
Akhirnya diputuskan jika pagi ini mereka tidak keluar, istirahat saja dihotel menunggu waktu pertunjukan, Kenan sudah mengirim pesan pada Nanta jika makan siang nanti mereka akan berkumpul bersama, Oma dan Opa sudah merindukan Nanta yang dua hari ini tidak pulang kerumah, padahal baru juga satu malam, Nanta terkekeh mengingat Opa dan Omanya.
Sementara Balen Singkong Rebus kesayangannya sepertinya merajuk, setiap kali Nanta hubungi melalui sambungan Video, selalu saja melengos tidak mau melihat Nanta, terlebih Balen kata Mamon melihat foto Nanta yang dikirim ke group keluarga di Musium Angkut, Balen marah sekali tidak diajak Abangnya, seperti mengerti saja Bocah yang belum tiga tahun itu.
"Ma, Dania mau makan Pempek." kata Nanta pada Mamanya.
"Oh nanti setelah acara kerumah saja ya, kita makan Pempek." kata Tari pada Dania.
"Aku ikut kan?" tanya Winner pada Nanta.
"Tentu, anak muda selalu ikut kemana kami pergi." jawab Nanta membuat Winner tersenyum senang.
"Mama telepon Bibi ya suruh bikin lagi yang banyak, besok kalian bisa bawa pulang." kata Tari membuat Wilma bersorak senang.
"Kalau ke Palembang hanya mau makan Pempek, yang disini juga tidak kalah enaknya." kata Nanta promosi pada Dania. Dania terkekeh dibuatnya.
"Kamu mau ke Palembang?" tanya Micko pada Dania.
"Iya, aku mau keliling Indonesia, belum semua tempat aku kunjungi." jawab Dania pada Papanya.
"Kalau menikah dengan keturunan sumatera, kamu bisa keliling sumatera bersama suamimu nanti." Micko melirik jahil pada Nanta yang tampak salah tingkah, Tari dan Bagus terkekeh dibuatnya.
"Siapa yang keturunan sumatera?" tanya Dania membuat Micko dan semua terbahak, sementara Nanta pasang wajah cengengesan.
"Nanti saja bahas sumatera, jangan sekarang." bisik Nanta pada Dania. Dania menatap Papa penuh tanda tanya, Micko hanya menaikkan alisnya saja dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Papa senyum terus dari tadi." celutuk Lucky.
"Karena Papa bahagia, Bang." jawab Winner membuat Lucky terbahak karena dipanggil Abang.
"Mana uang jajanku." tagih Winner.
"Ish baru sekali panggil Abang sudah minta uang jajan." Lucky terbahak memandang Winner yang juga terbahak.
"Abang, Abang, Abang, Abang." panggil Winner berulang kali.
"Hahaha tidak begitu aturannya." Lucky kembali terbahak, Micko dan Lulu jadi tertawa geli melihat keduanya.
Tidak terasa restaurant sudah hampir tutup, mereka pun bersiap kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan bersiap-siap menyaksikan acara yang akan berlangsung nanti siang.
"Om, jangan lupa makan siang bersama keluarga Papa." Nanta menyampaikan pesan Papa pada Micko.
"Oh mau dibicarakan hari ini kah?" tanya Micko pada Nanta.
"Bicarakan apa?" tanya Nanta pada Micko.
"Kalau kamu akan Om Ikat." kata Micko menepuk bahu Nanta.
"Om Micko!" Nanta membesarkan bola matanya.
"Om setuju." Micko kembali tersenyum pada Nanta.
"Om kami baru seminggu kenal." bisik Nanta pada Micko.
"Tapi Dania sangat bergantung sama kamu, Boy." Micko balas berbisik.
"Karena hanya aku temannya." jawab Nanta.
"Pasti lebih dari itu." tebak Micko.
"Betul Om, kami hanya berteman." Nanta meyakinkan Micko.
"Hahaha iya-iya." Micko terbahak.
"Om selalu saja menggoda aku." Nanta bersungut.
"Hahaha terima kasih ya, Boy. Tidak bisa om bayangkan jika tidak ada kamu semalam." Micko merangkul Nanta seperti anaknya sendiri.
"Sama-sama Om, terima kasih juga untuk semua fasilitas yang om berikan, teman-temanku sangat senang."
"Tidak sebanding dengan kebahagiaan yang om rasakan saat ini." Micko semakin mempererat rangkulannya.
"Akan jadi anakku juga." jawab Micko tersenyum jahil.
