
"Oke sampai bertemu hari minggu ya." kata Mike pada semuanya.
"Aban..." menoleh kebelakang melihat Abangnya yang mendorong trolly.
"Apa?" tanya Nanta tersenyum dengan alis terangkat.
"Boneta..." bisiknya pada Nanta, tapi terdengar oleh yang lain. Kenapa belum dikasih juga bonekanya oleh Larry dan Mike, malah seperti mau pamit mereka, Langsung saja ketiganya terbahak.
"Sabar dong Balen, kopernya saja Balen duduki." Larry langsung saja mengangkat Balen dan menggendongnya.
"Ih Haum." kata Balen kagum, membuat ketiganya lagi-lagi terbahak, centil sekali adik Nanta ini.
ini visual Balennya.
"Genit betul sih, bikin gemas." kata Larry sambil mencium Balen dengan Gigi gemeretak. Mike langsung membuka kopernya dan juga koper Larry yang berisi boneka.
"Yaaaiiiii, tatep bonetana." teriak Balen senang.
"Balen suka yang mana? yang pink dari Abang Larry, yang coklat dari Abang Mike." kata Mike menggoyangkan kedua boneka bergantian.
"Suta semuana AAban. Matatih..." katanya dengan mata berbinar-binar penuh senyum.
"Kiss dong." kata Larry menunjuk pipinya.
"Boeh Aban?" tanyanya pada Nanta.
"Boleh..." Nanta terkikik geli. Langsung Balen mencium pipi Larry kiri dan kanan, tidak ketinggalan jidat Larry."
"Hahaha selamat menikmati basah diwajah." Nanta terbahak melihat Larry yang sedikit mengernyit karena wajahnya penuh dengan iler Balen. Mike juga terbahak dibuatnya.
"Aban Maik mau tiss juda?" Balen menawarkan.
"Abang saja yang kiss Balen." Mike menciumi Balen bertubi-tubi dengan hidungnya, ia tidak mau seperti Larry yang sibuk menghapus iler Balen dengan jacketnya.
"Sudah?" tanya Kenan tersenyum pada ketiganya.
"Papon, boneta Baen liat deh." tunjuk Balen pada Papanya.
"Wah ada dua." Kenan tambah lebarnya senyumnya, memandang Balen yang sedang digendong Larry.
"Iya tatep tan Papon." pamer Balen. Kenan menganggukkan kepalanya.
"Kalau sudah selesai ayo kita pulang." ajak Kenan pada semuanya.
"Iya Om, seru nih Balen." kata Larry terkekeh.
"Papon, ini Aban Leyi." tunjuk Balen menepuk bahu Larry. Kenan terkekeh mendengarnya.
"Ini Abang ganteng Balen itu ya?" tanya Kenan tertawa. Balen menutup mulutnya sambil tersenyum malu.
"Betul ini ya Bang Larry ganteng?" tanya Larry tertawa. Balen menganggukkan kepalanya masih menutup mulutnya. Tahu malu juga Balen.
"Abang Mike ganteng juga kan?" tanya Mike menggoda Balen.
"Iya sih." jawab Balen pakai sih karena Balen lebih suka gantengnya Larry.
"Dasar unyil, semua dibilang ganteng." gerutu Larry terkekeh.
"dantenan aban Leyi tau." bisik Balen membuat Larry terbahak.
"Bocah gombalin gue lagi nih." kata Larry pada sahabatnya, semuanya tertawa geli.
"Sudah yuk pulang." ajak Nanta menunjuk trolly, maksudnya agar Balen kembali didudukan diatas koper yang masih ada.
"Duduk sini lagi ya." kata Larry pada Balen.
"Yah." jawab Balen senang.
"Bonetana..." Balen mengingatkan Mike
"Jiaaan dua kali diingatkan." Mike terbahak menyerahkan kedua boneka itu pada Balen, kembali senyum singkong Rebus mengembang. Kenan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Larry, Mike terima kasih ya, sudah repot perhatikan Balen." kata Kenan pada keduanya.
"Malah minggu mau ajari Balen dan Richi berenang, Pa. Dirumah saja ya, Dania lagi tidak fit." Nanta minta persetujuan Papanya.
"Boleh..." jawab Kenan senang saja ada yang mau ajari Balen dan Richi berenang.
"Baen diajain Aban Leyi tan?" Balen memastikan.
"Iya dong." jawab Larry terkekeh.
"Aban Maik Ichi loh." kata Balen memberitahu Mike.
"Iya singkong rebus, gemesin betul sih Om, sakit kepala nih pengen cubit dari tadi." lapor Mike pada Kenan.
"Iya Om juga bingung." Kenan terkekeh.
"Iya Tante." Mike mengangkat tangannya.
"Ini gado-gadonya, baru direbus sore ini sayurnya." Nona menyerahkan wadah berisi makanan pada Mike.
"Asik, makasih Tante." Mike langsung saja senang.
