I Love You Too

I Love You Too
Kejutan



Kalau sudah sampai, kalian tunggu dimobil saja, nanti kita kelobby, tapi sepertinya Reza harus turun, karena Kiki tidur.


Pesan dari Enji dibaca Erwin kemudian di forward ke group panitia Private Gala Dinner. Mereka baru saja membuat group chat tanpa ada Andi. Karena acara tersebut nantinya akan dihadiri oleh mereka dan Bintang tamu saja. Tanpa peserta lain.


Karena brosur yang dibuat tidak pernah disebar kemanapun, namanya juga akal-akalan agar Andi mempercepat pernikahannya. Sebagai hadiah untuk Andi tentu saja mereka tetap mengundang Penyanyi Idola Andi.


Setibanya di Rumah Sakit Ibu dan Anak, para suami menuruti arahan, hanya Reza yang datang menghampiri istrinya yang tertidur di apotik.


"Selamat calon Papa." sambut Intan saat Reza tiba dihadapan mereka. Reza tersenyum dengan lebarnya.


"Kejutan kalian benar-benar berhasil, bikin kita kelimpungan dan bubar meeting." kekeh Reza dan segera mengambil Kiki dari bahu Monik, segera digendongnya bergaya ala bridal.


"Terima kasih, Nik." katanya dan berjalan cepat menuju ke mobil.


Monik ikut berdiri sambil mengusap bahunya yang sedikit pegal, lalu bersama yang lain menyusul bahkan mendului Reza agar bisa membantu membukakan pintu untuk Reza.


"Ambil kunci mobil gue di saku, Win." kata Reza pada Erwin yang sudah menunggu di lobby. Erwin mengikuti arahan Reza lalu membantu Reza membukakan pintu Mobil dan mengatur bangku agar posisinya nyaman untuk Kiki.


Setelah Kiki duduk nyaman bersandar dibangku penumpang depan, dengan posisi tetap tertidur tak terpengaruh seberisik apa sahabatnya mendapat sambutan dari para suami yang berbahagia karena istri mereka positif hamil.


"Kiki pingsan atau tidur sih?" tanya Reza tampak khawatir karena Kiki tak terganggu sedikitpun dengan keriuhan yang ada diparkiran.


"Tidur, tadi habis minum obat dari dokter. Ini obatnya, kalau mual minum yang ini, sisanya vitamin." Enji memberikan plastik obat milik Kiki pada Reza.


"Ok, Thank You." kata Reza sambil menyimpan obat Kiki didalam tas istrinya.


Setelah saling memberikan selamat. merekapun kembali kerumah masing-masing. Reza menatap Kiki yang masih tidur pulas. Dibelainya rambut Kiki sambil fokus menyetir. Menyesal sekali rasanya, saat istrinya mengeluh mual dan muntah-muntah Reza tak berinisiatif mengajak Kiki ke Dokter Kandungan. Pikirnya Kiki hanya masuk angin dan malas makan. Walaupun setiap malam Reza selalu membalurkan minyak gosok kebadan Kiki. Tetap saja keluhan istrinya tidak berkurang.


Setibanya dirumah, Tina dan Tini sudah menyambut majikannya di teras. Sebelum turun Reza menyerahkan kunci mobil pada Tini "Nanti tolong bawakan turun barang-barang di mobil dan jangan lupa kuncikan mobil setelahnya." kata Reza sambil menggendong Kiki menuju kamarnya. Tina sigap membukakan pintu rumah dan kemudian membukakan pintu kamar Reza dan Kiki.


"Sayang.." Kiki terbangun saat Reza meletakkannya dikasur.


"Kamu terbangun, maaf." Reza menyelimuti istrinya.


"Haus." kata Kiki sambil mengerjapkan matanya. Reza memandang Tina yang masih berdiri didepan pintu kamar.


"Minum air hangat, sekalian saya ambilkan makan saja ya, Pak?" Tina meminta persetujuan Reza.


"Iya, aku belum makan." kata Kiki pada suaminya.


"Iya Tin." kata Reza menganggukan kepalanya kearah Tina yang ternyata sudah menghilang dari pandangan Reza. Begitu mendengar jawaban Kiki, Tina langsung segera ke dapur.


"Aku hamil 9 minggu, Kak." Kiki tersenyum memandang suaminya. Air matanya jatuh tanpa direncanakan.


"Kenapa menangis? aku senang sekali begitu tahu kamu hamil. Maafkan aku, mestinya aku yang mengantar kamu ke Dokter Kandungan." Reza menghapus air mata Kiki lalu tangan mereka saling menggenggam.


