
Mario menarik nafas lega, memandang wanita yang kini berdiri dihadapannya. Dikecupnya kening Regina yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Terima kasih." bisiknya pada Regina, membuat kening sang istri berkerut. Terima kasih untuk apa? bukankah mereka melakukan ini karena terpaksa. Mereka diancam dengan cara yang berbeda.
Papi dan Mami Mario tak kalah leganya. Kini anaknya sudah menikah dengan wanita pilihan mereka.
"Jadi ingat kita dulu ya Mi." Bisik papi mengenang saat menikah dengan istrinya, mereka pun dijodohkan, cinta itu datang karena terbiasa.
"Semoga mereka bisa saling mencintai." balas Mami, ada sedikit kekhawatiran mengingat penolakan Mario yang sangat keras saat diawal.
Pesta taman yang hanya mengundang keluarga dan sahabat terdekat, tak banyak yang diundang sesuai permintaan Mario, tak ingin dipublikasikan dan tak ingin dikenal sebagai putra pemilik Unagroup.
Mario dan Regina menghampiri papi dan mami, disambut tangisan haru kedua orang tuanya
"Mami titip Mario ya Re." kata Mami saat memeluk Regina disela isak tangisnya. Regina tak kalah terharu, terbawa suasana ikut menangis. Teringat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Yo, kamu jaga Regina ya sayang, jangan ributkan hal-hal yang tak perlu, jika salah satu marah sebaiknya salah satu sabar. Berbahagialah nak, cintai dan sayangi istrimu." Pesan papi pada putranya. Mario tersenyum menganggukkan kepala.
"Apa boleh setelah acara, kami kembali ke Jakarta Pi?" tanya Mario.
"Boleh, Papi juga langsung ke S'pore, kalian pulang ke rumah utama saja, jangan ke apartemen sempit mu itu." Hmmm papi masih saja mengatur.
"Terlalu besar untuk kami berdua pi." jawab Mario.
"Mario sudahlah, turuti kata papi, rumah utama terlalu lama kosong. Tinggal lah disana. Regina juga tidak kesepian disana karena banyak pekerja yang menemani." Mami mulai bersuara, sependapat dengan papi. Mario menarik nafas panjang.
Bagaimanapun tak bisa membantah keinginan kedua orangtuanya, hanya satu yang Mario bisa, tak ikut pindah ke S'pore saat Papi memutuskan untuk tinggal disana.
Setelah menyetujui keinginan papi dan mami untuk tinggal dirumah utama, Mario menggandeng Regina menghampiri sahabatnya berikut pasangannya. Ups Andi dan Erwin belum ada pasangan, tapi kali ini ada Cindy dan Ema yang mewakili.
"Congrats Friend, langgeng sampai akhir hayat." Reza menyalami sahabatnya juga sang istri.
"Amin." jawab Mario dan Regina bersamaan.
"Ke Jakarta jam berapa?" tanya Mario.
"Pesawat jam dua, nanti jam empat ijab kabul." jawab Reza sambil melirik pergelangan tangannya. Masih jam 11 lewat 20 Menit. Jam 1 lah kebandara, pikirnya.
"Gue ikut friend." jawab Mario membuat yang lain terhenyak.
"Hei ga nyantai dulu disini friend, malam pertama." kata Erwin yang fokusnya ke belah duren saja.
"Di Jakarta kan bisa friend. Lu buka kamar dihotel Monik?" tanya Mario pada Reza.
"Iya, lu mau? biar dipesan Monik sekalian, kalian gimana friend, katanya pada Andi dan Erwin.
"Gue balik friend, ngapain gue sekamar sama Andi lagi." sungut Erwin. Andi langsung memoles kepala Erwin.
"Cindy, Ema kalian bagaimana?" tanya Regina memikirkan sepupunya. Mario berdecak bagaimana bisa melupakan tamu undangan Regina.
"Kami pesawat pukul dua setengah ke KL." jawab Ema. Maksudnya pukul setengah tiga sore.
"Ga ke jakarta dulu? baru sebentar ketemunya. Temani aku ke acara Monik" bisik Andi pada Cindy yang sedari tadi berdiri disebelahnya.
"Sudah beli tiket, lagi pula aku kesini kan menemani Ema, bukan untuk ketemu kamu." tegas Cindy. Andi menarik nafas, bola matanya berputar seakan berfikir.
"Minggu depan aku ke KL ya." bisiknya lagi takut terdengar oleh yang lain. Cindy menganggukan kepalanya senang.
