
Aku sudah sampai Jakarta, terima kasih sudah ditemani ya.
pesan Larry kirimkan pada Femi, karena tadi dia tanya Larry sudah sampai Jakarta apa belum, terlihat sudah dibaca dan sekarang sedang terlihat menulis pesan.
Alhamdulillah, sama-sama👍
cuma begitu balasan Femi.
Ya sudah berarti Femi tidak perlu balasan lagi. Larry letakkan handphonenya di console box lalu lajukan kendaraannya menjemput Daniel yang sudah menunggu di rumah Nanta.
Gaya sih Daniel tadi, pakai minta pindah mobil, kalau tidak pindah mobil kan mereka bisa langsung pulang setelah mengantar Doni dan Dona kerumahnya.
Begitu sampai di rumah Nanta, tampak Daniel dan Nanta sedang duduk santai di teras, sambil makan lagi. Daniel makan terus bikin Larry tertawa. Cocok sudah satu mobil sama Nanta bisa habiskan makanan Dania yang selalu banyak maunya tapi tidak pernah habis makannya. Nanta terbantu dengan adanya Daniel, biasanya sering Nanta menyerah karena perutnya pun terasa penuh.
"Makan terus." Larry terkekeh, ia sudah ikut duduk diantara Nanta dan Daniel, tunggui Daniel makan baru bisa pulang.
"Sayang tidak dimakan." jawab Daniel tunjuk batagor yang tadi berlimpah ruah.
"Untung juga bawa tong sampah." kata Larry tunjuk adiknya sambil tertawa.
"Rese, adik sendiri dibilang tong sampah." ngomel tapi tetap fokus pada makanan.
"Kak Rumi bagaimana?" tanya Daniel setelah selesai makan.
"Bagaimana maksudnya?" tanya Larry bingung, Nanta cengar-cengir saja melihat Daniel.
"Mau gue bantu bilang sama Papa tidak mana yang bisa jadi calon menantu?" masih fokus pada makanan sambil mengoceh.
"Banyak gaya." toyor kepala adiknya, Nanta terbahak melihatnya.
"Tapi ada syarat, bantu bilang sama Papa jaga Balen."
"Kita bisa jaga Balen kenapa mesti pakai Papa." Nanta tertawa.
"Biar Balen tidak melenceng, anak buah Papa banyak yang bisa jaga Balen, gue kan mau ke Ohio." Larry dan Nanta kembali tertawa, abege satu ini memang harus banyak minum vitamin.
"Sudah kenyang belum, ayo lah pulang." ajak Larry karena mau istirahat
"Kalau gue ngomong suka pada tidak mendengar ya, bisanya bercanda saja." kesal karena diabaikan.
"Kasihan tuh Bang Nanta mau istirahat." kata Larry pada adiknya.
"Iya bang?" malah tanya.
"Tidak." jawab Nanta tersenyum.
"Tuh tidak kok. Kenyang kok malas berdiri ya?" Daniel mengusap perutnya.
"Baru libur seminggu sudah bengkak badanmu." Nanta menepuk bahu Daniel.
"Biasanya tidak begini makanku, Bang. Ini karena senang saja bisa liburan bersama. Menurut Bang Nanta cocokan mana Bang Larry sama Kak Femi atau Kak Rumi?" tanya Daniel pada Nanta.
"Terserah Abangmu saja." kata Nanta naikkan alisnya pada Larry.
"Ikut campur ah." kata Larry pada adiknya.
"Namanya adik pasti mau Abangnya senang." jawaban Daniel membuat Larry terharu.
"Mengharukan..." Larry mengelus kepala adiknya.
"Mau sama yang mana?" tanya Daniel.
"Mau sama Balen." jawab Larry menjulurkan lidahnya pada Daniel, langsung saja Daniel merengut.
"Jahat." katanya pada Larry, lagi-lagi Nanta dan Larry terbahak, senang sekali bisa menjahili Daniel.
"Ayo pulang." ajak Larry.
"Mau kemana buru-buru?" tanya Nanta pada Larry.
"Kasihan elu mesti istirahat, Dania juga nanti rewel, diajak begadang lagi sama anak lu nanti." kata Larry ingat saat di S'pore.
"Tidak, kan selama di Cirebon sama Dania terus, santai sajalah." Nanta menahan Larry.
"Leyi tapi Daniel betul tuh, elu pilih Rumi apa Femi?" tanya Nanta akhirnya terpengaruh Daniel.
"Hmmm..." berpikir sejenak.
"Elu tahu type gue kan?" tanya sama Nanta, Nanta anggukan kepalanya.
