I Love You Too

I Love You Too
Sore



"Ki..dimana?" *Monik


"Dikamar Nik, sama Regina." *Kiki


"Mau makan ga?" *Intan


"Masih kenyang, mau selonjoran dulu, hayati lelah." *Kiki


"Ya udah, nanti gue suruh kirim cemilan ke kamar kalian ya. Gue juga hayati"* Monik


"Hahaha okee." *Kiki


"Gue ke kamar lu ya Ki." *Intan


"Mau ngapain?" *Kiki


"Takut dipretelin Anto." *Intan


"Gue bilangin Anto lo." *Monik


"Lu kayanya sohibnya Anto ya, bukan sohib gue😠." "Intan


"Anto kan ipar gueπŸ˜›. Lagian bentar lagi kita kan mesti persiapan nanti malam On." *Monik


"Apaan tuh On?" *Kiki


"Oon KiπŸ˜‚. Lagi kalau pretelin Intan sekarang juga nanggung, sebentar lagi kamarnya juga di ketok suruh turun, Anto juga mikir kali. Oon ga tuh si Intan takut dipretelin, yang ada nanti malam dia yang pretelin AntoπŸ˜„πŸ˜›." *Monik


"😠😠😠." *Intan


"πŸ˜‚πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜‚." Kiki


Kiki tertawa sendiri membaca chat group sahabatnya, kemudian meletakkan handphonenya di nakas. Tampak Regina dibalkon, sedang menerima panggilan telepon. Baru saja hendak merebahkan badannya di kasur, bel dikamarnya berbunyi. Mungkin yang mau antar cemilan, pikir Kiki.


"Kak Eja, ngapain?" ternyata Reza, tak mungkin mengambil baju karena Reza membawa koper sendiri.


"Kangen." Reza langsung memeluk istrinya dan memberikan ciuman bertubi-tubi, membuat Kiki gelagapan.


"Kak Ejaaa, malu nanti ada yang lihat." Kiki menepuk bahu Reza, membuat Reza tertawa gemas.


"Sayang, kita pindah kamar yuk, Erwin sama Andi jadi menginap. Sebentar lagi Mario kesini."


"Kan Erwin ga mau tidur sama Andi. Aku sama Regina aja ga papa."


"Mereka bercanda sayang, nih kunci kamarnya." Reza menunjuk keycard ditangannya.


"Koper kak Eja mana? Aku bilang Regina dulu. Dia lagi online dibalkon."


"Sudah dikamar, Ga usah bilang, buruan ambil koper kamu. Biar surprise Regina lihat Mario" Reza tertawa membayangkannya.


Kiki pun menuruti perintah suaminya. Mengambil Koper dan handphonenya lalu keluar kamar tanpa berpamitan pada Regina. Tampak Mario yang sudah berdiri didepan pintu membawa kopernya.


"Selamat menikmati sore pertama friend." bisik Reza pada Mario sambil terkekeh takut didengar Kiki.


"Ish gue ga ngikutin jejak lu friend sore sore." Mario menjawab tanpa berbisik membuat Kiki yang mendengar mengerutkan dahinya, sementara Reza masih terkekeh.


"Kak Eja cerita-cerita?" tanya Kiki


"Cerita apa?" Reza merangkul Kiki, mencium pipinya, lalu membuka pintu kamar disebrang kamar Mario yang sudah masuk sedari tadi.


"Lah itu kak Mario ngomong kaya gitu. maksudnya apa?" sambil menyusun kopernya dan koper Reza Kiki masih saja penasaran.


"Aku cuma bilang kalau mau ML ga usah nunggu malam, sore-sore juga enak."


"Ish itu sih sama aja." Kiki mencubit perut Reza kesal bercampur malu. Bagaimana bisa suaminya membahas hal itu pada sahabatnya. Reza tergelak sambil mengusap perutnya. Lumayan sakit, Kiki mencubitnya dengan setulus hati.


"Sayang, sudah sholat belum?" pancing Reza ingin tahu apakah tamu bulanan Kiki sudah pergi.


"Tadi kan aku sudah Sholat." jawab Kiki polos.


Dengan senyum mengembang langsung saja Reza mengangkat tubuh istrinya ke kasur, "aku mau punya anak." bisiknya lalu mulai beratraksi menjelajah kesana kemari dan terjadilah penyerangan di sore hari.


"Sayang handphone kamu bunyi dari tadi." Kiki membangunkan Reza yang terkapar lelah.


