
"Mamon senang karena Balen bisa mandi sendiri." Kenan jelaskan pada Richie.
"Talo senen napa nanis sih?" tanya Richie heran.
"Itu namanya terharu." Kenan terkekeh.
"Talo tehalu nanis ya?"
"Iya menangis sedikit." jawab Kenan lagi.
"Talo nanisna lama balu sedih tan Papa." Richie menyimpulkan, Kenan iya saja lagi. Nona masih rapikan baju Balen yang berantakan, bantu Balen keringkan rambut, hingga kini gadis kecilnya tampak cantik seperti biasa.
"Sudah selesai?" Kenan tersenyum senang memandang Balen.
"Udah don, Papon Baen danteeeen deh." memuji Papon yang senyum sumringah.
"Meman Papa atu danten Baen." puji Richie.
"Tao cembeut ndak danten." jawab Balen membuat Kenan terbahak dan mengangkat tubuh gadis kecilnya itu. Balen tergelak senang.
"Taya anat tecil Baen." komentar Richie melihat Kakaknya digendong Papa, Balen abaikan Richie karena senang Papon sudah kembali mengajaknya bercanda seperti biasa.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Kenan pada Nona sambil menggendong Balen.
"Iya yuk, semua sudah pada di lift." Nona beritahukan Kenan setelah membaca pesan dari Regina dan Kiki.
"Kak Enji minta mampir ke pusat oleh-oleh setelah sarapan sayang." lapor Nona pada Kenan.
"Kita ikut saja, tidak bawa mobil juga." Kenan terkekeh, statusnya saat ini menumpang jadi ikuti rombongan saja.
"Tuun don Papon, Baen ndak usah dendong." pinta Balen.
"Ok." jawab Kenan turun kan Balen dan mengacak anak rambutnya.
"Balen..." panggil Regina pada Balen yang berjalan mendului Papon dan Mamonnya keluar kamar.
"Mami..." Balen balas memanggil Regina menunggu Regina dan menggandeng tangannya.
"Cantik betul sih." puji Regina.
"Baen mandi sendii Mami." lapornya pada Mami banggakan diri.
"Kok pinter?" Kiki yang berjalan disebelah Regina acungkan jempol.
"Baru kali ini mandi sendiri, bersih lagi." lapor Nona ikut bangga.
"Baen tan udah dedek." jawabnya dengan hidung kembang kempis.
"Sudah bisa jadi istri dong." Eh dasar Regina jahili Balen, semalam dengarkan cerita rombongan Nanta.
"Kak Rere..." bisik Nona bersungut, semua tertawa jadinya.
"Beum." jawab Balen kalem.
"Tata Papon setoah duu tao udah sesai setoahna boeh jadi isti." jawabnya menjelaskan.
"Sekarang saja belum sekolah." Kiki terbahak.
"Iya beum matana." jawabnya tersenyum bijaksana, sok tua sih sebenarnya.
"Tita mo matan apa nih?" tanyanya pada Mamon, sementara Papon sudah bergabung dengan rombongan Abang dan para sahabat.
"Makan macam-macam ada empal gentong, tahu gejrot, Nasi lengko, bubur ayam, Sate, nanti pilih saja disana banyak." jawab Nona menyebutkan menu makanan yang ada di restaurant tujuan mereka pagi ini.
"Nanta dan temannya suruh sarapan di hotel saja." kata Kiki mengingat jatah sarapan mereka dihotel tidak ada yang makan.
"Nanti aku bilang, tapi Nanta biasa hanya cari buah, mungkin temannya juga begitu." tebak Nona.
"Telepon saja Non." Regina berikan saran.
"Iya Kak." Nona menuruti, hubungi Nanta sampaikan apa yang Kiki bilang.
"Assalamualaikum Mamon..."
"Kalian sarapan di hotel saja." kata Nona langsung.
"Mau makan nasi jamblang, Mamon. Lagi tunggu Femi dan Fino." jawab Nanta karena rombongannya pun sedang bersiap pergi mencari sarapan khas Cirebon.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Mau bergabung di restaurant yang kami tuju?"
"Tidak usah Mamon. Semalam sudah di traktir masa sarapan pagi minta traktir lagi." Nanta terkekeh.
"Kalian saja yang traktir kita." jawab Nona.
"Hahaha baiklah, bilang Deni sekalian traktir kita di pusat oleh-oleh." Nona jahili Abangnya.
"Sudah disiapkan ini lima kardus untuk masing-masing keluarga." jawab Nanta jujur. Deni rupanya sudah belikan oleh-oleh untuk semua tamu yang hadir, padahal hanya Doni yang rusuh minta Kakaknya siapkan oleh-oleh.
