
"Aku pakai baju apa?" tanya Deni dengan nafas memburu, ia memandangi Kenan dan Baron yang sudah rapi dengan baju batiknya.
"Mau kemana?" tanya Baron menggoda Deni.
"Lamaranku diterima, Papa tolong aku harus bagaimana, Mas Kawin pakai ATM saja boleh ya, sebutkan saja isi saldonya." kata Deni panik.
Tidak lama Nanta dan Samuel juga datang dengan nafas tersengal.
"Kalian olah raga apa kejar maling sih?" kata Baron sambil terbahak. Kenan jadi tertawa juga, dasar Bang Baron bercanda terus, kekeh Kenan dalam hati.
"Aku siap-siap dulu." kata Nanta sambil tertawa, berjalan menuju kamarnya. Nona juga tertawa melihat ketiganya.
"Lawak sekali sih kalian." kata Nona masih tertawa sementara Samuel terkikik dan langsung meminta istrinya bersiap juga anak-anaknya.
"Om Deni, bajunya sudah disiapkan di sana kata Doni." teriak Nanta sebelum memasuki kamarnya.
"Jadi kamu pakai batik saja sama celana panjang hitam." perintah Baron pada Deni.
"Emas mama tukar sama logam mulia gue, mau? jadi kasih Emas Kawin logam mulia." kata Nona pada Abangnya.
"Ya sudah." jawab Deni pasrah. Ia segera kekamarnya bersiap diri, ini benar-benar diluar bayangan Deni.
"Balen, Ichi tinggal saja ya." kata Nona pada Kenan.
"Ajak saja masa tidak hadir pernikahan Omnya." kata Kenan pada istrinya, Nona langsung bersiap merapikan kedua anaknya tentu saja atas bantuan pengasuh.
"Setelah Balen dan Ichi selesai, bantu si Kembar Ncusss." kata Nona melihat istri Samuel kerepotan. Ncusss iya saja.
Tidak begitu lama, semua berdandan ngebut tapi tetap cantik sesuai dengan keahlian masing-masing. Nona memakai kebaya hingga terlihat beda sendiri. Dania menggunakan Mini dress sedengkul sedangkan istri Samuel menggunakan tunik dan celana panjang, mengajak si kembar tanpa pengasuh mana bisa memakai gaun panjang ataupun kebaya, bisa tersandung nanti. Kalau Balen dan Richi bisa dekat dengan. siapa saja, beda dengan si kembar.
"Oke semua sudah siap." Kenan tersenyum memandang Deni yang tampak berkeringat padahal masih pagi.
"Tidak sarapan dulu?" tanya Nanta pada yang lain.
"Sudah ada di Bus." jawab Kenan terkekeh.
"Papa kapan sewa bus?" tanya Nanta heran melihat Mini Bus sudah terparkir didepan rumah.
"Pak Jonas yang urus semuanya." jawab Kenan, Nanta pun menganggukkan kepalanya.
"Nanti biar Deni yang tanggung semua biaya." kata Baron pada Nanta.
"Om Deni bicarakan saja setelah menikah." kata Nanta pada Deni. Calon mempelai pria mengangguk saja, sudah tegang duluan sejak membaca pesan dari Dini dan Doni.
"Baen nantuk, Mamon." rengek Balen tidak mau ikut, walaupun sudah pakai baju bagus.
"Kamu dirumah saja sama Ichi dan Ncusss ya." kata Nona yang memang malas mengajak kedua anaknya, karena pasti akan rusuh dan tidak betah.
"Ikut saja Nanti pangku Abang." Nanta menawarkan pada adiknya.
"Mau mana sih tita?" tanyanya pada Nanta.
"Antar Om Deni jadi manten." jawab Nanta pada adiknya.
"Oh taya Aban duu ya?"
"Iya, mau ikut kan?"
"Yah." jawabnya setuju setelah dijelaskan oleh Nanta.
"Mamon, Baen dudut sama Aban ya." katanya pada Nona saat akan menaiki Bus.
"Tanya Kak Dania dulu." kata Nona pada Balen.
"Tania boeh ya?" pintanya pada Dania.
"Iya boleh, Tania sama Ichi saja." jawab Dania tersenyum.
"Tapi detet-detet yah janan jauh." katanya pada Dania.
"Apa sih detet detet." goda Baron pada cucunya.
"Ah, Opon nih." Balen merajuk karena digoda Opanya.
"Opon bercanda." kata Baron tertawa menciumi cucunya yang sudah memilih bangku lebih dulu.
Perjalanan berjalan sedikit tersendat, sesuai perkiraan Nanta satu jam kemudian mereka tiba dirumah Doni yang sudah tampak ramai, banyak saudara Doni yang sudah hadir, bahkan Mike Dan Larry juga sudah standby disana ikut sibuk membantu Doni yang wara-wiri mengecek kesiapan acara.
"Jadi saudara yess." sambut Doni senang sambil menggoyangkan tangannya, seperti habis memasukkan bola ke ring basket.
"Hahaha sama Mike saudara, sama elu juga saudara." Nanta terbahak senang juga.
"Kita berempat saudara dong." kata Larry pada Nanta.
"Oh tentu sudah seperti saudara." jawab Nanta berbinar-binar.
"Aban..." teriak Balen yang merasa diabaikan Abangnya, ia menggaruk lehernya yang kemerahan karena ac dibus dirasanya kurang dingin.
"Oh iya Abang janji mau sama Balen terus ya." kata Nanta menggendong Balen.
"Balen, sama Aban Leyi dong." kata Larry menggoda Balen.
