I Love You Too

I Love You Too
Pacaan



Balen langsung saja memakai baju berenangnya begitu melihat Mobil Larry memasuki garasi dirumahnya. Wajahnya langsung senyam-senyum bahagia karena Abang Larrynya sudah datang. Dari tadi tidak mau bergabung dimeja makan, hanya memandang keluar melalui jendela menanti-nanti kedatangan sahabat Abangnya itu.


"Aban Leyi tok sendiian?" tanya Balen ketika menyambut Larry diteras rumah.


"Baen cari Abang Mike ya?" tanya Larry terkekeh langsung menggendong Balen.


"Yah, nanti Ichie dimana?" tanyanya pikirkan Richie, jika Mike tidak datang.


"Tenang, sebentar lagi Bang Mike datang." jawab Larry mencium pipi Balen gemas.


"Belum mandi ih, bau iler." kata Larry setelah mencium Balen.


"Baen udah tuti muta tok pate sabun." jawabnya membuat Larry tertawa. Memang pipi Balen wangi sabun tadi saat Larry cium.


"Aban Leyi tuh beum mandi." kata Balen menepuk bahu Larry.


"Kok tahu?" tanya Larry tertawa.


"Bau." katanya menciumi Larry,


"Haum tok." kata Balen lagi tidak menemukan bau pada Larry. Lagi-lagi pemuda tampan itu terbahak. Balen memang selalu menghibur.


"Mana Abang Nanta?" tanyanya pada Balen sambil memasuki rumah.


"Makan Leyiii." teriak Nanta yang masih ngobrol santai bersama keluarganya dimeja makan.


"Ayo Ban, tita matan." ajak Balen pada Larry, tadi saja diajak makan tidak mau.


"Tunggu Mike dulu deh." kata Larry pada Balen.


"Matan duu aja." paksa Balen pada Larry, mau tidak mau Larry menurut menuju ke meja makan.


"Digendong siapa tuh?" tanya Kiki pada Balen yang wajahnya tampak sumringah.


"Aban Leyi." jawabnya dengan hidung kembang kempis.


"Aban Luti, ini Aban Leyi." Balen mengenalkan Larry pada Lucky.


"Aku mau belajar berenang juga ya Bang." kata Lucky pada Larry.


"Boleh." jawab Larry tersenyum.


"Bagaimana cerita gadis Cirebon?" tanya Nona pada Larry, langsung saja Larry tertawa mendengarnya.


"Tidak semudah itu Tante." jawab Larry disela tawanya.


"Kamu sih pemilih." kata Nona pada Larry.


"Justru dia tidak pilih-pilih Mamon, makanya dapat ceweknya tidak ada yang beres." komentar Nanta membuat Larry mendorong bahu sahabatnya.


"Ayo Makan, Larry." ajak Kenan pada Larry.


"Iya Om, tadi sebelum kesini aku sudah sarapan lontong sayur." jawab Larry tersenyum, ia berdiri saja sambil menggendong Balen.


"Baen mo matan duu ya Ban." ijin Balen pada Larry. Larry pun mendudukkan Balen dikursi sebelah Nanta.


"Mamon pate sop." kata Balen saat Nona menyendokkan nasi untuk Balen.


"Iya sudah tahu." jawab Nona terkekeh.


"Sayul juda Mamon." katanya lagi.


"Iya." jawab Nona kembali tertawa.


"Abang suapi ya seperti biasa." kata Nanta pada adiknya.


"Baen matan sendii aja." jawabnya langsung menyendok nasi masukkan kemulutnya.


"Wah sudah bisa makan sendiri." Larry mengacungkan jempolnya ia duduk didekat Balen.


"Baen tan udah dede." jawab Balen membuat semuanya tertawa, perdana Balen makan suap sendiri, selama ini selalu minta disuapi. Nanta menggelengkan kepalanya, adiknya ini selalu saja usaha keras untuk dapatkan perhatian Larry.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumusalaam..."


"Mike." kata Larry pada Nanta.


"Maiiiik sini." teriak Nanta pada sahabatnya yang sedang celingak celinguk mencari keberadaan tuan rumah.


"Wah asik pada makan ya." langsung saja melihat ke meja makan sambil menyalami Kenan, Nona, Reza dan Kiki.


"Ini keponakannya Micko." kata Kenan pada Abangnya.


"Oh sepupu kalian dong." kata Reza pada Winner, Lucky dan Dania.


"Ayo makan Mike." ajak Kenan pada Mike


"Iya aku lapar Om, belum sarapan." kata Mike jujur, Nanta jadi tertawa mendengarnya.


