
"Babaaan..." teriak Richie yang memasuki lapangan Basket diikuti Opa Baron di belakangnya.
"Eh jadi datang, Abang kira tidak jadi." Nanta langsung memeluk adiknya.
"Berdua saja?" tanya Nanta kemudian berdiri menghampiri Padeh dan menyalaminya. Gantian Padeh yang memeluk Nanta, setelah beberapa bulan tidak bertemu rindu juga rupanya.
"Sama Balen menunggu di mobil." jawab Baron.
"Balen sama siapa dimobil Opa?" tanya Larry semangat.
"Ditemani Ncusss." jawab Opa Baron tersenyum.
"Mumpung belum mulai kita jemput ya suruh masuk." Larry minta persetujuan Nanta.
"Ayo." ajak Nanta, sementara Richie sudah tebar pesona ke teman Nanta yang sedang sibuk pemanasan.
"Padeh aku jemput Balen dulu." ijin Nanta pada Baron.
"Opa awasi Ichie ya." kata Baron pada Nanta.
"Iya Padeh aku temani." sahut Dania ikut awasi Richie.
Sementara itu didalam Mobil Balen sedang asik bercanda dengan pengasuhnya. Tidak sengaja ia melihat Nanta dan Larry keluar menuju ke arahnya.
"Dawat ada Aban Leyi, Ncusss. Tutupin Baen deh, Baen mo numpet. Talo di tanain biang aja Baen ndak itut." katanya sibuk bersembunyi dibalik punggung pengasuhnya.
"Mana Balen?" tanya Nanta saat membuka pintu mobil.
"Tidak ikut." jawab Ncusss sambil menunjuk kebalik punggungnya. Nanta menahan tawa dan memberi kode pada Larry jika Balen bersembunyi.
"Tidak ikut Balennya Leyi." kata Nanta sambil cengar-cengir.
"Oh tidak ikut ya, Ncusss turun saja kalau begitu temani Ichie didalam. Mobilnya kunci saja." kata Larry sambil menyeringai.
"Janan!!!" langsung saja berteriak takut ditinggal Ncusss sendiri.
"Loh Ncusss kamu bohong ya." Nanta pura-pura marah.
"Eh ikut toh, Ban Leyi kira Balen tidak ikut." kata Larry langsung nyengir lebar pada Balen.
"Ncusss harus dihukum nih." kata Nanta lagi.
"Itu Baen yan suuh tau, janan dimaahin." kata Balen membela Ncusss.
"Harusnya jangan mau kalau disuruh bohong, Ncusss harus dihukum." kata Nanta lagi.
"Maapin aja deh, ndak sengaja Ncusssna." katanya lagi masih membela Ncusss.
"Ya sudah dimaafkan, Ayo turun, ada coklat tuh didalam tadi Abang beli." ajak Nanta pada Balen.
"Ote." jawab Balen segera mengulurkan tangannya minta digendong. Langsung saja Larry ambil alih menggendong singkong cantik yang sudah seminggu tidak menghubunginya, tidak mau mengangkat teleponnya juga. Balen tidak menolak digendong oleh Aban Leyinya.
"Gue kedalam duluan." kata Larry sementara Nanta sibuk mematikan mesin Mobil dan menguncinya, Ncusss mengikuti Larry dan Balen berjalan meninggalkan Nanta.
"Kenapa sombong sama Aban Leyi sih?" tanya Larry pada Balen.
"Ndak sombon tok." jawabnya santai.
"Kenapa tidak mau telepon Aban? Aban telepon pagi juga tidak pernah diangkat." tanya Larry penasaran.
"Oh itu tan Baen ladi tesel." jawabnya tanpa ekspresi kesal. Seperti biasa saja.
"Kesal kenapa?" tanya Larry terkekeh, gemas sekali dengan singkong cantik kesayangannya.
"Aban Leyi sih ditu." katanya seperti biasa kalau ditanya dirumah.
"Gitu kenapa?" Larry masih tidak mengerti.
"Aban tan ndak tasih Baen jus yan banak di sawat. Tata Yumi di tasih banak-banak, Aban Winei di tasih juda." langsung saja mengoceh, rupanya perkara jus yang Larry beli di S'pore dan bagikan pada Rumi dan Winner di pesawat. Padahal itu juga dikasih ke Rumi karena Rumi tanya belikan dia apa, sedang Larry hanya beli jus kesukaannya yang ada di S'pore. Beli banyak untuk stok pribadi niatnya.
"Kan Aban tawari Balen juga, lupa ya?" tanya Larry, ingat tawari Balen tapi si unyil menolak.
