I Love You Too

I Love You Too
Calon istri



"Punggung kamu sakit?" tanya Kenan begitu masuk kamar, ia mendapat laporan dari Baron yang masih duduk menonton TV begitu memasuki rumah.


"Hu uh." Nona mengangguk tanpa bangun dari tempat tidurnya. Kenan segera berganti pakaian dan naik ke atas kasur duduk disebelah istrinya. Ia segera mengusap pelan punggung Nona.


"Mas Kenan sudah makan?" tanya Nona memeluk paha Kenan.


"Belum lapar." jawabnya masih mengusap punggung Nona.


"Kasihan sekali Mamon, pinggangnya sampai sakit begini. Tadi kata Mbak Mita kamu ikut sibuk di dapur?"


"Hu uh."


"Kan saya sudah bilang jangan." suara Kenan penuh penekanan karena Nona tidak mau mendengar permintaannya.


"Tante Mita sibuk masak, belanja ke supermarket, masa aku tidak bantu." Nona membela diri, Kenan menekan dahi Nona dengan telunjuknya.


"Tapi jadi seperti ini. Bawa badan saja kamu sudah repot."


"Tidak mau dimarahi." Nona menaikkan kepalanya ke paha Kenan dan memeluk erat pinggang suaminya.


"Pintar sekali ya, kalau di marahi selalu begini." Kenan terkekeh tak jadi marah, selalu saja jika Kenan mulai marah Nona memeluk Kenan menyembunyikan wajahnya ditubuh suaminya. Nona jadi nyengir sendiri tanpa dilihat Kenan.


"Gosok lagi punggungnya." pinta Nona setengah merengek karena tangan Kenan berhenti mengusap punggungnya, malah sekarang membelai rambut Nona.


"Mamanya manja begini, bagaimana anaknya nanti." Kenan kembali terkekeh.


"Baby nanti di manja Bang Nanta saja ya, Papa tetap manjakan Mamon." kata Nona membelai perutnya sendiri.


"Mana boleh begitu." protes Kenan tertawa.


"Nanti Mas Kenan sibuk kerja, sibuk sama Baby aku manja manjanya sama siapa?"


"Baby sama kamu manja-manja sama saya seperti sekarang ini." Kenan membungkuk mengecup Pipi Nona.


"Makasih Papa." Nona memajukan bibirnya minta dikecup juga. Kenan terkekeh dan mengecup bibir Nona.


"Tidak mau dipanggil Papa sama kamu." kata Kenan mencebik.


"Ish, kenapa memangnya?"


"Nanti kalau lagi bersama Papamu atau Papa saya, kamu panggil Papa kita semua menoleh. Bikin pusing saja." ketus Kenan.


"Ok Mas Kenanku sayang." Nona terkekeh melihat wajah jutek suaminya yang berubah drastis begitu Nona panggil sayang.


"Nah begitu lebih enak didengar. Mau cium lagi, mumpung saya lagi baik?" Kenan menawarkan sambil tertawa.


"Obral ya?" Nona ikut tertawa.


"Sama kamu discount habis-habisan." Nona terbahak sampai terbatuk kemudian bangun dari tidurnya. Kenan mengambilkan minum Nona di nakas masih tertawa.


"Minum dulu." katanya.


"Kenapa sejak hamil kalau tertawa jadi batuk ya." keluh Nona meletakkan kembali gelas diatas nakas.


"Mau telepon Vina?" Kenan mengambil handphone tapi tangannya ditahan oleh Nona.


"Tidak usah." katanya cepat.


"Mas, mandi yuk." ajaknya membuat Kenan menyeringai dan tanpa banyak bicara segera bangkit dari tempat tidur, mengulurkan tangannya pada Nona .


"Gendong." kata Nona membuat bola mata Kenan membesar.


"Hehehe berat ya." Nona terkekeh sadar diri kemudian bangun dengan bantuan tangan Kenan.


"Kamu tuh tidak berat, cuma saya takut tangan saya tidak kuat mengangkat badan kamu, malah membahayakan nantinya." kata Kenan sehalus mungkin.


"Tangan tidak kuat itu karena aku berat kan? sama saja itu sih. Pakai putar kanan kiri, mau bilang aku berat." Nona langsung cemberut kesal sendiri.


"Anak Papa apa kabar?" Kenan langsung mengalihkan pembicaraan, mengusap perut Nona sambil merangkul Nona memasuki kamar mandi.


"Lagi sebal sama Papa, karena bilang Mamon berat."


"Ih saya tidak bilang begitu."


"Tapi artinya begitu, sama sa..." bungkam saja mulutnya dengan bibir, pikir Kenan yang semakin gemas mendengar istrinya nyerocos, tidak mau dibilang berat tapi memang begitu adanya. Kenan menghentikan ciumannya sesaat, tersenyum melihat Nona yang sudah semakin sayu, kemudian melanjutkannya kembali aksinya.


Aktifitas Mandi bersama berlangsung sedikit lebih lama, menjelang adzan magrib, Kenan yang sudah rapi keluar untuk ke Mesjid, sementara Nona tetap di kamar menunggu waktu sholat hingga setelah selesai sholat magrib barulah Nona keluar kamar mempersiapkan makan malam dan menyambut suami, Papa, adik dan anak kembali dari mesjid.