"Mike punya gebetan loh Pa, sholeha." kata Nanta pada Papanya.


"Wah sebentar lagi menikah Mike, taaruf?" tanya Kenan tersenyum.


"Doakan ya Om, aku sih mau, ceweknya mau muntah kayanya Om." jawab Mike membuat semuanya tertawa.


"Ditolak?" tanya Nanta pada sepupu istrinya itu.


"Hmm.. belum sih." jawab Mike terkekeh.


"Kenapa bilang mau muntah?" tanya Dania heran, tidak percaya tidak ada yang mau dengan Mike.


"Seiqa, namanya Seiqa Om. Saudara jauhnya Doni. Dia tidak mau bersentuhan fisik, terus saja menunduk tidak mau lihat aku, kecuali sekilas. Salaman saja dari jauh." kata Mike tertawa ingat ia dan Seiqa bicara jarak jauh.


'"Bukan muhrim, Nikahi dulu baru bisa sentuhan." kata Reza tertawa memandang istrinya, lucu juga seperti mengenang saat muda dulu.


"Iya Mike, Lamar dong." Kiki menyemangati.


"Nanti ditolak." Mike khawatir, belum ada keberanian.


"Kalau ditolak berarti bukan jodoh." jawab Larry tertawa.


"Bilang saja, aku mau ajak orang tuaku melamar kamu." Nanta mengajarkan Mike.


"Cepat Mike, kalau lu gagal gue yang maju nih." kata Larry membuat Mike menoyor kepala sahabatnya. Larry langsung tertawa, begitu juga Nanta.


"Kalau gue gagal lu juga jangan maju." kata Mike egois.


"Mana bisa begitu." celutuk Lucky membuat yang lain tertawa.


"Jadi bisanya bagaimana?" tanya Mike pada adik sepupunya.


"Kalau ditolak, Bang Leyi boleh maju." kata Winner menyebut Larry seperti Balen.


"Iya mungkin saja tidak berjodoh dengan Abang Mike tapi berjodohnya dengan Abang Larry." kata Lucky membuat Larry terbahak.


"Kasihan Seiqa kalau dapat Larry, jadi ceweklu yang keberapa?" tanya Mike pada Larry.


"Rese..." Larry terbahak tidak bisa menjawab pertanyaan Mike.


"Mesti gue sortir deh, yang gue hitung pacar itu kalau sudah pacaran berapa tahun, kalau hitungan minggu sih bukan pacaran itu, baru penjajakan." kata Larry membuat Reza kembali terbahak.


"Itulah kenapa tidak dibolehkan pacaran." kata Reza kemudian.


"Kenapa Om?" tanya Mike semangat.


"Ayah, butan Om." protes Balen membuat yang lainnya tertawa.


"Iya panggil Ayah saja." kata Reza terkekeh.


"Oke Baen, kenapa yah?" tanya Mike mengulang pertanyaan sambil melirik Balen yang mengacungkan jempolnya.


"Kalau pacaran seperti Larry, apa yang didapat? hanya capek hati saja bukan?" tanya Reza membuat Larry menganggukkan kepalanya.


"Betul Ayah." jawabnya meringis.


"Berarti aku dijodohkan sajalah." kata Winner yang sudah memikirkan menikah padahal sekolah saja belum lulus.


"Boleh sih pilih sendiri, tidak harus dijodohkan. Tapi jangan pacaran dan kalian harus ingat menikah itu karena Allah, bukan karena sekedar naksir atau suka." Reza mengingatkan para anak muda dihadapannya.


"Baen pacaan aja ah Ayah." jawab Balen membuat Nona menjerit dan Kiki terbahak mendengarnya.


"Singkong Rebus, Abang saja tidak pacaran." kata Nanta ingin mencubit pipi adiknya tapi masih makan kasihan.


"Aban Leyi pacaan." katanya tidak mau kalah dengan Larry.


"Mau pacaran sama siapa memangnya singkong?" tanya Nanta benar-benar gemas pada adiknya sementara Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana mungkin gadis kecilnya sudah bilang pacaran.


"Meniru siapa sih?" tanya Kenan bingung, Reza tertawa geli melihat Balen.


"Ndak boeh ya?" tanya Balen polos.


"Tidak boleh ya, jangan ditiru. Nanti Balen langsung menikah saja tapi kalau sudah besar dan selesai sekolahnya." kata Larry pada Balen sambil menahan tawa.


"Ditu Papon?" tanyanya minta pendapat Papon.


"Iya sayang." jawab Kenan menghela nafas panjang, sepertinya akan lebih sulit menjaga Balen nanti dibanding menjaga Abangnya.