I Love You Too

I Love You Too
Rendah diri.



"Sudah bicara dengan Cyla, Boy?" tanya Reza pada Nanta begitu ia kembali keruangan.


"Mbak Cyla tidak ada diruangan. Mungkin sedang keliling." jawab Nanta kembali duduk dibangku yang tadi pagi Reza tunjuk.


"Ayah kira kamu sudah bicara sama Cyla, lama sekali disana." Reza terkekeh.


"Tadi bicara dengan staffnya Mbak Cyla, Jonathan dan Wari. Eh mereka pencinta basket rupanya, ajak aku foto bersama." Nanta ceritakan pada Ayah.


"Pasti Wari masukkan ke Media Sosial Warung Elite itu." tebak Reza yakin.


"Tadi juga dia bilang begitu." Nanta terkekeh.


"Kalau sudah begitu tidak usah undang group musik juga Ayah yakin cabang ini akan ramai." kata Reza senyum-senyum pandangi Nanta.


"Karena ada foto aku?" Nanta kurang yakin.


"Iya." sangat yakin.


"Ayah terlalu banggakan aku deh, aku tidak seterkenal itu." Nanta tertawa.


"Itu kan menurut kamu. Boleh dong kita beda pendapat?" Reza mengacak anak rambut Nanta, duh kalau Cyla atau staff lain lihat bisa malu Nanta, ini kan bukan dirumah. Ayah masih saja perlakukan Nanta seperti tidak dikantor saja.


"Ayah nanti ada yang lihat dan kira aku anak manja." sungut Nanta membuat Reza terbahak.


Pintu ruangan Reza diketuk, tidak lama muncul Cyla yang tadi dicari Nanta. Nanta langsung tersenyum pada Cyla.


"Katanya Bapak cari saya?" tanya Cyla pada Nanta.


"Mbak Cyla bisa siapkan waktu untuk kita melihat pengisi acara hari jumat saat latihan?"


"Hmm..."


"Iya saya mau lihat mereka latihan Cyla, kata Nanta permainan musik mereka luar biasa. Saya jadi penasaran." Nanta lagi saja acuan Reza, Cyla tersenyum tipis. Yang seperti ini namanya Nepotisme bukan sih? pikir Cyla dalam hati.


"Iya nanti saya konfirm dulu Pak, kapan jadwal latihan mereka." Cyla anggukan kepalanya, sudah pasti tidak berani menolak permintaan Reza, diantara mereka berempat, Reza yang paling disegani oleh seluruh pimpinan cabang. Bukan berarti yang lain tidak, tapi sama yang lain para staff lebih berani bernegosiasi.


"Saya tunggu ya Cyla."


"Iya Pak Reza." jawab Cyla menghela nafas. Kemudian tinggalkan Reza dan Nanta diruangannya.


"Mbak Cyla ini jelas sekali tidak suka dengan kehadiran aku." kata Nanta sepeninggalan Cyla.


"Dia hanya tidak bisa bersaing." jawab Reza.


"Bukannya dia suka bersaing?"


"Justru awalnya dia merasa kamu bukan lawan yang tepat untuk diajak bersaing, anak kemarin sore sih ya. Tapi rasanya dia akan segera tahu kalau dia salah besar." Reza terkekeh kembali mengacak anak rambut Nanta.


"Ish Ayah, aku tuh sudah bilang Ayah terlalu membanggakan aku, jadi Cyla senewen deh tuh."


"Memang Ayah bangga." jawab Reza tertawa.


"Ya air laut siapa juga yang garami." Nanta ikut tertawa.


"Boy, kamu jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri, Ayah tidak suka." tegas Reza pada Nanta.


"Aku tidak rendahkan diri Ayah, seperti biasa saja serba mengalir. Nanti juga Cyla lihat sendiri kinerja aku. Ini kan dunia baru buat aku ya, makanya aku masih diam sambil pelajari semuanya, perlu sedikit beradaptasi. Seperti yang aku bilang karakter tiap orang berbeda-beda, Pelanggan begitu, rekan kerja pun begitu." jawab Nanta pada Ayah Eja.


"Iya Ayah setuju kalau begitu, tapi kalau ada yang merendahkan kamu, jangan biarkan itu. Coba tadi kalau Ayah tidak datang, Cyla minta kamu didapur, kamu ke dapur?" Reza mengerutkan dahinya.


"Mungkin iya, loo aku akan belajar di dapur sesuai dengan yang harus aku tahu saja tapi, bukan untuk belajar masak, aku rencananya tadi mau hubungi Bang Chico, pelajari alur keluar masuk bahan baku." Nanta tersenyum pandangi Ayah.


"Pintar juga kamu, Ayah tidak terpikir kamu akan lakukan itu. Tahu kan kenapa Ayah bangga sama kamu? Kamu itu suka lakukan hal-hal yang orang lain belum pikirkan tapi kamu sudah melangkah lebih dulu." Reza membuat Nanta terbahak.


"Anak siapa dulu dong." Nanta terkekeh.


"Anak Ayah lah." jawab Reza sepertinya melupakan Kenan hahaha.


"Ayah, Papa sama Papa Micko mau makan siang disini." Nanta perlihatkan pesan Kenan yang baru saja dibacanya


"Mereka itu ya, baru juga satu hari kamu disini, sudah datang saja." Reza gelengkan kepalanya.


"Kebetulan lewat Ayah, mereka kan pelanggan juga." Nanta tertawa.


"Ayah, aku juga dapat tawaran dampingi Balen untuk jadi model iklan makanan sehat loh." lanjut cerita yang lain.


"Ayah tahu." jawab Reza santai.


