
Acara sakral Mike dan Seiqa harus diisi dengan proses negosiasi bersama Kakek Suryadi agar mau pindah ke rumah Micko.
"Mana enak menumpang." Kakek Suryadi jual mahal.
"Bukan soal menumpang, kalau tinggal di rumah Micko ada yang jaga Papa. Kalau Papa tarik Nanta dan Dania kerumah Papa, mereka sering keluar kota sama saja Papa juga dirumah sendiri. Staff Papa kan bisa koordinasi dari rumah Micko." Oma Misha ikut membujuk Papanya.
"Nanti Dania dan Suaminya akan sering kunjungi kita, percaya deh." bujuk Micko lagi.
"Sementara sebelum lahiran aku ke rumah Papa tiap hari deh, walau tidak menginap. Pulang kuliah aku temani Kakek." janji Dania pada Kakek Suryadi.
"Apa benar begitu?" tanya Kakek Surya memastikan.
"Iya benar." janji Dania yakin. Akhirnya Kakek Suryadi menurut putuskan untuk pindah kerumah Micko mulai besok. Tidak mau tunggu lusa. Berkumpul dengan anak cucu pastinya lebih menyenangkan dari pada hanya berduaan saja dirumah dengan Nenek, walaupun Nenek lebih suka dirumahnya sendiri, demi menyenangkan suami Nenek ikuti kemauan Kakek Suryadi.
"Nanti kalau bosan di rumah Micko bisa pindah ke rumahku, dimana Papa dan Mama senang saja." Kakek Kris menawarkan.
"Oke." Kakek setuju, Nanta boleh menarik nafas lega, urusan Kakek Suryadi sudah diatasi Papa Micko tanpa harus bicara dengan Papanya.
Resepsi siang ini bukan main ramainya, semua kerabat, sanak saudara bahkan rekan bisnis hadir ramaikan acara Seiqa dan Mike. Begitu rombongan Tim Basket datang tentu saja menarik perhatian tamu yang datang, walaupun banyak artis dan model yang pernah bekerja sama dengan Suryadi Corporation ikut meramaikan resepsi pernikahan Mike dan Seiqa.
Tante Julia juga mengundang anak yatim binaannya, mereka diberikan seragam yang layak, sehingga terlihat seperti sanak saudara saja, tidak terlihat beda dengan rombongan yang lain.
"Aban..." Balen berlari mengejar Abangnya yang asik ngobrol dengan teman Tim Basket yang lain. Larry dan Doni juga ada diantara mereka.
"Baen..." malah Larry yang semangat menyambut Balen.
"Aban Leyi tok pate sagam juda?" tanya Balen pegangi baju Larry saat ia dalam gendongan Larry.
"Iya dong, bagus tidak?"
"Badus, danten." ditanya bagus dapat bonus ganteng si Larry.
"Aban Leyi sendiian?" tanya Balen celingukan.
"Seramai ini kok sendirian?" Larry terkekeh.
"Itu woh temena Aban Leyi mana?" tanya Balen.
"Ini semua teman Aban." jawab Larry tunjuk temannya.
"Tata Yumi ama Tata Pemi, tok ndak ada?" akhirnya Balen sebut nama.
"Iya mana ya?" Larry gelengkan kepalanya tidak tahu, memang ia tidak pernah hubungi Femi setelah pesan yang dikirim terakhir. Rumi sih rabu lalu masih Larry jemput dari terapi, tidak jadi temani terapi. Tapi hanya sebatas itu saja, tidak janjian untuk datang bersama acara Mike karena Larry sudah standby dari pagi.
"Ndak datan ya?" tanya Balen lagi.
"Mungkin tidak datang atau masih di jalan." jawab Larry tersenyum.
"Aban..." Balen panggili Nanta yang kembali bicara dengan temannya. Lihat Balen sibuk dengan Larry, Nanta kembali sibuk dengan yang lain.
"Ya..." Nanta menoleh tersenyum pada adiknya.
"Napa sih pedina ndak tundu Baen banun?" komplen karena Nanta pergi saat Balen masih tidur.
"Abang harus temani Bang Mike." jawab Nanta apa adanya.
"Emanna haus temenin, Ban Main tatut sendiian ya?" tanya Balen membuat semuanya tertawa dengarkan Balen.
"Eh Aban diti..." panggil Balen ingat Dicky teman Nanta.
"Eh ingat ya." Dicky cengengesan.Medeka baru pertama kali bertemu saat latihan satu jam Non Stop.
"Inet don danten." jawabnya membuat semua terbahak, kalau ganteng saja ingat dasar Balen.
