
Kekhawatiran Aditia tidak terjadi, Larry, Mike dan Seiqa berhasil amankan Rumi dari alcohol. Malam ini mereka seperti anak jalanan dan makan kebab, es krim juga air mineral. Senang-senang, bercanda dan ngobrol ngalor ngidul.
"Balik yuk." ajak Larry setelah melihat jam dipergelangan tangannya, hampir pukul dua belas malam.
"Ayo sudah hampir jam dua belas." kata Seiqa pada semuanya.
"Kenapa memangnya kalau sudah jam dua belas, takut berubah jadi vampire ya." Rumi tertawakan Seiqa.
"Iya topengku sebentar lagi terlepas." jawab Seiqa balas bercandai sambil tertawa. Mike jadi ikut tertawa pandangi Seiqa gadis idamannya.
"Pandang-pandang saja, tadi ditinggal lama sudah bilang cinta belum?" bisik Larry pada Mike. Mike gelengkan kepalanya.
"Oneng, gue ikut temani Rumi supaya elu bisa berdua On." gemas sekali Larry dibuatnya, Mike tidak gunakan kesempatan yang Larry kasih tadi.
"Apa sih bisik-bisik?" tanya Rumi kepo.
"Topeng Mike sudah mau lepas." jawab Larry asal kemudian mereka berempat tertawa.
"Ayo." ajak Larry segera berjalan tinggalkan ketiganya menuju mobil. Kasihan juga Pak Supir yang menunggu mereka bersenang-senang.
"Hei Ladies first." kata Rumi berjalan mendului Larry, apalah daya kakinya malah tersandung sepatunya sendiri hingga hampir saja terjatuh, untung saja Larry bisa menangkap Rumi. Tapi tas Rumi terlepas dari pegangannya hingga isinya berhamburan keluar.
Setelah Rumi dirasa aman untuk dilepas, Larry segera membantu Rumi masukkan isi tasnya yang tercecer. Gerakan Larry terhenti saat melihat botol silver seperti botol Parfume, tapi Larry tahu itu botol minum portable yang biasanya digunakan untuk isi wine, wiski atau vodka.
"Apa ini?" tanya Larry pada Rumi.
"Parfume." jawab Rumi berusaha merebut botol minumannya dari Larry.
"Gue tahu ini bukan parfume." desis Larry pada Rumi. Isi tas Rumi sudah tersusun rapi, Rumi segera berdiri, mengajak Larry berdiri juga.
"Sini botolnya Leyi." pinta Rumi pada Larry.
"Sampai begini, Rum. Kecanduan lu?" tanya Larry pada Rumi. Rumi anggukan kepalanya sambil terkekeh. Mike dan Seiqa saling pandang saja tidak mengerti.
"Yuk." ajak Larry sadari sahabatnya menunggu sambil kebingungan.
"Botolnya?" pinta Rumi pada Larry.
"Lu mau jadi teman gue kan?" tanya Larry
tidak lagi berbahasa kaku dengan Rumi.
"Iya tadi kan kamu sudah janji, walaupun aku pecandu tapi mau tetap berteman." bisik Rumi pada Larry.
"Iya, tapi kalau mau jadi teman gue, gue minta lu stop minum, apa lagi sampai bawa botol portable begini didalam tas." tegas Larry pada Rumi, masukkan botol minuman itu kedalam saku celananya.
"Berarti kamu tidak mau berteman dengan pecandu." keluh Rumi pada Larry. Handphone Larry berdering saat mereka masuki Mobil, ternyata ada puluhan misscalled dari Doni dan Nanta.
"Ya..." jawab Larry menghela nafas, bingung juga kenapa ditelepon sampai puluhan kali.
"Lagi dimana, susah sekali dihubungi." keluh Doni saat mendengar suara Larry.
"Ini baru mau kembali Ke hotel." jawab Larry pada Doni.
"Mabok ya?" tembak Doni langsung.
"Minum air putih mana bisa mabok, kenapa memangnya?" Larry terkekeh.
"Gue takut saja, Clarke quay kan banyak cafe tempat minum." kata Doni tanpa menyebut Rumi yang Aditia sampaikan tadi.
"Aman, seperti tidak kenal saja. Di Jakarta juga banyak cafe tidak posesif begini." Larry terkekeh.
"Masalahnya lu bawa Putri keraton." jawab Doni, langsung saja Larry paham maksudnya.
"Ok sampai bertemu besok pagi." kata Larry menutup sambungan teleponnya.