"Belatanan tawainna, tata Yumi sama Aban Winei duuan." jawabnya bersungut.
"Maunya Balen yang duluan ya?" Larry terbahak.
"Iya don, tan yan wasa sisak ndak ada ladi."
"Kenapa tidak bilang mau rasa sirsak?" Larry kembali tertawa.
"Padahal kalau ditawari duluan juga Balen tidak boleh minum itu sama Papon." kata Larry gemas ciumi pipi singkong cantiknya.
"Eman." jawabnya santai.
"Terus kenapa marah tidak ditawari singkooong?" tanya Larry kembali mencium Balen gemas.
"Maah aja, emanna ndak boeh." jawabnya tengil membuat Larry kembali terkekeh.
"Jangan marah lagi ya. Besok kan kita berenang." bujuk Larry pada adik kecilnya.
"Tapina masih tesel dimana don." tanya Balen, eh masih kesal saja Larry kira sudah tidak kesal.
"Ya sudah besok Aban Leyi bawakan es krim mau?" tanya Larry membujuk Balen.
"Boeh." sok cool gitu jawabnya.
"Yang box atau yang drum?" tanya Larry terkekeh.
"Dem." jawabnya.
"Oke Aban belikan tiga drum besok." kata Larry pada Balen.
"Satu aja, tutasna ndak muat diumah." jawabnya ingat kulkas dirumah penuh. Larry tertawa lagi senang sekali bisa ngobrol dengan Balen yang selalu membuatnya tertawa geli.
"Oke, kiss dulu Aban." kata Larry. Balen pun mencium pipi Abang kesayangannya.
"Tidak boleh marah lagi, kalau mau apa tinggal bilang saja, nanti Abang belikan." kata Larry pada Balen.
"Yah." jawabnya mulai tersenyum bayangkan besok dibawakan es krim yang di drum.
"Aban, besot beiin tentan doen don." pintanya pada Larry.
"Kentang goreng? yang mentah atau yang sudah digoreng?" tanya Larry.
"Yan tindal matan aja." jawabnya.
"Oke singkong cantik, besok Abang belikan. Baen duduk disini ya, Abang sudah mau mulai." katanya pada Balen, dudukkan Balen disebelah Dania yang sedang ngobrol sama Padeh dan Richie.
"Baen, ndak mawahan ladi cieee." Ichie menggoda Balen.
"Kenapa sekarang cie, bukan cuwiwit?" tanya Larry tertawa.
"Janan cuwiwit ah ciee aja, Taya Ncusss." jawab Richie membuat Larry tertawa.
"Aban, itu sapa sih?" tunjuk Balen pada Chris.
"Itu namanya Abang Chris." jawab Larry tersenyum.
"Ncusss ada yan danten juda tuh namana Aban telis." katanya pada Ncusss.
"Tuh cucu Opa sudah tahu cowok ganteng." kata Larry tertawa pada Baron.
"Balen kata kamu yang ganteng Abang Leyi, kenapa sekarang lihat Chris juga bilang ganteng?" tanya Nanta yang sudah berada diantara mereka.
"Aban Leyi palin danten." jawab Balen membuat Larry cengar-cengir.
"Enak saja yang paling ganteng Opa." protes Baron pada cucunya.
"Opa tan udah tua." jawab Balen membuat semuanya tertawa.
"Balen bulan depan Abang kenalkan sama adik Abang, jauh lebih ganteng." janji Larry pada Balen, ingin kenalkan Balen dengan adiknya yang tinggal di asrama, sebagai hukuman dari Papanya karena suka tawuran.
"Adik lu yang suka tawuran itu? yang mana ada dua nih" tanya Mike.
"Iya kan sudah di asrama tidak tawuran lagi." kata Larry terkekeh.
"Mau apa dikenalkan sama Balen?" tanya Mike kepo.
"Siapa tahu jodoh, dari pada lirik-lirik Chris mending gue jodohkan sama Adik gue dong, jadi Balen tidak kemana-mana." jawab Larry posesif. Baron jadi tertawa.
"Belum empat tahun sudah mau dijodohkan saja, adikmu kelas berapa?" tanya Baron pada Larry.
"Kelas tujuh Padeh, cocok kan sama Balen?" Larry nyengir lebar. Baron anggukan kepalanya.
"Larry sama Balen saja cocok ya Padeh?" Mike tersenyum jahil. Langsung saja Nanta menoyor kepala sepupunya itu. Yang lain jadi tertawakan keduanya sedangkan Balen asik makan coklat berdua Ichie tidak peduli orang dewasa bahas dirinya.