I Love You Too

I Love You Too
Nanta



"Nona, bisa sampaikan pada Mama agar Ray yang menjemput. Saya butuh tenaga lelaki untuk membantu saya, sepertinya akan merepotkan jika saya ikut dengan kamu dan dokter Samuel." kata Kenan apa adanya.


"Hmm baiklah, saya juga tidak memaksa sih, hanya saja kita searah dan saya juga akan bertemu Tante Nina." celoteh Nona dengan tangan sibuk pada handphonenya.


"As you wish, Ray akan datang menjemput." kata Nona akhirnya.


"Terima kasih Nona." kata Kenan tersenyum tulus. Nona tidak menjawab hanya tersenyum tapi pada Samuel bukan pada Kenan.


Tari sudah selesai mengurus proses administrasi. Ia mulai membereskan barang-barang pribadi Kenan dibantu Bagus.


"Siap berangkat?" tanya Tari memandang Kenan dan Tari bergantian.


"Tunggu Ray dulu." jawab Kenan


"Bukannya sama Nona?"


"Nona ada acara dengan dokter Samuel." Kenan tersenyum pada Samuel. Samuel mencebikkan bibirnya.


"Kalian duluan saja." kata Kenan pada dokter Samuel dan juga Nona.


"Hmm kita sudah diusir, ok lah mas Kenan, sampai jumpa nanti malam." kata Nona menarik tangan Samuel meninggalkan ruangan.


"Cepat sembuh Pak Kenan." kata dokter Samuel.


"Terima kasih dokter Samuel."


"Kalian mau pulang?" tanya Kenan pada Bagus dan Tari.


"Nanti saja kita sama-sama." kata Bagus santai.


"Kalian menginap disini atau kembali ke Malang?"


"Mungkin menginap, kami mau melanjutkan honeymoon kami yang gagal kemarin." Bagus tampak menyeringai, wajahnya tampak jahil.


"Hahaha maafkan, saya membuat berita yang mengandung adrenalin."


"Bukan lagi, jantung serasa mau lepas." gerutu Tari dengan wajah memberengut.


"Tadi kukira Nona pacar barumu, mas." Tari mulai kepo. Kenan tertawa, malas berkomentar. Biarkan saja Bagus dan Tari bermain di alam pikirannya.


"Kalau pacar, saat kita menikah pasti diajak." analisa Bagus lumayan juga, bikin Kenan meringis.


"Masih memikirkan Sheila? kejarlah mas. Dari pada nanti ketemu selain Sheila ujungnya bubar lagi." ceplos Tari, tak peduli apa yang dipikirkan suaminya nanti. Tapi Bagus santai saja menyimak


ucapan Tari.


"Sudah lama tidak bertemu Sheila." jawab Kenan apa adanya.


"Nah sekalinya bertemu galau lagi, kusut sekali hidupmu, mas. Mestinya sudah bahagia dengan anak istri, malah buang waktu percuma." Tari membangkitkan luka lamanya. Nanti dia sendiri yang sakit, batin Kenan.


"Nanta tidak kamu ajak kesini? apa dia masih membenci bapaknya ini?" Kenan teringat bujang semata wayangnya. Yang selalu memandang Kenan dengan penuh kebencian. Ia merasa Kenan sudah menyakiti hati ibunya dengan berselingkuh. Padahal Kenan tidak pernah menjalin hubungan dengan Sheila. Hanya beberapa kali makan bersama, juga membantu Sheila saat ia sedang dalam kesulitan dan sialnya selalu bertemu dengan Tari yang saat itu sedang bersama Nanta.


"Kami dari bandara langsung kesini, jadi belum mengabarkan Nanta juga." jawab Bagus cepat. Sekarang dibanding dengan Kenan, Bagus tampak jauh lebih dekat dengan Nanta.


"Gus, bantu saya menjelaskan pada Nanta bahwa saya tidak pernah berselingkuh dengan Sheila atau siapapun. Jelaskan semua yang kamu tahu."


Raymond tiba dengan senyum diwajahnya. Teringat tadi bagaimana Oma dengan jahil meminta Raymond supaya tidak menjemput Kenan. Oma ingin Kenan pulang bersama Nona. Tapi Reza menjelaskan kondisi seperti Kenan pasti ada rasa tidak nyaman, pada akhirnya Oma pun mengerti.


"Sorry lama Om." katanya sambil memainkan kunci Mobil.


"Kamu sendiri? Ayah tidak ikut?" tanya Kenan.


"Masih kerja, Ayah." jawab Raymond, kemudian "Tante dan Om Bagus sudah lama?" tanya Raymond.


"Lumayan, sempat kenalan sama pacar Om kamu." jawab Tari jahil.