"Kaya ga pernah muda aja Ki." jawab Andi.
"Ish emang kita sudah tua Kak?" tanyanya pada suaminya, Reza hanya terkekeh mengacak poni istrinya.
"Kalian yang sudah menikah, ya ga muda lagi lah. Selamat datang didunia orang tua." kata Andi lagi.
"Ish kita halal friend mau ngapain bebas, ga pakai zat ketakutan." jawab Mario.
"Maksudnya?" Regina tak mengerti minta penjelasan.
"Kalau pacaran, mau kissing kan takut kebablasan Re, kalau sudah halal kan bebas mau pakai semua gaya." Jawab Mario sambil melirik Andi. Regina tersipu malu dibuatnya.
"Rese." Andi cengengesan dan tak bisa membalas lagi.
"Hmmm..tunggu ya, gue juga bentar lagi ngelamar anak orang." Erwin tak mau kalah.
"Hmm kalau anak orangnya mau friend." sahut Andi.
"Deketin orang tuanya lah, kan udah lampu hijau tuh." Mario memberi ide pada Erwin.
"Nah itu, lu gimana Ndi, nanti gue salib nih."
"Gue nyantai friend, Baru juga kenal seminggu, trus cindy juga masih mau kuliah dulu." jawab Andi keceplosan.
"Oo jadi maunya sama Cindy nih?" Kiki menggoda sahabatnya. Cindy tak menjawab, hanya tersenyum saja. Andi pun begitu tak mau memperpanjang. Tak mau terlalu ketahuan sedang mendekati Cindy, walaupun teman-temannya tahu.
"Makan dulu friend, abis itu kita kebandara." kata Mario kemudian. Bukti pemesanan tiket dan kamar hotel sudah diterimanya dari asisten papi. Mereka pun lanjut bersenda gurau ditempat makan. Tangan Mario masih saja menggandeng Regina.
"Gandengan terus friend, ga semutan." Erwin masih saja menggoda sahabatnya. Mario baru sadar dari tadi belum melepas tangan Regina. "Sorry." katanya sambil melepas genggaman tangan, membuat perasaan Regina tak karuan. Regina hanya tersenyum samar menatap Mario. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Ema sepupunya.
"Cepat sekali kamu kembali." kata Regina pada Ema.
"Iya, aku tak enak berlama-lama, kamu saja masih penyesuaian, baru kenal dengan suamimu. Nanti lah kalau kalian sudah akrab, aku berlibur ke Jakarta." Ema tersenyum manis pada kakak sepupu yang sudah seperti saudara kandungnya.
"Kak Mario, aku titip kak Regina, Aku yakin kalian akan saling mencintai." kata Ema pada Mario.
"Hmm..." jawab Mario menaikan alisnya, sambil menikmati puding ditangannya.
"Katakan pada orangtuamu, Regina aman bersamaku. Jangan bikin hutang lagi, nanti kamu pun bernasib sama dijadikan jaminan." tukas Mario membuat hati Ema dan Regina tersayat mendengarnya, tapi apa mau disangkal, memang demikian yang mereka tahu.
"Semoga kalian bahagia." Ema tersenyum menatap kedua pengantin baru itu.
"Balapan bikin anaknya ya, lucu nih kalau hamilnya bareng." celutukan Cindy nyaring terdengar.
"Mau bareng bertiga ga?" tantang Kiki membuat Cindy terdiam.
"Andi udah siap tuh Cin." Reza ikut menantang. Andi menggelengkan kepalanya.
"Butuh waktu friend, kalian duluan aja ga usah tunggu kita." jawab Andi menjulurkan lidahnya pada Reza dibalas dengan pitingan dileher Andi.
Selesai makan dan berfoto ria, mereka kembali kekamar bersiap menuju bandara. Bukan mau gaya-gayaan, Reza dan sahabatnya memesan Pesawat Busines class semarang-jakarta siang ini, mengingat aktifitas mereka dari kemarin hingga hari ini cukup padat dan butuh energi lebih, dalam hal ini kenyamanan sangatlah penting, pikir mereka bisa beristirahat dan tidak sempit dalam perjalanan.
Dibandara kembali suasana haru terjadi, Regina memeluk Ema sambil menitikkan air mata, seakan berat berpisah dengan adiknya.
"Sudah dramanya." Mario mengusap bahu Regina, bagaimanapun ia mengerti apa yang Regina rasakan. Semoga aku bisa membahagiakan kamu batin Mario, entah perasaan apa yang ada dihatinya, tak suka melihat Regina menangis, seakan ingin melindungi.