I Love You Too

I Love You Too
Menangis



"Sakia, Ante ladi Ciebon nih." pagi hari masih gunakan piyama dikamar hotel menghubungi keponakan yang baru lahir.


"Wah Ante Baen kok cuma sampai Cirebon sih, lanjut ke Malang dong." Roma wakili Shakira meladeni Balen, walaupun kamera mengarah pada Shakira.


"Ante syibuk Sakia, temenin Papi mayo duu. Sakia Jatata don, Ante tunduin."


"Nanti ya Ante, kalau Shakira sudah bisa naik pesawat." Roma terkekeh.


"Eman ndak bisa naik sawat, dendong Mama don Sakia, nanti tuunna pate stowel jadi Mamana ndak capek dendong tamu anak bayi." ocehnya sementara baby Shakira hanya ho ho saja. Raymond dan Roma terkikik geli.


"Ante kok belum mandi sih?" tanya Roma menggoda Balen.


"Ante nundu diwian, taman mandina penuh." katanya sambil bersandar santai dikursi kerja yang tersedia dikamar hotel.


"Baen, tidak kangen sama Oma ya, Shakira saja yang diajak ngobrol." tiba- tiba Oma Nina ikut nimbrung, kemudian ciumi Shakira.


"Atu nih yan tanen Oma." teriak Richie tidak mau ketinggalan.


"Kalau kangen ke Malang dong, masa ke Cirebon." Oma menggoda Richie.


"Dantian don, masa tita teus te Malan, Oma Jatata lah." tengil sekali minta gantian Oma yang ke Jakarta.


"Capek ah naik pesawat."


"Mo naik tusi woda?" Balen menawarkan, semua yang mendengar jadi tertawa.


"Kapan sampainya naik kursi roda ke Jakarta." Raymond terbahak.


"Naik sawat juda tapi ndak usah jawan tati, naik tusi woda aja." katanya memberi ide, simpel saja tidak usah repot.


"Siapa yang dorong kursi rodanya, kalian kan di Jakarta." Oma membuat cucunya berpikir.


"Suwuh aja oan di eipot, Oma tasih uanna." katanya seakan semua bisa beres kalau kasih uang. Entah siapa yang ditirunya.


"Pakai uang siapa? Uang Balen ya, kan habis jadi bintang iklan sekarang punya uang."


"Eh janan, itu untut Bei oten Oma, tao tasih Oma ndak bisa bei Oten Baenna." katanya menolak keras.


"Pelit juga kamu ya." Oma terbahak.


"Baen tasih tau Aban deh bian tasih Oma uanna." Abang yang disuruh kasih Oma uang.


"Kenapa bukan Papon yang kamu suruh kasih Oma uang?" tanya Oma.


"Paponna ladi dalak Oma, Baen aja ndak boeh ninap umah Om Deni semawam." berbisik ceritakan Papon yang tidak ijinkan Balen menginap semalam.


"Galak bagaimana?" Oma terkekeh.


"Ndak senum temaen, maam bau senum dia. Ndak usah minta Papon ya, aban aja." masih berbisik takut didengar Papon walaupun tetap kedengaran, dasar Balen minta disekap.


"Tamu nomonin Papon tapi tedenelan Baen." Ichie beritahu Balen sambil berteriak.


"Eman iya Papon?" tanyanya pada Papon tanpa merasa berdosa.


"Iya." jawab Kenan menahan senyum.


"Itu sih yan semaam, Baen ceitain Oma." katanya membuat keluarga di Malang tertawa.


"Kenan jangan galak-galak dong sama cucu Oma." kata Oma pada Kenan.


"Ndak tok ndak dalak." katanya menenangkan Oma tidak mau Papon malah cemberut lagi.


"Kata kamu tadi galak?" kata Oma.


"Oma napa bilan ditu sih, nanti cembeut ladi Papon Baen." katanya gelengkan kepala.


"Oma cuma mau kasih tau anak Oma tidak boleh galak sama cucu Oma." Oma menahan tawa.


"Ndak beditu dalak, cembeut aja, tapi sekaang ndak." katanya menjelaskan.


"Eh memang kenapa Papon cemberutin Balen?" tanya Raymond jahil.


"Papon mo istilahat malah diajat Ciebon." Richie mengadu.


"Kamu kenapa ajak Papon ke Cirebon?" tanya Raymond pada Balen.


"Soanna aban Ciebon, Baen mo itut." kata Balen.


