I Love You Too

I Love You Too
Rujak serut



Kenan melepas headset ditelinga kanan Nona, dimana Kenan tadi meletakkan dagunya.


"Sudah sholat?" bisiknya pada Nona. Nona hanya menganggukkan kepalanya.


"Jangan lama-lama marahnya." kata Kenan lagi sambil membalikkan badan Nona, menatap istrinya sambil tersenyum tanpa dosa.


"Mas Kenan menyebalkan." kata Nona menjauhkan badannya saat melihat Kenan akan menciumnya, ia tidak bisa berlari menghindari Kenan selain memundurkan setengah badan, mengingat posisinya sudah menempel pada pagar rooftop.


"Ups, hati-hati sayang. Kamu bisa jatuh." Kenan segera menahan badan Nona dengan kedua tangannya. Nona benar-benar tak bisa menjauh lagi sekarang. Wajah mereka benar-benar dekat.


"Tadi aku tidak ada maksud panggil Kevin jadi Mas Kevin."


"Saya tahu." Kenan menatap lembut wajah Nona, sedikit menyesal.


"Mas Kenan malah melebar bawa-bawa mantan pacar." Nona menghela nafas kasar. Keningnya tampak berkerut


"Tiba-tiba saya cemburu jadi ingin tahu siapa saja mantan kamu dan tambah cemburu saat kamu bilang lupa siapa saja pacar kamu. Saya pikir kamu ingin menutup-nutupi."


"Kenapa tidak bilang cemburu malah bilang mau bertemu Sheila. Aku marah!!!" wajah Nona tampak sengit, Kenan terkekeh lalu mengecup bibir Nona yang masih dipeluknya, kemudian tersenyum kembali menatap Nona.


"Tidak mau dicium!!! Mas Kenan yang cari masalah tadi bukan aku." masih saja ngomel Kenan kembali mengecup kembali bibir istrinya sementara Nona masih memberengut.


"Sudah aku bilang jangan dicium!!! Mau bertemu Sheila saja pakai cari-cari alasan, Mas Kenan pikir aku bisa dibodoh-bodohi. Enak saja!!!" semakin mengoceh semakin membuat Kenan gemas, segera saja ******* bibir Nona dengan lembut, sedikit perlawanan dari Nona tidak membuat Kenan menyerah, ia terus saja melanjutkan aksinya yang semakin lama semakin menuntut, hingga akhirnya Nona pasrah mengikuti permainan Kenan dan mereka pun berakhir di kamar.


"Lain kali walau semarah apapun kamu tolong tetap temani saya makan." kata Kenan sambil mendekap erat istrinya yang terbaring disebelahnya, terus saja diciuminya rambut Nona. Nona tidak menjawab, hanya membenamkan wajahnya didada Kenan.


"Terus kalau saya marah jangan ikut marah juga seperti tadi, harusnya tuh kamu bujuk saya loh." Kenan mengacak rambut Nona terkekeh.


"Salah Mas Kenan tadi cari kambing hitam." sindir Nona mencibir, langsung saja Kenan menggelitiki Nona hingga Nona tertawa tak bisa marah.


"Ayo mandi." ajak Kenan beranjak dari kasur dan mengangkat tubuh istrinya yang tampak sangat malas bergerak.


"Non, bagaimana novelnya sudah selesai?" tanya Bi Wasti ingin tahu, saat menyiapkan makan malam untuk Kenan dan Nona.


"Bibi suka baca novel?" tanya Nona tersenyum.


"Suka, makanya penasaran."


"Novel apa sih?" tanya Kenan yang sudah duduk di meja makan.


"Itu loh Pak, yang tadi seharian Non cari inspirasi di rooftop, waktu Bapak kerja." jawab Bi Wasti semangat.


"Oh itu sudah selesai Bi, endingnya suaminya mengalah sama istrinya yang galak itu, iya kan sayang?" jawab Kenan sambil melirik Nona yang duduk disebelahnya.


"Heh..." Nona tak bisa menahan tawa, ingin rasanya mencubit perut Kenan namun apa daya Bi Wasti masih berdiri disebelah Nona.


"Nanti kalau sudah terbit saya baca ya Non." kata Bi Wasti serius. Nona mengangguk sambil menunjuk Kenan tawanya pun lepas, ketika Bi Wasti berlalu, Nona langsung saja mencubit suaminya.


"Apa Mas, apa? Istri galak???"


"Hu uh." Kenan tertawa mengelus perutnya yang sakit akibat cubitan Nona.


"Sembarangan betul kalau bicara." Nona kembali mencubiti perut suaminya yang masih saja mentertawakan Nona.


"Ih, apa sih Kak Nona cubit-cubitan." Raymond dan Roma tiba-tiba saja muncul.