"Duh nyesal tidak pesan makanan." sungut Larry yang tiba-tiba lapar.
"Yah kami tidak bawa lebih. Tapi lontong sayur Nanta tadi porsi jumbo sih, mau makan berdua, ada dimobil tuh. Wadah juga ada lebih."
"Mau Tante." dasar Larry mau saja dia karena betul-betul lapar sore ini.
"Mau makan dimana?" tanya Nanta.
"Diparkiran saja yuk." ajak Larry, pacarnya yang mau jemput belum juga sampai. Mereka pun berjalan menuju Mobil Kenan. Ichi ada dalam gendongan pengasuh yang sengaja dibawa.
"Ichi tuh." tunjuk Balen pada Mike.
"Oh ini yang mau Abang ajari berenang ya." kata Mike mengacak anak rambut Ichi. Richi terkekeh geli, senang mendengar ada yang mau mengajarinya berenang.
Larry menghubungi pacarnya begitu mereka tiba di parkiran dan Nanta sibuk membagi lontong sayur yang akan mereka makan.
"Masih lama?" tanya Larry pada lawan bicaranya.
"Aku diparkiran makan lontong sayur dulu." kata Larry kemudian, entah apa jawaban pacarnya.
"Iya kamu kan masih lama, aku lapar." kata Larry.
"Nanti bisa makan lagi, lokasinya aku sharelock." kata Larry menutup sambungan telepon sambil menggelengkan kepalanya. Mike Dan Nanta tertawa sambil pandang-pandangan.
"Apa saja dibikin masalah." gerutu Larry dan mulai mengambil posisi menikmati lontong sayur.
"Om, Tante. Makan ya." kata Larry setelah menikmati suapan pertama.
"Silahkan ya, kami duduk dimobil ya." kata Kenan kemudian masuk kedalam Mobil.
"Ganti pacar lah, dari pada bikin sakit kepala." kata Mike sambil menikmati gado-gadonya. Nanta terkekeh, tidak mau memprovokasi.
"Main ganti saja, uji kesabaran nih gue, kalau tidak tahan baru deh gue putusin." kata Larry terbahak.
"Masih tahan ya berarti." Mike terbahak.
"Sudah dimana dia?" tanya Nanta pada Larry.
"Sudah ditol Bandara sih, sebentar lagi sampai." kata Larry sambil tersenyum pada Balen yang sabar menunggu ketiganya sambil mengintip Dari jendela Mobil.
"Mau Balen?" tanya Larry menyodorkan sendoknya.
"Ndak..." Balen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Cantik betul sih." kata Larry jujur senang melihat mata bulat Balen. Lagi-lagi Balen tersenyum senang dibilang cantik.
Gombalin Balen, lu." kata Mike memonyongkan bibirnya.
"Ih memang cantik kan, lu lihat saja." tunjuk Larry pada Balen.
"Nanti kalau sudah besar, punya pacar kita yang seleksi ya." kata Larry pada Balen.
"Balen tidak pacaran." kata Nanta cepat. Kedua temannya tertawa.
"Lupa gue, Abangnya juga begitu." kata Larry membuang wadah bekas makannya. Nanta terkekeh, ikut membuang wadah bekas makannya. Tidak lama Mike pun begitu.
"Kalian belum dijemput juga?" tanya Nanta menghela nafas.
"Iya nih kok belum sampai ya." Mike celingukan menghubungi supirnya. Tidak lama jemputan Mike datang. Tinggal Larry yang masih menunggu.
Tin...tin...tin...tin... Duh berisik sekali bunyi klakson dibelakang mobil Mike.
"Rese tuh cewek, tidak lihat supir gue lagi masukkan koper." omel Mike emosi.
"Eh jemputan gue tuh." kata Larry menggaruk kepalanya, rupanya yang dibilang rese oleh Mike itu pacarnya Larry. Tambah antipati saja Mike Dan Nanta pada pacar Larry.
"Bikin emosi tuh cewek lu." kesal Mike langsung masuk kedalam mobilnya, sampai lupa ijin sama Kenan dan Nona, ia minta supirnya langsung jalan.
"Om, Tante, pamit ya." ijin Larry pada Kenan dan Nona.
"Hati-hati." kata Nona pada Larry.
"Aban Leyi..." Balen melambaikan tangannya pada Larry. Larry menghampiri Balen dan kembali mencium dahi singkong rebus.
"Hari minggu ya, dah sayang." Larry mengacak anak rambut Balen.
Tiiin.... klakson berbunyi panjang, sungguh tidak sopan dan tidak sabaran, Larry jadi emosi berlari membuka bagasi memasukkan kopernya.
"Kamu nih tidak sopan." omel Larry sambil masuk kedalam Mobil tanpa senyum, kemudian kembali melambaikan tangan pada Nanta dan Balen yang mengintip dari jendela dengan kekehan. Entah mereka akan ribut apa tidak, Nanta tinggal tunggu cerita.