"Bagus, mamon mau yang lain bukan yang hanya dikardus." Nona masih saja rusuh.
"Mau apa lagi?" tanya Deni karena handphone Nanta loudspeaker.
"Semua yang ada di Cirebon belikan untuk kita." jawab Nona.
"Nanti bungkus saja semua masakan yang ada di restaurant untuk kalian bawa pulang."
"Kak Enji minta ke pusat batik, elu traktir ya Den." pinta Nona lebih parah dari Doni dan Nona.
"Iya, semoga saja Kak Enji mau dibayari." kata Deni, karena semalam Deni kalah cepat dengan Enji urusan pembayaran.
"Ya sudah cepat jalan, Den. Kita sudah di parkiran." kata Nona pada Abangnya.
"Oke, bertemu di restaurant saja ya. Femi sama Fino belum datang." Jawab Deni.
"Pergi saja Om, kami tidak usah ditunggui." kata Nanta pada Om nya.
"Oh tidak apa Om tinggal?"
"Tidak apa." jawab Nanta yakin.
"Ya sudah, Om pergi dulu." Deni berdiri disusul Dini yang duduk disampingnya dari tadi.
"Bi, titip Nanta dan temannya ya." kata Dini pada asisten rumah tangga yang baru saja muncul bawakan buah potong untuk semua tamu pagi ini.
"Wah Om dan Kak Dini, sudah siapkan buah untuk kita juga." Nanta nyengir lebar.
"Semua beres untuk kalian." jawab Dini tersenyum.
"Terima kasih kakak." Doni langsung peluk Kakaknya yang sudah begitu repot siapkan semua yang ia dan sahabatnya butuhkan.
"Jangan sok mesra deh." kata Dini pada adiknya.
"Tidak pernah ada manis-manisnya sama adik. Kalau sama Mas Deni begini juga kah?" tanya Doni pada Deni. Dia saja dan Dona yang panggil Mas Deni, sementara yang lain panggil Om pada Deni.
"Seperti kamu makan buah itu saja." tunjuk Deni pada aneka ragam buah yang sudah di meja.
"Ah Manis semua itu." Kesal Doni mencubit pipi Kakaknya kencang hingga Dini berteriak.
"Siapa yang bisa manis sama elu, tiap peluk gue pasti ada saja cubit pipilah, gigit tanganlah, penyiksaan ujungnya. Dona lu kalau disiksa kaya gue juga lapor saja sama Papa." kata Dini menjewer kuping Deni.
"Ih gue kan sayang terus geregetan." jawab Doni terkekeh, kupingnya memerah kini. Semua tertawakan keduanya.
"Assalamualaikum..." tampak Femi menyembul dari balik pintu.
"Waalaikumusalaam, Fem saya tinggal dulu ya. Kamu duduk santai sebentar makan buahnya tuh. Sudah dipotong banyak." Deni arahkan Femi untuk bergabung makan buah.
"Iya dok." jawab Femi sopan, Fino menyusul dibelakangnya, tampak santai dengan t-shirt dan celana sedengkul.
"Jalan dulu Fin." Deni menepuk bahu Fino.
"Iya dokter." jawab Fino tersenyum. Deni dan Dini tinggalkan keduanya menyusul rombongan Kenan.
"Kita masuk dulu." ajak Femi pada Fino.
"Kamu saja, aku merokok dulu." jawab Fino, dokter malah merokok.
"Masih pagi malah merokok, mereka tidak ada yang merokok loh." Femi ingatkan sepupunya.
"Mereka atlet." jawab Fino.
"Kamu dokter." tegas Femi.
"Aku tahu obatnya." eh malah tengil, Femi terkekeh, sepupunya tidak bisa tinggalkan kebiasaan buruknya.
"Bukan contoh yang baik." Femi gelengkan kepalanya.
"Dokter juga manusia, Fem." jawab Rumi yang baru saja muncul bersama Dania dan Seiqa.
"Kalian dari mana?" tanya Femi heran.
"Habis temani Dania jalan pagi." jawab Rumi tersenyum, ambil posisi duduk disebelah Fino sambil minum infus water dari botol andalannya. Fino tersenyum melihat botol minum Rumi sementara yang lain masuk kedalam rumah berikut Femi.
Maafkan kupikir semalam sudah selesai dan terupload ternyata belum ke klik. Pantas belum ada notif. Efek pulang kemalaman ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜Œ In Syaa Allah hari ini bisa banyak.