I Love You Too

I Love You Too
Ke Jakarta



Sudah tiga hari ini Kenan berada di rumah Mama Nina, akhirnya mereka sudah di Jakarta, walaupun dengan penuh perjuangan harus beberapa jam berada didalam Mobil dengan kondisi kaki yang tidak bisa bebas bergerak.


Kenan duduk manis dikursi roda sambil menunggu Mama Nina memasak. Hari ini tamu special yang ditungu-tunggu Mama dan Kenan akan datang, ia bersiap menyambut kehadiran suami dan cucu tersayang yang sudah dengan susah payah dibujuknya untuk ikut Opa ke Jakarta.


Ray dan Roma istrinya dari pagi sudah berada kerumah Oma Nina, mengantarkan cake dari mertua Raymond, Mami Monik.


"Kalian jemput Opa dan Nanta di airport ya?" pinta Mama Nina pada Raymond dan Roma. Padahal cucunya baru saja meletakkan pantatnya dikursi meja makan.


"Boleh, jam berapa Oma?" tanya Raymond.


"Pesawat jam 11, nanti begitu mereka sudah dipesawat baru kalian ke Halim." jawab Mama Nina.


"Siap Oma. Nanti aku dan Om Kenan saja yang jemput, Roma yang bantu Oma didapur." Raymond bergaya ala prajurit . "Aku lapar, Oma masak apa?" katanya lagi membuka tudung Saji dimeja makan.


"Bantu apa, sudah selesai semua.


Kalian belum sarapan? Makan ini saja dulu ya, untuk Nanta jangan diganggu dulu." Mama Nina menggeser ayam goreng dan sayur kangkung ke arah Raymond dan Roma.


"Belum sarapan Oma, Mami pagi-pagi sudah ribut suruh antar kue buat Oma. Duh Oma pilih kasih nih, Nanta Oma masakin banyak, ada soto, ada gurame, ada cumi." keluh Roma dengan wajah masih mengantuk.


"Iya Semalam Oma bilang sama Kiki kalau Oma suka kue yang dibikin sama Monik. Bukan pilih kasih sayang, ini pertama kali Nanta ke Jakarta sejak Papa Mamanya pisah kan? Biar betah dekat-dekat Oma. Nanti kita boleh makan kalau Nanta sudah disini." kekeh Mama Nina. Roma dan Raymond tertawa. Mereka tadi hanya membercandai Oma.


"Ken, kamu jangan cari gara-gara nanti ya. Harus bikin Nanta senyaman mungkin disini." Mama Nina mengingatkan Kenan.


"Iya Ma." jawab Kenan tak banyak bicara, ia sedang mengatur hatinya saat ini antara senang dan takut sedang menguasai pikirannya. Senang karena akan bertemu Nanta tapi takut juga bagaimana menghadapi Nanta nantinya. Tidak akan terjadi debat kusir diantara mereka, tapi tatapan tajam seperti ingin menerkam itu apa masih ada? saat resepsi Tari dan Bagus kemarin, Kenan tidak melihat Nanta. Entah bersembunyi dimana anak itu.


Pukul 11 siang setelah mendapat pesan dari Papa Dwi, Kenan dan Raymond berangkat ke bandara. Sebenarnya Kenan enggan ikut tapi Raymond memaksa.


"Kapan lagi Om mau dekat dengan Nanta, kesempatan ini Om. Tadi malam Nanta chat aku minta menginap di rumah ayah." kata Raymond pada Om nya saat perjalanan menuju bandara.


"Oma tahu?" tanya Kenan.


"Aku belum cerita sama Oma, biar saja nanti Nanta yang ijin sendiri sama Oma."


"Terserah Nanta nyamannya dimana, Dia mau datang saja Om sudah senang." kata Kenan dan memang ini kejutan untuk Kenan.


Mereka tiba lebih dulu sebelum pesawat landing. Menunggu sekitar setengah Jam tampak Papa Dwi dan Nanta berjalan beriringan. Mereka hanya membawa tas ransel, jadi Kenan dan Raymond tidak harus menunggu bagasi.


"Capek, Pa?" sapa Kenan diatas kursi rodanya menyalami Papa Dwi. Kemudian mengulurkan tangan pada Nanta, Nanta pun menyambut menyalami Kenan. Masih hormat, batin Kenan.


"Biasa saja, mana ada capek." jawab Opa Dwi, diusianya yang tidak lagi muda tetap terlihat energik.


"Bisa kecelakaan begitu, kamu mengantuk?" tanya Papa Dwi prihatin.


"Sudah jalan ya Pa, Aku ditabrak dari belakang." jawab Kenan tak ingin mengingat-ingat. Kemudian beralih pada bujangnya.


"Semalam kamu menginap dirumah Opa?" tanya Kenan pada Nanta. Anak bujang hanya menganggukan kepalanya.


"Mama dan Om Bagus sudah tahu kamu ke Jakarta." tanya Kenan lagi.


"Sudah." jawab Nanta tanpa melihat pada Kenan. Raymond mendorong kursi roda Kenan sambil menyolek Nanta agar mengambil alih. Nanta mengikuti perintah Abang sepupunya.


"Nanti aku menginap di rumah ayah kan?" bisik Nanta pada Raymond. Raymond mengedikkan bahunya.