"Biar saja Abang pergi, kenapa kamu minta ikut sih?" Roma salahkan Balen.


"Mana ada sendiri, tadi malam malah pulang kerja Abang temani kamu makan diluar loh." Nona yang baru selesai mandi ingatkan Balen.


"Oh iya Baen upa." tertawa sendiri menepuk dahinya.


"Dasar saja mau ikuti Abang terus, kasihan Ma Abangnya diganggu terus, tidur juga maunya dikamar Abang." Nona mengadu.


"Mamon tan Baen ladi nobol ama anak bayi, napa Oma ama Mamon itutan sih." langsung protes karena Mamon laporkan kelakuannya pada Oma.


"Biar Oma tahu kamu rewel." kata Nona pada anaknya.


"Tapi tan Mamon Ciebon temu Abanna, senen tan?" katanya tersenyum pada Nona.


"Iya sih." jawab Nona tertawa.


"Papon juda senen tan? aban Papon tan itut." katanya pada Kenan.


"Iya." jawab Kenan terkekeh.


"Semuana senen tok, cembeut sebentan aja." katanya lagi pada Oma.


"Oma udah ya, Baen mo mandi." katanya melihat kamar mandi sudah kosong, Mamon, Papon dan Richie malah sudah rapi.


"Iya sayang."


"Baen tundu Jatata ya." katanya sebelum menutup sambungan telepon, tapi tidak ditutup malah rusuh karena takut ditinggal.


"Janan pedi duu ya, Baen beum wapi." katanya pada Mamon dan Papon.


"Duh epot deh, Baen belatanan." katanya rusuh pilih baju yang mau dipakainya hari ini.


"Duh, andut Baen mana sih." panik sendiri mencari handuk.


"Ini Baen." Richie sodorkan handuk pada Balen.


"Duh Ncusss ndak itut ladi, haus uwus sendii deh." mengoceh tak mau repotkan Mamon dan Papon, salahnya sendiri tadi mau dimandikan malah bilang mau mandi sendiri.


"Biarkan saja." kata Kenan saat Nona sudah siap mau membantu Balen, tapi mulutnya sudah terbuka siap dengan suara oktaf diatas standard.


"Lama nanti." kata Nona, Kenan gelengkan kepalanya. Balen sudah membawa baju dan handuknya ke kamar mandi.


"Ainna beum diisi?" protesnya bicara sendiri, biasa sudah ada yang isikan air di bathtub.


"Bisa tidak? tanya Nona dari luar.


"Bisa." teriak Balen kemudian menghela. nafas. Kenan tertawa menahan Nona yang ingin membantu Balen.


"Papa napa sih?" tanya Richie lihat Papa jahil menahan badan Mamon dengan tangan sebelah melingkar di pinggang Mamon.


"Sini kita tahan Mamon supaya tidak mandi lagi." kata Kenan pada Richie. Langsung saja jagoan cilik ikut menahan badan Mamonnya.


"Balen kamu bisa mandi sendiri?" tanya Nona khawatir, kalau dibiarkan malah lama karena asik main air.


"Bisa." teriaknya.


"Aku mengintip saja." pinta Nona pada Kenan.


"Atu aja." kata Richie.


"Tidak usah biarkan saja, Balen bisa kok." kata Kenan. Benar saja tidak lama Balen keluar dengan wajah tampak segar malah sudah pakai baju sendiri walau agak miring sana sini.


"Sudah mandi?" tanya Nona.


"Udah don." jawabnya keringkan rambutnya dengan handuk.


"Bagaimana mandinya? kan belum isi air, Mamon lupa." tanya Nona pada Balen.


"Pate tewan aja." jawab Balen santai, Nona tertawa ingat shower terlalu tinggi untuk Balen jangkau.


"Mamon periksa dulu, mandinya bersih tidak?" Nona langsung periksa khawatir ada sabun yang tersisa.


"Besih tok tadi Baen siam semuana. Baen udah dedek tan?" tersenyum bangga pada Mamon.


"Iya pintar anak Mamon." Nona ciumi Balen terharu, air matanya menitik.


"Napa nih Papon, Mamonna nanis ladi?" Balen jadi bingung lihat Mamon keluarkan air mata setelah mencium Balen.


"Papon sih tadi sulu atu itut jadain Mamon bian ndak taman mandi, nanis deh." Richie salahkan Papon dan sekarang jadi menyesal.