"Sudah enak punggungnya?" tanya Mita yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Sudah, direbahkan sebentar juga hilang." Nona tersenyum pada Mita, kemudian berjalan menuju meja makan untuk mengecek apakah makan malam sudah siap.


"Beres semuanya, kamu pengen makan yang lainkah?" tanya Mita.


"Enak kalau hamil ya, makan duluan tidak menunggu yang lain." protes Baron yang baru kembali dari mesjid.


"Baru satu sendok kok." jawab Nona terkekeh.


"Biar saja Padeh, kasihan adikku lapar." kata Nanta membela Nona.


"Iya makanya Padeh bilang enak kalau hamil." Baron terkekeh melihat Nanta membela Nona. Satu persatu mulai duduk di meja makan.


"Sate ayam beli dimana?" tanya Kenan mengambil satu tusuk sate dan menikmatinya.


"Mana ada beli, semua bikin." kata Mita terkekeh.


"Mbak Mita memang Top." Kenan terkekeh mengacungkan jempolnya.


"Nanti aku cari istri yang seperti Mama." kata Vicky santai.


"Sudah bicara istri saja, selesaikan dulu kuliahmu itu." kata Mita pada Vicky.


"Nanta saja yang belum kuliah sudah bicara istri." Vicky menunjuk Nanta yang membesarkan bola matanya panik.


"Aih kalian ini masih kecil sudah bahas pernikahan." Nona menggelengkan kepalanya, masih menikmati Soto Ayam buatan Mita.


"Aku sudah pernah bahas sama Papa kok." kata Nanta akhirnya.


"Oh ya? bahas apa?" Baron jadi ingin tahu.


"Tanya saja sama Papa." Nanta melempar pada Kenan agar menjawab pertanyaan Baron.


"Ayo jawab Ken." Baron penasaran.


"Yang mana? pernikahan dini?" tanya Kenan pada Nanta. Nanta menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau menikah sebelum kuliah Nan?" Mita tampak sedikit terkejut.


"Tidak Bude."


"Nanta mau cari uang dulu, nanti istrinya dikasih makan apa? begitu kata Nanta." Kenan mengulang perkataan Nanta beberapa waktu lalu saat membahas perjodohan yang diinginkan Enji. Nanta mengangguk bangga.


"Aku juga begitu, Ma. Tadi kan aku cuma bilang kalau aku ingin Istriku nanti seperti Mama. Bisa masak semua jenis masakan." kata Vicky menjelaskan pada Mita.


"Wah Vicky, supaya lebih mudah kamu mesti mendekati gadis-gadis yang kuliah dibagian perhotelan, cheft." kata Nona.


"Dibagian perhotelan juga belum tentu bisa masak seperti Mama."


"Repot juga kalau begitu, tidak semua gadis bisa dan hobby masak. Jadi saat pedekate kamu harus langsung tanya kamu hobby masak tidak?" Nona langsung terbahak. Yang lain ikut terbahak.


"Iya repot juga." Nanta masih saja tertawa geli.


"Duh bagaimana ya?" Vicky jadi bingung sendiri.


"Nanti kalau tidak bisa masak Mama ajarkan." kata Mita dengan senyum melebar.


"Tapi dia harus hobby masak. Percuma diajarkan tapi tidak suka aktifitas didapur." kata Nona lagi kembali tertawa.


"Jadi Nanta calon istri kamu nanti, maunya yang seperti apa?" tanya Baron mulai mengulik Nanta. Nanta tertawa saja enggan menjawab.


"Yang seperti Mamon." Vicky membocorkan sambil tertawa, Nanta mendorong bahu Vicky jadinya ikut tertawa malu.


"Ember." katanya sedikit kesal.


"Ih kamu mau istrinya beda usia seperti aku dan Papamu ya?" Nona senyum-senyum dengan hidung kembang kempis.


"Bukan." jawab Nanta tersenyum.


"Jadi?" Nona menunggu penjelasan Nanta.


"Ya seperti Mamon, asik aku bisa kembaran sepatu, bisa masak, bisa nyambung kalau bicara sama segala usia. Ke aku nyambung, ke Papa nyambung, pokoknya yang keren seperti Mamon." jawab Nanta menjelaskan.


"Tuh Mas, aku tuh keren dan asik." Nona menaikkan alisnya menatap Kenan dengan bangga.


"Papa juga keren dan asik kok." Nanta tersenyum memandang Kenan sambil mengacungkan jempol.


"Yah siapa lagi yang memuji kalau bukan anaknya sendiri." kata Baron mencebik.


"Tidak mau terima pernyataan Nanta, bukannya ada yang ingin betul punya menantu saya." Baron jadi terbahak mendengar perkataan Kenan.


"Apa iya begitu, Om?" Vicky bertanya pada Baron kemudian menatap Kenan yang membetulkan kerah bajunya yang tidak berantakan. Baron mengangguk tidak membantah.


"Tuh, keren kan Papaku? Kita harus seperti itu." bisik Nanta pada Vicky yang mengangguk setuju. Kenan jadi tertawa sendiri melihat keduanya.