
"Kalau tidak disuruh kesini, tidak datang." omel Bunda pada Nanta saat baru saja memasuki rumahnya.
"Bunda, Nanta masih sedikit sibuk kemarin. Yang penting oleh-oleh sudah sampai kan?" kata Nanta sambil memeluk Bunda Kiki.
"Bunda maunya kamu yang datang bukan oleh-olehnya." kata Kiki menepuk bahu Nanta.
"Ini sekarang aku datang sama Dania." Kiki terkekeh mendengar jawaban Nanta. Lalu beralih pada Dania yang ada dibelakang Nanta.
"Dan, kamu terlihat segar saja seperti biasa." kata Kiki mendekati Dania.
"Iya Bunda, tidak ada keluhan." jawab Dania menyalami Bunda dan memeluknya.
"Hebat kamu, lagi hamil muda bisa naik pesawat segitu lama." Kiki mengacungkan jempolnya, Dania tersenyum lebar mendengar komentar Bunda.
"Malah jumat mau naik pesawat lagi Bunda." Nanta terkekeh.
"Mau kemana?" tanya Nona yang ikut mendengar obrolan mereka.
"Ke Malang." Nanta tersenyum.
"Berangkat tidak pakai rembukan, Boy." Kenan langsung saja menyambar merasa dilangkahi.
"Maaf Pa, aku panik waktu Bang Ray bilang Oma ngambek sama aku. Sambil telepon Bang Ray aku pesan tiket." jawab Nanta jujur. Reza terbahak mendengarnya.
"Ngambek bagaimana?" tanya Kenan lagi.
"Karena Dania hamil aku tidak umumkan langsung sama keluarga." jawab Nanta.
"Kamu percaya?" tanya Bunda Kiki tertawa.
"Iya awalnya percaya karena saat kuhubungi Oma tidak mengangkat teleponku." jawab Nanta.
"Kamu dikerjai Raymond, handphone Oma sedang dipegang Raymond tadi." Reza dan Kenan terbahak, Kiki menggelengkan kepalanya, Raymond selalu saja jahil sama adiknya.
"Iya makanya Bang Ray aku kerjai juga." jawab Nanta terbahak.
"Kamu kerjai bagaimana?"
"Nanti jumat aku maunya Bang Ray yang jemput. Tadi Bang Ray sudah tawarkan supir aku tolak, terus tawarkan Kak Roma aku tolak juga. Aku maunya Bang Ray." Nanta cengar-cengir.
"Jumat jadwal Ray padat, Boy." Kenan mengingat ada beberapa tamu penting yang harus Raymond temui.
"Biar saja Bang Ray pusing dulu pikirkan bagaimana menjemput aku, kalaupun dia tidak bisa pasti dia akan melakukan berbagai service untuk minta maaf kan." semuanya langsung terbahak mendengarnya, kedua Abang adik ini selalu saja konyol dan saling sayang dari dulu.
"Aban, pedi teus." komplen Balen yang dari tadi menyimak, mulutnya maju beberapa senti.
"Biar saja, nanti kalau sudah sibuk di kantor, Abang tambah repot lagi atur waktu bertemu Oma." kata Kenan pada Balen.
"Tapi tan Baen mo naik sawat juda." jawab Balen pada Paponnya.
"Nanti ya sama Papon dan Mamon saja naik pesawatnya." janji Kenan pada Balen.
"Papon aja teja teus." tambah monyong saja mulut Balen.
"Nah nah, suara hati istri tersalurkan." Nona langsung saja bernyanyi, semua tertawa jadinya.
"Mamon juga mau naik pesawat itu." kata Reza terkekeh.
"Bang Eja paling tahu deh." Nona mengacungkan jempolnya dengan wajah berbinar.
"Minggu ini saya sibuk." jawab Kenan menatap istrinya.
"Iya seperti yang anaknya bilang tadi kan?" Nona terkekeh, maklumi juga kesibukan suaminya.
"Kita saja Mamon." Nanta menawarkan agar Nona dan Balen ikut tanpa Kenan.
"Duh, kalau tidak ada Mas Kenan mengurus mereka berdua keluar kota aku menyerah." jawab Nona menggelengkan kepalanya.
"Ayo sama aku." Kiki langsung mendaftarkan diri.
"Hei kalian ini, suami ditinggal liburan." protes Reza begitu tahu istrinya minta ikut.
"Hanya dua malam." bujuk Kiki pada Reza.
"Ayolah, aku rindu Raymond." bujuk Kiki lagi saat Reza menggelengkan kepalanya.
"Ck... sabtu pagi saja berangkatnya, aku padatkan jadwal dihari jumat." Reza akhirnya mengalah.