"Nanti setelah kamu makan, kita videocall


Mama dan Papa." Reza mengecup tangan istrinya.


"Penasaran baby kita perempuan apa lelaki ya?" Kiki meletakkan tangan mereka diperutnya.


"Apa saja yang penting kita semua sehat." kata Reza tersenyum menatap Kiki.


Tina datang dengan nampan ditangannya. Bau tumis kangkung yang baru saja dimasaknya membuat Kiki segera bangun dari tidurnya.


"Mau Tina suapin, Bu?" tanya Tina yang ikut senang mendengar Kiki hamil.


"Iya Pak." jawab Tina lalu segera menyiapkan baju untuk Kiki dan meletakkannya di sofa kamar kemudian keluar meninggalkan Tuan dan Nyonyanya.


Reza mulai menyuapi Kiki. Mudah sekali Kiki makan, semua habis dilahapnya, bahkan sampai menyeruput kuah sayur yang dibuat Tina.


"Jam berapa minum obat lagi?" tanya Reza pada Kiki.


"Obat mual diminum hanya kalau mual. Sekarang kenyang dan mengantuk." kata Kiki mengusap matanya.


"Baru makan, duduk dulu sebentar ya, nanti baru tidur." pinta Reza pada istrinya.


"Ya sudah telepon Mama, Kak." kata Kiki yang duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya. Reza menekan tombol pada handphonenya lalu duduk disebelah Kiki. Kiki pun meletakkan memiringkan kepalanya bersandar pada bahu suaminya.


Tampak wajah Mama Ririn pada layar tak lama wajah Mama Nina pun muncu.


"Kenapa lesu?" tanya Mama Ririn yang melihat Kiki bersandar dibahu Reza.


"Manja, Ma." jawab Reza cengengesan.


"Masih siang kamu sudah dirumah. Tidak kekantor?" tanya Mama Nina pada Reza.


"Istri dan anakku butuh perhatian, Ma." jawab Reza lagi.


"Kiki hamil?" tanya Mama Nina dan Mama Ririn bersamaan.


"Iya 9 minggu." jawab Kiki tersenyum walau terlihat lesu.


"Ya sudah besok Mama ke Jakarta." Jawab Mama Nina tak sabar ingin merawat menantunya.


"Mama perlu pulang juga? Wina dan Herman sudah bisa ditinggal, tapi Mama hanya bisa sebentar, dua minggu lagi Wina melahirkan." kata Mama Ririn meminta persetujuan.


"Terserah Mama saja, jangan sampai merepotkan dan bikin Mama lelah." jawab Reza pada mertuanya.


"Tidak lelah, lagi pula kita belum selamatan rumah baru kalian." jawab nina yang berharap Ririn segera ke Jakartam


"Oh ya sudah, aku kabarkan Mas Ryan dulu. Nanti kami beritahu kapan kami akan ke Jakarta." kata Ririn pada Nina.


"Sudah hamil 9 Minggu kenapa baru memberi kabar?" tanya Nina tak terima.


"Baru tahu hari ini, Ma, sudah hampir seminggu ini Kiki mual dan muntah-muntah, tadi diajak Intan ke Dokter Kandungan, Mama tahu tidak kalau mereka berlima hamil?" Reza mengabarkan Mama Nina dan Mama Ririn sambil tertawa. Mama Nina dan Mama Ririn tertawa dibuatnya. Kelima sahabat hamil secara bersamaan.


"Lucunya kalian saat bersama dengan perut membulat." Mama Ririn terkikik geli.


"Kiii, hamil?, tokcer juga lu, Ja. Baru sebentar langsung hamil." teriak Wina dengan perut yang tampak sangat besar.


"Pelukan terus sama Kak Eja, Benar kata mas Herman, bisa cepat mblendung." jawab Kiki tertawa.


"Ya sudah sampai ketemu di Jakarta." kata Wina pada adiknya.


Rupanya Herman dipindah tugaskan kembali ke Jakarta. Sehingga saat melahirkan nanti, kemungkinan mereka sudah menetap di Jakarta. Tentu saja kabar ini membuat Mama Ririn bahagia, karena bisa mengawasi kedua anaknya dari dekat.


"Wah kamu segera kembali ke Jakarta, Rin. Senang sekali aku." kata Nina ikut berbahagia.


"Kamu kan di Malang." kata Ririn mengingatkan.


"Iya, tapi tetap saja rasanya lebih dekat kalau kamu di Jakarta, padahal kalau naik pesawat hampir sama saja jarak tempuhnya." Nina terkekeh dibuatnya. Hari ini kabar yang sangat membahagiakan untuk kedua calon Nenek.