia berupaya menjaga agar anaknya bisa lahir dengan sehat dan selamat.


"Tidak, kan tadi Mas Kenan juga ikut baca artikelnya." jawab Nona yakin.


"Iya, saya hanya khawatir, nanti kamu makan siapa yang suapi. Bi Wasti mau?" tanya Kenan pada Nona. Nona langsung saja tersenyum sambil mencebikkan mulutnya.


"Aku tidak semanja itu, makan sendiri juga bisa." katanya yakin sambil duduk disofa, baru berasa lelah setelah menyusun baju dan segala kebutuhan Kenan kedalam koper. Ia segera bersandar setelah membenarkan kunciran rambutnya.


Kenan berjongkok dihadapan Nona, menyelipkan anak rambut ditelinga istrinya sambil tersenyum menatap Nona, kemudian mengecup kening Nona.


"Ish kenapa cium-cium?" tanya Nona dengan kening berkerut.


"Peluk." Kenan langsung meraih tubuh Nona dan memeluknya lama sekali.


"Mas Kenan badanku bau belum mandi" Nona berusaha melepaskan pelukan suaminya. Badannya masih terasa berkeringat karena aktifitas yang baru saja dilakukannya, hanya menyusun baju begitu saja rasanya seperti kerja berat.


"Kamu berasa tidak seminggu ini menjauh dari saya, marah-marah. Sudah lama sekali tidak peluk kamu." gerutu Kenan masih memeluk Nona, murni hanya peluk tidak modus seperti biasanya.


"Maafkan aku, ternyata bawaan hamil. Marahi saja nih dedeknya." Nona terkekeh mengelus punggung suaminya. Kenan melepaskan pelukannya,


"Marahi dedek?" katanya sambil tertawa mengusap perut Nona berkali-kali. Selanjutnya pelukannya menurun ke perut Nona, diciuminya perut istrinya yang skrg berisi calon bayi mereka.


"Baby... besok Papa ke Semarang, temani Mama ya anak baik." katanya mengoceh sendiri. Nona tertawa kegelian. Tak ada ocehan lagi hanya usapan lembut dengan pipi yang menempel diperut istrinya.


"Mas, nanti pinggangnya sakit posisi begitu." kata Nona mengusap rambut Kenan. Tak ada jawaban, Kenan sibuk berdialog dalam hati dengan calon bayinya.


Baby, sehat terus dan jangan rewel ya. Kalau sudah lahir nanti jadi anak yang pintar, sehat, rajin, taat beragama, santun, dan penuh kasih sayang. Bersahabatlah dengan Papa, Mama dan Abang nanti. Semoga saja Papa dan Mamamu juga Bang Nanta sehat terus dan panjang umur, Papa ingin sekali bersama Mama dan Abang bisa dampingi kamu sampai menemukan orang yang tepat untuk menjaga kamu nanti. Semoga Papa bisa mengimbangi kamu saat kamu tumbuh dewasa nanti sesuai dengan jamanmu, tapi jangan lupakan akidah. Semoga juga Papa awet muda, selalu semangat dan tetap produktif.


Jujur saja Kenan takut terlihat tua saat anaknya hadir nanti, percaya dirinya langsung saja luntur. Ia ingat bercandaan teman-temannya ketika salah satu manager keuangan menggendong anak dari staffnya yang baru lahir, ada yang komentar, eh digendong mbah ya hahaha, ups jangan sampai saat menggendong baby nanti mendapat komentar yang sama.


"Sayang..." Nona menepuk bahu Kenan.


"Hmm..." masih terus membelai perut Nona.


"Kamu begitu terus, aku jadi mau nangis nih." kata Nona merasa terharu melihat suaminya terus mencium dan membelai perutnya.


"Kenapa menangis? kita seharusnya sujud syukur karena Allah memberikan kita amanah." kata Kenan mengingatkan dirinya sendiri, tersenyum dan mulai duduk disebelah istrinya.


"Ish Mas Kenan juga nangis, bagaimana sih dek, Papanya cengeng." Nona mentertawakan Kenan sambil menghapus ingusnya dengan tissue, mata suaminya tampak berkaca-kaca setelah lama membelai perutnya.