"Dari mana saja, ditunggu dari tadi baru muncul sekarang?" tanya Kenan pada keponakannya, rasa perih bekas cubitan Nona masih diusap-usap. Tadi saat Nona menghilang, Kenan yang bingung diabaikan Nona meminta Raymond dan Roma untuk kerumahnya supaya Nona tidak lagi marah. Apalah daya Raymond tidak bisa datang cepat.


"Bermesraan dulu lah dirumah, masa kalah sama Om Kenan dan Kak Nona." jawab Raymond yang tidak tahu tadi ada masalah, iabmerangkul Roma dan mencium pipi istrinya, tidak mau kalah rupanya melihat Om Kenan barusan tampak mesra di meja makan. Roma hanya tertawa-tawa saja melihat kelakuan suaminya.


"Terus itu bawa apa?" tanya Nona melihat tentengan ditangan Roma.


"Memangnya kamu hamil Rom?" tanya Nona pada Roma.


"Belum Kak Nona, tapi Raymond kemarin yang minta dibuatkan Oma. Kata Raymond kalau kita hamil dan Oma masih di Jakarta, dia tidak pusing lagi karena tidak ada yang bikinkan rujak serut seenak buatan Oma." Roma terkekeh menepuk bahu Raymond.


"Memangnya kamu pikir rujak serut sama seperti rendang? tahan berbulan-bulan gitu?" tanya Nona terkekeh, konyol sekali Raymond.


"Aih kalian ini, hamil tidak hamil makan saja sekarang. Siapa tahu setelah makan rujak serut buatan Oma, kalian hamil." kata Raymond tidak ingin di protes.


"Iya, iya, aku makan, bagusnya berapa hari sekali makannya?" tanya Roma pada suaminya.


"Makan saja jangan berlebihan." jawab Raymond membuat Kenan berdecak.


"Raymond kalian dengar." kata Kenan menggelengkan kepalanya.


"Hmm... meremehkan aku sekali. Waktu kubilang Kak Nona calon istri Om Kenan pada semua orang dan mereka percaya, sekarang apa? kejadian kan?" tantang Raymond pada Om Kenan.


"Iya tapi tidak begitu juga, mana ada makan rujak jadi hamil." kekeh Kenan mulai menyendokkan makanan kedalam piringnya.


"Om seperti tidak kenal aku saja, Nanta saja bisa kubikin sayang lagi sama Papanya. In syaa Allah Roma juga bisa kubikin hamil." sungut Raymond ikut menyendokkan nasi kepiringnya.


"Tentu saja Roma istri kamu, Raymond! yang jadi pertanyaan hubungannya hamil sama rujak serut itu apa?" tanya Nona ikut berpihak pada Kenan.


"Percaya saja dulu kalau kamu akan hamil, apa susahnya sih?" kata Kenan mulai menyendokkan nasi kemulutnya setelah berdoa.


"Iya aku percaya in syaa Allah akan hamil." kata Nona sambil berdoa dalam hati.


"Nah, kalau sudah percaya kamu tinggal nikmati rujaknya." kata Raymond terkekeh.


"Berarti bukan karena makan rujak kita hamil kan?" sungut Nona merasa dipermainkan oleh Raymond.


"Panjang sekali alurnya, hanya karena aku berharap setelah makan rujak serut kalian hamil. Sudah jelas dari awal kubilang siapa tahu... siapa tahu... itu berarti harapan dan doa." Raymond tampak kesal sementara Kenan tertawa geli dibuatnya.


"Kalau ada yang berdoa mestinya kalian bilang Aamiin. Begitu saja harus berdebat." oceh Raymond mengambil nasi lagi untuk kedua kalinya. Emosi membuatnya lebih banyak makan.


"Aamiin." kata Nona khusu sekali mengangkat kedua tangannya.


"Nah begitu kan lebih enak." Raymond tertawa puas.


"Aku kan tidak mendebat kamu, sayang. Aku makan rujaknya sekarang?" ijin Roma pada suaminya.


"Boleh, Jangan lupa berdoa lebih dulu." Raymond mengingatkan.


"Doanya apa?" tanya Roma menurut pada suaminya.


"Ya biasa saja doa sebelum makan." kata Raymond.


"Aku kira doa supaya segera hamil." Roma tertawa geli.


"Tuh akibat kebanyakan gaya, istrimu pun bingung harus baca doa apa." kekeh Kenan melempar tissue ditangannya pada Raymond.


"Ish Om, aku sama Om Kenan kan sebelas dua belas. Iya kan Kak Nona?"


"Hmmm mungkin, kurang tahu juga." jawab Nona mengamati Raymond dan Kenan bergantian, kemudian mengangkat bahunya bingung.


"Sepertinya tidak ya." kata Nona kemudian.


"Hahaha Kak Roma sampai bingung begitu, sudah ayo makan, Ray saja sudah tambah makannya, kita malah belum mulai karena memikirkan rujak serut." Roma menepuk bahu suaminya sambil tertawa.