"Biarin aja." jawab Reza mengeratkan pelukannya pada Kiki.


"Takutnya penting." Kiki melepaskan pelukan Reza lalu mengenakan kimono yang disediakan hotel, kemudian membereskan baju yang berserakan dilantai memasukkannya kedalam plastik laundry. Handphone Reza masih saja berdering, sangat mengganggu, Kiki mengintip layar handphone di nakas, takut mama atau papa yang menghubungi.


"Ranti ngapain sih nelpon kamu terus." Kiki menekan tombol samping hingga tak berisik lagi, hanya lampu masih berkedip-kedip.


"Ga tau, angkat aja tanya sendiri."


"Ish ngapain. Ogah amat."


"Kalau aku yang angkat nanti kamu lempar bantal lagi." kata Reza sambil menarik tangan istrinya, agar kembali merebahkan badan disampingnya.


"Aku mau mandi, nanti keburu magrib."


Handphone kembali berdering, lagi-lagi Ranti. Kiki pun melemparkan handphone Reza kekasur, membuat Reza terbangun dan duduk dipinggiran tempat tidur.


"Rusak handphone aku dek, kamu galak banget sih kalau lagi cemburu." Reza menarik tangan Kiki hingga terjatuh dipangkuannya. Kiki memutar bola matanya malas. Kesal sekali walaupun Kiki tahu Reza tak meladeninya.


"I love u." bisik Reza pada istrinya. Mengambil handphone yang masih berdering dan menggeser tombol hijau kemudian menyalakan tombol loudspeaker.


"Halo mas Reza lagi sibuk ga?"


"Kenapa mbak Ranti?"


"Sudah dijakarta kan, nanti malam kalau ga capek temani aku ke resepsi pernikahan client aku dong mas."


Kiki memandang Reza dengan mata melotot. Reza tersenyum mengecup bibir Kiki.


"Maaf mbak Ranti saya ga bisa." Reza menahan Kiki yang berusaha berdiri dari pangkuannya.


"Wah kapan dong ada waktu buat aku, mas Reza sibuk terus sih." Ranti mulai bermanja-manja tak sadar ada yang sedang mendidih ingin memakinya.


"Client aku nih orang hebat loh, dia menikah sama Artis nanti aku kenalin mas, siapa tau bisa jadi rekan bisnis."


"Alex?"


"Iya kok mas Reza tau?"


"Istrinya sahabatan sama istri saya mbak Ranti."


"Mas Reza bercandanya ga lucu."


"Loh kok bercanda? Nanti diresepsi kalau kita ketemu, mbak Ranti saya kenalin sama istri saya ya."


"Beneran ga lucu mas bercandanya, kalau mau menghindar dari saya jangan ngaku-ngaku sudah nikah deh mas, ga mempan tau ga." Ranti mulai emosi merasa dipermainkan oleh Reza. Sepertinya percuma menjelaskan Reza pun mematikan sambungan telepon.


"Nyebelin banget sih tuh orang, cantik kak?"


"Cantikan kamu lah."


"Bohong!!!"


"Terserah ah, aku ga mau berantem. Yuk katanya lapar, sana telepon Restaurant."


"Udah ga nafsu makan." sungut Kiki.


"Sayang jangan ngambek gitu, bukan aku yang telepon dia. Aku juga udah kasih tahu aku punya istri, kamu dengar sendiri kan. Dia aja yang ga percaya. Kamu jangan kaya anak kecil deh." suara Reza mulai meninggi, membuat air mata Kiki mengembang. Reza mengambil tissue didekatnya dan mengelap air mata Kiki.


"Nanti jangan jauh-jauh dari aku. Peluk aku terus ya. Biar Ranti percaya." suara Reza mulai melunak tak mau air mata istrinya bertambah deras.


"Masa Kiki Junita yang followernya banyak nangis gara-gara Ranti sih." Reza membenamkan kepalanya didada istrinya, mulai bermain-main.


"Kak Eja kita kan mau mandi." bisik Kiki dengan suara tertahan. Reza masih saja bermain dan mulai bergerilya.


"Sekali lagi ya." pintanya dengan mata sayu, kemudian melanjutkan aksinya. Hanya terdengar suara lenguhan membuat Reza semakin bersemangat bekerja membuat Kiki terbuai dan melupakan rasa laparnya. Telepon yang kembali berdering tak mengganggu aktifitas mereka, sepertinya kalah dengan jeritan Kiki yang terus memanggil nama Reza.