"Sampai bertemu besok pagi katanya, enak saja bilang begitu. Kita sudah berapa jam ini duduk di lounge menunggu mereka." gerutu Doni pada Nanta, mereka duduk di ruang tunggu hotel setelah pastikan istri mereka tidur pulas.
"Sudah dimana mereka?" tanya Nanta pada Doni.
"Sudah dimobil dalam perjalanan ke hotel." jawab Doni menghela nafas lega.
"Duh ini anak orang yang gue tunggui loh, Mike sama Doni sudah seperti anak perawan kita saja." Doni tertawa geli menyadari kelakuan mereka malam ini.
"Latihan juga gue ya, nanti Balen, Ichie dan anak gue besar. Seperti ini juga mungkin tunggui mereka pulang gaul." kata Nanta ikut tertawakan diri sendiri.
"Nah itu mereka." tunjuk Doni saat melihat kedua pasang anak muda turun dari mobil. Langsung saja keduanya berdiri sambil melipat tangan didada.
"Kenapa masih pada disini?" tanya Rumi bingung.
"Tunggu anak perawan pulang kencan." jawab Doni tanpa ekspresi. Sudah capek dari tadi tertawakan diri sendiri bersama Nanta.
"Aih belum tentu masih pada perawan." jawab Rumi asal membuat keempatnya terbelalak.
"Hehehe cuma bercanda, kalian ini serius sekali." kata Rumi terkekeh kemudian berjalan menuju receptionist untuk meminta kunci kamarnya dan untuk duo jomblo Mike dan Larry.
"Temani Rumi, Qa." pinta Doni pada Seiqa.
"Oke." jawab Seiqa menyusul Rumi ke receptionist.
"Kenapa sih?" tanya Mike bingung tidak biasanya Doni dan Nanta tunggui mereka seperti ini.
"Kalian kalau tadi angkat telepon, kita tidak culun begini tunggu sampai pagi." gerutu Doni pada dua temannya.
"Berisik disana." jawab Mike apa adanya.
"Tadi Aditia khawatir Rumi minum alcohol, karena dia kalau kusut suka minum. Kalau mabok besok pagi bisa kena semprot Bos besar." Nanta menjelaskan.
"Nah karena jalannya sama kalian, kita jadi khawatir kalian kena semprot juga, kalau jalannya sama orang lain sih gue bisa tidur nyenyak." kata Nanta lagi pada sahabatnya.
"Tadi kita hanya minum air putih, makan kebab dan es krim." jawab Mike apa adanya.
"Syukurlah, gue takut saja." kata Nanta menarik nafas lega.
"Cuma itu Rumi ngomongnya kenapa asal jeblak seperti lagi mabok saja." Doni terkekeh.
"Tidak mabok sih, cuma ini nih." Larry tunjukkan botol portable pada ketiga temannya.
"Itu apa?" tanya Nanta pada Larry.
"Entah dia isi apa, yang pasti alcohol." jawab Larry mengedikkan bahunya.
"Kok lu ambil?" tanya Mike pada Larry heran.
"Lu tega lihat teman lu kecanduan alkohol?" tanya Larry pada Mike.
"Tidak." jawab Mike cepat.
"Gue juga begitu, makanya gue sita." jawab Larry terkekeh.
"Eh nanti dia marah loh." kata Mike pada Larry.
"Kalau marah ya tidak usah berteman susah sekali." jawab Larry acuh, kembali masukkan botol minuman kedalam saku celananya.
"Bagus deh Leyi, kasihan Seiqa nanti bingung lihat Rumi mabok, mereka kan satu kamar." kata Mike khawatirkan Seiqa.
"Ayo." ajak Rumi pada semuanya, serahkan kunci kamar pada Larry.
"Kamar kita bersebelahan." katanya pada Larry dan Mike.
"Lantai berapa?" tanya Nanta pada Rumi.
"Lantai tiga." jawab Rumi tersenyum, masih segar saja tidak terlihat mengantuk. Sesaat setelah sudah tiba didepan kamar Larry dan Mike, Nanta mengajak Doni untuk ikut masuk ke kamar sahabatnya itu.
"Nite ladies." kata Larry pada Rumi dan Seiqa.
"Nite." jawab keduanya dan masuk kedalam kamar.
"Kalian kenapa masuk?" tanya Larry pada Nanta dan Doni.
"Gue mau tahu kamar kalian connected apa tidak." jawab Nanta polos. Langsung saja Larry menoyor kepala sahabatnya hingga mereka berempat saling tertawa. Nanta dan Doni boleh lega anak perawannya aman, pulang dengan selamat dan tidak nakal.