"Baen masih nantuk, Aban." katanya pada Larry. Kemudian merebahkan. kepalanya dibahu Nanta.
"Aduh singkong cantik Aban Leyi habis begadang ya." Larry kembali menggoda Balen.
"Kenapa begadang?" tanya Nanta heran.
"Opon tawana bicik." katanya mengadu, rupanya saat Baron tertawa menggelegar semalam Balen terbangun dan tidak tidur lagi sampai Kenan bersiap ke Mesjid.
"Lihat Om Deni yuk." ajak Nanta pada semuanya, ia mau menemani Om Deni di ruang ganti. Balen masih dalam gendongannya dan mulai tertidur.
"Kalau capek gantian." kata Larry menawarkan.
"Tidurkan dikamar tamu saja." Kata Doni.
"Nanti saja, kalau tidak ditemani menangis nanti." jawab Nanta sambil berjalan di ruang ganti, tampak Om Deni ditemani Papa dan Padeh.
"Panggilnya sudah boleh Mas Deni belum nih?" tanya Doni menggoda Deni.
"Hahaha boleh." sahut Padeh semangat, ia juga sedang dipasangkan kain khas daerah.
Setelah semuanya terlihat sempurna, Deni dan Baron diarahkan menuju meja tempat akad nikah berlangsung. Penghulu juga sudah datang, Kenan diminta menjadi salah satu saksi nikahnya. Satu saksi lagi dari keluarga kerabat Dini.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya ... Binti ... dengan mas kawinnya yang tersebut tunai." ucap Kabul Deni dengan lantang tanpa membaca. Semua menarik nafas lega apa lagi Deni.
"Bagaimana Sah?"
"Sah." jawab hadirin yang ada dalam ruangan tersebut. Nanta dan Doni saling tos karena mereka berhasil menjodohkan keduanya.
"Yes dapat mesjid di surga." kata Doni senang.
"Aamiin." jawab ketiga sahabatnya bersamaan. Balen sudah tidur di pangkuan Nanta. Dania asik bicara dengan Dona, tadi sudah dikenalkan oleh suami mereka. Richi bersama Nona duduk manis tanpa dipangku.
Deni terpaku saat melihat Dini diantarkan oleh kedua saudaranya. Yang membuat Deni bahagia, Dini asik menebar senyumnya pada siapapun yang dilihatnya, semakin terlihat cantik.
"Cita-cita Om Deni tercapai." kata Nanta pada sahabatnya.
"Apa?" tanya Mike ingin tahu.
"Menikah dengan bahagia, dia khawatir Kak Dini dipaksa."
"Mana ada dipaksa, dari awal bertemu Mas Deni juga Kak Dini sudah bilang suka sama Mas Deni." Doni terkekeh.
"Tidak bilang ih." sungut Nanta.
"Tidak tanya." kata Doni tertawa senang.
"Mau menikah dong gue." kata Mike pada sahabatnya.
"Carikan jodoh." pintanya lagi berharap sahabatnya punya stok gadis yang bisa dijadikan istrinya.
"Mantan gue yang kemarin lagi cari jodoh." kata Larry disambut tawa ketiga sahabatnya.
"Siapa yang mau sama perempuan begitu." kata Mike sewot.
"Eh nanti jodoh loh." kata Nanta tertawakan Mike.
"Ngomong yang benar, gue mendingan nunggu Balen besar dari pada menikah sama mantannya Larry." kata Mike, lagi-lagi ketiganya tertawa.
"Ndak..." sahut Balen sambil menggelengkan kepalanya, rupanya ia terbangun karena Abang dan sahabatnya sangat berisik.
"Tuh Balen tidak mau." kata Larry senang, diulurkannya tangannya pada Balen, agar pindah kepangkuannya. Balen menurut saja.
"Iya lah tidak mau, masa Balen menikah dengan pria tua sih. Cari yang muda lah." sahut Doni memandang Mike.
"Itu kan hanya perumpamaan Balen, dari pada sama mantan aban leyimu, Balen sih diambil hati. Singkong Rebus ah bikin malu Abang Mike saja." cerocos Mike sambil menjawil Pipi Balen. Balen terkikik geli.
"Baen mantena masih ama Aban." katanya pada Mike.
"Iya Aban maunya sekarang." kata Larry mewakili Mike.
"Aban Leyi tapan?" tanya Balen membuat Larry terkekeh.
"Maunya sih dalam waktu dekat, doakan dong Aban segera jadi manten." kata Larry pada Balen.
"Orang stress gitu ya, curhatnya sama bocah." bisik Mike pada Nanta dan Doni, tentu saja terdengar oleh Larry.
"Butan setes Aban." protes Balen membela Abang Larry kesayangannya.
"Ah Balen mah Abang Larry dibela terus, Abang Mike diabaikan." sungut Mike kembali menjawil pipi Balen.
"Nah elu juga stres deh, bocah diambekin." kata Larry tertawakan Mike.
"Carikan jodoh makanya." kata Mike lagi.
"Itu saudara Doni banyak." kata Nanta menunjuk kumpulan gadis di pihak keluarga Doni.
"Hahaha nanti ya, ditanya dulu mereka masih abege soalnya, mau sama abege?" tanya Doni.
"Maunya sama yang siap menikah." kata Mike membuat Nanta mengusap wajah sahabatnya.
"Apaan lu." protes Mike karena wajahnya diusap Nanta.
"Buka aura." jawab Nanta terbahak.
"Rese." mereka berempat heboh sendiri, seperti tidak peduli dengan lingkungan sekitar walaupun sesekali pandangan mereka kearah pengantin baru yang sedang berbahagia.