"Eh yang benar saja semua berangkat, aku sendiri dong, kalau Bang Eja tinggal masih enak aku bisa kabur kesini." protes Kenan pada Abangnya.
"Kamu ke rumah Micko saja." kata Reza pada Kenan.
"Kamu mau berangkat juga?" tanya Kenan pada Nona, sudah jelas Kiki ikut karena Nona mau berangkat.
"Kamu tidak usah ya, biar Balen saja kita titip Nanta dan Bang Eja." kata Kenan yang tidak mau ditinggal sendirian.
"Tuh Balen kamu naik pesawatnya sama Abang saja, mau kan?" tanya Nona pada Balen.
"Boeh aja." jawab Balen sok tua. Nanta terkikik geli.
"Balen berangkat sama Abang apa sama Ayah?" tanya Nanta pada adiknya.
"Aban don, tan bisa dendong Baen." jawab Balen pada Abangnya. Nanta menganggukkan kepalanya sambil tertawa.
"Ayah juga masih kuat Balen." kata Reza sedikit protes.
"Tapi Ayah udah tua tan." jawab Balen santai membuat semua terbahak.
"Tahu saja yang masih muda." Kenan menggelengkan kepalanya sambil mengacak anak rambut Balen.
"Ichi tindal deh, Baen naik sawat duu." kata Balen pada Richi. Wajah Richi langsung memelas menatap Nanta minta diajak. Nanta jadi tidak tega langsung menggendong Richi.
"Bagaimana ini?" tanyanya bingung pada Papa dan Mamon.
"Ichi temani Papon sama Mamon ya." bujuk Kenan pada bungsunya.
"Nak..." Richi menggelengkan kepalanya, mau ikut naik pesawat juga dia.
"Nanti Mamon tidak ada yang temani dong kalau pergi semua, Papon kan sibuk juga." keluh Nona melihat kedua anaknya ingin ikut Nanta.
"Tasian Mamon Ichi, nanti nanis Mamon tita." kata Balen pada Richi, paling bisa memang, mentang-mentang posisinya sudah aman. Yang lain senyum-senyum melihat gaya Balen.
"Itut..." bisik Richi pelan pada Nanta.
"Duh aku mana tega kalau begini." kata Nanta pada Papanya.
"Iya kita nanti menyusul ya, biarkan Abang, Kak Dania dan Balen yang berangkat lebih dulu." kata Kenan pada Richi.
"Jangan bohongi anak kecil loh Mas." Nona langsung saja memperingati suaminya.
"Selain itu Papa terkesan memberi harapan pada Mamon." Nanta ikut menimpali, yang lain terkikik geli.
"Siapa yang bohong sih." kata Kenan pada Nona.
"Kita berangkat?" tanya Nona berharap.
"Satu malam saja tapi." kata Kenan pada istrinya.
"Ish, mana berasa hanya satu malam." Nona kembali bersungut.
"Iya atau tidak sama sekali? Saya cuma bisa berangkat sabtu sore, hari minggu sore saya sudah harus di Jakarta." tegas Kenan pada istrinya. Nona langsung mikir saja menimbang-nimbang ia harus berangkat apa tidak.
"Ok ya keputusan ada sama kamu sekarang." jawab Kenan menyerahkan sepenuhnya pada Nona. Sudah berasa tidak punya hutang lagi karena sudah menyiapkan waktu untuk anak istrinya.
"Tanggung ya, jadi bingung aku." Nona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ichi, kita liburan yang dekat-dekat saja ya tidak usah naik pesawat." bujuk Nona pada Richi.
"Liburan kemana?" tanya Reza pada Nona.
"Pulau seribu saja ya Mas, Richi kan belum pernah naik kapal. Mau Ichi kita naik kapal laut?" Nona menawarkan anak bungsunya.
"Auuu." Ichi menganggukkan kepalanya senang.
"Tuh Mas, Ke Pulau seribu saja." kata Nona cengar-cengir.
"Baen?" tanya Balen bingung, tergiur juga ingin naik kapal laut. Nanta terkekeh mendengarnya.
"Kamu ah labil." protes Nanta pada adiknya.
"Naik tapal laut Baen beum penah tan." jawab Balen, Kenan terkekeh mendengarnya.
"Balen ikut Papon sama Mamon saja kalau begitu." kata Kenan pada Balen.
"Ote..." jawab Balen senang.
"Tuh Bang, mau ke Malang apa ke Pulau Seribu saja kita?" tanya Kenan pada Reza.
"Seru juga ya, Pulau seribu saja deh Kak Eja." Kiki terprovokasi, tidak jadi melepas rindu sama Raymond.
"Sama saja kamu sama Balen, labil." Reza tertawakan Kiki, yang lain juga ikut begitu
"Tos don tita." kata Balen pada Bundanya, tambah tertawa saja mereka mendengarnya.