"Tidak ingat gue, kurang ganteng berarti ya." celutuk salah satu tim Basket yang hadir, semua kembali tertawa.
"Balen, ayo makan dulu." panggil Kenan pada Balen.
"Baen itut Papon duu ya." ijin pada Larry dan Nanta.
"Kiss dulu." pinta Larry pada Balen.
"Yah." langsung kecup pipi Larry Kiri dan kanan.
"Mana pacarmu Leyi?" Kenan menggoda Larry.
"Ini." tunjuk Larry pada Balen sambil tertawa. Kenan dan Nona pun terbahak dibuatnya.
"Yang di Cirebon apa Jakarta?" tanya Kenan menepuk bahu Larry.
"Hahaha om ini." Larry hanya tertawa tanpa berikan jawaban pada Papa sahabatnya itu.
"Ayo Om makan dulu." akhirnya Kenan pun tinggalkan Larry sambil menggandeng tangan Balen yang asik berjoget bersama Richie ikuti alunan musik yang ada.
Larry kembali bergabung bersama rombongannya yang datang tanpa membawa pasangan, kalaupun datang bersama pasangan mereka terpencar karena kesibukan mengantri makanan yang tersedia.
"Kenapa Papa?" tanya Nanta pada Larry, ia tak hampiri Papa karena tadi tiba-tiba bertemu Om Peter dan istrinya, mereka pun berbasa-basi sesaat.
"Biasa tanya pacar gue." Larry tertawa.
"Eh ada mantan lu tuh Ry." tunjuk teman Larry pada seorang model yang cukup terkenal.
"Oh iya." Larry tersenyum dan lambaikan tangan saat tidak sengaja bertemu mata.
"Kenalin gue Ry, sudah bukan pacar lu kan?" timpal yang lain lagi.
"Maju sendiri lah, masa gue yang kenalin." Larry terkekeh.
"Gue maju nih, lu masalah tidak?" tanya temannya. Larry gelengkan kepalanya, sudah lewat kenapa jadi masalah.
"Bukan friend makan friend ya?" tanya Dicky.
"Bukan." jawab Larry santai.
"Jangan marah loh ya." tegas temannya lagi, sepertinya naksir berat sama si model. Larry anggukan kepalanya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, tanda ia tak akan marah.
"Leyi..." panggil Rumi yang baru saja datang bersama Femi, mereka bergandeng tangan.
"Wah calon saudara sepupu ini ya?" Larry hampiri Rumi dan Femi sambil terkekeh menggoda Rumi.
"Ah Leyi, bukannya jemput kita." oceh Rumi pada Larry.
"Aku dari pagi sudah standby." jawab Larry, sementara teman Larry yang lain kasak kusuk melihat Rumi yang tampil sangat cantik malam ini.
"Kamu sama siapa Femi? Fino mana?" tanya Larry pada Femi.
"Lagi parkir." jawab Femi tersenyum memandang Larry sekilas.
"Leyi, makan yuk." ajak Rumi menarik tangan Larry.
"Yum, aku sudah makan. Kamu sama Femi saja yang makan."
"Tidak mau temani kita?" tanya Rumi lagi.
"Nanti aku tunggu Fino deh, kalian keliling saja." jawab Larry, ia dan temannya ngobrol dekat pintu masuk, jadi siapapun yang datang pasti akan terlihat. Nanta dan Doni sibuk dengan sanak saudara yang hadir.
"Sama-sama saja." tolak Rumi mendekati Larry, jadilah Larry temani keduanya menunggu Fino.
"Larry, kenalin lah." teriak Dicky pandangi Rumi.
"Eh ayo ada yang mau kenalan tuh teman-temanku." ajak Larry pada Rumi dan Femi.
"Rumi saja ya aku tunggu disini." tolak Femi.
"Sinilah kalau mau kenalan." panggil Larry tidak jadi hampiri teman-temannya karena Femi menolak. Dicky langsung saja gerak cepat datangi Larry.
"Halo, yang mana pacarnya Larry?' tanya Dicky ulurkan tangannya.
"Basa-basi, dia mau cari info mana yang masih available." Larry tertawa menunjuk Dicky.
"Ini Rumi, ini Femi." Larry kenalkan keduanya pada Dicky.
"Ini Dicky lagi cari pacar." kata Larry menggoda Dicky.
"Iya, mantannya Larry juga tidak apa." jawab Dicky membuat Femi melengos. Ah Larry jadi pasrah deh Dicky bikin Femi bertambah yakin kalau Larry ini playboy.