"Ayah selalu tahu lebih dulu sebelum aku lapor." Nanta menggelengkan kepalanya.


"Kebetulan saja karena berhubungan dengan Unagroup. Raymond juga yang kasih tahu Ayah."


"Ish Bang Ray yang jauh begitu bahkan sudah tahu." Nanta gelengkan kepalanya.


"Steve pasti lapor sama Ray, Boy." Reza tertawakan Nanta.


"Aku tidak bisa punya rahasia deh kalau begini." sungut Nanta.


"Apa juga yang mau kamu rahasiakan." Reza terbahak. Senang sekali bisa bersama Nanta hari ini sampai jumat. Ada saja yang membuat Reza tertawa.


"Ayah aku hubungi Bang Chico ya?" ijin Nanta pada Ayah Eja, lanjut lagi urusi pekerjaan.


"Oh iya dong, kalian kan memang harus bertemu, karena nantinya semua ini tanggung jawab kalian." jawab Reza persilahkan Nanta bergerak sesuai dengan jalurnya. Nanta mengangguk dan langsung menghubungi Chico melalui handphonenya.


"Assalamualaikum Nanta, apa kabar, dek?" sambut Chico saat menjawab telepon dari Nanta. Bang Chico ini yang paling kalem diantara rombongan Bang Raymond.


"Waalaikumusalaam, Alhamdulillah sehat. Sibuk Bang?"


"Sedikit, tapi lebih sibuk kamu lah pasti." Chico terkekeh.


"Sibuk apa? biasa saja aku mah. Aku mau belajar sama Bang Chico dong. Kapan Abang ada waktu?" tanya Nanta langsung pada Chico.


"Oh iya, banyak yang harus kamu tahu, dek. Abang lihat kalender dulu ya. Besok kamu pertemuan di Unagroup kan? lusa saja bagaimana? sebelum kamu syuting iklan ke S'pore." jawab Chico membuat Nanta mengerutkan dahinya.


"Itu jadwal yang aku sendiri saja belum tahu, Abang sudah tahu duluan."


"Salahkan Steve tuh, kenapa juga bahas kamu di group kita." kata Chico tertawakan Nanta.


"Memang kapan aku ke S'pore?" tanya Nanta pada Chico, langsung saja tanya sama Bang Chico, padahal Steve atau Aditia belum hubungi Nanta.


"Minggu depan kalian syuting, Steve mau secepatnya saja bertemu kamu dan rombonganmu." jawab Chico sesuai yang dia tahu.


"Bang, memangnya tidak ada pembahasan lain di group Abang? kenapa bahas pekerjaan sih?" Nanta tertawakan Chick dan rombongannya.


"Mau bahas apalagi, kita nih sekarang aktifitasnya cuma kerja dan keluarga saja. Jadi itu saja yang dibahas, Mau saling bertemu sudah pada sibuk dan jauh, beda kota, beda negara."


"Dek, Jangan lupa loh, mantan jodohmu menikah dua minggu lagi." Chico ingatkan Nanta pada Wilma.


"Coba itu Bang, kenapa juga bilang mantan jodoh." Nanta terbahak.


"Kan kalian pernah dijodohkan." Chico ikut terbahak.


"Menikahnya sama sahabat aku loh. Wilma beruntung dapat Ando." kata Nanta sungguh-sungguh.


"Iya betul kamu Nan, Allah selalu pilihkan orang yang tepat ya." Chico setujui ucapan Nanta.


"Iya, Bang. jadi lusa kita bertemu dimana Bang? Aku ketempat Abang atau bagaimana?"


"Kamu tunggu disana saja, Abang yang ke Cabang Selatan. Biar kamu tahu alur penerimaan barang pada saat diantar nanti." kata Chico pada Nanta.


"Oke Bang, see you soon. Makasih ya Bang Chico."


"Abang yang terima kasih, karena Popo sudah tidak rusuhin kita lagi masalah Warung Elite." Chico terbahak, mau tidak mau Nanta ikut terbahak.


Hidup memang lucu ya, Popo Erwin punya tiga penerus sebenarnya, tapi anak-anaknya malah bikin usaha sendiri juga, tidak ada yang bantu meneruskan usaha Popo, Bang Chico juga bantu sebagai supplier karena tidak ada yang terusi perusahaan mertuanya. Jadi kalau sudah begini, tidak pengaruh mau punya anak satu atau lebih dari satu.


Nanta jadi senyum-senyum sendiri, Opa Dwi beruntung anak-anaknya mau membantu teruskan perusahaan Opa, meskipun Ayah Eja harus konsentrasi di dua perusahaan waktu itu dan sekarang Ayah Eja harus mengalah karena Bang Raymond ikut aktif di perusahaan Opa.


"Kenapa senyum-senyum sendiri habis bicara dengan Chico?" tanya Reza kepo.


"Aku kepikiran ini Warung Elite, satupun anak-anak penerus tidak ada yang aktif disini, pada sibuk urusi perusahaan Opanya dan mertua." Nanta menatap Reza sambil tersenyum.


"Sekarang kan ada anak Ayah yang bantu disini, Masalah terselesaikan. Kolaburasi kamu dengan Chico sudah membuat kami sangat lega kok." jawab Reza tersenyum.


"Semoga sesuai harapan, semoga aku tidak mengecewakan Ayah dan yang lainnya." jawab Nanta yang sedikit terbebani, Ayah dan sahabatnya begitu yakin Nanta mampu. Reza menepuk bahu Nanta yang terlihat sedikit tidak percaya diri, tapi Reza maklum karena ini hal yang baru buat Nanta.