"Ih itu bukan pacar Om Kenan tante, Nona itu calon istri, iya kan Om?" goda Raymond terkekeh.


"Puas ya menggoda saya. Mumpung lagi tidak berdaya." dengus Kenan kesal. Semua tertawa senang sekali mereka melihat Kenan tidak bisa membalas.


Dengan menggunakan kursi roda, Kenan didorong oleh Bagus, sementara Raymond dan Tari membawa perkakas Kenan kemobil. Mereka berjalan dengan cepat. Sementara Bagus mendorong Kenan dengan santai.


"Benar ya Gus, bantu perbaiki hubungan saya dengan Nanta. Marahnya terlalu lama anak itu."


"Boss tidak pernah menghubungi Nanta? menjemputnya di sekolah mungkin?"


"Pernah di jemput di sekolah, lompat pagar dia menghindari Saya. Membahayakan, sejak saat itu Saya tidak berani menghampiri ke sekolahnya."


"Ray sudah bantu belum? Asal boss tahu, Nanta sangat menurut sama Ray."


"Masa?"


"Coba saja Ray telepon Nanta, suruh dia ke Jakarta. Pasti Nanta datang."


"Sedekat itu ya. Saya kehilangan banyak waktu dengan Nanta."


"Boss sibuk bekerja. Benar-benar sibuk atau pelarian Boss. Benar masih memikirkan Sheila?"


"Benar sibuk. Sheila...hmm." pikiran Kenan tampak menerawang. Sejak perpisahan dengan Tari, Kenan juga tidak pernah menghubungi Sheila. Hubungan mereka juga renggang ketika Sheila tahu rumah tangga Kenan gonjang-ganjing.


Pertemuan terakhir dengan Sheila ketika mereka sedang berada di cafe dekat kantor Kenan, saat itu Tari sudah melayangkan gugatan cerainya pada Kenan, tiba-tiba Nanta menghampiri Kenan dan Sheila. Cuma satu kata, ya satu kata yang Kenan ingat sampai sekarang dan tatapan penuh kebencian yang belum juga hilang setiap bertemu dengan Kenan. Disitu Kenan memutuskan bahwa itu adalah pertemuannya yang terakhir dengan Sheila.


"Brengsek... kalian berdua brengsek." desis Nanta saat itu dan berlalu meninggalkan Kenan dan Sheila yang terbengong tak bisa berkata-kata. Tidak ada keributan yang Nanta buat, tapi kata-kata itu sangat menusuk hati dan membekas hingga sekarang.


Kenan akui ia memang brengsek. Tidak memikirkan perasaan istri dan anaknya. Kenan akan langsung berlari saat Sheila menelepon sambil menangis. Rasanya ingin selalu saja menghibur Sheila. Sejak peristiwa di cafe Nanta seperti tak melihat kehadiran Kenan. Ia memilih aksi tutup mulut. Diajak bicara pun seperti tidak mendengar. Kenan tahu Nanta hanya pura-pura tidak mendengar. Kebenciannya pada Kenan seperti mendarah daging. Mungkin kalimat terakhir Nanta untuk Kenan saat di cafe itu. Kenan yang membuat Nanta kurang ajar padanya. Kenan sadar itu.


Tapi Kenan juga tidak bisa mempertahankan pernikahannya dengan Tari karena jujur memang hanya ada Sheila dihatinya. Kemarahan Nanta membuat Kenan sadar, ia tidak lagi bisa memikirkan kesenangan ya sendiri, ada hati yang harus ia jaga, bukan hanya memikirkan hati dan perasaannya sendiri. Ia juga harus memikirkan perasaan Nanta putra semata wayangnya yang masih dalam proses pencarian jati diri.


"Boss, naik pelan-pelan. Kaki jangan injak lantai ya." kata Bagus menyadarkan Kenan, ia harus berusaha naik kedalam Mobil digendong Bagus dan Raymond. Kursi roda yang ia naiki tadi rupanya sudah dipersiapkan Reza, dikira Kenan tadi milik rumah sakit.


"Kapan belinya, Ray. Ayah memang handal ya." kekeh Kenan melihat Raymond sibuk melipat kursi roda untuk dimasukkan kedalam bagasi.


"Ayah juga sudah beli walker dan tongkat untuk Om." Kenan kembali terkekeh, persiapan abangnya benar-benar matang.


"Makasih ya Gus, Tari. Happy honeymoon. Cepat kasih adik buat Nanta." Kenan terkekeh dan melambaikan tangannya pada Bagus dan Tari. Bagus dan Tari tertawa dan balas melambaikan tangan pada Kenan dan Raymond.


"Hati-hati." teriak pasangan pengantin baru itu.