
"Mas Nanta masih lama?" tanya Dania via telepon saat Nanta menghubunginya.
"Makan siang dulu ya sama yang lain, setelah itu pulang." jawab Nanta pada istrinya.
"Kamu sudah makan, dari tadi apa saja aktifitas kamu?" tanya Nanta lagi.
"Sudah makan dua kali hehe, aku cuma dikamar, keluar makan, ngobrol sama Oma dan Tante Lulu, sedangkan Papa pergi bertemu Bang Ray dan Bang Atan, Lucky sibuk dengan pianonya, sekarang aku di kamar lagi." Dania menjabarkan aktifitasnya.
"Nanti mau jalan-jalan?" Nanta menawarkan.
"Lihat nanti saja, Mas Nanta saja masih diluar." jawab Dania terkekeh.
"Oke, aku temani Winner wawancara temanku yang lain dulu ya, ternyata adikmu wartawan sekolah, nanti setelah selesai wawancara dan makan siang, kami pulang." kata Nanta pada istrinya.
"Winner ikut Mas Nanta?"
"Iya dari tadi."
"Aku tidak diajak."
"Tidak ada perempuan disini, semua laki-laki." jelas Nanta, kemudian mereka mengakhiri sambungan teleponnya.
"Lapor terus." Doni terkekeh.
"Memangnya anda bagaimana?" Nanta mencibir.
"Hahaha..." Doni terbahak, sama saja rupanya dengan Nanta.
"Kapan tayang di majalah, jangan lupa Kirim ya." pesan Doni pada Winner diakhir wawancaranya.
"Nanti aku titip Bang Nanta ya." kata Winner pada Doni.
"Iya nanti saja saat kami kembali dari Amerika." Doni menepuk bahu Winner.
"Sukses ya." katanya meninggalkan Winner, ia harus mengurus hal lain, dari hasil wawancara dengan Tim Basket, Winner baru tahu jika Nanta dan Doni merupakan pencetak point tertinggi diantara yang lain.
"Abang juga sukses." kata Winner senang, hari ini bisa mewawancarai tiga orang pemain basket nasional. Sebenarnya mau Nanta wawancara semua, apalah daya waktu terbatas.
"Ayo makan." ajak Nanta pada Iparnya.
"Pulang saja." jawab Winner.
"Ish sudah selesai urusannya minta pulang." Nanta terkekeh.
"Bukan begitu, aku lupa bawa dompet." kata Winner lagi.
"Memangnya aku suruh kamu yang bayar, ayo makan." Nanta menarik tangan Winner.
"Tidak mau kalau teman Bang Nanta yang bayar." kata Winner lagi.
"Kenapa memangnya?" Nanta memandang Winner bingung.
"Itu uang hasil taruhan, harom." jawab Winner membuat Nanta terbahak.
"Nanti kita pisah bill, jadi aku yang bayar." Nanta masih saja tertawa.
"Betul ya." Winner memastikan.
"Iya." jawab Nanta masih saja tertawa.
Ia dan Winner menyusul yang lain ke restaurant yang sudah mereka sepakati. Semua sudah berkumpul dalam satu meja. Tapi mereka duduk dimeja yang terpisah.
"Hei sinilah gabung, kenapa pisah meja?" teriak Doni yang sudah duduk disudut sebelah sana, terpisah jauh dari Nanta dan Winner.
"Hahaha Winner takut makan uang hasil taruhan." Nanta terbahak.
"Sue, elu sih tadi teriak harom." kata yang lain terbahak.
"Bilang adek lu, itu halal kita sepakat patungan bayar makan siang kalau Nanta datang ikut berenang." kata yang lain lagi.
"Tuh kamu dengar." Nanta terkekeh.
"Iya." jawab Winner ikut terkekeh.
"Kenapa kalau Abang datang berenang mereka yang bayar makan siang?" tanya Winner bingung.
"Mungkin dipikirnya aku kesiangan, jadi tidak ikut berenang." jawab Nanta.
"Oh karena pengantin baru?" tanya Winner lagi menyeringai jahil.
"Eeh, memangnya kenapa kalau pengantin baru?" tanya Nanta mendelik.
"Iyah kesiangan terus." Winner terbahak.
"Sok tahu." kata Nanta ikut tertawa.
"Sedikit tahu."
"Eh, kamu masih dibawah umur." Nanta menggelengkan kepalanya, benar kata Bang Raymond, aku kebanyakan main sama Balen, pikir Nanta terkekeh.
Setelah makan Nanta langsung menepati janjinya pada Dania untuk langsung pulang, sedikit lebih macet dari biasanya tapi tidak seburuk yang Nanta kira, mereka tiba lebih cepat dari perkiraan.
"Kak Roma ajak kita ke Bandung besok." lapor Dania pada Nanta begitu melihat suaminya memasuki kamar.