"Rumi masuk kriteria." jawabnya jujur.
"Jadi pilih Rumi?" tanya Nanta.
"Lebih berat ke Femi sih, tapi..." Larry menghela nafas.
"Memang, tapi..."
"Pakai tapi lagi." Nanta tertawa.
"Lihat nanti sajalah." jawab Larry akhirnya.
"Lah kan yang jalanin Abang, takut sama Papa? gue bantu kasih tahu Papa cewek pilihan lu the best." Daniel tersenyum.
"Banyak gaya ah." lagi-lagi Larry tertawa dan kali ini mengacak anak rambut adiknya gemas.
"Gue saja yang bilang sama Papa." kata Larry tertawa. Bisa rusuh kalau Daniel yang bilang, pasti Papa penasaran, malah suruh orang awasi keduanya lagi.
"Sayang betul sama Abangnya." Nanta tertawa.
"Barterlah, Abang juga mesti back up aku sama Balen." kata Daniel memandang Abangnya penuh harap.
"Balen maunya sama gue." Larry menggoda adiknya.
"Masa Balen mau sama aki-aki." katanya membuat Nanta dan Larry kembali terbahak.
"Sue gue dibilang aki-aki. Gue sama elu cuma beda enam tahun tong." kata Larry masih tertawa.
"Gue juga dong, rese ah Daniel." Nanta ikut protes sambil tertawa.
"Bang Nanta sih ketahuan sudah mau punya anak. Lah Bang Larry kalau sama Balen, kasihan Balen lah."
"Sama elu juga kasihan nyong. Sama Redi tuh cocok." Larry tersenyum.
"Tidak boleh, pokoknya tidak boleh. Ya Bang." minta persetujuan Nanta.
"Hahaha kamu makan apa sih tiba-tiba mau sama Balen. Sakit ya?" tanya Nanta serius.
"Makanya tadi gue kasih vitamin." kata Larry.
"Ayo pulang saja, tambah lama tambah ngaco nanti." kata Larry tertawa, bibir Daniel langsung mengerucut. Kenapa tidak percaya sih, padahal banyak orang malah jatuh cinta sama hewan peliharaannya, ada juga yang sama tanaman hiasnya. Balen kan mahluk hidup, walaupun masih bocah pasti nanti akan jadi wanita, dijamin cantik pula.
"Nan, thank you ya. Salam buat Dania, gue balik dulu." kata Larry pada Nanta.
"Jadi Femi atau Rumi?" tanya Nanta berdiri dari bangkunya.
"Eh siapa ya hahaha, tapi kok tadi waktu Femi telepon gue, gue senang ya." Larry terbahak.
"Naksir kali lu." Nanta terkekeh.
"Tapi kemarin-kemarin dia tidak telepon tidak pusing tuh." Larry jadi bingung.
"Nanti lihat saja, menunggu telepon Femi apa tidak." Nanta tertawa.
"Besok antar ke kantor Kak Rumi ya." pinta Daniel pada Larry.
"Iya, kalau Mama tidak bisa, gue antar." kata Larry merangkul adiknya.
"Terima kasih ya Bang, sampai jumpa sabtu." pamit Daniel lambaikan tangan pada Nanta.
"Mau apa sabtu?" tanya Larry.
"Berenang sama Balen dan Richie." jawab Daniel tersenyum.
"Gue tidak bisa, kita ada pertandingan di Bandung kan Nan." kata Larry ingatkan Nanta.
"Oh iya, betul." Nanta anggukan kepalanya.
"Ya sudah aku saja diantar supir. Boleh kan Bang?" minta ijin sama Nanta.
"Hahaha boleh, ajak Redi kan kata Mamon." Nanta terbahak.
"Eh tunggu gue pulang, minggu saja." protes Larry.
"Minggu kan gue ke Asrama Bang." Daniel merengek. Nanta kembali terbahak, lucu sekali melihat Daniel.
"Dasar bocah." kata Nanta terkekeh.
"Jadi bagaimana nih sabtu, aku kan sudah janji." kata Daniel lagi memandangi Nanta.
"Minggu saja, sabtu kan kita ke Bandung. Kamu mau ikut tidak?" tanya Nanta pada Daniel.
"Kan aku sudah janji sama Balen, Richie. Sama Mamon juga." Daniel bersungut.
"Minggu pagi, dari sini langsung gue antar ke Asrama." janji Larry pada adiknya.
"Bang bilang sama Balen ya." Daniel kembali pandangi Nanta.
"Iya bocah." jawab Nanta tertawa. Kemudian lambaikan tangan begitu Larry menggiring adiknya menuju Mobil.