
"Balen sayang..." Nanta sambut adiknya yang baru saja tiba dari Cirebon.
"Benean sayan?" mencibir membuat Nona tertawa geli.
"Beneran lah, masa bohong." Nanta tak kuasa menahan tawanya, segera menggendong adiknya dan menciuminya.
"Maapin Abang." cium pipi Kiri.
"Maapin Abang." cium pipi kanan.
"Maapin Abang." cium perutnya bikin Balen kegelian berteriak dan tak bisa menahan tawanya.
"Aban deli... Janan cium ah, Baen masih tesel." tapi tertawa tidak bisa cemberut.
"Bobo sama Abang ya?" merayu Balen biar tidak marah berkepanjangan.
"Boeh ndak Papon?" Hahaha Nanta langsung tertawa senang, sudah lupa marahnya kalau begini.
"Tan temaen ndak boeh, sekaang boeh don." bujuk Papon supaya diijinkan menginap dikamar Abangnya.
"Boleh." jawab Kenan ijinkan Balen berbaikan dengan Abangnya, lagipula kasihan tadi sudah berkeringat menunggu Abangnya di teras.
"Ditu don Papon, tao temaen boeh bobo umah Om Deni, Baen ndak ditindal aban deh." ocehnya sekarang salahkan Papon, Kenan tertawa mengacak anak rambut Balen yang masih digendong Nanta.
"Sana mandi dulu." Nanta menurunkan Balen yang sudah dipanggil Ncusss untuk bersihkan diri.
"Papa atu bobo mana?" Richie tanyakan pada Papa karena tidak ditawari Abangnya menginap dikamar Abang.
"Bobo sama Abang juga dong." Nanta langsung sadar dan segera menggendong Richie yang iba hati karena tidak ditawari Bobo dikamar Nanta tadi.
"Ote." langsung mengajak Nanta tos. Kenan dan Nona terbahak melihat kelakuan anak-anaknya.
"Kamu tidak capek, Boy?" tanya Kenan pada Nanta. Kasihan juga pikirkan Nanta harus mengasuh adiknya malam hari.
"Tidak, tadi aku sudah tidur sebelum Papa datang." jawab Nanta tersenyum.
"Papa capek, istirahat deh, jangan lupa mandi dulu." Nanta ingatkan Papa.
"Iya, Papa mandi dulu ya." jawab Kenan lalu tinggalkan Nanta masuk kekamarnya.
"Richie juga ayo mandi." Kenan panggil Richie agar bersihkan diri.
"Baban mo mandiin atu ndak?" tanya Nanta.
"Ayo." Nanta segera minta Ncusss untuk siapkan baju dan perlengkapan lainnya untuk Richie.
"Mandi dimana?" tanya Nanta pada Richie.
"Tamal Baban ajah." pilih kamar Nanta karena nanti malam kan mau bobo dikamar Abangnya.
"Oke." Nanta ikuti maunya Richie segera menuju ke kamarnya.
"Nanti antar baju Ichie Ncusss." teriak Nanta saat lewati kamar Ichie.
"Nikmati saja sekarang repotkan Abang ya, Nanti kalau sudah lahir adiknya kamu tidak boleh ganggu Abang lagi." kata Nona pada Richie.
"Jangan bikin Ichie benci anakku dong Mamon." kata Nanta, Nona jadi terbahak.
"Nanti kalau adik lahir kamu yang bantu jaga adik loh ya." kata Nona lagi pada Richie.
"Iya atu jadain, atu dendong juda taya dini." jawab Richie yang sok iye.
Nona segera masuk ke kamarnya begitu Nanta dan Richie menghilang dari pandangan Matanya.
"Aban Baen mana sih Mamon?" Balen masuk ke kamar Mamon. Papon sedang rebahkan badannya tampak segar karena sudah mandi.
"Kok cari abang disini?" tanya Nona bingung.
"Tadi tan ngobol ama Mamon, Baen denel." Balen bersungut.
"Kok aku merasa dituduh." Nona memandang suaminya membuat Kenan terbahak.
"Sini Nak, sama Papon dulu. Abang lagi mandikan Ichie." jawab Kenan panggil Balen agar ikut baringkan badannya disebelah Kenan.
"Napa sih Ichie ndak mandi ndii aja." protes tapi segera naik kekasur berbaring disebelah Papon.
"Ichie belum bisa." jawab Kenan memeluk Balen.
"Baen don mandina bisa sendiian." banggakan diri pada Papon.