"Terserah Mas Nanta, tapi pagi kan Mas Nanta harus temani aku ke rumah sakit dulu." tanya Dania menatap suaminya.
"Hu uh." jawab Nanta memejamkan matanya, lumayan mengantuk setelah sedari shubuh beraktifitas hingga siang ini, efek karena tadi kurang tidur.
"Jadi kita ikut ke Bandung apa tidak?" tanya Dania lagi, karena Roma menunggu jawaban keduanya.
"Ikut tapi nyusul." jawab Nanta menarik tubuh Dania dan segera memeluknya seperti guling.
"Aku ngantuk, jangan bergerak ya nanti ada yang bangun." katanya pelan pada Dania.
"Hu uh." jawab Dania pasrah, menjawab pesan dari Roma pelan agar badannya tidak bergerak seperti pesan suaminya.
Drrrtttt... Drrrtttt... Handphone Nanta berdering. Nanta berdecak, baru saja mau tidur ada telepon masuk.
"Ya..." jawabnya malas.
"Enak saja mau berangkat nyusul." protes Raymond yang ternyata si penelpon.
"Ish memang mau berangkat jam berapa?" tanya Nanta dengan suara bantalnya.
"Semalam berapa ronde sampai lemah begini suaranya?" Raymond malah menggoda adiknya.
"Aku baru pulang basket Abang, dari shubuh tadi sudah keluar, sekarang mengantuk berat." Nanta menjelaskan.
"Hahaha oke, besok berangkat sama-sama saja, hanya kita berempat." kata Raymond pada adiknya
"Ya sudah, tapi aku antar Dania dulu test DNA." kata Nanta pada Abangnya.
"Tidak usah test DNA, ternyata Om Micko sudah pernah test sebelumnya."
"Om Peter juga bilang dia pernah test." kata Nanta masih memeluk Dania tapi tidak seerat tadi.
"Itu palsu."
"Yang mana yang palsu?"
"Om Peter."
"Oh."
"Ish malasnya bicara sama orang ngantuk, hanya Oh saja." gerutu Raymond membuat Nanta terbahak.
"Aku telpon Bang Ray nanti ya, aku ngantuk betul ini Bang." kata Nanta memohon.
"Ish lemah sekali baru sekali praktek." goda Raymond.
"Enak saja sekali." protes Nanta.
"Oh jadi lebih dari sekali ya hahaha." Raymond terbahak, Nanta terpancing.
"Rese." Nanta ikut terbahak dan mematikan sambungan teleponnya. Dasar Raymond selalu saja membuat adiknya mati kutu.
Nanta tertawa memeluk Dania sambil memeluk erat istrinya, mengingat kebodohannya barusan.
"Kenapa?" tanya Dania.
"Aku keceplosan pada Bang Ray kalau semalam kita lebih dari sekali." jawab Nanta tertawa geli.
"Mas Nanta ih..." kesal Dania mencubit perut suaminya.
"Hihi iya maaf." Nanta mengusap perutnya dan menciumi pucuk kepala istrinya.
"Jangan cium-cium nanti mau lagi." ceplos Dania kesal.
"Hahaha ini pakai shampoo aku ya?" tanya Nanta kembali mencium rambut istrinya.
"Hu uh. Kan aku bilang aku tuh suka sekali wangi Mas Nanta." jawab Dania menciumi leher suaminya, ah suatu kesalahan Dania malah memancing Nanta.
"Aku ngantuk." kata Nanta pada istrinya.
"Tidur saja kan aku cium wangi Mas Nanta memang tidak boleh." gerutu Dania kesal, menjauhkan diri dari suaminya.
"Ish, kamu barusan pancing-pancing." Nanta ikut menggerutu.
"Memangnya aku pancing apa? aku hanya cium leher, kan aku tidak pegang-pegang seperti semalam." Dania tidak bisa menahan kesalnya.
"Ish cerewet sekali, bahas pegang-pegang lagi." Nanta merapatkan badannya pada Dania sambil menahan diri agar tidak melakukan kembali aktifitas semalam.
"Tuh bilang aku cerewet lagi, serba salah kan aku." keluh Dania.
"Kamu tidak salah, jangan banyak gerak." bisik Nanta pada istrinya.
"Yang salah siapa?" tanya Dania, memang cerewet sekali rupanya, mana tidak bisa diam, ia terus saja bergerak.
"Duh, kan aku bilang tadi, nanti ada yang bangun" Nanta menunjukkan pada istrinya sesuatu yang sedari tadi ditahannya.
"Kok begitu?" Dania terbengong dan akhirnya hanya bisa pasrah menerima perlakuan Nanta yang meminta pertanggung jawabannya.
"Hu uh mas Nanta, keramas lagi dong aku."
"Aku juga." Nanta terkekeh dan kembali melanjutkan aktifitasnya, ah Nanta katanya ngantuk.