
"Hahaha baru kali ini sesi foto tertata rapi." Mario terbahak setelah mengajak Andi untuk masuk kedalam ruangan.
"Ini pengunjungnya juga kocak, menurut saja diatur-atur Wari." Andi ikut tertawa geli, ada saja idenya Jonathan dan Wari ini. Pantas saja jadi kesayangannya Cyla walaupun kadang mereka sering adu mulut.
Mario mengangkat handphonenya yang berdering, rupanya Erwin mengecek kondisi di cabang selatan, sekaligus laporkan jika pengunjung cabang Utama sudah mulai berdatangan.
"Disini sudah pada datang dari sebelum makan siang dan mereka tidak pulang lagi." jawab Mario tertawa.
"Beneran lu?" Erwin tidak percaya, pikirnya Mario hanya bercanda.
"Benarlah, untuk apa bohong. Sekarang lagi duduk manis tunggu panggilan sesuai nomor urut." lanjut Mario lagi.
"Panggilan apa?" tanya Erwin.
"Foto bersama bintanglah." jawab Mario tengil.
"Disini belum foto begitu, artisnya bawa bodyguard jadi pengunjung tidak bisa dekati." lapor Erwin untuk kondisi cabang Utama.
"Ah tidak seru, lebih seru disini." Mario terkekeh.
"Bercanda saja kerjanya." gerutu Erwin merasa dibercandai Mario.
"Ish tidak percaya gue keluar ya, gue over ke Video Call angkat." kata Mario pada Erwin. Mario segera arahkan layar pada setiap meja yang telah terisi, kemudian camera mengarah pada Wari yang memanggil nomor antrian, lalu Mario arahkan camera pada pengunjung yang nomornya dipanggil ikuti mereka masuk ke ruangan VIP, tampaklah aktifitas diruang VIP seperti sedang jumpa fans, foto bersama, ngobrol sebentar, ada yang bawa atribut minta di tanda tangani, Jonathan dan Wari sudah siapkan spidol anti air untuk tanda tangan.
"Ya ampun, ya ampun." Erwin dan Reza terbahak, untung saja Mario gunakan Bluetooth hingga suara mereka tidak terdengar oleh siapapun kecuali Mario.
"Bagaimana kakak?" tanya Mario tengil.
"Eksploitasi Nanta dan sahabatnya kalian." kata Reza terbahak.
"Ini juga diluar perkiraan gue, mereka banyak trik untuk cari keberadaan Bos Ganteng." bisik Mario sambil berjalan kembali keruangannya.
"Siapa Bos Ganteng?" tanya Erwin ingin tahu.
"Anak kita Nanta, mereka panggil Bos Ganteng." ketiganya terbahak mendengarnya. Ada-ada saja.
"Pasti kerjaan Wari sama Jonathan itu." tebak Reza gelengkan kepala.
"Sudah pasti, untuk urusan marketing dan iklan siapa lagi kalau bukan mereka."
"Senin Nanta tarik lagi ke Cabang Utama." kata Erwin pada Mario.
"Oh tidak bisa, kita mau fokus ke anak cabang yang masih sepi." jawab Mario tengil. Yang pasti mulai senin Nanta tidak lagi diCabang Selatan.
"Benar-benar eksploitasi Nanta." kata Reza, kembali para Bos terbahak.
"Jangan salahkan penggemar, salahkan Nanta kenapa juga punya penggemar." celutuk Andi konyol.
Satu jam berlalu acara foto bersama sudah rampung, semua tampak bahagia karena keinginan tercapai, bahkan bisa bicara sedekat itu dengan pria-pria idaman mereka, meskipun hanya sekedar mengagumi dan menjadi penggemar.
"Begini rupanya jadi artis ya." kata Larry menarik nafas lega karena sudah bisa duduk santai.
"Belum juga syuting iklan lu." kata Kuskus yang sudah tahu cerita saat latihan kemarin.
"Kasihan singkong rebus nih kalau sampai terkenal." Nanta langsung pikirkan adiknya.
"Tenang ada kita, kan." kata Larry tertawa.
"Iya sih, lagi pula si centil mungkin senang saja diajak foto bersama seperti sekarang." kata Mike komentari Balen.
"Siapa?" tanya Kuskus.
"Adik kita." jawab Larry sebelum Nanta menjawab. Nanta tertawa saja, Balen memang sudah seperti adik sahabatnya juga, mau apa saja langsung pada sibuk cari untuk Balen.