"Sore ini kamu mandi sendiri lagi?" tanya Nona pada Balen.
"Iya don." tersenyum bangga.
"Sini Mamon periksa dulu bersih apa tidak." Nona mengulurkan tangannya pada Balen.
"Ndak, Baen peuk Papon." nikmati pelukan Papon tidak mau diganggu.
"Nanti malam mau makan apa? biar Mamon masak sore ini." tanya Nona pada Balen.
"Itan." minta ikan karena tadi sudah makan ayam dirumah Om Deni.
"Kenapa?" tanya Nona bingung.
"Kasihan Nyonya dan Nona pada capek habis jalan jauh." jawab Kenan terkekeh tetap peluki Balen.
"Mamon Nonana." Balen ikut terkekeh.
"Nyonya juga kok, Nyonya Kenan." jawab Nona ikut baringkan badan disebelah Balen.
"Biar saja Ichie yang bobo sama Abang. Balen bobo sama Papon saja ya." bujuk Kenan pada gadis kecilnya.
"Papon tanen ama Baen?" tanya Balen pandangi Papon.
"Iya." jawab Kenan. "Memangnya Balen tidak?" tanya Kenan lagi.
"Tanen teus ama Papon." jawabnya membuat Kenan eratkan pelukannya pada Balen.
"Mamon juga kangen loh, apalagi kalau tidak rewel anaknya." Nona ikutan bilang kangen.
"Baen ndak ewel tan?" tanyanya pada Nona.
"Tidak." jawab Nona tersenyum senang.
"Papon ndak te mesjid?" tanya Balen saat mendengar suara orang mengaji mulai terdengar.
"Iya mau, Papon siap-siap dulu." Kenan segera lepaskan pelukan pada gadis kecilnya lalu beranjak bersiap diri.
Sementara dikamar Nanta Richie asik main basket diajari Nanta mendrible bola.
"Capek ah." kata Richie tidak konsen.
"Kamu suka tidak konsen nih, Kemarin berenang juga begitu." Nanta ingatkan Richie.
"Atu inet lobot atu." Richie meringis.
"Robot terus ah." Nanta merengut.
"Eman ndak boeh?" tanya Richie.
"Tidak boleh." jawab Nanta.
"Eman napa?"
"Urusan kamu bukan robot saja." jawab Nanta.
"Iya, Ichie harus pintar berenang, pintar basket dan pintar lainnya. Bukan hanya main robot." Dania ikut beritahu Ichie.
"Ote, Baen mana sih?" akhirnya ingat Balen yang tidak menyusul ke kamar Abang.
"Masih diluar, ayo ikut Abang ke Mesjid, kita sholat magrib." ajak Nanta pada Richie.
"Boeh ajat lobot?" lagi ingin bawa robotnya.
"Mana boleh, Abang buang saja ya robotnya. Masa mau sholat ingat robot sih."
"Janan buan don. Atu ndak ajat lobot tok. Bejanda ajah." ngeles bilang bercanda.
"Ayo, salaam Kakak Dania, kita mau ke Mesjid." ajak Nanta pada adiknya.
"udu dulu don." protes Richie.
"Salaam dulu saja baru wudhu." kata Nanta pada Richie.
"Ote." ikuti Abangnya salami Kakak Dania.
"Nonton tolea telus." protes Richie lihat aktifitas Dania.
"Hehehe dikomplen sama bocah." Nanta terkekeh.
"Memang tidak boleh Chie?" tanya Dania pada Richie.
"Ulusan Tania butan tolea aja." ikuti apa yang Abangnya bilang tadi. Nanta dan Dania jadi terbahak.
"Iya deh Tania matikan." akhirnya Dania matikan laptopnya beranjak dari posisi nyamannya.
"Baju Koko?" tanya Dania pada suaminya, bantu siapkan baju Nanta untuk ke Mesjid.
"Ya." jawab Nanta terkekeh, akhir-akhir ini Nanta siapkan sendiri jika Dania sedang asik dengan Drama Koreanya.
"Tiba-tiba sholeha." Nanta tertawakan istrinya.
"Rese..." Dania terbahak.
"Tidak jadi sholeha, suami dibilang rese." kata Nanta lagi ikut terbahak.
"Ndak jadi te Mesjid?" tanya Richie.
"Jadi dong, kenapa memangnya?" tanya Nanta.
"Abisna bejanda aja duaan." protes Richie, kembali keduanya terbahak.