"Kelilipan, siapa yang menangis sih." sangkal Kenan mengacak anak rambut Nona.


"Jangan marah-marah lagi ya, kasihan babynya." kata Kenan pada Nona, mengecup pipi istrinya.


"Kasihan juga sama Papanya." kata Kenan kemudian memonyongkan bibirnya pada Nona. Nona lagi-lagi tertawa dibuatnya, sedikit menyesal karena membuat suaminya kelabakan seminggu ini.


"Mas kita tidak kabari Mama?" tanya Nona pada Kenan.


"Nanti saja, Mama mau liburan. Kalau dikasih tahu pasti akan batal lagi travellingnya. Kasihan Mama Ririn dan Papa Ryan, kemarin terpaksa batal karena Nanta." kata Kenan sudah tahu apa yang akan Mama Nina lakukan jika mendengar menantunya hamil.


"Aku juga belum kasih tahu Roma, Ray dan Nanta." kata Nona pada Kenan.


"Besok saja, hari ini rencananya Ray juga mau mengajak Roma ke dokter kandungan."


"Roma hamil juga?"


"Tidak tahu, mereka memang lagi program hamil, sepertinya tidak mau kosong lama-lama."


"Kamu mau bersih-bersih sekarang? atau mau saya yang bersihkan?" kata Kenan menawarkan.


"Cepatlah, setelah kamu saya yang bersih-bersih." katanya masih tertawa memandang Nona.


"Gendong..." Nona mengulurkan tangannya mulai keluar manjanya.


"Tuh kamu loh yang memancing saya." Kenan menggoda Nona.


"Aku cuma minta gendong. Kan kata dokter tidak boleh terlalu capek." Nona beralasan membuat Kenan tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Gendong kemana?"


"Kasur."


"Tidak jadi ganti baju dan bersih-bersih?"


"Nanti saja masih capek, mau peluk dulu."


"Peluk dikasur?"


"Hu uh."


"Yakin hanya peluk, masih terlalu riskan loh."


"Hu uh."


Kenan pun menggendong Nona sesuai permintaan, membaringkan istrinya lalu mengambil posisi dan mulai memeluk Nona. Nona memandang wajah tampan suaminya.


"Cium." katanya kemudian.


"Kamu mulai-mulai." Kenan terkekeh tapi tetap ******* bibir Nona perlahan dengan lembutnya. Nona memejamkan matanya menikmati sentuhan suaminya yang sudah seminggu ini ia punggungi. Setelah dirasa cukup, Kenan melepaskan bibirnya dari bibir Nona, kemudian mengecup kening Nona.


"Cium saja tidak lebih." kata Kenan mengusap rambut Nona.


"Mas Kenan kan besok ke luar kota, seminggu kemarin juga kita seperti orang musuhan, tidak kangen ya?" tanya Nona membelai dada hingga perut suaminya.


"Kangen tapi tidak sekarang, baby harus kuat dulu."


"Padahal boleh kalau pelan. Awas ya kalau diluar kota cari pelampiasan." ancam Nona dengan wajah beringas.


"Mau disentil jidatnya tapi lagi hamil." kata Kenan menggelengkan kepalanya.


"Kan kalau pertemuan petinggi suka disediakan cewek-cewek begitu." kata Nona cemberut.


"Masa? kamu tahu dari mana?"


"Ah Mas Kenan pura-pura tidak tahu, itu sudah rahasia umum."


"Petinggi yang mana dulu, kamu bilang petinggi-petinggi seakan semua melakukan hal yang sama. Yang tidak takut Allah sih mungkin mau saja, yang takut Allah pasti akan menolak."


"Mas Kenan pernah ditawari?" tanya Nona penasaran.


"Tidak."


"Bohong!!!" Kenan menjentikkan jarinya ke kepala Nona.


"Jangan suka fitnah, sekap juga nih." katanya mempererat pelukannya pada Nona entah gemas entah kesal.


"Aaah Mas Kenan engap." teriak Nona sambil menggigit pipi suaminya.


"Auwwww!!!" sukses membuat Kenan melepaskan sekapannya pada Nona.