"Oh yang bintang Utama ya." kata Kuskus lagi berdasarkan cerita kemarin.
"Iya sudah di kontrak eksklusif sepuluh produk." kata Nanta pada semuanya.
"Hanya karena Unagroup saja. Itu pun syutingnya sebulan sekali."
"Hahaha beli Oten don." kata Doni terbahak Ingat Balen minta belikan hotel.
"Iya supaya bisa makan sop katanya." Nanta dan yang lain jadi terbahak.
Sementara dirumah...
"Napa sih Baen teseek meuu." gumam Balen sambil berdehem menelan salivanya.
"Minumnya yang benar dong." kata Nona pada gadisnya.
"Oang Baen ndak minum, teseek doan." Balen menjelaskan.
"Keselek kan?" tanya Nona.
"Iya, tan Baen biang dai tadi, Baen teseek." kesal Balen harus mengulang kata Keselek yang susah disebutnya.
"Makanya latihan bicara yang benar dong, biar lancar ngomongnya. Masa sudah mau masuk tv ngomongnya masih teseek." Nona menggoda Balen.
"Napa sih talo anakna beum bisa nomon diedekin. Butanna diajain yan benei." mulai ngomel seperti ibu-ibu.
"Ajarinnya bagaimana, kamu kan kalau Mamon kasih tahu selalu naik satu oktaf suaranya." Nona mencibir sambil packing pakaian mereka untuk besok di S'pore.
"Emanna Baen penani, satu otaf satu otaf."
"Memang bukan." jawab Nona, sahut-sahutan deh tuh Mamon sama Balen. Dania terkikik geli.
"Mamon, Dania ke Warung Elite ya." ijin Dania karena Tomson sudah menjemput bersama kedua adiknya.
"Iya hati-hati ya, Mamon tidak antar keluar loh ya." kata Nona pada Dania.
"Atu aja yan antal." kata Richie yang sejak Dania hamil selalu saja nempel.
"Janan Ichie, tita tan mau te sinapoi." kata Balen pada Richie.
"Iya teas ajah." jawab Richie menggandeng Dania.
"Teras kan Chie? Ncusss ikutin Ichie tuh, nanti kaya kemarin lagi teras-teras malah ikut masuk ke Mobil." perintah Nona pada pengasuh Richie karena saat Dania ke kampus kemarin, Richie yang katanya antar ke teras ikut masuk mobil dan tidak mau turun. Dania terbahak dibuatnya, duo unyil di rumah ini ada saja kelakuannya.
"Ndak usah Ncusss, atu bisa tok." tolaknya lembut pada pengasuh.
"Eh bisa apa?" tanya Nona dengan suara meninggi.
"Mamon suaana, satu otaf tuh." Balen ingatkan Nona.
"Tida otaf itu Baen." kata Richie santai membuat Nona menghela nafas. Kalau disahuti nanti Nona yang capek sendiri karena duo bocah sudah satu kubu.
"Ncusss." Nona memberi kode dengan alisnya, biarpun Richie bilang tidak usah ditemani sampai teras karena dia bisa tetap saja Nona minta Richie diawasi. Dania menahan tawa melihat Mamon dan kedua adiknya ini.
"Ladian napa sih tita ndak boeh itut." oceh Balen.
"Iya, padaan tita udah ndak nompol." sahut Richie, Nona tertawa geli tanpa suara dengar keduanya saling curhat.
"Sudah dong kalian jangan ngelawak terus, perut Tania keram nih." kata Dania pada duo bocah.
"Waduh talo team beati Tania ndak boeh tual umah." Richie menghadang Dania dengan kedua tangannya yang melebar dan kaki mengangkang.
"Bukan keram begitu, keram karena tertawa." Ncusss menjelaskan pada Richie.
"Ncusss janan bicala, atu mo antal Tania umah satit aja ya, biangin Mamon, atu itut te umah satit, bye Ncusss." Richie mendorong Ncusss untuk masuk sementara Dania dibiarkannya berjalan lebih dulu ke teras.
"Richiiiiieeee, masuk!!!" suara Nona menggelegar menyuruh bungsunya masuk.
"Ah Ncusss, tamu sih jadi ima otaf tuh Mamon." keluhnya membuat Dania, Ncusss dan Nona yang sudah di balik pintu terbahak mendengarnya