"Om jangan cari masalah, Dania tidak akan suka dijodohkan." kata Nanta kembali berbisik, sudah menebak arah pembicaraan Micko.
"Kalau kamu, suka tidak dijodohkan dengan Dania?" Tari malah bertanya dengan vulgarnya, membuat Nanta terdiam. Micko dan Lulu terbahak melihat ekspresi Nanta.
"Kalau suka jujur saja." kata Tari memonyongkan bibirnya.
"Ah tidak tahu, aku tidak boleh pacaran kan sama Oma." Nanta jadi pusing sendiri.
"Yang suruh kalian pacaran siapa? Om juga tidak suka." jawab Micko terkekeh.
"Tadi katanya aku mau diikat." kata Nanta polos. Tari dan Bagus terbahak.
"Please deh Bang Micko, anakku jadi bingung tuh." kata Tari pada Micko.
"Hahaha Nanta, kamu benar-benar menyenangkan, pantas saja Papamu selalu bilang kamu penyejuk hati." Micko mengacak anak rambut Nanta.
"Aku sayang Papa." Nanta tersenyum mengingat Papanya.
"Papa saja?" Tari membesarkan bola matanya. Mereka masih saja bicara panjang lebar, sementara yang lain sudah kekamar terlebih dulu.
"Sama Mama dan Wulan kan Love luar biasa." jawab Nanta terkekeh.
"Aku juga sayang Om Bagus." kata Nanta lagi.
"Hahaha nanti juga kamu akan sayang Om Micko luar biasa." kata Micko kembali mengacak anak rambut Nanta.
"Om Micko tuh yang love kamu luar biasa." kata Tante Lulu pada Nanta.
"Hahaha terbaca ya." Micko terbahak kembali marangkul Nanta.
"Aku terharu, Om." kata Nanta ikut merangkul Om Micko, mereka hampir sama tingginya hanya Nanta sedikit lebih tinggi.
"Om titip jaga Dania ya." kata Micko pada Nanta.
"Memang Om mau kemana?" tanya Nanta polos.
"Tidak kemana-mana, hanya saja kalian kan kampusnya bersebelahan, kemungkinan bisa bertemu setiap hari, kalau Om hanya menunggu jadwal kosong dan memunggu Dania mengunjungi Om." jawab Micko membuat Nanta mengangguk.
Setelah beristirahat sebentar Nanta kembali bersiap menyambut keluarga besarnya yang akan makan siang bersama di hotel, mereka menyewa ruangan khusus agar bisa lebih nyaman tidak terganggu pengunjung lain. Bagus juga menyewa ruangan khusus untuk para bintang tamu pengisi acara Ice skating. Lima pasang yang akan mengisi acara nanti.
Wilma tampak sedang berbicara santai dengan salah satu pengisi acara yang dikenalnya tadi malam. Nanta dan Ando hanya memandang dari kejauhan. Tidak heran, karena Wilma memang cepat sekali akrab dengan orang yang baru dikenalnya, siapapun senang berteman dengan Wilma.
"Siapa?" tanya Ando saat Wilma bergabung dengan Ando dan Nanta.
"Itu loh yang tadi malam sendoknya jatuh menimpa kakiku. Dia tanya kakiku ada masalah tidak." jawab Wilma tersenyum dan kembali melambaikan tangan pada teman barunya.
"Ganteng." kata Ando sedikit cemburu.
"Kamu juga ganteng Abang sayang." jawab Wilma terkekeh, senang sekali melihat Ando cemburu.
"Ih cemburu lu, Ndo?" tanya Nanta heran.
"Ya iyalah, elu juga begitu kalau sudah resmi." jawab Ando menaikkan alisnya.
"Sepertinya tidak." jawab Nanta terbahak.
"Iris-irisan kuping hayo." seram sekali tantangan Ando.
"Mending iris-irisan steak abuba deh gue." sahut Nanta membuat ketiganya terbahak, sementara Dania sedang asik meladeni kedua adiknya, ketiganya maklum dan tidak mau mengganggu karena ini awal kebersamaan mereka.
"Aku ikut ya kalau makan steak." kata Wilma menggoyangkan tangan Ando.
"Iya dong sayang." jawab Ando membuat Nanta bergidik.
"Hahaha kenapa lu?" tanya Ando melihat ekspresi Nanta.
"Mending menikah sajalah kalian, sayang-sayang, cinta-cinta apa itu." sungut Nanta merasa risih sendiri mendengar kata-kata mesra kedua pasangan baru dihadapannya.