I Love You Too

I Love You Too
Tak percaya



Acara sudah berlalu, semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Setelah Mama Nina, Papa Dwi dan Kenan berangkat ke Malang, Mama Ririn dan Papa Ryan pun berangkat ke Kalimantan, tiba-tiba harus ada yang diurus terkait pekerjaan disana. Kiki dan Reza bersiap mewakili mama dan papa menemani Herman dan Wina, sampai Ririn dan Ryan selesai tugas dan kembali ke S'pore. Merepotkan memang, apalah daya selama Wina hamil, Herman tak bisa jauh dari Ririn dan Kiki. Mungkin calon anaknya sangat mengagumi Oma dan Tantenya.


"Langsung honeymoon aja lu Ja." *Erwin


"Iya dong halal friend. Mas Herman ngidamnya begitu, mau lihat gue honeymoon wkwkwk" *Reza


"Bukannya tungguin gue Friend, minggu depan." *Mario


"Aih sudah jatuh cinta kah, sudah berencana honeymoon yang mau nikah." *Andi


"Cinta ga cinta kan minggu depan udah halal friend😜" *Mario


"Rese." *Erwin


"Jangan lupa praktekin kaya yang divideo, kalau mau ntar gue kirimin lagi😄." *Andi


"Jangan lu yang bikin video, Ja." *Erwin


"Koplak." *Reza


Demikianlah percakapan empat sahabat melalui chat groupnya. Bikin mereka tersenyum sendiri, seperti halnya Reza yang sekarang sedang duduk di ruang tunggu menunggu keberangkatan, sambil memperlihatkan handphonenya kepada Kiki yang ikut tersenyum membaca kekonyolan percakapan mereka.


Tak lama Reza pun mematikan handphonenya, panggilan untuk penumpang pesawat dengan tujuan S'pore sudah diumumkan beberapa kali. Kiki mulai menelan permennya, selalu setiap kali naik pesawat ada rasa takut yang mendera, tapi bagaimanapun harus dijalani.


"Takut?" tanya Reza yang melihat Kiki agak pucat. Berusaha menggoda dengan mengelitiki pinggang kiki biar sedikit rileks. Benar saja Kiki tertawa sambil menahan tangan Reza. Tetap saja masih takut dan zikir tak henti-henti didalam hati. Duh Ki jangan pas naik pesawat aja Zikir ga berenti, setiap saat gitu dong. Teriaknya dalam hati. Wina dan Herman terlihat santai saja, tak ada keluhan. Ikut menggoda Kiki yang duduk dibelakang mereka.


"Nanti travel sama Monik gimana, pucat gini." tanya Reza


"Emang gini tiap kali naik pesawat, emang kak Eja ga takut?"


"Pasrah aja dek, semua ada waktunya." jawab Reza membuat Kiki menelan salivanya. Reza mengenggam tangan Kiki selama perjalanan 1 jam 40 menit. Saat pesawat mendarat dengan sempurna Kiki tak henti bersyukur dan tersenyum bahagia. "S'pore i'm coming." batinnya senang.


"Asiik honeymoon dong kita." Reza kembali menggoda Kiki.


"Kan udah kemarin pas dihotel." jawab Kiki polos.


"Maunya tiap hari." bisik Reza sambil mengecup pipi Kiki gemas. Kiki membalas dengan membelai pipi Reza tersenyum malu takut dilihat penumpang yang lain.


"Ki, Ja, kamu mau kemana aja nanti di antar sama pak Ucup nih." Herman mengenalkan supir yang menjemput mereka dibandara. Kiki tersenyum menyapa pak Ucup dengan membungkukkan badannya. Pak Ucup menyerahkan kartu namanya pada Reza dan Kiki.


"Kalau yang dekat naik MRT juga ga papa kok mas." jawab Reza tak ingin merepotkan.


"Duh Ja, kalau lu sih gue yakin deh, si Kiki lu ajak jalan kaki disini bisa nangis minta ojek." jawab Wina yang sangat mengenal adiknya yang tak mau capek.


"Beneran dek?" tanya Reza tak percaya


"Ish lu ga percaya gue, waktu pertama kali kesini dia gue aja ke Merlion sama universal Alhamdulillah tuh banyakan berentinya. Tiap ada bangku duduk."


"Iya tapi kalau naik mobil disini capek juga kegedung parkir kamu dek."


"Lagian mau kemana sih kak, Kita kan jagain yang ngidam."