"Tanya Oma saja kalau berani, dia sudah masak banyak menu untuk kamu, kita saja tidak boleh sentuh dari tadi." bisiknya pada Nanta dengan wajah memberengut mengingat menu masakan untuk Nanta banyak sekali tapi tidak boleh dicomot. Nanta tertawa puas, karena Oma mementingkan dirinya dari pada Raymond.


"Kata Roma, Oma pilih kasih." dengus Raymond lagi, kembali Nanta terbahak.


"Kalian mentertawakan apa?" tanya Opa ingin tahu.


"Bang Raymond kesal masakan Oma untuk aku tidak boleh dicomot." kekeh Nanta dengan wajah sumringah. Kenan hanya tersenyum mendengar suara anaknya, Walaupun tidak bisa melihat wajahnya karena sedang dibelakang mendorong kursi roda Kenan.


Nanta pun tidak tinggal diam, ia menahan kepala Kenan agar tidak terkena sanding pintu. Lalu sibuk melipat kursi roda dan memasukkan ke bagasi.


"Ayah Bunda sehat, Ray? tanya Opa Dwi saat berada dimobil. Sementara Kenan tampak Bahagia sekali, masih ada perhatian Nanta untuknya walau enggan menatap dan berbicara.


"Alhamdulillah sehat Opa, nanti malam juga kita bertemu." jawab Raymond sambil fokus menyetir.


"Istrimu bagaimana, sudah hamil?" tanya Opa lagi.


"Tidak sabar mau punya buyut Opa?" kekeh Raymond. Nanta yang duduk disebelah Raymond diam saja melihat pemandangan kota Jakarta dari jendela.


"Cucu dan buyut nanti akan seumuran ya." Kekeh Opa Dwi.


"Kenapa begitu?" tanya Nanta tidak mengerti.


"Nanti kalau Papamu menikah lagi, pasti kasih kamu adik toh, cucu Opa." jawab Opa kemudian terdiam sendiri mengingat kondisi Kenan dan Nanta yang merenggang.


"Ooh." jawab Nanta acuh. Ia mencebikkan mulutnya.


"Jangan menikah sama perempuan itu, kalau masih mau ketemu aku." ketusnya. Kenan tersenyum lagi, sudah mulai melunak Nanta walaupun masih belum ramah.


"Tante Sheila maksud kamu?" Raymond memperjelas. Cari gara-gara, dengus Kenan dalam hati.


"Hmmm..."


"Sepertinya tidak sama Sheila ya Om. Sama Nona kan Om." Raymond mulai menjahili Om nya.


"Siapa Nona?" tanya Papa Dwi penasaran.


"Teman Oma, Opa." jawab Raymond terkekeh.


"Sudah tua dong." Opa ikut terkekeh. Raymond membiarkan Opa menebak-nebak.


"Siapa yang mau menikah sih? Jangan bikin gossip Ray." Kenan mulai merasa tidak nyaman, khawatir bujangnya tersulut emosi.


"Papamu mau menikah juga kalau kamu yang seleksi calonnya, Nan." kata Raymond lagi pada Nanta, benar-benar tidak ada remnya.


"Bisa tidak nanti kamu seleksi Mama baru?" kekeh Raymond lagi, kalau saja tidak menjaga kakinya sudah Kenan piting si Raymond. Nanta menjulurkan lidahnya pada Raymond. Ia malas berkomentar. Tadi saja menyesal terpancing mengucapkan satu kalimat untuk Papanya.


Tiba di rumah Oma, sudah lama sekali Nanta tidak berlibur ke Jakarta, suasana tidak banyak berubah. Kesal rasanya Nanta melihat tiga rumah dari rumah Oma. Ish menyebalkan dan jijik sekali lihat rumahnya saja, dengus Nanta dalam hati. Tapi kemudian ia memastikan Papanya aman duduk di kursi roda, Nanta membantu mendorong masuk kedalam rumah, sementara Raymond menurunkan tas Opa dan mengunci pintu Mobil.


"Alhamdulillah sudah sampai cucu Oma sayang." sambut Mama Nina memeluk Nanta. Sementara Opa langsung masuk kedalam kamar berganti baju.


"Sehat, Nan?" tanya Roma pada Nanta.


"Sehat." jawab Nanta yang masih dalam pelukan Oma.


"Lepas Oma, Opa sudah masuk kamar tuh. Oma tidak sambut, nanti ngambek loh" bisik Nanta pada Oma. Hahaha Oma tertawa melepaskan pelukannya pada Nanta.


"Papa tidak kangen Mama ya, main masuk kamar saja." teriak Oma protes pada Opa sekalian membujuk tentu saja.


"Kangenlah, tapi Mama lebih kangen Nanta sih jadi Papa ganti baju dulu." kata Papa keluar dari kamar dan memeluk Mama Nina, menciuminya dengan mesra.


Pemandangan itu membuat Kenan iri, tapi rupanya Nanta lebih iri, kalau saja Papa bisa seperti Opa Dwi, batinnya. Nanta masih menyesali perceraian orang tuanya. Sekarang sedikit terobati melihat Mamanya bahagia saat dekat dengan Om Bagus dan akhirnya mereka menikah.


"Doakan Papamu begitu dengan istri baru nya nanti." bisik Raymond menyadarkan lamunan Nanta.


"Ish." dengus Nanta sebal mendengarnya.