"Kalau aku kekantor kan kamu bisa jalan Ki. Ngidamnya ga ribet juga, yang penting berangkat kerja sama pulang kerja liat kamu atau mama aja." jawab Herman menggaruk kepalanya, ia juga tak habis pikir kenapa bisa begini.


Mereka pun tiba apartemen mewah milik Herman, apartemen dilantai 10 dengan luas 200m2, sangat luas untuk ukuran mereka berdua, tersedia 3 kamar didalamnya.


"Kalian tidur disini ya, mau ngapain aja bebas, kedap suara kok." Herman mengerlingkan matanya nakal. Membuat pikiran Reza kesana kemari, sedang Kiki kembali memerah dan mencebikkan mulutnya.


"Istirahat deh ya, pinggang gue udah pegel nih." kata Wina yang baru saja selesai menyimpan lauk pauk yang dibawanya dari jakarta ke dalam kulkas.


"Ntar kalau mau makan panasin sendiri ya, gue mau rebahan dulu." Katanya meninggalkan Kiki dan Reza masuk kedalam kamarnya, diikuti Herman yang bersiap untuk menggosok pinggang istrinya yang mulai serba tak enak.


"Sayang, ke S'pore begini aja nih. Kita dikamar terus?" tanya Kiki pada Reza yang sedang menyusun Kopernya dan Koper Kiki. Mereka sengaja membawa dua koper kecil, supaya bisa dibawa ke kabin saat dipesawat.


"Kamu mau kemana?" tanya Reza yang sudah berbaring tengkurap disebelah Kiki dengan sebelah tangannya sudah hinggap diperut sang istri sambil terus menciumi pipi Kiki.


"Kejohor yuk kak, besok aja tapi, hari ini kita istirahat. Aku mau makan ikan tiga rasa di Johor plaza."


"Emang enak?"


"Enak, ikan asam pedas juga aku mau."


"Kamu tahu tempatnya dek?"


"Tahu dibasement, ah aku kangen masakan disana." Kiki langsung berhayal memakan menu kesukaannya didaerah yang dimaksud.


"Dijakarta ga ada?"


"Ada lah kak, cuma kan Kokinya beda."


"Ya udah, malam ini mau kemana?"


"Ke clarke quay yuk kak, ada restaurant yang aku suka disitu, masakan Indonesia diseberang yang jual kebab, ah ga sabar."


"Makan terus sih yang dituju."


"Hehehe iya kak, kalau travel uang aku habis bukan buat shopping, tapi buat kuliner."


Reza kembali memeluk Kiki dan menciumi pipinya tak henti. Tangannya mulai beratraksi bergerilya kesana kemari.


"Belum sholat kan kak." Kiki mengingatkan, sudah waktu ashar di S'pore. Reza langsung tertawa, bagaimana bisa ia melupakan waktu sholatnya karena asik mengerayangi istrinya.


"Yuk dek sholat bareng, di qodo aja."


"Aku lagi ga sholat kak." seketika Reza langsung mendelik. Sudah berlaku sombong pada sahabatnya mau honeymoon, ternyata istrinya sedang palang merah. Hmm padahal kamarnya sudah dikasih yang kedap suara. Honeymoon macam apa ini.


"Mulai kapan?" tanyanya heran, padahal semalam masih bebas beratraksi menggerayangi istrinya


"Tadi pas di changi, yang aku ke toilet. Untung udah bawa pembalut di tas."


Ah Reza beracting seperti orang pingsan seakan sedang frustasi membuat Kiki tertawa.


"Berapa hari?" tanyanya lagi


"Biasanya seminggu."


Ah lagi lagi Reza berlagak seperti orang pingsan. Lama sekali, berarti selama disini dan nanti ke semarang acara Mario, masih libur dong pikirnya.


"Emang ga boleh begituan kalau lagi mens?" tanyanya frontal.


"Ga boleh dong kak, kan dosa."


"Kamu kata siapa?"


"Ada dipelajaran agama waktu sekolah. Memang kak Eja ga tau?"


Reza menggelengkan kepalanya, matanya menyipit menggelitiki Kiki.


"Ngerjain aku ya?" masih tak percaya. Kiki yang kegelian pun tertawa terbahak.


"Bener kak, googling aja." masih tertawa geli sambil mengulurkan handphone ditangannya karena Reza masih menggelitikinya kemudian menciumnya bertubi-tubi.